Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 51


__ADS_3

Davin merasa bagaikan berada di tengah-tengah gurun sahara yang sangat panas sekali menerpa tubuhnya saat Laura berbicara kalau dia sudah jujur berkata dengan Fatimah tentang apa yang terjadi, tapi sekarang dia merasa sejuk tubuhnya seakan disirami dengan air yang sangat dingin sangat menyegarkan tubuhnya, dia merasa bahagia sekali setelah mendengar ucapan langsung dari bibir Fatimah.


Fatimah menatap kearah Tuan mudanya yang masih menatap dirinya itu, Davin langsung menatap jauh di bola mata Fatimah dia mencari kebohongan di sana tentang apa yang dikatakannya pada mereka yang ada di kamar, Tapi sayangnya Davin tidak menemukan sama sekali kebohongan di mata itu yang dia temukan adalah kesejukan dan kedamaian serta kejujuran yang memang keluar dari hati nuraninya Fatimah, dia memang berkata jujur bahwa dia tidak akan pernah memperpanjang masalah yang telah menimpa sang ibu.


Fatimah kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ibu Santi yang tersenyum padanya karena dia sudah tidak mampu untuk menatap wajah lelaki yang tampan di hadapannya itu yang sebentar lagi akan menjadi belahan jiwanya.


" Mbak Laura lebih baik sekarang Mbak istirahat, tenangkan diri Mbak dan jangan sekali-kali lagi Mbak berbicara ingin pergi dan ingin mempertanggungjawabkan semuanya, anggaplah masalah ini berakhir sampai di sini Mbak, nggak usah berpikiran bagaimana keluarga saya nantinya, saya yang akan menjamin kalau keluarga saya tidak akan pernah menuntut Mbak." ucapnya sembari tersenyum ke arah Laura yang berada di depannya, dia pun kemudian mengangkat wajah Laura, dia memeluk Laura dengan pelukan seorang kakak pada Adiknya, Begitu juga dengan Laura dia membalas pelukan Fatimah dia merasa menyesal kenapa saat itu dia tidak berkata jujur dan tidak ingin mempertanggungjawabkan semuanya, dan dia harus mengikuti kata-kata manis Clara berujung penyesalan, penilaiannya salah tentang Fatimah yang ternyata seorang Fatimah memiliki hati yang sangat lembut dan pemaaf.


Laura hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Bu Santi pun berdiri dari duduknya dia langsung merangkul kedua gadis tersebut, Laura dan Fatimah, Bu Santi menganggap Fatimah sebagai anaknya juga yang sebentar lagi akan menjadi anak menantunya.


" Fatimah terima kasih..." ucapnya pelan sembari tersenyum, Fatimah mengeratkan pelukannya dengan Bu Santi sembari mengangguk.

__ADS_1


Davin tersenyum dia menatap ketiga wanita yang sangat berharga dalam hidupnya, sejak kehadiran Fatimah Dia merasakan hidupnya sangat berarti saat mereka menikmati rasa kebahagiaan yang tidak terkira itu.


" Fatimah sekarang kamu istirahat, besok pagi kita bicara lagi, ada yang ingin Ibu bicarakan lebih lanjut denganmu." ucap Bu Santi sembari menyentuh pipi calon anak menantunya itu.


Fatimah menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, Bu Santi pun kemudian mencium pucuk kepala Fatimah dengan penuh kasih sayang, Fatimah kemudian memeluk Bu Santi dengan penuh rasa bahagia, kemudian Bu Santi berpamitan dengan Fatimah untuk keluar dari kamar Keyra, Bu Santi dan Laura beserta Davin melangkah meninggalkan Fatimah yang berada di ruangan itu, Davin menutup pintu kamar anaknya itu, mereka bertiga pun melangkah menuju ke arah kamar Laura.


" Lebih baik kamu istirahat Nak." ucap Bu Santi sembari melepas rangkulannya pada sang anak, Laura mengangguk, dia pun kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya itu, dikamarnya dia menangis kembali karena dia merasa sangat bersyukur bertemu sosok seorang Fatimah.


" Ya udah, sekarang Mamah yang istirahat,besok lagi kita bicaranya." ucap Davin dianggukan Bu Santi, Mereka kemudian masing-masing masuk ke dalam kamar mereka, Davin merebahkan tubuhnya di kasur empuknya, dia tersenyum-senyum sembari menatap langit-langit kamarnya, mengingat tatapan mata Fatimah.


