Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 49


__ADS_3

Fatimah merasa heran dan bingung kenapa Laura tiba-tiba saja langsung menangis, Laura yang awalnya duduk di samping Fatimah kemudian merosotkan tubuhnya turun ke lantai ubin keramik dikamar Keyra itu, dia pun langsung memegang tangan Fatimah dengan kedua tangannya dan bersimpuh di hadapan Fatimah semakin bertambah bingung Fatimah dengan kelakuan Laura saat itu.


Fatimah kemudian memegang lengan Laura.


" Mbak Laura ada apa? kenapa Mbak Laura seperti ini? Ayo duduk di samping saya aja seperti tadi, cerita ada masalah apa Mbak? cerita lah pada saya, siapa tahu saya bisa membantu dengan masalah Mbak."


" Kak Fatimah Maafkan Laura, Maafkan Laura Kak sungguh Maafkan Laura, Laura sangat bersalah sekali dengan kakak, terutama dengan keluarga kakak, Laura sudah menorehkan luka di keluarga kakak begitu juga dengan keluarga Laura."


" Mbak Laura ada apa? tolong Mbak Laura cerita dengan saya masalahnya ada apa? Mbak Laura tidak menyakiti keluarga saya."


Fatimah pun kemudian mengangkat tubuh Laura dan kembali duduk di sampingnya dia mengusap air mata Laura dengan pelan, Dia kemudian menggenggam tangan Laura, Laura yang masih terlihat sedih dengan mata yang sembab dan terlihat bengkak dengan hidung yang memerah dan terlihat wajah sedikit pucat karena terlihat memikirkan sesuatu.


" Laura mau cerita sama kakak, tapi Laura mohon kalau udah cerita kakak jangan memotong cerita Laura, kalau kakak ingin marah tapi setelah Laura cerita, sebelum Laura cerita Laura mohon sama kakak jangan kakak batalkan pernikahan kakak dengan Kak Davin, karena Kak Davin sudah sangat menyukai kakak, Kak Davin sangat bahagia jika hidup bersama dengan kakak."


Fatimah terkejut dengan ucapan Laura dia tidak menyangka kalau Tuan mudanya itu benar menyukainya.


" Ya Tuhan, kenapa saat Laura berbicara seperti ini, hatiku merasa bahagia sekali mendengar kata-kata Laura, apakah mungkin memang benar kalau tuan muda sangat menyukaiku dan Tuan Muda akan bahagia bersama denganku? Ya Tuhan kalau memang tuan muda adalah jodohku lancarkanlah, tapi seandainya tuan muda bukan jodohku, jauhkanlah dariku." Gumamnya dalam hati sembari menatap ke arah Laura.


Kemudian Laura melanjutkan kembali bicaranya dia menatap ke arah Fatimah.


" Kak Fatimah, jadilah lentera yang terindah dan terang untuk Kak Davin, apalagi Keyra yang sudah sangat menyayangi kakak, seperti ibu kandungnya sendiri, Laura mohon ini bukan kesalahan dari Kak Davin, bukan juga kesalahan dari Mamah, tapi ini murni kesalahan dari Laura, Laura mohon sama kakak jangan sampai kakak memutuskan atau membatalkan pernikahan yang akan dilaksanakan sebentar lagi, Laura akan bertanggung jawab semua kesalahan Laura, Laura juga pasti akan mempertanggungjawabkan semuanya, ini adalah janji Laura pada kakak, tolong ya kak saat Laura cerita jangan dipotong itu minta Laura."


"Tunggu..! tunggu dulu, ini masalahnya apa? saya tidak mengerti Mbak, tolong mbak ceritakan kalau Mbak tidak cerita saya tidak tahu harus bagaimana."


Laura pun menangis kembali melihat itu pun Fatimah langsung memeluk Laura, Laura menangis dalam dekapan Fatimah, Fatimah merasa bingung dan merasa penasaran dengan sikap Laura itu.

__ADS_1


" Ada apa sebenarnya yang mengganggu pikiran Mbak Laura?"


Gumamnya sembari mengusap lembut rambut Laura.


" Ya Tuhan, kuatkan aku untuk bicara dengan Kak Fatimah, Apapun yang terjadi, maafkan aku kak Davin, karena aku akan berterus terang pada kakak Fatimah, ini demi kita semua, Maafkan aku... maafkan aku... karena aku sudah menolehkan kecewa dan luka yang dalam di keluarga kita, terutama keluarga Kak Fatimah." Gumamnya dalam hati kemudian dia melepaskan pelukan Fatimah, dia pun menatap wajah Fatimah, terlihat wajah Fatimah menatapnya dengan sendu karena Fatimah tidak mengerti dengan isi pikiran Laura.


" Kak Fatimah, sebenarnya..." Laura menghentikan kalimatnya Fatimah menatap ke arah Laura dia pun kemudian membelai rambut gadis yang ada di depannya itu.


