
Setelah kepergian keluarga Davin dari ruangan ibunya Fatimah,dia pun kemudian menutup pintu ruangan tersebut dan menggendong Keyra kembali menuju ke arah tempat duduk di mana dia tadi duduk, beberapa saat kemudian pintu ruangan itu terbuka kembali ternyata adiknya Aisyah yang baru saja dari rumah sang paman dan langsung menuju ke rumah sakit, Aisyah kemudian mendekati sang Ibu, Dia pun meraih tangan ibunya itu dan mencium punggung tangan ibunya dan dia mencium wajah ibunya yang masih betah menutup matanya itu, kemudian dia bergantian mencium tangan Fatimah dan paman serta tantenya tersebut.
Keyra yang melihat kedatangan Aisyah pun langsung turun dari pangkuan Fatimah dan dia langsung melangkah menuju Aisyah, Aisyah tersenyum manis pada Keyra dan langsung meraih tubuh gadis kecil itu, kemudian menggendongnya serta membawanya menuju untuk duduk di lantai ubin keramik yang beralaskan karpet lembut dan mengajaknya bermain bersama.
" Fatimah kamu memang benar-benar sudah mau menerima Nak Davin dengan keikhlasan hatimu Nak?" tanya Paman Ari sembari menatap Fatimah.
Fatimah yang menggenggam tangan ibunya itu pun menganggukkan kepalanya.
" Fatimah yakin dengan keputusan kamu itu Nak?" tanya tantenya sembari menatap ke arah Fatimah mencari ketidaknyamanan di wajah Fatimah dengan pernikahannya yang akan dilaksanakan sebentar lagi, Tapi sayangnya tantenya itu tidak menemukannya yang dilihatnya adalah rasa bahagianya karena akan dipersunting oleh lelaki yang tepat baginya.
"Tidak ada keraguan untuk menerima lamaran dari tuan Davin dan Fatimah juga yakin Fatimah akan bahagia dengan Tuhan Davin, mereka adalah keluarga yang baik, Paman, tante, kalian tahu yang memindahkan ibu dan menanggung perobatan ibu itu sebenarnya bukanlah dari Kak Pras tapi melainkan Tuan Davin lah Yang membuat rencana ini semua."
" Apa?!" ucap paman dan tantenya secara berbarengan, merasa terkejut karena tidak menyangka orang yang menanggung semua berobatan dan biaya rumah sakit itu adalah keluarga dari Davin.
" Ternyata Pras berbohong dengan mengatakannya kalau dia semua yang andil dalam masalah rumah sakit ini."
" Iya paman, dia berbohong."
" Dari awal juga Aisyah tidak percaya kok Kak, kalau Kak Pras yang membiayai Ibu, karena tidak mungkin dia mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk biaya Ibu." ucap Aisyah disaat bermainnya dengan Keyra.
Fatimah menganggukkan kepalanya sembari menatap ke arah sang adik, kemudian dia menatap lagi ke arah paman dan tantenya itu.
" Fatimah yakin pihak rumah sakit menyembunyikan identitas penolong itu, tapi karena Allah lah yang memberikan kebenaran, Fatimah mendengar sendiri saat tadi di rumah Bu Santi dan Tuan Davin berbicara, bahwa tuan Davinlah yang mempunyai inisiatif untuk memindahkan ibu dan menanggung biaya perobatan Ibu di rumah sakit, menurut keterangan Tuan Davin dia mendengar sendiri kalau kita kesusahan mencari biaya jika seandainya obat Ibu di rumah sakit ini tidak tersedia, di situlah Fatimah mau menerima lamaran mereka Paman, tante, karena mereka itu orang baik, Fatimah tidak bisa membayar kebaikan mereka itu selain Fatimah menerima lamaran mereka, Tapi jujur dengan rasa tulus dan ikhlas di hati Fatimah akan mendampingi Tuan Davin semampu Fatimah dan membesarkan Keyra bersama-sama." ucapnya sembari tersenyum terlihat sekali Dia berbicara tidak ada beban di hatinya, Paman Ari dan istrinya pun menganggukkan kepalanya mereka tersenyum karena keponakannya itu sudah sangat dewasa untuk menentukan mana yang baik untuknya dan mana yang tidak baik untuk masa depannya.
__ADS_1
" Alhamdulillah kalau kamu memang menyetujui pernikahan kamu dengan Tuan Davin mu." Ucap Paman Ari lagi.
