
Di dalam mobil Fatimah tidak bersuara sama sekali Dia hanya diam tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulutnya mata Fatimah menatap lurus ke depan sembari di otaknya berpikir Apakah ayahnya mau menerima dirinya yang datang ke rumah Ayahnya sekarang ini,l itulah yang ada di dalam pikiran Fatimah.
Davin menoleh sesaat ke arah Fatimah sambil dia fokus dengan menyetirnya dan dia pun memberanikan diri untuk bertanya pada Fatimah tentang perubahan wajah Fatimah bila mendengar perkataan ingin bertemu dengan Ayahnya itu.
" Fatimah, bisakah aku bertanya denganmu, jawablah dengan bersungguh-sungguh."
" Ya Tuan, Tuan muda ingin bertanya apa." jawab Fatimah menoleh sesaat ke arah Davin.
" Fatimah, sudah aku katakan padamu kalau kita berada di luar rumah, kamu tidak perlu memanggil aku dengan sebutan Tuan, panggillah aku dengan sebutan nama ataupun kamu panggil aku dengan sebutan Mas ucapnya."
Fatimah mengangguk dia memang lupa akan perintah Tuan mudanya itu untuk memanggil dirinya dengan sebutan yang lain jangan tuan muda kalau dia berada di luar rumah.
" Fatimah maaf, sebelumnya, kenapa muka kamu berubah saat aku mengajak kamu ke rumah Ayah kamu, sebenarnya sudah lama ingin aku tanyakan saat aku mengatakan padamu kalau aku sudah menemukan rumah Ayah kandung kamu, saat kita berada di restoran waktu itu, sebenarnya ada apa katakan padaku."
Fatimah menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat seberat beban yang dia rasakan bagaimana dia mengatakan nya pada Tuan Davinnya itu tentang ibu tirinya yang sudah mengatakan imbalan, jika memerlukan sang Ayah, jauh sebelum dia bertemu dengan Tuan mudanya itu beberapa tahun yang lalu.
" Katakanlah Fatimah, jangan ada yang kamu sembunyikan dariku, Aku ingin tahu sebenarnya ada apa, sebentar lagi aku akan menjadi suami kamu, aku harapkan tidak ada yang disembunyikan di dalam rumah tangga kita nanti." ucap Davin sesekali menoleh ke arah Fatimah.
Lagi-lagi terdengar Fatimah menghela nafasnya dia menundukkan kepalanya sambil memainkan jari jemarinya.
" Saya bicaranya dari mana ya? karena saya merasa bingung untuk mengatakan semuanya."
Davin pun kemudian memarkirkan mobilnya dan menghentikan laju kendaraannya itu, Davin mengubah posisi duduknya agar bisa menatap ke arah Fatimah.
__ADS_1
" Kenapa Tuan menghentikan laju mobilnya? Apakah berhenti di pinggir jalan ini tidak mengganggu pengendara yang lain." ucap Fatimah.
Davin menggeleng
" Aku tidak akan menjalankan mobil ini sebelum kamu berbicara padaku, Ada apa sebenarnya, apakah Ayah kamu pernah berbuat jahat padamu?"
Fatimah menggeleng
" Atau Apakah Ayahmu tidak mau menjadi wali kamu?"
Fatimah juga menggeleng
" Jadi apa Fatimah, katakan padaku jangan ada yang kamu sembunyikan, sebentar lagi kamu sudah menjadi istriku, semua keperluan Kamu adalah tanggung jawabku, masalah kamu adalah masalahku, jadi aku mohon padamu jujurlah padaku, ada apa?" ucap Davin sembari terus menatap Fatimah yang masih menundukkan kepalanya dan masih memainkan jari jemarinya.
" Jadi maksud kamu, kalau Ayah kamu menghadiri pernikahan kalian berdua, kalian harus membayar pada ibu tirimu?" Tanya Davin sembari menatap ke arah Fatimah.
Fatimah hanya menganggukkan kepalanya dia merasa malu berbicara seperti itu pada Tuan mudanya itu.
Davin hanya tersenyum, dia pun kemudian meraih tangan Fatimah dan menggenggamnya.
