Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 46


__ADS_3

Hening! tanpa ada suara mereka berdua, hanya ada alunan nada penyanyi cafe yang melantunkan lagu galau lagu itu sesuai dengan perasaan Davin yang tidak menentu itu.


Kemudian terdengar suara chat pribadi masuk ke ponselnya Haris, Haris pun kemudian mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirim chat pribadi tersebut, dia membaca chat itu kemudian dia membalasnya, ternyata itu adalah salah satu orang suruhan dari Harris untuk mencari tahu kembali siapa ya saja yang ada di rumah ibu Feni Sheila tersebut.


" Davin..!" panggil Haris, Davin pun membuyarkan lamunannya yang saat itu posisinya menyandarkan tubuhnya dan merebahkan kepalanya menikmati lagu dari suara penyanyi Cafe itu, dia pun kemudian bangun dan memperbaiki duduknya, dia menatap ke arah Haris dengan menopangkan dua tangannya di pahanya.


" Ya Ris, ada apa?" ucapnya sembari tangannya mengambil minuman dan meminumnya.


" Ternyata suami ibu Fenny Sheila itu adalah Pak Ahmad, mereka di rumah itu ada beberapa orang yang tinggal, empat asisten rumah tangganya, termasuk Ibu Peni beserta suaminya.


" Pak Amad? kok kamu tahu, kamu bilang kan tadi denganku cuma Ibu Feny aja di rumah itu."


" Waktu kamu bilang kenapa rumah itu pemiliknya seorang perempuan, jadi aku juga penasaran, Ada apa sebenarnya di rumah itu ? aku pun menyewa orang suruhan untuk mencari tahu ada siapa aja di dalam rumah tersebut, apakah Ibu Peni itu mempunyai suami atau anak, ternyata Ibu itu memang mempunyai suami yang berasal dari desa dan kedua anaknya sedang bersekolah di luar kota, aku tidak tahu juga sih sekolah atau kuliah." katanya sembari menatap ke arah Davin,dan Davin pun hanya menganggukkan kepalanya.


" Sebenarnya yang kamu cari Ibu Feni apa Pak Ahmad sih?"


" Aku mencari Ayahnya Fatimah, Yaitu pak Ahmad." Jawabnya.


" Memang benar Vin, kalau rumah itu adalah rumah ibu Feny, suaminya Ibu Feny itu adalah Ayahnya Fatimah ya?" Ucap Haris.


Davin mengangguk..


" Apakah besok kamu mau ke rumah itu bersama dengan Fatimah atau Aku akan menemani kalian?"


" Tidak usah, aku akan bersama dengan Fatimah ke rumah itu, kamu handle aja kantor, karena besok mungkin aku tidak masuk lagi sebelum urusanku clear." ucapnya.


" Siap Bos! Laksanakan!" ujarnya sembari terkekeh, Kemudian mereka pun menikmati minuman dan cemilan yang mereka pesan sambil menikmati alunan lagu silih berganti yang dinyanyikan oleh penyanyi Cafe tersebut.


Di rumah dengan kegelisahan Laura antara jujur dan tidaknya atas perbuatan dia selama ini pada keluarga Fatimah yang menyebabkan ibunya itu sampai sekarang mengalami koma.


" Aku mengalami dilema, Aku bingung, aku harus memilih yang mana terlebih dahulu, antara jujur dan kebahagiaan Kak Davin, di sini adalah aku yang salah jika seandainya aku jujur kepada mereka sebelum Kak Davin mempersunting Kak Fatimah,Ya Tuhan beri jalan agar aku bisa menyelesaikan masalah yang sudah aku perbuat sendiri." ucapnya sembari menutup wajahnya dengan bantal tidurnya itu, tiba-tiba ponselnya pun berbunyi, namun Laura tidak menghiraukan bunyi ponselnya itu.


Karena ponsel itu berbunyi beberapa kali, Akhirnya dia pun menyingkirkan sebuah bantal yang menutupi wajahnya dan duduk di bibir ranjangnya dia mengambil ponselnya yang berada di atas meja di samping tempat tidurnya itu, dia memperhatikan layar ponselnya.


" Kak Clara...." ucapnya sembari menjawab panggilan dari Clara.


" Ya Kak ada apa?"

__ADS_1


" Laura Kamu sekarang di mana?"


" Aku di rumah, emang kenapa Kak?"


" Bisa keluar nggak? temanin aku."


