
Fatimah yang merasa terkejut dengan teguran dari Davin dia berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya itu dan dia melanjutkan menyuapi Keyra anak asuhnya itu.
Davin menatap Fatimah dan dia pun menyudahi makannya di samping dia tidak merasakan rasa enak makanan kesukaannya itu dan dia juga merasa penasaran.
" Ada apa sebenarnya dengan Fatimah, Awalnya dia merasa senang sudah mendapatkan Alamat Ayah kandungnya itu, tapi setelah beberapa detik wajah Fatimah berubah sedih, Mungkin sekarang waktu yang tidak tepat Aku ingin menanyakannya, lebih baik Aku biarkan dia dulu dengan rasa sedih yang dia rasakan." gumamnya sembari melipat kedua tangannya di atas meja dan matanya tidak lepas dari arah Fatimah yang ada duduk di depannya itu.
Setelah selesai menyantap makan malamnya mereka pun beranjak dari Resto tersebut, tapi sebelumnya Davin membayar makanan yang dipesannya itu, beberapa saat kemudian mobil yang dikendalikan oleh Davin meninggalkan restoran jepang menuju ke arah rumahnya itu, di dalam mobil mereka tidak ada suara satu sama lain, hanya alunan musik yang terdengar dari tape recorder yang ada di mobil tersebut.
Sepanjang perjalanan Fatimah hanya diam, dia larut dalam lamunannya, sedangkan Keyra yang berada di pangkuannya sudah tertidur dengan pulasnya, beberapa saat kemudian mobil itu pun memasuki halaman rumah pribadinya Davin, mobil Davin itu pun memasuki pintu gerbang yang secara otomatis itu pun tertutup dengan rapat karena kendali dari pintu gerbang tersebut berada dengan security penjaga rumah tersebut.
Mereka berdua turun dari mobil karena posisi Fatimah yang duduk sambil memangku Keyra pun tidak bisa langsung turun, dia harus mendapatkan bantuan dari Davin Tuan mudanya itu.
Davin kemudian membukakan pintu mobil tersebut dan mengambil alih tubuh mungil anaknya dan membawanya masuk dalam rumah pribadinya itu.
Di seberang jalan terlihat tiga orang wanita yang berada di dalam mobil menatap lurus ke arah rumah kediaman Davin Steven Wijaya.
" Clara, itu kah rumah lelaki idaman kamu itu?" tanya Mawar sembari matanya tetap menatap lurus ke depan.
Clara menganggukkan kepalanya dengan wajah yang tidak senangnya menatap Davin yang sudah membukakan pintu mobil untuk Fatimah terlihat sekali di mata Clara Davin beriringan dengan Fatimah memasuki rumah tersebut seolah-olah sepasang keluarga yang sangat bahagia.
" Kenapa aku kurang jelas ya melihat wajah wanita itu?" sambung Selly.
" Iya, aku juga kurang jelas melihatnya, saat di Mall waktu itu juga aku tidak terlalu jelas melihat wanita itu, apakah itu yang kamu sebut wanita kampung itu Clara?" tanya Mawar, Clara lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
" Enaknya diapain wanita Kampung seperti itu Clara?" sambung Selly sesaat menoleh ke arah Clara.
" Aku belum tahu pasti aku masih memperhatikan gelagat dari wanita kampung itu, Aku tidak mau kalah dari wanita itu secara Aku adalah wanita kota Dia adalah wanita yang dari kampung tidak mudah mengalahkan Clara." ucapnya dengan penuh penekanan seakan-akan ingin rasanya dia mengubek-ngubek Fatimah tapi kemampuan dia belum bisa mendekati Fatimah secara langsung karena Davin selalu saja berada di samping Fatimah.
__ADS_1
"Jangan-jangan wanita kampung itu pakai pelet lagi sehingga lelaki idaman kamu itu sangat memperhatikan dia, coba saja lihat gerak-geriknya itu seperti mengistimewakan wanita kampung itu." sambung Mawar lagi dianggukan oleh Selly
" Iya benar tuh, tapi bodoh kalau laki-laki yang kamu idamkan itu memilih wanita yang berasal dari Kampung tersebut, secara sikapnya sangat kuper."sambung Selly
" Kami akan membantu kamu sebisa kami, tapi kamu harus memberitahukan rencana kamu untuk wanita Kampung tersebut, apakah kamu rela si Davin memilih dia daripada kamu." lanjut Mawar membuat darah Clara mendidih mendengar kata-kata Mawar.
" Ya enggaklah! Aku tidak akan bakalan kalah, kamu tahu kan bagaimana sifat aku untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan, baik itu berupa barang ataupun orang." ucapnya merasa bangga dengan ucapannya itu.
" Ya kami tahulah, secara Clara gitu loh." ucap Selly dan Mawar sembari terkekeh, Selly dan Mawar saling berpandangan kemudian mereka tertawa pelan bersama-sama.
