Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 59


__ADS_3

Beberapa jam Fatimah berada di samping sang ibu semakin Fatimah menggenggam tangan ibunya semakin terasa sering pergerakan di tangan ibunya itu, Fatimah merasakan ibunya sangat merespon dengan pegangan tangannya, Fatimah tersenyum karena dia melihat mata ibunya bergerak.


" Ibu, ibu mendengar suara Fatimah kan? kalau Ibu sudah mendengar suara Fatimah, tolong bukalah mata ibu, Fatimah merindukan ibu berbicara seperti dulu dengan Fatimah dan Aisyah." ucapnya sembari merangkul sang adik yang masih berada di sampingnya itu.


" Ibu, ini Aisyah, Aisyah juga merindukan Ibu, ayo Ibu bangun, Ibu bukalah mata ibu."


Perlahan-lahan Mata Ibu Fatimah pun terbuka dan dia mengedip-ngedipkan kelopak matanya tersebut, tapi dia tidak bersuara, Aisyah pun langsung menitikan air matanya dan mencium wajah ibunya itu.


" Alhamdulillah, Ibu sudah bisa membuka matanya." Ucapnya sembari melangkah kearah mereka.


" Paman, Kakak, Ibu membuka matanga." ucapnya memberi kabar kepada orang yang ada di ruangan itu, mereka pun kemudian langsung menghampiri ke tempat tidur Ibu Fatimah.


" Ibu...Ya Tuhan akhirnya Ibu membuka mata." ucap Fatimah terasa senang dan bahagia.


Mereka yang nampak di situ pun sangat senang mendengar dan melihat kalau ibu Nani sudah bisa membuka matanya, walaupun belum mampu berbicara, melihat ibu Nani sudah bisa membuka matanya itu, Davin pun kemudian keluar menuju ke arah ruangan dokter yang menangani Ibu Fatimah selama ini, Dia kemudian berbicara dengan dokter sesaat, kemudian dokter dan suster pun kembali menuju ke ruangan ibu Nani, Dia kemudian memeriksa ibu Nani, setelah berbicara sesaat dengan suster tersebut dia merasa bahagia dan tersenyum.


" Syukurlah, karena respon dari anak-anaknya lah yang membuat ibu Nani bertahan dan Dia mulai mendapatkan kesadarannya." Ucap pak Dokter.


" Fatimah..." Panggil Bu Nani terbata-bata.

__ADS_1


" Iya Bu..."


' Ibu haus Nak..." ucapnya pada Fatimah, kemudian Aisyah yang langsung mengambilkan air minum yang ada tidak jauh darinya dengan perlahan Aisyah memberikan minum itu melalui sendok makan yang memang sudah berada di dalam gelas tersebut, kemudian Bu Nany meminum air dari sendok itu perlahan-lahan.


" Lebih baik kita biarkan dulu Ibu Nani istirahat sebentar karena dia mengembalikan kembali tenaganya, ibu Nany sudah mendapatkan kesadarannya." ucap pak dokter menjelaskan pada keluarga Fatimah, dan keluarga Davin, mereka menganggukkan kepalanya dokter dan suster itu pun keluar kembali dan hanya ada di ruangan itu keluarga Fatimah dan keluarga Davin.


Beberapa saat Bu Nany dibiarkan beristirahat sebentar kemudian dua orang suster dan satu dokter pun masuk kembali ke dalam ruangan tersebut, Mereka pun melepas alat medis yang ada di tubuh Bu Nani dan yang tertinggal hanyalah alat bantu pernapasannya saja, setelah dua orang suster satu dokter itu pun pergi dari ruangan Bu Nani, Fatimah tidak berlalu dari ibunya itu, dia masih dengan dandanan dan pakaian saat dia menikah tadi, tidak berganti sama sekali sejak tadi dia hanya duduk di samping sang ibu.


Bu Nani menatap ke arah Fatimah, Fatimah pun tersenyum melihat sang anak yang begitu cantik yang menggunakan gaun kebaya putih dan sedikit hiasan menambah kecantikan dirinya.


" Fatimah, ibu senang sekali melihat kamu seperti ini." Ucap Bu Nani sambil terbata-bata dia bersuara kemudian Davin mendekat ke arah Fatimah.


" Iya nak, Ibu tahu, terima kasih sudah mau menerima Fatimah sebagai istrimu, karena kami adalah orang yang susah." ucapnya tersenyum, dan Davin juga tersenyum, mendengar ucapan dari ibu Nani mertuanya itu.