" Memang mau ke mana?"


" Biasalah kita nongkrong."


" Maaf Kak aku nggak bisa ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan."


" Heey...Laura, sejak kapan kamu menolak ajakan ku?" ucapnya penuh penekanan, Laura pun hanya mendengus dengan kesal.


" Kamu kenapa Laura? biasanya kamu kalau aku ajak kemana aja,kamu ya ya aja, tapi kenapa kamu menolak kali ini, kamu ada masalah? kalau ada masalah bilang ke kakak, biar kita selesaikan sama-sama, Kamu tahu kan kakak ini akan menjadi kakak ipar kamu sebentar lagi." Ucapnya penuh harap.


Laura hanya mencibir...


" Maaf Kak sekali ini aku tidak bisa keluar karena aku ada pekerjaan di rumah yang tidak bisa aku tinggalkan, tolong mengertilah Kak."


" Iya kak nanti aku ceritakan, Ya udah ya Kak Aku masih sibuk." ucapnya sembari memutus sambungan bicaranya secara sepihak.


Clara yang berada di dalam mobilnya itu pun menatap ke arah layar ponselnya.


" Ada apa dengan Laura? kenapa dia sepertinya berubah, tidak seperti biasanya, Dia memutuskan sambungan bicaraku secara sepihak seperti ini, lagi pula kenapa dia menolak saat ku ajak, aku harus menyelidikinya, jangan-jangan ulah wanita kampung itu lagi." ucapnya sembari melajukan mobilnya menuju ke arah tempat tongkrongannya di mana kedua temannya itu sudah menunggu dia di sana.


Davin yang masih berada di cafe bersama dengan Haris itu pun melirik jam yang melingkar di tangannya, dia menatap ke arah Haris, dan Haris pun menatap ke arah Davin.


" Kenapa Vin, apakah kamu sibuk sehingga sedari tadi kamu selalu melirik jam tanganmu.?" tanya Haris sembari tersenyum.


" Aku mau jemput Fatimah dan Keyra."


" Memangnya di mana mereka?"


" Mereka berdua ada di rumah sakit."


" Memang Fatimah menginap di tempatmu? Sampai kamu mau jemput bersamaan dengan Keyra?"

__ADS_1


" Rencananya sih tidak, cuman karena Anakku itu tidak bisa pisah dengan Fatimah, Jadi dia harus menginap di rumah." Terang Davin.


" Tapi tidak tidur denganmu ka" goda Haris.


" Ya nggak lah, dia tidur sama Keyra." ucapnya sembari tersenyum.


" Gitu dong, kamu tersenyum, jangan terlalu galau nanti dilihat orang loh kesedihan kamu."


Davin nanya tersenyum saja.


" Oh ya Vin, aku lupa mau mengatakan kalau masalah Rahman itu sudah kelewatan."


" Maksud ada apa dengan dia?"


" Si Rahman kemarin tadi siang datang ke kantor, dia mencarimu."


" Untuk apa dia mencariku?"


" Saat aku tanya dia katanya ingin bicara denganmu empat mata."


" Aku tahu yang dia maksud."


" Aku juga tahu, pasti dia menginginkan hak dari kamu."


" Bukan masalah itu aja, tapi dia mengetahui tentang kejadian yang sudah menimpa Laura."


" Apa ? sudah kuduga itulah yang akan jadi senjatanya."


" Tapi tenang aja, aku akan menyelesaikan semua masalah keluargaku baru aku akan berurusan dengannya."


" Tapi kamu yakin kalau dia tidak menyebarkan berita ini."


" Aku tahu Rahman, dia tidak akan pernah berani untuk menyebarkan masalah yang pernah dia ketahui, Rahman memang terlihat orangnya pemberani tapi sebenarnya dia itu mental kerupuk!!" ucap Davin ada nada kekesalan dalam bicaranya.


Haris hanya menganggukkan kepalanya.


" Baiklah Vin, kalau kamu ingin jemput Fatimah dan Keyra lebih baik kamu jemput sekarang, daripada nanti kamu kemalaman untuk menjemput mereka berdua." ucap Haris, Davin pun tersenyum dan beranjak berdiri setelah berpamitan dengan Haris, diapun pun melangkah keluar Cafe menuju ke arah mobil pribadinya, beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan halaman parkir Cafe itu menuju ke arah rumah sakit di mana Fatimah dan anaknya berada.

__ADS_1


__ADS_2