
Mobil yang dikendarai Davin dan Haris pun berhenti di rumah sakit Wijaya, mereka berdua turun dan melangkah menuju ke arah koridor rumah sakit tersebut, saat mereka melewati ruangan di mana Almarhum Sherly dirawat, Davin berhenti sejenak di depan ruangan istrinya dirawat kala itu, Haris merasa heran dia menatap ke arah Davin, Haris lupa kalau ruangan itu adalah ruangan terakhir di mana Sherly mendapatkan kesadarannya dan untuk melihat keluarganya pertamakali setelah mendapatkan kesadarannya itu yang ternyata terakhir kali juga bertemu dan pergi untuk selama-lamanya.
" Ada apa Vin?" tanya Haris seraya menatap ke Davin.
Davin yang menatap ke arah ruangan itu dan hanya menggelengkan kepalanya, Haris pun tersadar, Dia kemudian menepuk pelan pundak sahabatnya itu yang sekaligus Bosnya.
" Maafkan Aku Davin aku lupa kalau ruangan itu adalah ruangan untuk terakhir kalinya Sherly berada, ikhlaskanlah Sherly jangan terus engkau mengingatnya nanti langkahnya akan tertahan."
Davin menghelan nafasnya dengan panjang kemudian dia melanjutkan kembali langkahnya menuju ke arah sang Mama berada.
" Aku sudah ikhlas, cuma aku teringat aja tentang dia, Aku tidak menyangka dia akan pergi untuk selama-lamanya, Tapi aku bersyukur karena dia sudah mencarikan gantinya yang lebih darinya yang sudah dia carikan walaupun dia dalam keadaan koma kala itu, aku sangat bersyukur memiliki dua orang wanita yang memang benar-benar tulus mencintaiku, tanpa memandang kekayaan yang aku miliki saat ini." ucapnya sembari mengusap wajahnya dengan pelan.
Haris mengangguk dan menepuk pundak sahabatnya itu.
" Kamu adalah orang terpilih yang sudah dipilih oleh Yang Maha Kuasa dengan memiliki dua wanita yang mempunyai kelebihan dan kekurangan yang luar biasa yang jarang ditemui sebagian wanita lain yang ada di luar sana, jujur Vin, aku iri denganmu, tapi aku sangat bersyukur memiliki teman sepertimu." Ucapnya sembari merangkul Davin dan mereka pun melangkah beriringan kembali menuju ke arah di mana Bu Santi berada, saat melewati ruangan dokter Bu Santi pun memanggil mereka karena saat itu Bu Santi berada di ruangan khusus dokter istirahat.
" Davin... Haris..." panggil Bu Santi, mereka berdua pun kemudian menoleh ke arah ruangan tersebut, mereka langsung memasuki ruangan itu.
__ADS_1
" Mama.... sudah lama menunggu di sini?Davin kira mama sudah berada di rumahnya Rahman.?"
" Belum nak, sebentar lagi mereka akan membawa jenazah ibunya Rahman menuju ke pemakaman, karena Rahman ingin segera ibunya dimakamkan."
" Sekarang Rahman berada di mana Mah?"
" Rahman berada di ruangan rawat inap Kamboja."
" Ya udah, sekarang kita ke sana aja Mah, Davin ingin segera bertemu dengannya." ucap Davin dianggukan oleh Bu Santi dan mereka pun kemudian melangkah menuju ke arah ruangan rawat inap di mana Rahman menunggu jenazah sang Mama.
Davin membuka pintu ruangan tersebut di mana Rahman sedang menelungkupkan wajahnya di pembaringan yang kosong itu, Davin mendekati Rahman dan menyentuh pundak Rahman dengan pelan, Rahman tersentak merasakan sentuhan dipundaknya, Dia kemudian mengangkat wajahnya menatap ke arah Davin dia melihat wajah Rahman sembab dengan air mata.
" Terlihat jelek ya wajahku." ucapnya sembari tersenyum di dalam tangisnya.
" Tidak! Kamu tetap tampan walaupun kamu menangis, tapi kamu masih terlihat sangat tampan." ucap Davin menghiburnya karena saat ini Davin tidak ada rasa kebencian pada Rahman, Davin merasa sedih melihat keadaan Rahman seperti itu.
