Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 43


__ADS_3

Fatimah jadi salah tingkah karena dipandangi Davin, dan ia pun hanya bisa tersenyum, Fatimah kemudian mengalihkan pandangannya kearah pamannya dan langsung saja dia berbicara yang membuat mereka semua terkejut, terutama Davin sekeluarga.


" Paman..." Panggil Fatimah Paman Ari pun menoleh ke arah Fatimah dia menatap keponakannya itu.


" Ya Fatimah ada apa?"


" Fatimah ingin pernikahan ini disembunyikan dari semua orang yang hanya mengetahui pernikahan ini keluarga kedua belah pihak saja dan orang terdekat." Ucapnya sebelum keluarga Davin mengtakannya ia terlebih dahulu mengatakannya pada pamannya itu.


Paman Ari pun terkejut dia pun menatap Fatimah dan keluarga Davin secara bergantian.


" Mak... maksudnya kenapa harus disembunyikan ? bukankah ini adalah hari yang bahagia kamu, kita harus berbagi kebahagiaan ini dengan keluarga kita semua, apalagi pernikahan ini akan dihadiri oleh ayah kandung kamu Fatimah."


" Semuanya bisa diatur paman, Fatimah yang akan bicara sama Ayah dan Fatimah juga yang akan menemui Ayah agar Ayah mau menjadi wali Fatimah dalam pernikahan Fatimah nanti."


Davin dan Bu Santi pun menatap ke arah Fatimah terlihat sekali wajah mereka terkejut sebenarnya memang mereka ingin mengatakan semuanya tentang pernikahan yang akan diadakan didepan sang ibu yang lagi koma dan semua itu harus disembunyikan, tetapi Davin dan Bu Santi ingin mencari saat yang tepat untuk mengatakannya.


" Benar Paman, nanti saya yang akan membawa Fatimah menemui Ayahnya." ucap Davin lagi.


" Begini Pak Ari bukannya kami ingin menyembunyikan semua pernikahan ini karena ada sesuatu hal yang harus kami selesaikan terlebih dahulu." Ucap Bu Santi.


" Apa masalah yang sebenarnya yang terjadi?" tanya Paman Ari


Sebelum Bu Santi berbicara Davin kemudian menjelaskan kepada Paman Ari.


" Begini Paman, saya yang menginginkan pernikahan ini disembunyikan sementara waktu, bukan untuk menyakiti keluarga Paman ataupun menyakiti hati Fatimah tapi ini karena pernikahan saya yang kedua dan saya harus menyembunyikannya dari seseorang."

__ADS_1


" Siapa orang itu?"


" Kalau saya mengatakan padanya saya sudah menikah dengan Fatimah saya takut orang itu akan mencelakai Fatimah."


" Maksud kamu Fatimah ada musuh? benarkah Nak kamu ada musuh?" tanyanya berbalik menatap ke arah Fatimah Fatimah menggelengkan kepalanya.


" Tidak pamannya, dikatakan Tuan Davin memang benar ada seseorang yang harus Fatimah hindari dan Fatimah juga tidak ingin dia tahu kalau Fatimah sudah menikah nantinya dengan Tuan Davin."


" Apakah wanita itu dari masa lalumu Nak Davin.?" tanya Paman Ari.


" Bukan Paman, dia adalah teman kuliah saya, dia memang sudah menaruh hati terlalu lama dengan saya tapi karena saya tidak memberikan sedikitpun perhatian dan peluang untuknya berbagai macam cara dia lakukan untuk mendapatkan saya sampai saat ini pun dia masih mengejar saya, saya akan menyelesaikannya terlebih dadulu baru saya mengatakan kalau Fatimah ini adalah istri sahnya saya, jujur dari dalam hati saya saya tidak pernah memungkiri pernikahan yang akan saya laksanakan nantinya, saya akan menjaga Fatimah tulus ikhlas, saya akan memberikan kebahagiaan untuk Fatimah." ucapnya sembari melirik ke arah Fatimah, Fatimah pun jadi salah tingkah mendengar perkataan Tuan mudanya itu, debaran di jantungnya pun semakin menjadi karena dia tidak menyangka akan menikah dengan Tuan mudanya yang sangat tampan itu yang pertama kali sudah menggetarkan hatinya, Fatimah hanya menundukkan kepalanya karena dia belum bisa berdamai dengan degupan didadanya itu.


Paman Ari pun menganggukkan kepalanya.


" Terima kasih Paman." ucap Davin sembari menyentuh tangan sang Mamah yang ada disampingnya karena bisa mengatasi situasi yang ada.


" Maafkan Aku paman, karena aku belum bisa jujur dengan kalian semua, Aku akan membereskan semuanya dulu mencari peluang untuk bisa mengatakan semuanya dan mempertanggungjawabkan kejadian yang telah terjadi." ucapnya sembari menoleh sesaat ke arah Laura, Laura pun melihat ke arah sang kakak, lalu dia kembali menundukkan kepalanya.


