
Selesai acara tahlillan Almarhumah Sherly yang terlaksana dengan baik tanpa ada yang mengganggu, mereka yang menghandiri pun mulai meninggalkan rumah kediaman keluarga Davin dan beberapa saat kemudian Haris beserta keluarganya pun pamit pulang, Dengan diantar Davin sampai pintu utama rumahnya itu Haris beserta keluarganya meninggalkan rumah besar tersebut dan diapun langsung masuk kedalam kembali setelah kepergian keluarga Haris dari rumahnya, Davin menghela nafasnya dan duduk disamping sang Mamah sembari menyenderkan kepalanya dan menatap langit-langit ruang tengah rumahnya tersebut.
" Davin...Ada apa denganmu Nak?"
" Tidak ada apa-apa Mah, Davin hanya tidak menyangka aja ternyata Davin akan berpisah selama-lamanya dengan Sherly."
" Iklaskan Nak, karena ada hati yang lain yang harus kamu bahagiakan, percaya dengan Mamah, Fatimah adalah wanita yang terbaik buatmu."
Davin menghela nafas dengan panjang.
" Iya Mah, Davin tahu...tapi...."
" Tapi kenapa Vin?"
" Apakah Davin mampu?"
" Maksud kamu?"
" Hmmm ...Entahlah Mah..." Ucapnya sembari mengusap wajahnya dengan pelan dan menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya menekan tengkuknya terlihat dia merasa nyaman dengan posisinya sekarang.
" Entah bagaimana nak?"
" Davin tidak tahu Mah, apakah dengan sekarang Fatimah menjadi istri Davin, Davin akan bisa menjalankan permintaan terakhir Sherly,Davin takut kalau itu tidak bisa terlaksana Mah." Ucapnya sembari menatap sang Mamah.
" Davin...Mamah hanya ingin apa yang Sherly katakan bisa terlaksana, bahagiakan Fatimah, sayangi dan cintai dia, karena dia wanita yang sangat berharga dikeluarga kita, dia sangat baik, dan sangat sabar " ucap Bu Santi sembari mengusap pundak sang anak, Tanpa mereka sadari Fatimah mendengar pembicaraan mereka, rasa sedih dihatinya mendengar kegalauan dihati Davin,tapi dia berusaha kuat demi Keyra yang sangat dia sayangi, dan dia pun dikejutkan suara Laura.
" Kak, kok nggak langsung duduk disana?" Tanya Laura sembari menatap kearah Fatimah, Laura tahu, kalau Fatimah sudah mendengar pembicaraan Davin dan Mamahnya itu.
Fatimah terkejut dan dia langsung tersenyum.
Kemudian dia dan Laura melangkah menuju kearah mertuanya dan sang suami dia tersenyum.
" Mas...boleh tidak saya kerumah sakit sekarang? Karena paman Ari dan istrinya tidak bisa menemani Aisyah dirumah sakit dikarenakan ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan.
__ADS_1
" Baiklah, aku akan antar kamu."
" Nggak usah Mas, Mas biar dirumah aja, takut kalau Keyra bangun nantinya, dia tadi sudah tidur." Ucapnya melarang Davin mengantarnya kerumah sakit.
Davin hanya menganggukkan kepalanya.
" Biar Mang Cecep yang akan mengantarkan kamu."
Fatimah mengangguk.
Kemudian Fatimah berpamitan dengan mertuanya dan suaminya dia melangkah menuju keluar rumah,dengan diantar mang Cecep Fatimah meninggalkan rumah mertuanya menuju kearah rumah sakit.
Didalam Mobil Fatimah menangis sedih, karena dia merasa pernikahannya ini sangat melukai Davin sebagai suaminya karena Davin menganggap dirinya tidak bisa untuk membahagiakan dirinya.
Fatimah menangis saat itu, dia merasa Mang Cecep tidak mengetahuinya, padahal mang Cecep mengetahui kalau Nyonya mudanya itu sedang menangis.
Suara ponsel Davin berdering dia melihat si panggil ternyata paman Ari yang memanggilnya.
" Ya paman?"
" Bukankah paman ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan? Fatimah baru saja berangkat kerumah sakit "
" Padahal paman sudah kirim chat padanya agar dia tidak kesini dan tetap dirumah kamu, dan paman juga tidak ada kesibukkan."
" Baiklah paman saya akan hubungi Fatimah sekarang "
" Baiklah..." Ucap paman Ari sembari memutus sambungan bicaranya.
