
Sampainya didepan ruangan dimana Ibu Fatimah dirawat, Haris lalu membuka pintu sembari mengucapkan salam pada mereka, yang ada di dalam pun menjawab salam Haris, semua menatap ke arah pintu karena Fatiamh sudah bertemu dengan sang Ayah dia hanya tersenyum, sedangkan Aisyah menatap lekat ke arah Pak Ahmad, dia tidak bisa lagi menyembunyikan bulir bening di matanya, terlihat bulir bening itu pun mengalir di pipi cantiknya, Ayah yang selama ini dirindukannya sudah berada di depan matanya, tidak ada rasa dendam sakit hati yang dia rasakan, tapi melainkan rasa kerinduan yang dalam pada sang Ayah, Pak Ahmad pun menatap ke arah Aisyah, karena Aisyah belum pernah dilihatnya saat dia dewasa saat ini, karena saat Pak Ahmad meninggalkan keluarganya itu untuk memutuskan tinggal bersama dengan Bu Feny, Aisyah masih kecil, Aisyah kemudian mendekati Pak Ahmad dia pun langsung memeluk Ayahnya itu dengan tangis dan rasa bahagia yang dirasakannya, karena saat ini dia bisa bertemu dengan Ayahnya, suasana di ruangan itu pun nampak sekali dengan keharuan yang melanda Ayah dan anak itu, Fatimah juga merasakan kesedihan yang paling dalam, dia melihat sang adik yang memeluk ayahnya itu pun dia langsung berdiri dan mendekati Pak Ahmad, karena dia tidak melihat ayahnya itu bersama dengan Bu Feni dia langsung meraih tangan sang ayah yang sejak lama ingin dia lakukan dan mencium punggung tangan Ayahnya itu, Pak Ahmad pun kemudian memeluk kedua putrinya tersebut dengan penuh kasih dan sayang, Pak Ahmad menatap ke arah Fatimah dan memberikan isyarat agar Fatimah tidak menangis
" Jangan menangis nak, ini adalah hari bahagiamu, semua ini adalah salah Ayah, Ayah sudah meninggalkan kalian, karena Ayah terlalu egois dan tidak mau berjuang bersama dengan kalian, maafkan ayah nak, maafkan ayah." ucapnya sembari menghapus pelan air mata anaknya tersebut, Fatimah hanya menganggukkan kepalanya.
" Ayah rindu dengan kalian berdua, ternyata anak ayah sudah besar dan sudah dewasa." ucapnya menatap ke arah Aisyah, Aisyah menghapus air matanya sembari menganggukkan kepalanya, Kemudian mereka pun melangkah menuju ke arah samping ranjang sang ibu karena waktu pernikahan sudah tiba
Tibalah waktunya acara pernikahan Fatimah dan Davin dilaksanakan, Pak Ahmad dan keluarga Fatimah yang lain tidak banyak bicara, Begitu juga dengan keluarga Davin karena mereka ingin melaksanakan pernikahan terlebih dahulu, setelah itu barulah Mereka ingin berbicara satu sama lainnya, terutama Paman Ari yang ingin sekali berbicara lebih banyak dengan mantan kakak iparnya itu.
Pernikahan pun dimulai di depan Ibu Fatimah yang sedang koma, ijab kabul yang diucapkan Davin pun tetap terlaksana dengan satu tarikan nafas Davin mengucapkan ijab Kabul tersebut dan disaksikan dengan kedua belah pihak keluarga masing-masing, akhirnya pernikahan itu sah, Aisyah dan Fatimah serta keluarga yang lain pun merasa bahagia, begitu pula dengan Davin dia menatap ke arah Fatimah yang sudah beberapa detik menjadi istrinya yang sah, Fatimah kemudian meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan Davin, begitu pula dengan Davin dia menyentuh kepala Fatimah dan mencium pucuk kepala istrinya itu, kemudian dia menyematkan cincin pernikahan mereka berdua, dan mereka berdua pun saling meminta doa restu pada keluarga mereka yang hadir di pernikahan mereka tersebut.
Davin kemudian duduk di samping ranjang rawat inap Bu Nani, Dia memegang tangan Bu Nani dan mencium punggung tangan Bu Nani sembari menatap wajah Bu Nani yang terlihat sekali menggoreskan senyum di wajahnya yang sepertinya Bu Nani merasakan kebahagiaan anaknya itu, Walaupun dia tidak membuka matanya sama sekali.
