Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 27


__ADS_3

" Papah...Key mau Mamah..." rengek Keyra pada Davin.


" Iya nak, nanti kamu akan bertemu dengan Mamah, sabar ya..." ucap Davin sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Dirumah sakit, Disaat Fatimah merasa bingung dengan keadaannya sekarang ini dia hanya duduk disamping Ranjang sang Ibu.


" Fatimah, paman dan tante mu mau nyari pinjaman dulu ya, biar bisa membeli obat ibu mu." ucapnya sembari mengusap pundak sang keponakan.


" Iya paman, nanti kalau sudah Fatimah terima gajih dari majikan Fatimah Bu Santi Fatimah akan melunasi utang itu." ucapnya terlihat sedih.


" Doakan ya nak, mudaha-mudahan paman bisa mendapatkannya." ucap paman Ari dianggukkan sang istri, setelah berpamitan dengan Fatimah sepasang suami istri tersebut langsung meninggalkan ruangan itu menuju kearah tempat parkir dimana dia memarkirkan kendaraan roda duanya tersebut.


Tidak beberapa lama kemudian beberapa perawat laki-laki dan peremuan beserta pimpinanan rumah sakit dan seorang dokter yang sering merawat ibunya Fatimah, mereka menuju keruangan ibu Nany ibunya Fatimah tersebut, mereka memasuki ruangan itu, Fatimah sedikit terkejut dengan kedatangan mereka, pikiran Fatimah berkecamuk.


" Pak dokter tolong jangan dilepaskan semua alat-alat ditubuh Ibu saya, kami masih berusaha untuk mencari uangnya buat membeli obat itu, tolong beri kami waktu." ucap Fatimah, Aisyah pun tak kuasa menahan tangisnya karena melihat kondisi sang Ibu, dan mendengar ucapan Fatimah yang memohon pada pihak rumah sakit.


Mereka tersenyum dan dokter itu pun langsung mengusap pundak Fatimah.


" Kamu tenang aja mbak, kami tidak akan melepas semua alat itu, dan tentang obat-obatan yang selalu kalian beli diluar rumah sakit juga sekarang sudah tidak lagi, karena semua obat-abatan itu ditanggung dan dipersediakan sama pihak rumah sakit dan kalian hanya menungguin saja ibu kalian, mudah-mudahan aja ibu kalian cepat sadarkan diri, semua pengobatan ibu kalian sudah ditanggung, kalian tidak akan pernah lagi kebingungan mencari obat yang diperlukan ibu kalian." terang dokter tersebut sembari tersenyum dan dianggukkan pimpinan rumah sakit itu.


Fatimah terkejut dan dia juga tidak menyangka akan kabar yang dibawa pak dokter itu, terasa mimpi, diapun langsung mencubit tangannya sendiri dan dia meringis karena rasa sakit disebabkan cubitannya itu.


" Benarkah pak dokter apa yang dokter ucapkan itu?" tanyanya merasa kurang yakin, karena selama ini dia dan pamannya terus berjuang dalam pembelian obat yang diperlukan sang ibu.


Dokter itupun hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan perawat yang lain memberikan obat yang diperlukan ibu Fatimah melalui selang infusnya, dan kedua perawat lainnya mempersiapkan pemindahan ibu Nany keruang Vvip yang sudah disepakati Davin dan pimpinan rumah sakit tersebut.


" Kami juga akan memindahkan pasien hari ini Mbak " ucap pak dokter itu sembari tersenyum.


" Tapi pak,kenapa ibu saya mau dipindahkan, apakah ibu saya akan dibawa keruang yang lain.?" tanya Fatimah merasa heran karena melihat dua orang tersebut dengan cekatan menyiapkan semuanya.


Lagi-lagi pak dokter dan pimpinan itu tersenyum.


Begini Mbak Fatimah, ibu Mbak mau dipindahkan keruangan Vvip, biar memudahkan para dokter merawatnya."


" Tapi pak..."


" Mbak Fatimah jangan takut semua fasilitasnya sudah ditanggung."


" Ditanggung?"

__ADS_1


" Iya Mbak...."


" Maksud bapak?saya tidak mengerti."


" Mbak Fatimah , Mbak nggak usah memikirkannya, kami akan segera berusaha yang terbaik buat ibu Mbak, ya udah kita lanjutkan pemindahan biar cepat ditangani lebih eksklusif lagi." Ucap pimpinan rumah sakit tersebut.


Fatimah hanya mengangguk saja, dia masih berpikir siapa yang menanggung semua ini.


Kemudian mereka pun memindahkan ibu Nany keruangan Vvip dan Fatimah beserta Aisyah membenahi barang-barang yang lain dan mengikuti langkah mereka yang berjalan menuju ruangan yang baru untuk sang ibu.


" Fatimah...!" Panggil seseorang dari kejauhan.


Fatimah menoleh kearah suara, dia memberhentikan langkahnya dan menatap pada sosok laki-laki yang sedang melangkah menuju kearahnya itu.


" Fatimah...apa kabar, kenapa ibu dibawa keluar ruangan?" Tanyanya.


" Kak Pras? Kabar ku baik-baik aja kak, Ibu dipindahkan keruangan Vvip kak biar bisa ditangani secara ekslusif." Ucapnya tersenyum sembari melangkah di ikuti prasetyo.