" Kak Davin Maafkan Laura, Laura salah, Laura akan mempertanggungjawabkan semuanya Laura tidak akan pernah lagi membuat kak Davin dan Mamah menderita, apalagi sekarang Kak Davin mau menikah dengan Kak Fatimah sebentar lagi Laura akan mempertanggungjawabkan perbuatan Laura kepada keluarga Kak Fatimah, berikan Laura waktu kak Davin." gumamnya dalam hati sembari memegang kuat pinggiran tempat tidur Bu Nany.


Mereka pun akhirnya menyepakati semua yang sudah dibicarakan besok hari yang tepat untuk menemui orang tua laki-laki dari Fatimah yang sudah berumah tangga dengan wanita lain.


Paman Ari menganggukkan kepalanya dia kemudian menoleh lagi pada keponakan tersayangnya itu.


" Fatimah apakah kamu sudah mengetahui di mana Ayah kamu berada?"

__ADS_1


" Fatimah tahu dari teman saat di kampung tapi Fatimah tidak tahu alamatnya di kota ini, maksud Fatimah mengetahui di mana jalan dan rumah Ayah berada, Tapi alamatnya dulu pernah disebutkan sama teman Fatimah."


" Apakah kamu masih menyimpan alamat itu Nak?" tanya istri paman Ari.


" Iya ada tante." ucapnya sembari berdiri kemudian dia menuju ke arah barang bawaannya yang berada di sudut ruangan, dia pun kemudian mengambil sebuah buku kecil di mana buku itu tempat curahan hatinya dan tempat menyimpan alamat Ayahnya tersebut. Fatimah menatap buku itu Dia kemudian terdiam.


" Ayah Fatimah sebenarnya rindu dengan Ayah, sejak Ayah meninggalkan Fatimah dengan ibu dan Aisyah, Ayah tidak pernah ada kabar berita sama sekali jangankan untuk berkunjung ke kampung halaman menanyakan kabar tentang keadaan Fatimah dan adik serta Ibu juga tidak pernah, Fatimah rindu, rindu banget sama Ayah." ucapnya kemudian mengusap air matanya yang jatuh di pipinya tanpa dia sadarin, kemudian dia pun berbalik arah kembali di mana mereka sedang duduk, Fatimah duduk kembali di tempatnya di samping Laura, dia membuka buku kecil yang selalu menemani dia setiap hari itu, dia pun kemudian membuka satu per satu lembar buku tersebut, sampai akhirnya dia menemukan sebuah alamat, dia membaca alamat itu biar mereka semua mendengarnya.


" Di jalan kutipan nomor 102 yang Fatimah tahu cuma itu aja Paman, karena teman Fatimah kemarin pernah bertemu dengan Ayah di jalan itu dan di nomor rumah itu, bahkan Ayah mengatakan kalau tempat itu adalah rumah dia yang baru." ucapnya.


Kemudian Davin pun mengambil ponselnya dan mencatat alamat yang disebutkan oleh Fatimah dan mengirim chat pribadi ke Haris untuk mencari tahu Alamat tersebut.


" Baiklah besok kita akan menuju ke Alamat itu, insya Allah kita akan bertemu dengan Ayah mu." ucap Davin berbicara sembari menatap ke arah Fatimah, Fatimah pun menganggukkan kepalanya.


Setelah ditetapkan hari untuk pernikahan mereka berdua, keluarga Davin pun mohon pamit dengan keluarga Fatimah, tapi saat Keyra mau diajak pulang dia menangis keras,dia tidak ingin pulang bersama dengan sang Papah, tapi dia ingin ikut bersama dengan Fatimah, Fatimah pun tersenyum dan mengambil kembali tubuh mungil itu dari gendongan Tuan mudanya.


" Maaf Paman, bolehkah Fatimah menginap lagi di rumah kami untuk bersama dengan Keyra?"


Paman Ari hanya menganggukan kepalanya.


" Nak Davin, sebelum Fatimah menjadi istri kamu dia hanya sebagai pengasuh anakmu, jadi dia boleh tinggal di rumah kamu kalau itu pun Fatimahnya mau." Ucap paman Ari tersenyum.


Fatimah hanya menganggukkan kepalanya demi Keyra dia harus tinggal kembali di rumah majikannya yang sebentar lagi akan menjadi rumahnya juga.


" Baiklah Fatimah titip Keyra ya, nanti aku akan menjemput kalian berdua untuk pulang ke rumah." ucap Davin dianggukan Fatimah sembari tersenyum, Davin pun tersenyum padanya, melihat Davin tersenyum Fatimah merasa bahagia sekali karena baru kali ini dia melihat Tuan mudanya tersenyum yang sangat teramat manis dilihat olehnya.

__ADS_1


__ADS_2