
" Maaf tuan muda, saya duduk membelakangi tuan,,," ucap Fatimah sembari berdiri dan menjauh dari Davin.
Davin baru tersadar dan diapun menutupi rasa yang ada didalam dirinya terhadap Fatimah.
" Oh iya,,, nggak apa-apa..." Ucapnya acuh dan dingin, Diapun langsung melangkah keluar ruangan itu dan menuju keruangan Haris.
" Ya Allah...kenapa aku sampai lupa sih kalau aku berada diruangannya tuan, pasti dia sangat marah sekali dengan ku sehingga dia menjawab ku dingin banget, Astaga Fatimah...kenapa kamu sampai teledor gini sih...." Ucapnya sembari menggendong Keyra keluar kamar dan menuju kearah sofa karena Bu Santi menyuruhnya menunggu diruangan Davin.
" Mamah...jangan tinggalkan Key ya..." Ucap gadis mungil tersebut dan dianggukkan Fatimah dan mereka pun mulai bermain diruangan itu sembari menunggu Bu Santi datang,. Sedangkan mata Fatimah menyusuri ruangan tersebut mencari Davin berada, tapi sayangnya Fatimah tidak menemukannya, karena Davin tidak berada diruangannya itu, Fatimah hanya menghela nafasnya dengan pelan.
Dirumah Clara...
" Aku masih penasaran siapa gadis itu sebenarnya? Kenapa anak itu memanggilnya dengan sebutan Mama? Coba aku tanyakan dengan Laura." Ucapnya sembari mengambil ponselnya dan menghubungi Laura.
" Ya kak ada apa?" Tanya Laura diseberang sana.
" Nggak ada apa-apa, kakak cuma mau menanyakan kabar kamu sekarang, bagaimana keadaannya?" Tanya Clara berbasa basi.
" Yah, gitu lah kak, bosen jadinya dirumah, semua pada sibuk, mamah sibuk dengan acara Keyra esok harinya, dan kak Davin sibuk dikantor dan urusan kak Sherly, aku hanya sendiri dirumah bete jadinya." Ucap Laura.
" Kenapa kamu nggak kesini aja barenga kakak, kita bisa kan jalan-jalan melepaskan penat dikepala." Ajaknya pada Laura.
" Gimana mau menemui kakak, aku dimarahi kak Davin keluar sementara ini." Ucap Laura ada nada kesedihan disuaranya.
" Hmmm...kalau gitu ntar kakak yang main ketempat kamu."
" Yang bener kak...." Sahut laura kegirangan, karena dia merasa sudah cocok dengan Clara dan Clara juga sudah sangat mengerti dirinya.
" Iya dek, nanti kakak main kerumah kamu, oh iya tadi kakak ketemu dengan mamah kamu dan juga Keyra, tapi ada wanita muda bersama mereka, siapa dia? Kakak baru melihatnya."
" Oh...itu, dia pengasuhnya Keyra kak, dia baru hari ini bekerja, kenapa kak?"
" Ah...enggak kok, cuma nanya aja, tapi bener itu babysisternya Keyra?"
" Iya kak, kenapa kak?"
" Kok Keyra manggil dia mamah sih?"
__ADS_1
" Hahahaha...kakak ini ada-ada aja sih, namanya juga anak kecil kak, dia kan nggak pernah bersama dengan mamahnya, karena kak Fatimah baik dengannya jadi deh Keyra manggil dia mamah, kenapa kak? Kakak cemburu ya? " Ucap Laura terkekeh.
" Iihhh...apaan sih dek, mana mungkinlah kakak cemburu, lagian mana mungkin juga selera kakak mu gadis kaya gitu,. Norak dan kampungan." Ucap Clara.