" Sebenarnya kenapa Mbak Laura? kenapa Ada apa Mbak? Mbak Laura bisa cerita dengan saya."


" Sebenarnya Laura lah yang menyebabkan ibunya Kak Fatimah koma selama ini." ucapnya sembari menundukkan kepalanya menangis ke sesugugukan, Fatimah kemudian terdiam, dia merasa badannya lemah tidak berdaya dia yang awalnya memegang tangan Laura pun terasa tidak ada kekuatan lagi untuk memegangnya dia melemah karena dia tidak menyangka akan mendengar kejujuran dari Laura,saat mendengar Laura berbicara seperti itu dia terkejut dengan kejujuran Laura itu, perasaannya berkecamuk menjadi satu antara percaya dan tidak tentang apa yang diucapkan oleh Laura.


Laura kemudian bersimpuh kembali di hadapan Fatimah dia menggenggam tangan Fatimah yang terasa dingin itu, Fatimah tidak menyangka akan mendengar berita yang rasanya tidak mungkin dia dengar tak terasa air matanya pun menetes dalam diam.


" Maafkan Laura Kak, Laura harus pergi menuju ke tempat di mana Laura semestinya berada saat 5 bulan yang lalu." ucapnya.


Laura pun kemudian melangkah meninggalkan Fatimah saat dia membuka pintu kamar Keyra terdengar suara Fatimah memanggilnya.


" Mbak Laura..."


Laura kemudian menoleh dan menghentikan langkahnya yang sudah hendak keluar dari ruangan tersebut.


Terlihat Fatimah berdiri dari duduknya dan langsung mendekati Laura dia pun langsung memeluk gadis muda tersebut.


Laura pun membalas pelukan Fatimah mereka berdua sama-sama menangis pilu, sama-sama terisak, sama-sama tidak berbicara, mereka berdua menikmati tangis yang mereka alami saat ini.

__ADS_1


Setelah Davin berbicara dengan Bu Santi, Davin kemudian pamit ingin melihat ke kamar Keyra, memanglah kebiasaan Davin sebelum dia tidur dia selalu menuju ke arah kamar sang anak, dia ingin melihat anaknya tersebut sebelum dia memasuki kamarnya, namun saat dia berada di depan pintu kamar anaknya yang kebetulan pintu kamar tersebut tidak tertutup dengan rapat, Dia mendengar suara isak tangis dari dalam, karena merasa penasaran Davin pun mendorong pelan pintu tersebut dan menatap ke arah dalam, tanpa disadari oleh Fatimah dan Laura karena mereka berdua asyik dalam tangisnya itu, Davin terkejut melihat apa yang terjadi, Dia kemudian menutup pelan kamar itu seperti semula, kemudian dia berjalan dengan cepat menuju ke arah lantai bawah di mana sang Mamah masih berada di ruang tamu, Bu Santi yang melihat kedatangan Anaknya lagi itupun merasa heran karena wajah Davin terkejut.


" Mamah..!" panggil Davin.


Bu Santi langsung berdiri dari duduknya Dia mendekati Davin yang berada di pintu ruang tamunya itu.


" Ada apa Vin? kenapa wajah kamu sepertinya terkejut begitu? memang ada apa di kamar Anakmu?" tanya Bu Santi mengetahui kalau anaknya itu baru saja datang dari kamar Anaknya.


Davin langsung meraih tangan Bu Santi dan menariknya pelan membawanya ke lantai atas menuju ke arah kamar Keyra.


Davin kemudian membuka lebar pintu tersebut dan mereka berdua melihat Fatimah dan Laura masih asik dengan tangisnya sambil berpelukan.


Bu Santi dan Davin Saling pandang kemudian Bu Santi mendekati mereka berdua dan menyentuh pundak mereka secara bersamaan.


Laura dan Fatimah terkejut kemudian melepaskan pelukan mereka sambil menghapus air mata mereka masing-masing.


" Ada apa? kenapa kalian berdua bertangisan seperti ini ?"tanya Bu Santi sembari meraih kedua tangan wanita yang ada di depannya itu, dan membawanya duduk ke sofa yang ada di dalam kamar Keyra.


Davin hanya berdiri sembari mensedekapkan tangannya didada seraya tangan yang satunya menutup sebagian mulut dan hidungnya.


" Cerita sama Mamah Laura Ada apa? cerita sama ibu Fatimah ada apa.?"


" Mah Laura sudah berkata jujur dengan Kak Fatimah, Laura ingin pergi ke tempat di mana Laura semestinya berada 5 bulan yang lalu."


Davin terkejut dan menatap ke arah Laura, begitu juga dengan Bu Santi, rasa tidak percaya mendengar ucapan dari anak gadisnya itu.

__ADS_1


__ADS_2