Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 66


__ADS_3

Setelah pemakaman Sherly selesai, semua pelayat pun meninggalkan pemakaman tersebut, yang tertinggal hanyalah keluarga Davin, Davin memegang pusaka Sherly dia tidak bisa menutupi rasa kesedihannya, karena sudah kehilangan orang yang sangat dicintainya.


" Sayang, kamu tenang di sana, sekarang kamu tidak merasakan lagi rasa sakit yang selama ini kamu derita, aku akan memenuhi keinginanmu, menyayangi Fatimah seperti aku menyayangimu dan aku akan menjaga Fatimah dan Keyra, aku akan membahagiakan mereka, terima kasih selama ini kamu selalu bersama denganku." ucapnya berbicara pelan hampir tidak terdengar dengan air matanya yang mengalir, dia ingin sekali menutupi rasa sedihnya itu, tapi dia tidak bisa dan dia juga tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir tersebut dia pun tidak malu-malu di depan keluarganya, istri dan sahabatnya mengeluarkan air matanya, karena dia tidak bisa untuk menyembunyikannya dari mereka, mereka semua memahami akan kesedihan yang dihadapinya saat ini.


Fatimah mendekati sang suami dia mengusap pundak Davin dengan lembut sembari berkata.


" Hapuslah air matamu Mas, jangan biarkan air mata itu terus mengalir, itu akan memberatkan langkah Bu Sherly meninggalkan kita, mungkin ini jalan yang terbaik untuknya agar dia tidak merasakan rasa sakit lagi yang sudah bertahun-tahun lamanya dia Alami, kita harus mengikhlaskan kepergiannya, jangan kita tangisi lagi,tapi kita iringi dengan doa agar amal jariyahnya diterima oleh Yang Maha Kuasa." ucap Fatimah sembari dianggukan oleh Davin seraya menatap ke arah sang istri, Fatimah dengan lembut mengusap air mata Davin yang masih tersisa di pipinya tersebut, Davin memegang tangan Fatimah, dia menatap lekat ke arah istrinya itu, Fatimah kemudian mengajak Davin berdiri, Haris yang berada di situ pun melihat kesedihan Davin, dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya doa yang bisa dia berikan kepada almarhumah Sherly, Mereka kemudian meninggalkan makam Sherly tersebut kembali memasuki mobil mereka masing-masing,perlahan-lahan mobil itu pun meninggalkan pemakaman keluarga Wijaya.


Di dalam mobil tidak ada suara sama sekali, mereka larut dalam lamunan mereka masing-masing, karena mereka hanya mengingat kenangan-kenangan mereka bersama dengan Almarhumah Sherly, terutama Davin, Dia teringat akan masa lalunya bersama Almarhumah Sherly yang sangat indah dan tidak bisa dia melupakannya, dia hanya menyandarkan tubuhnya di jok mobil kursi belakang dan menghela nafasnya dengan pelan, sesekali dia melihat ke arah Fatimah yang juga hanya terdiam, tidak ada sepatah kata lagi diucapkan Fatimah untuk suaminya itu, dia membiarkan suaminya larut dalam lamunannya itu.


Mereka pun sampai di rumah Haris memarkirkan mobil yang mereka gunakan tersebut,Davin keluar dari mobil diiringi dengan langkah Fatimah mereka lalu mempersiapkan acara untuk hari pertama tahlilan Almarhumah Sherly.


Sebuah mobil menuju ke arah rumah Davin, niat pengemudi mobil itu ingin berkunjung ke rumah Davin, Tapi saat dia berada di depan rumah Davin tersebut dia merasa heran.


" Kenapa ada bendera hijau di depan rumah Davin? siapa yang meninggal?" ucapnya.

__ADS_1


Dia pun kemudian memarkirkan Mobilnya di pinggir jalan Dia tidak ingin memasukkan mobilnya itu ke dalam halaman rumah Davin karena rumah Davin halamannya sudah penuh dengan kendaraan dari keluarga sahabat dan rekan kerja Davin.


Wanita itu pun turun dari mobilnya, semua mata tertuju kepadanya, karena dia menggunakan baju yang sedikit terbuka, Laura yang dari dalam melihat kedatangan Clara pun langsung mengambil sebuah selendang dan berjalan agak tergesa mendekati Clara dan menutup sebagian badan Clara yang sudah terlanjur terlihat oleh para tamu yang ada dirumah itu, karena Clara memakai pakaian yang tidak sesuai dengan acara dimana dia berada saat ini, baju yang dikenakan Clara itu, lebih tepatnya bisa dikatakan baju setengah jadi, walaupun sebenarnya dia tahu bahwa itu adalah acara berduka, tapi dia malah masih tetap ingin tahu siapa yang berduka tersebut.


" Kak Clara! Kenapa Kakak ke sini menggunakan pakaian seperti ini, ini tidak pantas Kak dilihat para tamu." ucap Laura seraya menatap ke arah Clara.


" Mana kakak tahu kalau di rumah kamu ada yang berduka, jika kakak tahu di rumah kamu ada ada yang berduka kakak tidak akan memakai pakaian seperti ini."