" Jangan menangis bro! kamu harus tegar dan ikhlaskan melepas Bu Ayu, mungkin ini sudah garis yang maha kuasa untukmu." ucap Haris sembari mengusap pundak Rahman dengan pelan.
__ADS_1
Rahman menganggukkan kepalanya, beberapa saat kemudian seorang suster pun datang menemui mereka, mengatakan kalau jenazah sudah siap untuk dimakamkan, Mereka pun kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruangan tersebut, Rahman tidak kuasa melihat jenazah sang Mama yang dibawa melalui keranjang dorong Rumah Sakit menuju ke arah ambulans yang sudah tersedia di luar rumah sakit tersebut, tangisnya tidak bisa dia sembunyikan antara sedih dan penyesalan yang teramat dalam di dalam hatinya.
" Ya Tuhan aku ikhlas atas kepergian mama selama-lamanya."
Kemudian mereka pun meninggalkan Rumah Sakit menuju ke arah pemakaman umum yang tidak jauh dari rumah Rahman.
Beberapa saat pemakaman itu pun selesai, satu persatu orang yang melayat itu pun sudah meninggalkan pemakaman tersebut, hanya Rahman yang berada di situ dengan tangis dan memeluk batu nisan ibunya itu pun tidak henti-hentinya dia mengeluarkan air matanya, Davin dan Haris beserta Bu Santi hanya membiarkan Rahman meluapkan kesedihannya di pusara sang ibu, diantara pelayat yang sudah pergi meninggalkan pemakaman itu pun seorang lelaki paruh baya berdiri dengan tegak menatap ke arah Rahman, kemudian dia pun melangkah mendekati Rahman dan berjongkok sembari menyentuh pundak Rahman dengan pelan, Rahman pun tidak memperdulikan siapa yang menyentuh pundaknya itu, dia masih memeluk gundukan yang masih basah tersebut.
" Rahman, kamu yang ikhlas Nak, waktunya sekarang kamu harus ikut Papah ke luar negeri." Rahman menghentikan tangisnya Dia kemudian menoleh ke arah sang papa, dia menatap sendu ke arah laki-laki paruh baya itu, Davin dan Haris menoleh saling berpandangan dia juga merasa heran baru kali ini dia melihat orang tua kandung laki-laki dari Rahman yang sebenarnya.
Karena Rahman memang mengenali orang tua laki-lakinya itu dia pun langsung memeluk sang ayah.
Pak Ilyas adalah orang tua laki-laki kandung dari Rahman, Pak Ilyas dan Bu Ayu berpisah saat Rahman berusia remaja, saat itu mereka putus komunikasi karena pak Ilyas berada di luar negeri, saat ini dia berada di tanah air hanya ingin bertemu dengan salah satu keluarga dari istri barunya, dia pun kemudian mendengar kabar berita kalau Mantan istrinya itu meninggal dunia dari salah satu keluarga istrinya yang bekerja di rumah sakit Wijaya.
Rahman diajak Pak Ilyas berdiri Mereka pun kemudian mendekati keluarga Davin.
" Saya adalah orang tua laki-laki dari Rahman, saya berada di luar negeri dan saya tidak terlalu memantau keadaan anak saya ini, maafkan kalau anak Saya dan mantan istri saya berbuat jahat ataupun ada kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja saya mohon maaf." Ucapnya.
__ADS_1
Davin hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum seraya menyambut uluran tangan dari Pak Ilyas.
" Davin Maafkan aku, mulai sekarang aku tidak akan pernah mengganggu kamu dan aku akan intropeksi diriku untuk ikut papa ke luar negeri, semoga di lain waktu dan di lain kesempatan kita bisa bertemu kembali, Tante Santi Maafkan Rahman, karena selama ini mungkin Tante Santi merasa jengkel pada Rahman, begitu juga denganmu Haris, Maafkan aku, sampaikan kata maaf ku dengan Laura." ucapnya sembari merangkul Davin dan merangkul Haris untuk perpisahan terakhir kalinya, Davin dan haris hanya menganggukkan kepalanya, Bu Santi tersenyum, Mereka kemudian meninggalkan makam Bu Ayu untuk kembali ke rumah mereka masing-masing dan hari esok adalah kepergian Rahman mengikuti sang ayah untuk menetap di luar negeri di mana sekarang ayahnya itu berada.