Aisyah yang mendengar kalau kakaknya itu mau menikah pun terkejut, kemudian dia meraih tubuh keyra dan menggendongnya untuk membawanya mendekati Fatimah, dan dia pun langsung duduk di samping Fatimah, Keyra yang berada di pangkuan Aisyah pun beralih ke pangkuan Fatimah, Keyra dengan begitu bahagianya pun merebahkan tubuhnya di pangkuan Fatimah sembari tangan Fatimah menepuk-nepuk lembut tubuh anak asuhnya itu, nampak Keyra terlihat merasa nyaman di pangkuan Fatimah.
" Benar kakak mau menikah dengan Pak Davin?" tanya Aisyah sembari tersenyum terlihat dia merasa bahagia melihat sang kakak sudah mendapatkan jodoh terbaik baginya.
Fatimah menganggukkan kepalanya sembari menyentuh kepala sang adik dengan lembut.
" Alhamdulillah Aisyah bersyukur sekali kalau kakak menikah dengan Pak Davin, karena Aisyah setuju kalau kakak menikah dengan Pak Davin ataupun orang lain selain Kak Pras, karena Aisyah nggak setuju kalau kakak menjalin hubungan atau menikah dengan Kak Pras."
" Aisyah semua orang itu baik dek, tapi tergantung perilakunya yang dinilai orang, karena penilaian orang itu berbeda-beda, kak Pras itu orangnya baik tapi karena dia tidak bisa hidupnya mandiri dan bergantung dengan kedua orang tuanya, apapun yang dikerjakannya harus disetujui oleh orang tuanya, kamu tidak boleh terlalu membenci seseorang secara berlebihan, itu tidak baik dek." ucapnya sambil mengusap kepala adiknya itu sembari tersenyum.
Aisyah menganggukkan kepalanya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki di saat ini.
" Ya sudah Fatimah, kamu temani Aisyah sebentar ya, sebelum Nak Davin menjemputmu ke rumahnya kembali, Paman dengan tante mau pulang dulu sebentar, nanti kembali lagi." ucap Paman Ari sembari berdiri, dia pun kemudian melangkah diikuti sang istri setelah mendapatkan anggukan dari Fatimah, Fatimah kemudian meletakkan tubuh mungil Keyra yang tertidur di kasur Aisyah yang tidak jauh dari dia duduk.
Di rumah kediaman Davin.
Davin bersama dengan sang Mamah pun langsung membicarakan hari pernikahan yang tepat untuknya, saat mereka berdua berbicara ponsel Davin yang berada di atas meja itu pun berbunyi dia menatap ke layar ponsel itu siapa pemanggilnya.
" Haris " gumamnya kemudian dia mengambil ponselnya tersebut dan menjawab panggilan dari Haris
" Halo! Vin "
__ADS_1
" Ya Ris ada apa?"
" Alamat yang kamu kirim ke aku tadi sudah aku temukan, ternyata tidak jauh dari kantor kita."
" Siapa pemilik rumah tersebut. "
" Setelah kamu memberitahu alamat itu, aku langsung mencari tahu di mana alamat tersebut, akupun menemukannya dan memang nomor rumah itu sama dengan nomor yang kamu beri ke aku, aku pun langsung menemui RT setempat untuk bertanya dengannya, ternyata pemilik rumahnya itu adalah seorang ibu bernama Peni Sheila."
" Peni Sheila..? siapa dia, kenapa rumah itu jadi nama pemiliknya Peni Sheila?" tanya Davin merasa heran kalau rumah tersebut milik seorang wanita bukan milik seorang pria.
" Iya Vin, ibu Peni Sheila adalah pemilik tekstil yang ada di kota ini."
"Apakah ibu Peni Sheila itu ada kontrak kerja dengan kita?"
" Kalau masalah itu aku belum tahu, karena aku tidak pernah menemukan pengusaha tekstil kerjasama dengan kita."
" Hmmm...Baiklah kalau seperti itu terima kasih ya Haris sudah membantu aku."
" Iya Vin sama-sama, tapi buat apa sih kamu mencari alamat itu dan nama pemilik rumah itu? kamu tidak ada cerita denganku masalah ini?"
" Nanti kalau kita bertemu aku akan menceritakan semuanya padamu."
" Gimana kalau hari ini kita ketemu di cape tempat biasa?"
__ADS_1
" Baiklah jam tujuh malam kita bertemu dan aku akan menceritakan semuanya kepadamu." ucapnya sembari menyudahi pembicaraannya melalui ponsel pribadinya itu setelah mereka berdua sama-sama menyepakati akan bertemu nanti malam.