__ADS_1
" Ibu, sekarang saya adalah menantu Ibu, saya akan menjaga anak ibu dan memberikan kebahagiaan padanya, Saya tidak akan pernah menyakitinya, saya akan memberikan kebahagiaan yang tulus untuknya." ucap Davin berbicara pelan sembari mengusap tangan Bu Nani tanpa terasa Fatimah menitikan air matanya, melihat suaminya itu berbicara pelan dengan sang Ibu, seolah-olah Bu Nani mendengar ucapan dari Davin, jari jemari Bu Nani pun bergerak, Davin terkejut Dia kemudian menatap ke arah Bu Nani dan kembali menatap ke arah Fatimah, Fatimah merasa heran dia pun kemudian mendekati suaminya itu yang beberapa menit sudah menikahinya.
" Ada apa mas?" tanyanya sembari menatap ke arah Davin.
" Ibu...."
" Kenapa dengan ibu?" tanya Fatimah dan membuat mereka yang ada di situ pun merasa heran, dan menatap ke arah Davin dan Fatimah, kemudian mendekati ranjang ibu Nani.
" Apa Mas? tangan Ibu bergerak?" tanya Fatimah seakan tidak percaya kalau ibunya merespon dengan ucapan suaminya itu, dia pun kemudian memegang tangan sang Ibu, dia mengelus tangan ibunya itu dan dia berucap sembari meneteskan air matanya.
" Ibu, Apakah ibu mendengar suara Fatimah, kalau ibu mendengar bukalah mata Ibu, hari ini Fatimah menikah Bu, Ibu pasti bahagiakan? karena anak ibu sudah menjadi seorang istri." ucapnya sembari terus memegang tangan ibunya itu dan beberapa saat Fatimah membiarkan tangan ibunya berada di tangannya, memang benar saat Fatimah selesai berbicara tangan Bu Nani pun merespon ucapan Fatimah, tangan itu pun bergerak Fatimah merasa senang karena ucapan suaminya itu tidak salah kalau ibunya memang merespon ucapan Fatimah.
__ADS_1
"Mas... Ibu memang merespon, Ya Tuhan, akhirnya Ibu bisa merespon apa yang aku bicarakan." ucapnya terlihat senang.
" Baiklah, kalian tunggu di sini, saya akan memanggilkan dokter." ucap Davin kemudian meninggalkan mereka yang ada di ruangan itu, sembari menunggu dokter datang bapak penghulu pun berpamitan pada mereka, setelah urusan semuanya selesai di ruangan itu, yang ada di ruangan hanyalah Pak Ahmad, Haris dan keluarga Fatimah beserta keluarga Davin, mereka duduk di sofa sembari menunggu kedatangan dokter bersama dengan Davin untuk memeriksa kembali keadaan ibu Fatimah.
Beberapa saat kemudian Davin datang bersama dengan dokter yang selalu menangani ibu Nani yang memang ditugaskan pihak rumah sakit untuk khusus menangani ibu Nani atas permintaan Davin, setelah Bu Nani dipindahkan dari ruangan rawat inap yang sebelumnya.
Terlihat dokter pun memeriksa dan seorang suster mencatat keterangan yang ada, setelah selesai pemeriksaan itu dokter pun tersenyum pada mereka, membuat Fatimah dan keluarganya pun merasa yakin kalau sang Ibu sudah mengalami perubahan yang sangat besar.
" Syukurlah! pasien sudah sedikit mendapatkan kesadarannya, tapi untuk sadar total kita masih menunggu beberapa hari itu waktu yang maksimalnya, tapi mudah-mudahan saja tidak sampai beberapa hari untuk pasien menemukan alam sadarnya lagi minimalnya kalau sudah ada respon seperti gerakan kaya tadi, beberapa jam kemudian pasien perlahan-lahan akan membuka matanya, mudah-mudahan aja cepat sadarkan dirinya atas kehendak Yang Maha Kuasa.
Fatimah merasa senang sekali, Dia pun tersenyum mendengar penjelasan dari dokter yang ada di hadapannya itu, setelah Pak dokter dan suster itu berpamitan dengannya Fatimah tidak beranjak dari duduknya, Dia memegang tangan sang Ibu sembari membawa ibunya itu berbicaraz Davin dan yang lainnya pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu,dia membiarkan istrinya itu berada di samping sang ibunya.
__ADS_1