
Seketika Laura merasakan kekakuan dalam tubuhnya karena dia merasa bagaikan mimpi, badannya terasa panas dingin.
Bu Santi menoleh kearah Laura, terlihat wajah anaknya itu seperti orang yang tidak mempunyai darah, terlihat pucat seketika.
Kemudian paman Ari menatap kearah Laura, dia melihat sang tamu begitu pucat diapun langsung menegurnya.
" Nak, kamu kenapa? Sakit ya? Kalau kurang enak badan silahkan duduk dulu disana." Tegurnya mengarahkan Laura untuk duduk disofa yang ada diruangan itu, tapi Laura tidak bergeming dia tetap menatap kearah ibunya Fatimah yang terbaring itu.
" Nggak usah pak, dia memang memiliki penyakit, yang tak menentu kambuhnya." Terangnya sembari tersenyum dan memegang tangan sang Anak, dia memang sengaja berbicara seperti itu agar pamannya Fatimah itu tidak curiga dengan kondisi Laura seperti itu.
" Sakit ibu? Sakit apa bu ?" Tanya Bu Rukmi istrinya paman Ari.
" Penyakit hati Bu..." Terang Bu Santi.
" Penyakit hati? Astaghfirullahalazim...parah banget ya Bu, semoga anak ibu cepat sembuh ya Bu..." Ucapnya terlihat sekali mendoakan dengan tulus pada Laura, Bu Santi tersenyum dan menganggukkan kepalanya sembari berucap.
" Aamiin....baiklah Bu, pak saya permisi sebentar, mau mengajak Laura keruang dokter yang menangani sakitnya Laura, mohon maaf ya Bu, pak saya berkunjungnya tidak bisa lama." Ucapnya sembari bersalaman dan memberikan buah tangan buat mereka, paman Ari dan Bu Rukmi hanya menganggukkan kepalanya, dia kemudian mengantarkan tamunya itu keluar pintu ruangan tersebut.
Sambil berjalan keluar di koridor menuju kearah parkiran mobilnya Laura tidak berkata apapun dia hanya diam dan hanya mengikuti langkah sang Mamah yang memegang tangannya membawa kemobil mereka.
Setelah berada didalam mobil dan mang Cecep melajukan mobil tersebut untuk pulang kerumah.
Di Mall...
Davin dan Fatimah menemani Keyra bermain, terlihat sekali wajah Keyra yang sangat bahagia sesekali dia memanggil Fatimah dan Davin, saat permainan sudah selesai, Keyra hendak turun dari permainan tersebut tanpa sengaja dia terjatuh, Fatimah langsung cekatan dan berlari ketengah arena bermain dan meraih tubuh Keyra, Davin yang melihat itupun terkesima sekali dengan ketangkasan Fatimah mengejar dan meraih Keyra sehingga sang Anak sudah berada dalam pelukan Fatimah sambil menangis, dan Fatimah pun membawanya mendekati Davin yang juga melangkah mendekati mereka berdua.
" Key nggak apa-apa kan, Key anak yang kuat dan hebat anak Papah yang cantik..." Ucapnya sembari meraih tubuh anaknya itu dari gendongan Fatimah dan digendongnya sembari mengusap wajah cantik sang anak.
" Nakal ya pah maian itu..." Ucapnya dengan masih tetap menagis.
Davin tersenyum begitu juga Fatimah.
" Sayang...permainan itu tidak nakal, tapi lain kali Keyra harus hati-hati ya sayang..." Ucap Fatimah dengan lembut dan penuh kasih sayang...Keyra menganggukkan kepalanya dan Davin semakin menyukai sikap Fatimah yang sabar dan penuh perhatian dan mengajarkan yang terbaik buat sang Anak.
" Papah, Key mau pulang....."
" Key nggak mau beli sesuatu gitu sama Mamah?" Tanya Davin sembari melirik Fatimah yang menundukkan kepalanya karena terlihat malu dilirik Davin.
__ADS_1
Keyra menggelengkan kepalanya.
" Kamu mau beli apa Fatimah?" Tanya Davin.
" Nggak ada tuan..." Ucapnya pelan sembari menggelengkan kepalanya.
" Baiklah kalau gitu kita pulang segera, kalau kamu menginginkan sesuatu bilang saja ya, jangan malu-malu, kamukan calon ibunya Keyra..." Ucap Davin keluar begitu saja ucapannya.
" Iya tuan.." ucap Fatimah dan diapun langsung menyadari apa yang diucapkan Davin.
" Hah!? Maksud tuan?" Ucapnya seraya menatap kearah Davin, dan Davin hanya tersenyum saja dan langsung melangkah dan di ikuti Fatimah dibelakangnya, karena itu ditengah Mall yang luas dan mulai ramai dengan pengunjung, Davin kemudian berhenti sesaat dan Fatimah yang bingung dengan perkataan Davin tadi berjalan seraya membenarkan rambutnya kesamping telinga dan berjalan menunduk tanpa disadarinya diapun menabrak belakang Davin yang sejak tadi berhenti sejenak tanpa diketahuinya berhenti.