" Heheheh, bener juga ya kak, masa iya sih kalau kak Davin naksir dan suka kak Fatimah yang nota benenya dari kampung, bagusan kak Clara, sudah cantik, terpelajar dan baik lagi, aku sih setuju aja kalau kak Davin menikah dengan kak Clara, dan lagi kan kak Sherly udah lama juga nggak bangun-bangun dan entah kapan juga bisa bangun, didekati aja kak,kak Davinnya." Lanjut Laura merasa senang kalau Clara jadi kakak iparnya.
" Gimana mau mendekatinya dek, Davinnya dingin kaya gitu, sepertinya sudah nggak ada gairah lagi sama wanita karena kelamaan sendiri."
" Tenang aja kak, nanti aku yang akan bantu kakak..."
" Benerkah?"
" Iya kak bener..."
" Makasih ya...kakak tunggu kabar baiknya..." Ucap Clara sembari menyudahi pembicaraan mereka.
Terlihat Clara sangat senang karena dia sudah bisa mengambil hati Laura adik tersayang Davin.
" Kalau Laura sudah ada ditangan tinggal Tante Santi lagi yang harus aku rengkuh, biar perjalanan ini mulus untuk mendapatkan cinta Davin...oh Davin...kamu tak akan bisa pergi dariku, kamu akan jadi tawanan hatiku sayang...dan Sherly penyakitan itu akan siap-siap menjadi penghuni rumah duka hahahahah..." Ucapnya sembari merebahkan tubuhnya terlentang diatas kasur empuknya dengan tersenyum-senyum sendiri.
Davin yang sudah mengetahui sang mamah datang keruangannya dia pun langsung mendekati sang mamah.
" Mamah...." Panggilnya pelan, namun bu Santi mengisyaratkan untuk diam dan menunjuk kearah Fatimah dan Keyra yang asyik bersenda gurau dan sesekali terdengar tawa mungil Keyra yang sangat bahagia.
" Betapa senangnya kamu Nak, seandainya kamu tertawa bersama dengan mamah kamu sungguhan, betapa bahagianya papah nak." Ucap pelan Davin membuat bu Santi terkejut dan menoleh kearah Davin.
" Davin...kamu masih berharap Sherly bangun?"
" Iya mah..." Ucapnya mengangguk.
" Nak...semua yang kamu harapkan itu juga mamah harapkan,. Tapi karena takdir sudah berkata lain seharusnya kamu iklas dengan takdir Allah, iklaskan Sherly pergi nak, in sya Allah Nanti kamu akan mengerti kalau seandainya kamu tahu sebenarnya Sherly dibantu dengan alat-alat itu untuk hidup, sadarlah nak, kalau sebenarnya Sherly sudah tiada." Ucap Bu Santi sembari mengusap pundak sang anak.
Namun Davin hanya menggeleng dan menatap sang mamah agar sang Mamah bisa mengerti keadaannya.
Bu Santi hanya menghela nafasnya dan melangkah mendekati Fatimah dan Keyra.
" Bu....sudah datang?"
__ADS_1
" Iya Fatimah, ayo kita pulang..."
Dianggukkan Fatimah dan kemudian Keyra pun berdiri minta gendong dengan Fatimah, melihat Keyra yang meminta gendong itu, Davin langsung mendekati buah hatinya itu.
" Gendong sama papah ya, papah Antar kebawah dan kita sekalian makan siang" ucapnya dianggukkan Keyra.
" Mah, sebelum pulang kita makan siang dulu ya..." Ajak Davin dianggukkan sang mamah.
" Mamah ...jangan jauh-jauh dari Key..." Pinta Keyra dalam gendongan sang papah.
Fatimah tersenyum dan mengangguk.
" Jalanlah disampingku." Ujar Davin menyuruh Fatimah berjalan disampingnya layaknya sepasang suami istri dengan satu anak, Davin mengatakannya seperti itu karena permintaan sang anak yang tidak ingin Fatimah jauh-jauh darinya, akhirnya Fatimah pun berjalan disamping Davin dan Bu Santi tersenyum melihat mereka bertiga.