" Kenapa Kakak tidak ngasih tahu dulu ataupun menghubungi Laura kalau kakak ingin ke rumah."


" Tapi kan Kak, Kakak sudah tahu di depan sudah ada tandanya kalau rumah Laura berduka, tapi kenapa Kakak terus saja masuk dengan pakaian yang minim seperti ini."


" Kalau begitu Maafkan kakak, kamu ada kan cadangan pakaian yang tertutup, bisa nggak kakak pinjam." ucapnya sembari membuat wajahnya memelas seakan-akan dia tidak ingin dipersalahkan, Laura menganggukkan kepalanya dan mengajak Clara masuk dan menuju ke kamarnya, Clara menuju ke arah kamar Laura, Fatimah melihatnya dia menatap ke arah Fatimah, mereka berdua saling tatap, Fatimah memberikan senyumnya dan menganggukkan kepalanya, menghormati tamunya yang datang itu, sayangnya senyuman dan anggukan kepala Fatimah dibalas Clara dengan senyuman sinisnya, walaupun diberi balasan dengan senyuman sinis itu, Fatimah masih tetap tersenyum dengan memegang segelas air putih dan menuju ke arah kamar Davin, di mana Davin masih berada di dalam kamarnya tersebut.


Davin yang sedang duduk di bibir ranjangnya pun hanya menundukkan kepalanya sesekali dia menatap bingkai foto yang ada di atas meja kecil tidak jauh dari tempat tidurnya tersebut.

__ADS_1


Dia memandangi foto Almarhumah istrinya tersebut, Fatimah kemudian melangkah mendekati sang suami, dia duduk di bibir ranjang di samping suaminya tersebut.


" Minumlah dulu Mas, legakanlah tenggorokanmu dan pikiranmu dengan air putih ini." ucapnya Davin menoleh ke arah istrinya dan mengambil gelas yang ada di tangan sang istri, ia kemudian meminumnya setelah itu dia memberikannya lagi kepada sang istri.


Fatimah memang tidak mau mengganggu suaminya itu, ia pun hendak berdiri keluar dari kamar tersebut namun langsung dicegah Davin, Davin meraih tangan Fatimah, Fatimah terkejut dia menatap ke arah suaminya itu,Davin pun memberikan isyarat agar Fatimah tidak pergi, Fatimah menganggukkan kepalanya dan kembali duduk di samping sang suami, Davin menggenggam tangan Fatimah dia menatap Fatimah dengan tatapan sayu.


" Fatimah..." panggilnya dengan suara Pelan, Fatimah menatap ke arah sang suami.


" Terima kasih selama ini kamu sudah sangat baik denganku dan maafkan kalau ada kesalahan Sherly padamu dan maafkan aku, karena di depanmu aku memperlakukan Sherly dengan sangat spesial sekali, dan bukan maksudku seperti itu, serta membuat hatimu sakit, tapi karena aku...." Davin tidak bisa melanjutkan bicaranya lagi karena Fatimah langsung menghentikan bicaranya Davin dengan meletakkan telunjuk tangannya di mulut Davin sembari menggelengkan kepalanya dan memberikan senyum manisnya kepada sang suami.


" Mas Davin jangan sekali lagi Mas berbicara seperti itu, Saya tidak ingin ada kata-kata seperti itu yang kedengarannya sangat terpaksa, agar kamu bisa memperlakukan saya seperti Bu Sherly yang sangat kamu cintai itu, saya tidak pernah ada rasa sakit hati, marah, ataupun menyesal menikah denganmu, walaupun sebenarnya kamu masih berstatus suami Bu Sherly tapi saya ikhlas menerimamu Mas, dan saya ikhlas menjadi istri keduamu bukan karena kamu itu orang terpandang ataupun Kamu itu orang kaya, Saya tidak melihat ke situ, tapi karena ini adalah kemauan saya sendiri menerima lamaranmu." ucapnya sembari tersenyum, kemudian Davin meraih tangan Fatimah yang masih berada di depan mulutnya tersebut dan dia pun langsung menggenggamnya dan tersenyum dengan Fatimah.


" Baiklah Mas, saya mau keluar sebentar, saya mau bertemu sama ibu yang masih ada di luar, kalau Mas mau istirahat di sini silakan Mas istirahat dulu, tenangkan pikiranmu, setelah itu baru Mas turun bertemu dengan yang lainnya."


Davin menganggukkan kepalanya, kemudian Fatimah pun berlalu dari hadapannya, Davin mengiringi langkah sang istri dengan tatapan matanya, sampai sang istri menghilang di pintu kamar pribadinya itu, saat Fatimah keluar dari kamar Davin Clara baru saja keluar dari kamar Laura tersebut, karena Clara ditinggal sebentar oleh Laura didalam kamarnya itu, Clara melihat Fatimah baru saja keluar dari kamar Davin, membuat darah dia mendidih dan emosinya pun sudah mulai menguasainya, Clara mempercepat langkahnya dan meraih tangan Fatimah dengan kasar, Fatimah reflek terkejut.

__ADS_1


__ADS_2