" Fatimah, kamu jangan khawatir, serahkan semuanya padaku, apapun yang dipintai ibumu akan aku turuti selagi masih dibatas yang wajar." ucap Davin tersenyum.
Fatimah terkejut dia langsung menatap ke arah Davin seakan tidak percaya Davin berbicara seperti itu, begitu mudahnya Davin berbicara tidak ada rasa beban yang keluar saat dia mengatakan itu, bahwa dia akan menanggung semuanya apapun yang dipinta nantinya oleh ibu tirinya itu.
__ADS_1
" Jangan tuan, jangan dituruti kemauan ibu tiri saya, saya tidak mau suatu saat nanti semuanya berlanjut dengan panjang."
" Maksud kamu? berlanjut dengan panjang bagaimana.?" Tatap Davin Heran.
" Saya takutnya, awalnya kita turuti kemauan dari ibu tiri saya, suatu saat dia pasti akan datang lagi mewujudkan kemauannya, Saya tidak mau terbebankan Tuan, selama ini saja saya rasanya menjadi beban untuk Tuan dengan Tuan mengobati ibu saya."
Davin terkejut karena dia tidak pernah mengatakan kepada Fatimah kalau dialah sebenarnya dibalik pemindahan dan pembiayaan Rumah Sakit ibunya itu.
" Fatimah, Dari mana kamu tahu kalau saya lah yang melakukan semuanya pada pengobatan ibumu itu."
" Maafkan saya tuan, karena saya sudah mendengar saat tuan muda berbicara dengan ibu Santi di ruang tamu."
Davin menghela nafasnya dengan pelan dan menyandarkan tubuhnya di jok mobilnya itu.
" Maafkan aku Fatimah, bukan karena masalah Laura aku menanggung pengobatan dari ibumu, tapi itu jauh sebelum aku mengetahui kalau Laura lah yang menyebabkan ibu kamu terbaring selama 5 bulan lamanya di rumah sakit, saat itu aku mengikuti kamu dan aku mendengar semuanya dari pamanmu, padahal pamanmu tidak mengetahui kalau aku adalah anak dari majikan kamu."
" Tidak apa-apa Tuan muda, saya juga bersyukur karena sudah bertemu dengan keluarga Tuan yang sangat baik, bisa menerima saya bekerja di rumah besar kalian."
" Sudahlah Fatimah, kamu adalah calon penghuni rumah itu juga, sekarang kamu nggak usah berpikiran kamu merasa terbebani, justru aku yang sangat bersyukur sudah bertemu dengan kamu, kamu itu wanita yang sabar, wanita yang sangat sulit didapatkan dari wanita yang lain, Kamu juga sangat menyayangi Keyra seperti anak kamu sendiri, bahkan kamu mau menerima aku sebagai calon suami kamu, walaupun sebenarnya kamu memiliki madu yang sedang terbaring, beberapa tahun di ranjang rumah sakit." ucap Davin sembari tersenyum dan dia pun kemudian melajukan mobilnya kembali menuju ke arah tempat yang dituju yaitu kediaman rumah Pak Ahmad.
Fatimah menghela nafasnya dengan lega setelah dia mengatakan semuanya kepada Tuan mudanya itu terasa tidak ada beban lagi kalau seandainya ibu tirinya itu mengatakan kemauannya pada Fatimah nantinya.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di rumah yang dituju terlihat pagar rumah tersebut sudah terbuka sejak tadi, mobil pun memasuki halaman rumah besar itu, Davin memarkirkan Mobilnya di samping 2 buah mobil yang terparkir di halaman itu, mereka berdua pun turun dari mobil, Fatimah mengikuti langkah Davin masuk ke teras rumah tersebut, Davin memencet bel rumah itu beberapa kali dan diapun sesekali menatap kearah Fatimah yang terlihat gugup karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan sang Ayah yang sudah beberapa tahun tidak bertemu, karena perpisahan antara kedua orang tuanya disebab kan ulah Ibu Fenny yang begitu saja hadir di antara keluarganya itu, tapi dia tidak menyalahkan semuanya pada ibu Fenny karena kehidupan merekalah yang membuat Ayahnya itu berpaling dari ibunya.
__ADS_1