" Terasa lengkap sudah rasanya, seandainya Davin merelakan semua alat medis itu dilepas dari tubuh Sherly, mungkin orang pertama yang aku pilih untuk menjadi mamah penganti buat Keyra adalah Fatimah, karena Fatimah sepertinya tidak terbebani dalam mengasuh cucunya, dan dia juga sangat sayang sekali dengan Keyra padahal baru sehari bekerja, sangat sulit menemukan seorang pengasuh seorang anak yang begitu akrab dengan anak yang diasuhnya tidak membutuhkan banyak hari untuk dia akrab dengan Keyra tapi hanya memerlukan beberapa detik Keyra sudah merasa nyaman dengan Fatimah." Gumam Bu santi dalam hati sembari mengikuti langkah mereka bertiga menuju lift, dan mereka pun memasuki lift tersebut menuju kearah Lobby dan mereka kembali melangkah menuju kearah mobil, terlihat semua mata menatap kearah Fatimah dan Davin, tapi Davin tidak memperdulikannya, tapi tidak dengan Fatimah, dia merasa kikuk dan serba salah karena diperhatikan karyawan Davin.
Terdengar desas desus ditelinga Fatimah, ada yang mengatakan mereka cocok dan ada yang bilang mereka kurang cocok dan ada juga yang bilang Fatimah terlalu kampungan berharap jadi nyonya dalam keluarga kaya.
Tanpa sadar tangan Davin memegang tangan Fatimah untuk menguatkan Fatimah agar Fatimah tidak termakan suara-suara yang mengatakannya seperti itu, Fatimah terkejut dan dia pun hendak menarik tangannya agar tidak dipegang Davin, tapi terlihat Davin tidak melepaskannya sampai di depan pintu lobby dan securitynya pun menyerahkan kunci mobilnya tersebut padanya dan barulah tangannya dilepasnya dari Fatimah, degupan kencang didada Fatimah membuat dirinya tidak bisa bersahabat dengan degupan tersebut.
" Apa yang dilakukan tuan Davin tadi? Kenapa dia memegang tangan ku? Apakah dia mendengar ucapan anak buahnya itu? Ya Allah, kenapa ini jantung berdegup terus? Kenapa aku jadi gugup kaya ini sih?" Ucapnya terdiam disamping pintu mobil tuannya itu.
" Fatimah....Ayo masuk..." Ajak bu Santi mengejutkan Fatimah dan dia pun langsung mengangguk, saat Fatimah hendak masuk kebagian kursi belakang, dia dikejutkan suara Davin.
" Duduk didepan, disampingku..." Ucapnya santai.
" Oh....tapi..?" Ucap Fatimah dengan menatap kearah Bu Santi dan dianggukkan bu Santi.
" Cepatlah, nanti keburu habis waktu makan siang!" Ucap Davin dengan nada dinginnya dan tak sekalipun dia menoleh kearah Fatimah.
" Ba...baik tuan..." Ucapnya dan langsung memasuki mobil dan duduk disamping Davin yang saat itu dalam posisi menyetir mobil pribadinya itu.
Mobil Davin perlahan-lahan meninggalkan tempat parkir kantornya itu menuju resto langganannya, rona merah masih merona diwajah Fatimah, dan degupan jantungnya pun masih berdegup dengan kencang karena dua momen dia rasakan saat ini, mendapatkan genggaman tangan tuan mudanya dan duduk bersebelahan dalam satu mobil bersama tuan mudanya, sesekali Davin melirik kearah Fatimah.
" Cantik..." Ucap batinya.
" Astaga Davin....apa yang kamu katakan, istri kamu masih berjuang Davin, dan kenapa juga tadi kamu pegang tangannya Davin? Sadar Davin...sadar Davin..." Gumamnya dalam hati, kemudian dia mengusap wajahnya dengan pelan dengan satu tangannya dan satunya lagi memegang stir, mobil terus berjalan dan menuju kearah tujuan.
__ADS_1