" Oh...syukurlah kalau gitu, mudah-mudahan aja ibu cepat siuman ya, kakak tuh sedih lihat ibu seperti itu, apalagi liat kamu yang banting tulang mencari uang buat biaya kesembuhan ibu." Ucap Prasetyo sembari menoleh lama kearah Fatimah.


Fatimah hanya tersenyum.


Prasetyo menganggukkan kepalanya.


" Kamu yang sabar ya Fatimah, kamu masih ada Kakak, kamu bisa sandarkan hidup kamu pada kakak, kakak akan selalu berada disamping kamu, apapun yang kamu butuhkan kakak akan bantu kamu." Ucapnya seraya menyentuh tangan Fatimah, namun Fatimah langsung mengangkat tangannya sembari memindahkan jaket yang awalnya ada ditangan kanannya itu, Dia tahu kalau lelaki yang berjalan disampingnya itu menaruh hati padanya, dan Fatimah juga tahu kalau keluarga Prasetyo tidak menyukai keluarganya terutama kedua orang tua Pras yang tidak sama sekali menyukainya


" Fatimah...kakak akan selalu ada untukmu." Ucap Pras lagi sembari menggenggam tangannya sendiri karena mendapat penolakan spontan dari Fatimah.


" Terimakasih kak, atas tawarannya." Ucap Fatimah tersenyum, dan Pras pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, dan mereka pun terus melangkah, sampai akhirnya mereka sampai diruangan yang baru untuk sang ibu.


Setelah dipasang semua alatnya semua selesai, perawat-perawat itupun langsung berpamitan dengan Fatimah, dan Fatimah langsung menghubungi paman Ari.


" Hallo paman..."


" Ya Fatimah..."


" Paman nggak usah nyari pinjaman, karena ibu sudah mendapatkan obatnya dan sekarang ibu dipindahkan keruangan yang baru VVip, karena ada yang menanggung semuanya paman." Ucap Fatimah pada paman Ari.


" Ya udah paman kembali kerumah sakit lagi ya dan ceritan nanti siapa yang menanggung semuanya itu."

__ADS_1


" Iya paman..." Ucapnya sembari menyudahi pembicaraannya dengan sang paman.


Setelah bicara Fatimah melihat Prasetyo berbicara dengan pihak rumah sakit yaitu pimpinannya dan dokter yang menangani ibunya, terlihat serius sekali pembicaraannya, terlihat juga mereka menyalami Prasetyo dengan terlihat sangat akrab.


" Apakah yang menanggung semua pengobatan ibu adalah kak Pras? Dengan sengaja dia menyembunyikan identitasnya? Baiklah aku akan tanyakan semuanya padanya." Ucap Fatimah mendekati Pras setelah pihak rumah sakit tersebut pergi dari hadapan Pras.


" Kak, bolehkah kita bicara sebentar?" Tanya Fatimah.


" Boleh...apa yang kamu ingin bicarakan Fatimah...."


" Apa yang kakak bicarakan dengan pihak rumah sakit?"


Terlihat Pras terkejut dengan pertanyaan Fatimah.


" Kenapa kakak terkejut?"


" Hem ...gini Fatimah kakak cuma menanyakan keadaan ibu kamu,dan ruangan ini."


" Maksudnya?" Tatap Fatimah heran.


" Hem...gimana ya mengatakannya, sudah ketahuan deh kakak." Ucapnya garuk-garuk kepala seakan-akan dia sedang ketangkap basah sama Fatimah.


" Apa kakak yang menanggung semua ini?" Tanya Fatimah, terlihat Pras terdiam dan dia hanya tersenyum tanpa suara.


" Ini adalah kesempatanku untuk mengambil hati Fatimah, dan dia pasti percaya yang akan aku katakan, kalau akulah orang yang sudah memberikan Fasilitas ini, toh orangnya tak akan mau jujur juga siapa yang membiayai semua pengobatan ibunya." Ucapnya dalam batinnya.


" Maafkan kakak ya Fatimah, ini semua kakak lakukan agar kamu tidak kepikiran lagi dengan pengobatan ibu kamu, semuanya sudah kakak tanggung." Ucapnya dengan mantap dan menyakinkan Fatimah dengan kata-katanya.


" Tapi kak..." Fatimah menggantung kalimatnya, dia merasa tidak percaya akan yang dikatakan Pras, tapi disisi lain dia merasa sedikit terbantu.


" Kamu nggak usah merasa ragu dengan apa yang kakak buat sekarang, ini karena kakak sangat sayang dengan mu, makanya kakak merasa peduli dengan kami, dan kakak tidak ingin melihat kamu menderita Fatimah..." Ucap Prasetyo.


Saat Fatimah hendak mengatakan sesuatu, terdengar seseorang memanggilnya dengan suara khas imutnya.


" Mamah..!! " Panggil Keyra seraya berlari kesenangan karena melihat Fatimah yang dicarinya.


Fatimah terkejut, namun dia langsung tersenyum melihat langkah-langkah mungil Keyra, diapun mendekati Keyra dan langsung memeluknya dan menciumi pipi caby Keyra, dengan bahagianya terlihat Keyra tidak ingin dipisahkan dari Fatimah


" Mamah?..." Ucap Pras menatap Fatimah yang memeluk Keyra tersebut.

__ADS_1


__ADS_2