Setelah Davin dan Fatimah tidak terlihat lagi oleh mereka bertiga, Clara pun kembali menghidupkan mobilnya dan berlalu dari depan rumah pribadi Davin, Dengan hati yang kesal dia terus melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah pribadinya dan membawa kedua temannya itu untuk menginap di rumahnya, karena kedua orang tuanya tidak berada di tanah air melainkan berada di luar Negeri ada urusan bisnis yang dikelola oleh kedua orang tuanya itu.
Saat mereka berdua menuju ke arah lantai atas untuk mengantarkan anak semata wayang Davin itu, mereka bertemu dengan Bu Santi.
" Davin.. kamu baru datang?" tegur Bu Santi
" Iya Mah! Davin baru datang tadi lagi asyik sama Haris kemudian menjemput Keyra sama Fatimah."
" Sudah Mah! kebetulan tadi Davin merasa lapar banget di jalan dan makan di luar bersama Fatimah." ucapnya.
Fatimah yang sudah terlebih dahulu menuju kamar Keyra untuk merapikan tempat tidur anak asuhnya itu, dia pun tidak mendengar kalau Bu Santi berbicara dengan Tuan mudanya itu.
" Ya udah kalau kalian berdua sudah makan, setelah kamu mengantarkan Keyra ke kamarnya temuin Mamah di ruang tamu ada yang ingin Mamah bicarakan denganmu." ucap Bu Santi sembari melangkah menuju ke arah ruang tamu, Davin menganggukkan kepalanya dan kembali melangkah menuju ke kamar sang anak.
Keyra yang sudah nyenyak tertidur itu pun diletakkan di ranjang empuk miliknya, Davin pun berpamitan dengan Fatimah, Fatimah pun menganggukkan kepalanya seraya menatap langkah Davin menghilang dari pintu ruangan kamar Keyra.
Davin yang menemui Ibu Santi pun langsung menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada di ruangan tamu tersebut di mana sang Mamah sudah duduk di depannya.
__ADS_1
" Ada apa Mah?" tanya Davin seraya menatap ke arah sang Mamah yang terlihat wajah Mamahnya itu menyimpan sesuatu.
" Ini soal Adikmu..."
" Tentang Laura?"
Bu Santi menganggukkan kepalanya, terlihat sekali wajah sedih menghampirinya.
" Laura tadi berbicara dengan Mamah, katanya ingin berkata jujur dengan keluarga Fatimah sebelum acara pernikahan kamu dilaksanakan."
" Terus menurut Mamah gimana?"
" Menurut Mamah itu tidak salah, kebenaran harus diungkapkan, tapi kalau seandainya Laura berbicara jujur dengan keluarga Fatimah apakah Kamu menerimanya.?"
Davin menghela nafasnya dengan dalam dia mengeluarkannya dengan pelan seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tersebut sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Kalau masalah pernikahan Fatimah dengan Davin tidak usah terlalu dipikirkan Mah, Laura harus mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap keluarga Fatimah, Karena itu adalah yang lebih penting lagi, Davin tidak apa-apa kalau seandainya Fatimah mengetahui semuanya dan membatalkan pernikahan antara Davin dan dia, tapi besok Davin tetap akan membawa Fatimah bertemu dengan ayah kandungnya."
"Benar ya Alamat itu adanya bahwa di rumah itu ada Ayahnya Fatimah dan ibu tirinya Fatimah."
Davin menganggukkan kepalanya.
" Baiklah Nak, kalau keinginan kamu seperti itu, Mamah akan mengikuti aja karena kejujuran itu harus dikatakan daripada nantinya masalah ini akan menyebar ke mana-mana, ditambah lagi Rahman sudah mengetahui kejadian yang menimpa Laura, Mamah tidak ingin kejadian Laura ini dijadikan senjata bagi Rahman untuk menindas kamu dan meminta haknya yang sebenarnya tidak ada sama sekali sama kamu."
Davin menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya di hatinya sangat berat karena dia sudah terlihat sangat menyukai Fatimah, dan dia juga merasakan kalau Fatimah adalah wanita yang terbaik untuk anaknya, Tapi karena masalah yang telah terjadi dia harus menerima kenyataan kalau nantinya keluarga Fatimah membatalkan pernikahan mereka.
Laura yang di dalam kamar sudah merasa gelisah, dia pun kemudian keluar kamarnya dia melangkah menuju ke arah kamar Keyra, dia membuka pintu kamar tersebut terlihat Fatimah yang sedang duduk di sofa sembari membaca majalah yang ada ditangannya, karena mata Fatimah belum bisa diajak terpejam.
__ADS_1
Fatimah menoleh ke arah pintu, dia tersenyum dengan Laura, begitu pula dengan Laura Dia kemudian mendekati Fatimah sembari menutup pintu kamar tersebut.
" Maaf Kak Fatimah ada yang ingin Laura bicarakan dengan kakak." Ucapnya sembari duduk di samping Fatimah, Fatimah merasa heran kemudian dia menyudahi membaca majalah yang ada di tangannya itu, ia menatap ke arah Laura terlihat sekali wajah Laura menyimpan sesuatu beban yang sulit sekali untuk diungkapkannya.