" Ibu, saya menerima dengan ikhlas keadaan Fatimah, karena saya memang benar-benar menyayangi Fatimah." ucapnya sembari meraih tangan Bu Nani dan mencium punggung tangan Bu Nani tersebut, Bu Nany merasa bahagia dia pun tidak henti-hentinya mengucap rasa syukur walaupun dirinya masih dalam keadaan lemah terbaring di ranjang rumah sakit itu.


" Nani.." panggil Pak Ahmad, Bu Nani tersenyum melihat Pak Ahmad yang ada di hadapannya itu, tidak ada rasa marah, ataupun dendam di wajahnya, karena sudah meninggalkannya demi wanita lain.


" Maafkan aku Nani, kamu menderita karena gara-gara aku, aku tidak bisa bertahan dan berjuang bersama denganmu, Maafkan aku Nani."

__ADS_1


" Sudahlah Pak, itu sudah berlalu, sekarang bapak sudah bahagia bersama dengan wanita lain dan aku juga bahagia dengan anak-anak kita, dan terima kasih ya Pak karena sudah datang di hari pernikahan anak kita, kamu menepati janjimu, semoga nantinya kamu masih menepati janjimu untuk anak kita yang kedua, kalau seandainya Aisyah sudah mendapatkan jodohnya kelak."


" In sya Allah, aku akan selalu menepati janjiku pada anak-anakku, walaupun kita sudah berpisah, terima kasih sudah membukakan pintu maaf untukku, maafkan segala kesalahanku dan semoga aku tetap berumur panjang agar bisa selalu mendampingi anak-anakku dalam menemukan jodohnya nanti." ucapnya sembari tersenyum, dia menatap wajah mantan istrinya itu tidak ada rasa kecewa tidak ada rasa benci dan tidak ada rasa penyesalan terpancar di wajahnya, Mereka pun tersenyum dan bahagia melihat ibu Fatimah sudah mendapatkan kesadarannya kembali, beberapa saat kemudian suara ponsel Pak Ahmad pun berbunyi dia langsung menjawab panggilan tersebut, yang ternyata dari sang istri, Dia kemudian pamit untuk menjawab panggilan tersebut dia tidak ingin menjawab panggilan itu di tengah-tengah kebahagiaan anaknya itu, kemudian dia melangkah keluar dan menjawab panggilan dari Bu Feny.


" Mas! sudah selesai kan acaranya, lebih baik sekarang kamu pulang! kalau kamu masih berada di situ aku tidak segan-segan lagi untuk meminta pembayaran waktu yang kamu sudah buang untuk menghadiri pernikahan anakmu itu!"


Pak Ahmad tidak menjawab sama sekali perkataan istrinya, Dia kemudian mematikan ponselnya dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya, kemudian dia melangkah ke dalam dengan berat hati dia pun berpamitan dengan keluarga besannya itu, dan juga Mantan istrinya beserta kedua anaknya dengan keikhlasan dan lapang dada Mereka pun melepas kepergian ayah mereka untuk kembali ke rumah istri keduanya itu.


Pak Ahmad pun melangkah meninggalkan ruangan Bu Nani menuju ke arah luar, Haris kemudian mengejar Pak Ahmad, karena diperintahkan untuk mengantarkan Pak Ahmad kembali ke rumahnya.


" Pak Ahmad, tunggu Pak!"


Pak Ahmad membalikkan badannya menatap ke arah Haris.


" Biar saya antar bapak ke rumah bapak."


" Tidak usah nak, karena saya akan dijemput sama istri saya, tapi saya tidak mau berada di depan rumah sakit ini, Karena saya takut nanti istri saya akan kembali datang ke sini kalau seandainya tahu pernikahan itu diadakan di rumah sakit karena sifat ingin tahunya sangat besar ujung-ujungnya membuat gaduh."


Haris hanya mengganggukan kepalanya dan mengantarkan Pak Ahmad ke depan pagar rumah sakit, kemudian Pak Ahmad meninggalkan Rumah Sakit menuju ke arah Mushola yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut, di depan mushola itulah dia kemudian menghubungi sang istri agar menjemputnya di tempat itu, Haris pun hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu kembali dari depan rumah sakit itu menuju ke ruangan Bu Nani

__ADS_1


__ADS_2