Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 12


__ADS_3

Davin mengalihkan pandangannya kearah lain dan dia tidak ingin melihat wajah sang Mamah.


" Nak,katakan sama Mamah, apa yang terjadi? Mamah tahu kamu adalah laki-laki yang tidak pandai berbohong pada Mamah dan lagi pula Mamah kenal dengan sikap kamu Nak, dimana saat kamu benar dan dimana saat kamu salah, tidak bisa kamu sembunyikan sama Mamah, begitu juga disaat kamu berkata jujur dan berkata bohong." Ucap Bu Santi sembari memegang tangan Davin.


Davin terhenyak dengan ucapan sang Mamah dan diapun serta merta menatap wajah teduh dan lembut sang Mamah yang tetap tersenyum padanya.


" Ya Allah apa yang harus Aku lakukan sekarang ini? Aku tidak tega untuk mengatakan semuanya pada Mamah tentang Laura, dan Aku juga tidak bisa rasanya membuat rasa sakit yang akan dirasakan Mamah setelah mendengar kabar yang menimpa Laura." Gumam hati Davin seraya menundukkan kepalanya dan meresapi kebingungan yang melandanya sekarang ini.


" Katakanlah Nak, apa yang terjadi?" Tanya ulang Ibu Santi pada Davin.


Davin terhenyak kembali dengan teguran sang Mamah, diapun hanya mengukir senyum manis pada bu Santi dan menatap lekat wajah mamahnya itu yang masih menatapnya dengan tatapan yang penuh tanda tanya yang sangat besar tersebut.


" Mah... tidak ada apa-apa Mah, perasaan Mamah aja, beneran kok nggak ada apa-apa." Ucapnya seraya tetap mengukir senyum diwajahnya dan sesekali dia membelai rambut sang anak yang ada dipangkuannya itu, kemudian dia menyentuh tangan sang Mamah agar bisa menenangkan pikiran sang Mamah.


" Baiklah nak, kalau seperti itu, mungkin saat ini kamu tidak ingin mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, mamah tidak akan memaksanya,tapi lain kali nanti kamu bisa menceritakannya." Ucap Bu Santi sembari tersenyum dan menyentuh wajah sang anak. Davin hanya mengangguk, kemudian ibu Santi berdiri dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Davin yang hanya bisa menatap langkah demi langkah sang Mamah yang meninggalkan kamarnya itu.


Setelah sosok mamahnya itu menghilang dari pandangannya dia pun langsung menghela nafasnya dengan berat seberat beban yang dirasakannya tersebut.


" Maafkan Davin Mah karena sudah tidak jujur sama mamah, karena Davin masih ingin mencari tahu siapa sebenarnya seseorang yang sudah menjadi korban Laura." ucapnya berbicara sendiri sembari berdiri dari duduknya berjalan kearah tempat tidurnya dan merebahkan tubuh Anak semata wayangnya diranjang empuk king sizenya itu, Diapun akhirnya merebahkan dirinya juga disamping sang Anak sembari menatap langit-langit kamarnya.


*****


Keesokan harinya tepat jam delapan pagi mang Cecep yang diperintahkan majikannya itu utuk menjemput Fatimah pun meninggalkan rumah tuannya menuju kearah rumah sakit dimana Fatimah berada, Mang Cecep yang memang sudah tahu rumah sakit yang disebutkan sama Nyonya besarnya itupun tidak kesulitan mencari jalan menuju kearah alamat yang dituju.


Fatimah yang memang sudah siap menunggu jemputan dari tempat dia bekerja itupun duduk manis didepan halte rumah sakit, Dia memang sudah bersiap-siap sedari tadi karena Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang ditempat kerjanya yang baru terutama bu Santi Neneknya Keyra.


Tidak terlalu lama dia menunggu jemputan tersebut dan mobil yang dikendalikan Mang Cecep pun sampai didepan halte rumah sakit. Mang Cecep keluar dari dalam Mobil dan tersenyum pada Fatimah.


" Udah lama Neng nunggunya?" Tanyanya.


" Nggak Mang, terimakasih ya Mang udah cape-cape menjemput Fatimah.


" Nggak apa-apa Neng, ini memang tugasnya saya Neng, Ayo kita segera berangkat." Ajaknya sembari mempersilahkan Fatimah memasuki mobil dan beberapa menit kemudian mobil itupun meninggalkan rumah sakit, dari arah parkir sepasang mata menatap kearah Fatimah yang sudah meninggalkan rumah sakit tersebut.

__ADS_1


" Mau kemana Fatimah? Bukankah ibunya lagi dirawat dirumah sakit dalam keadaan koma? Bukannya dijaga malah dia dijemput dengan mobil mewah." Ucapnya yang langsung turun dari dalam mobilnya dan melangkah menuju kearah dalam rumah sakit dan menemui suster jaga untuk menanyai ruangan ibu Fatimah yang sedang dirawat.