" Kak, kak Fatimah sudah mendengar pembicaraan kakak dan Mamah, kalau kak Davin terdengar ragu dengan pernikahan kalian sekarang ini, mungkin kak Fatimah merasa kak Davin itu terpaksa menikahinya." Ucap Laura, Davin pun langsung terkejut.
" Jemput dia pulang Nak, jelaskan padanya semuanya jangan ada yang disembunyikan lagi." Ucap bu Santi, dengan gerak cepat Davin menuju mobilnya beberapa saat kemudian mobil itupun meninggalkan rumahnya menyusul kepergian Fatimah dari rumahnya tersebut, didalam mobil dia menghubungi Fatimah, namun ponselnya tidak aktif dan dia langsung menghubungi mang Cecep dan panggilan Davin tersambung, dengan intruksi Davin Mang Cecep yang belum sampai kerumah sakit itupun menepikan mobilnya dan membuat Fatimah merasa heran.
" Kenapa Mang?"
__ADS_1
" Kayanya ada gendala dimobil ini Nyonya, tunggu sebentar ya, saya akan coba lihat."
" Baiklah Mang .." ucapnya, dan beberapa saat kemudian pintu mobil terbuka dan tangan Davin menarik pelan tangan Fatimah mengajaknya keluar, Fatimah terkejut karena suaminya tiba-tiba saja ada disampingnya.
" Ikut Aku Sayang..." Ucapnya membuat Fatimah terhenyak dengan ucapan Davin menyebutnya dengan kata sayang.
" Mang, segera pulang..." Ucap Davin dianggukkan Mang Cecep yang tersenyum, Fatimah merasa heran.
Merka berduapun memasuki mobil pribadi Davin dan meninggalkan termpat itu menuju kesebuah tempat.
" Mas, Ada apa? Saya mau kerumah sakit, karena Aisyah sendirian menunggu ibu." Ucapnya, namun Davin tidak menjawab perkataan Fatimah.
Fatimah dibawa Davin kesebuah pantai yang terlihat sangat indah, dimana tidak jauh dari bibir pantai itu banyak warung kecil dan penerangannya pun juga sangat terang, Davin menghentikan mobilnya ditempat sebuah parkir dimana banyak kendaraan yang terparkir disana.
Mereka berdua turun dan memilih sebuah kursi yang terlihat sedikit sepi dari pengunjung.
" Mas, kenapa kita kesini?"
" Fatimah...maafkan aku."
" Maaf saol apa Mas?"
" Aku tahu kamu berbohong soal paman Ari dan kamu ingin menemani Aisyah dirumah sakit."
Fatimah terdiam dia menundukkan kepalanya.
" Fatimah, aku tahu kalau kamu sudah mendengar pembicaraanku bersama Mamah, maafkan aku Fatimah, bukan sengaja aku lakukan, tapi itu tidak untuk menyakitimu, jujur Sayang ..aku benar-benar sangat menyukaimu, aku mencintaimu..." Ucapnya sembari menatap Fatimah dengan tatapan romantisnya.
Fatimah terkejut dengan ucapan Davin, karena dia tidak menyangka akan mendapatkan ungkapan rasa cinta dari Davin untuknya.
Davin meraih tangan Fatimah dan menciumnya ada rasa bergetar didada Fatimah saat bibir Davin menyentuh punggung tangannya.
" Aku benar-benar sangat mencintai kamu Fatimah, jujur aku tidak ada keberanian dalam mengungkapkannya, karena berbagai macam rasa yang aku rasakan sekarang ini, aku takut kehilangan kamu Fatimah, saat Laura mengatakan kalau kamu mendengar semuanya ada rasa ketakutan dihatiku, kalau kamu akan pergi dariku." Ucap Davin sembari menatap kewajah Fatimah.
__ADS_1
" Jangan tinggalkan aku Fatimah..." Ucapnya, Davin langsung meraih tubuh Fatimah dan memeluknya sembari mencium kening Fatimah dengan penuh kasih sayang, Fatimah pun langsung mengeratkan pelukannya pada Davin, mereka larut dalam kehangatan yang diciptakan mereka sembari menatap bulan yang bersinar menambah keromantisan yang dirasakan Fatimah saat ini.
Lama mereka berada dipantai itu, kemudian Fatimah mengajak suaminya untuk segera pulang kerumah, dengan anggukkan Davin dan senyuman bahagianya dia menggandeng Fatimah menuju kearah Mobil pribadinya itu dan meninggalkan lokasi pantai yang indah tersebut menuju kearah rumah kediamannya.