" Aaww...!" Ucapnya pelan dan Davin pun tersenyum dan membuat Keyra tertawa lepas melihat Fatimah menabrak belakang sang Papah itu, Fatimah melihat kearah Keyra sembari tersenyum, dan Davin pun langsung menoleh kearah belakang dan meraih tangan Fatimah dan memegangnya kembali seperti waktu mereka berada dirumah sakit, dan debaran dijantung Fatimah mulai tidak bersahabat lagi dan diapun hanya mengikuti langkah Davin yang berjalan disampingnya.
Terlihat mata seseorang melihat gerak gerik Davin dan Fatimah, siapa lagi kalau bukan Clara dan dua orang temannya, dan kebetulan Clara melihat kehadiran Davin dan Fatimah di Mall itu.
Dia begitu lekatnya menatap kearah mereka berdua.
Kemudian kedua temannya itu menatap kearah Clara dan kemudian melihat kesekeliling Mall itu.
" Ada apa Clara? Kenapa kamu menghentikan langkah kamu?"
" Davin? Cowok yang selama ini kamu kejar?"
" Iya..." Ucapnya sambil mengangguk.
" Mana sih orangnya? Aku mau lihat seperti apa sih wajahnya sehingga membuat seorang Clara sangat mengejarnya." Ucap salah satu temannya.
" Itu yang menggunakan baju berwarna putih, dan menggendong seorang anak dan memegang tangan seorang wanita kampung itu!!" Ucapnya dengan kesal.
" Wanita kampung?"
" Iya...Aku tidak akan terima dengan wanita itu yang sudah jadi penghalang aku dan Davin."
" Iya....kamu harus menyingkirkannya, karena dia tidak pantas buat cowok yang kamu harapkan itu, kalau kamu perlu bantuan untuk menyingkirkan wanita kampung itu, bilang sama kita berdua, ya nggak Sel?" Ucap salah satu temannya.
" Iya, benar apa yang dikatakan Mawar kita berdua siap membantu kamu Clara." Sambungnya.
__ADS_1
Clara menganggukkan kepalanya, dan mereka kembali lagi ketujuan awalnya untuk shoping di Mall itu, dengan pikiran yang berkecamuk tentang Fatimah yang sudah dianggapnya menjadi penghalang dirinya untuk mendapatkan Davin.
" Aku tidak terima dengan perlakuan Davin ditengah orang banyak memperlihatkan kemesraan mereka berdua dengan memegangi tangan wanita kampung itu!" Ucap batinnya bergejolak dengan kemarahan yang belum bisa dia keluarkan didepan kedua sahabatnya tersebut.
Davin kemudian melajukan mobilnya menuju kearah rumah.
Mobil yang dikendarai mang Cecep pun sampai dirumah dan memarkirkannya dengan rapi ditempat semula, Bu Santi keluar diikuti Laura, karena didalam Mobil Laura hanya diam tanpa berbicara sepatah katapun.
Laura mengikuti langkah sang Mamah menuju kearah ruang tamu dan mereka berdua duduk bersama, Bu Santi menyandarkan tubuh tuanya disandaran sofa sembari menghela nafasnya dengan pelan.
" Mah....!" Panggil Laura pelan.
Bu Santi menoleh kearah Laura.
" Apakah Laura tidak salah lihat tadi Mah? Apakah Laura bermimpi?" Tanyanya dengan memegang tangan Mamahnya tersebut.
Bu Santi hanya menghela nafasnya dengan pelan.
" Tidak Nak, kamu tidak bermimpi dan kamu juga tidak salah lihat, semuanya itu benar adanya, itulah kenyataannya." Ucap Bu Santi sembari menatap kearah sang anak.
Laura pun meneteskan airmatanya karena rasa penyesalan yang sudah dia lakukan.
" Mah? Laura menyesal kenapa saat itu Laura pergi meninggalkan ibunya Kak Fatimah Mah." Ucapnya sembari menelungkupkan wajahnya dipangkuan Mamahnya itu, Bu Santi mengusap kepala anaknya tersebut, dia membiarkan Laura menangis dipangkuannya dengan rasa penyesalan yang paling dalam.
Kemudian Mobil Davin sampai dirumah pribadinya, dan Fatimah keluar dengan dibukakan Davin pintu Mobil tersebut dan Keyra beralih tangan digendong Davin mereka bertiga melangkah menuju masuk kedalam, saat melewati ruang tamu, Davin menoleh kearah dalam dan melihat Laura menelungkupkan wajahnya dipangkuan sang Mamah, Davin kemudian menyerahkan tubuh mungil sang anak pada Fatimah untuk membawa kekamarnya karena Keyra tertidur. Fatimah kemudian melangkah menuju kearah kamar Keyra.
Davin kemudian mendekati dua wanita yang berada diruang tamu tersebut.
" Ada apa Mah dengan Laura?"
" Kak Davin, Laura menyesal kak."
" Penyesal kenapa? Ada apa ini?"
" Laura sudah tahu siapa korban Laura itu kak.."
" Apa!?" Ucap Davin terlejut dan langsung menatap kearah sang Mamah minta penjelasan.
__ADS_1
Bu Santi menganggukkan kepalanya...
Davin hanya menghela nafasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar dan menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.