Mobil yang ditumpangi Fatimah pun melaju santai dijalan beraspal bebas hambatan.


" Neng..." Panggil Mang Cecep.


" Iya Mang..."


" Neng Fatimah sudah bertemu dengan Tuan Davin?"


" Tuan Davin?" Ucapnya seakan-akan berpikir siapa si Davin.


" Itu papahnya si non Keyra.."


" Oh...itu... Belum Mang...." Jawabnya tapi Fatimah berpikir kuat siapa kah tuan Davin yang disebutkan Mang Cecep.


" Apakah Tuan Davin itu yang berada tidak jauh dari kami kemaren yang mengawasi Aku dan non Keyra? Waktu itu?" Gumamnya dalam hati.


" Oh...iya Mang..."


" Kok bengong Neng?"


" Hehehe...lagi mikir Mang, saya belum tahu siapa Tuan Davin, karena belum bertemu dengan beliaunya Mang."


" Hehehe...Nggak apa-apa Neng, nggak usah dipikirkan, Tuan Davin itu orangnya baik banget,Tuan juga bisa bercanda sama kami-kami para pesuruhnya dirumah, tapi sayangnya sekarang dia tidak seperti yang dulu, kebanyakan diamnya, bicara aja bila ada yang diperlukan."


" Memang kenapa Mang?"


" Semenjak nyonya Sherli koma selama itu juga Tuan Davin berubah, menjadi pendiam, dingin dan tidak seperti dulu."


" Oh gitu ya.." ucap pelan Fatimah sembari menatap kearah depan jalanan, Mobil terus bergerak kearah tujuannya.


Dirumah sakit...

__ADS_1


Seorang lelaki yang berpakaian perlente pun melangkah menuju ruangan yang sudah diberitahu sama suster jaga tersebut.


Dengan pelan dia membuka pintu ruangan rawat inap itu,sambil berucap salam, dan terdengar balasan salam dua orang yang berada didalam ruangan itu, siapa lagi kalau bukan paman Ari dan Istrinya.


Mereka yang berada didalam terkejut melihat kedatangan seorang pria yang tampan,terlihat paman Ari tersenyum bersama istrinya pada lelaki tersebut, karena paman Ari sangat mengenal si pria tersebut.


" Apa kabar Pras..." Sambut paman Ari menyalami pria tersebut yang tak lain adalah Prasetyo teman Fatimah didesa dan Pras sekaligus adalah anak konglomerat terkenal didesa.


" Alhamdulillah paman baik dan sehat."


" Silahkan duduk, gimana kabar Ayah dan Ibu mu?"


" Baik-baik aja paman." Ucapnya seraya duduk di lantai ubin keramik diruangan rawat Ibu Fatimah, mereka memang duduk diruangan tersebut dilantai ubin keramik karena ruangan yang mereka tempati untuk merawat sang Ibu bukan ruangan VIP.


" Kok Ibu bisa sampai koma begini kenapa paman?"


" Hmmm...." Terdengar tarikan nafas paman Ari yang terlihat sedih dan diapun menatap kearah sang kakak yang masih betah menutup matanya.


" Apa yang terjadi paman?"


" Ibu Fatimah mengalami kecelakaan oleh orang tidak bertanggung jawab, tapi dari mana kamu tahu kalau ibu Fatimah ada dirumah sakit?"


" Saya dikasih tahu sama Ayah saya, setelah saya tahu makanya saya langsung kesini, berhubung saya dikota ada pekerjaan, dan maafkan Ayah saya ya paman karena belum bisa kesini dan membantu Fatimah disaat dia kesulitan sekarang ini, maaf paman kemana Fatimah? Saya sekilas melihatnya tadi dia naik mobil mewah, siapa dia yang menjemputnya? Padahalkan dia harus menjaga ibunya yang sedang sakit saat ini?" Tanya Pras bersemangat mengeluarkan pertanyaan tersebut.


" Iya nak, itu yang menjemputnya untuk bekerja hari ini."


" Apa paman? Bekerja? Masa dijemput dengan mobil mewah?" Tanyanya mengorek keterangan pada paman Ari.


Paman Ari tersenyum...


" Dia bekerja in sya Allah Halal nak, dan dia bekerja dijamin tidak macam-macam, karena dia bekerja sebagai pengasuh Anak kecil usia tiga tahun ditempat orang kaya yang gajihnya lumayan besar, bisa membantu membeli obat jika dirumah sakit ini, tidak tersedia obatnya." Terang paman Ari.


Terlihat Pras menganggukkan kepalanya dan terlihat juga dia sedang memikirkan sesuatu tentang Fatimah.

__ADS_1


__ADS_2