Dia membuka salah satu foto tersebut.

__ADS_1


" Sayang, apakah aku masih pantas memanggilmu sayang? aku sudah menghianati kamu, sebentar lagi aku menikah, apakah kamu akan setuju Aku menikah lagi ? sepertinya aku adalah lelaki yang sangat jahat sekali di saat kamu menahan rasa sakit yang berkepanjangan,Aku disini akan melangsungkan pernikahan dengan wanita lain, Maafkan aku sayang, maafkan aku." ucapnya sembari mencium foto yang ada di ponselnya itu, sesaat Davin memejamkan matanya ada rasa perih di hatinya saat dia melihat foto istrinya tersebut, rasa perih yang dia rasakan saat ini Karena dia sudah merasa menghianati sang istri di saat mereka berdua mengatakan untuk sehidup semati tapi ternyata ucapan itu tidak terwujud, bahkan sekarang Davin sudah mau menikah dengan pilihan orang tuanya.


Kemudian dia membuka matanya dia terkejut karena Sherly sudah duduk di sampingnya,dia langsung bangun dari tidurannya, antara sadar dan tidak dia duduk di bibir ranjangnya bersama dengan Sherly.


Saat itu Sherly tidak bersuara apa-apa, tubuh Sherly terlihat dingin saat disentuh oleh Davin, wajah Sherly terlihat sangat bahagia dan berseri yang biasanya dilihat Davin terlihat pucat tapi ini berbeda seperti terlihat segar hanya tersungging senyum yang sangat bahagia di wajah Sherly, Davin terperangah melihat wajah Sherly yang begitu sangat cantik tidak seperti biasanya, Davin pun menyentuh pipi sang istri, Dia kemudian mencium pucuk kepala istrinya itu, lagi-lagi Sherly hanya tersenyum tapi tidak sama sekali bersuara.


" Sayang... apakah kamu marah denganku sehingga kamu tidak mau bersuara sama sekali, hanya kau berikan aku senyumanmu? Ada apa denganmu? Apakah kamu marah karena aku ingin menikah kembali dengan Fatimah? ayolah sayang berbicara, Aku ingin mendengar suaramu." ucap Davin sembari memegang tangan istrinya yang sangat dingin sekali.


Sherly menggelengkan kepalanya saat Davin bertanya padanya, tapi dia tersenyum terlihat sangat bahagia, seakan-akan dia menginsyaratkan kalau dia tidak marah karena Davin mau menikah lagi, tapi yang Sherly perlihatkan dari perlakuan dan senyumnya Sherly merasa bahagia kalau Davin bisa menikah kembali untuk yang kedua kalinya bersama wanita yang memang benar-benar memiliki hati yang lembut seperti Fatimah.


Sherly kemudian berdiri dari duduknya ia pun kemudian menyentuh wajah sang suami, lalu dia meninggalkan suaminya begitu saja, membuat Davin merasa heran, Davin pun kemudian mengejar langkah Sherly sembari memanggil sang istri yang sudah hilang di balik pintu kamarnya tersebut, tanpa sadar Davin pun terbangun dari tidurnya dia langsung duduk di bibir ranjangnya dan menatap ke arah pintu kamarnya, terlihat pintu kamar itu terbuka, dia merasa heran.

__ADS_1


" Bukankah pintu itu sudah aku tutup saat aku masuk tadi?" Ucapnya, dia pun langsung berdiri berjalan menuju pintu kamarnya dan menengok ke kiri ke kanan tapi dia tidak menemukan siapa-siapa, kemudian dia menutup kembali kamarnya itu, Dia lalu menyandarkan tubuhnya di pintu kamarnya itu sembari mengusap rambutnya dan merosotkan tubuhnya ke lantai, Dia kemudian memegang kepalanya sembari bertopang dengan kedua lututnya.


" Ya Tuhan Ada apa ini?kenapa mimpiku seakan-akan nyata? kenapa Sherly tidak berbicara denganku seperti biasanya? Apakah dia marah karena aku ingin menikahi Fatimah? kalau seandainya Sherly marah kenapa dia menampakkan wajah yang sangat bahagia dan senyuman sangat berseri sekali, tapi kenapa tubuhnya terasa dingin tidak seperti biasanya." ucap Davin sembari berdiri menuju ke arah tempat tidurnya di mana ponselnya berada, dia pun langsung mengambil ponselnya tersebut dan menghubungi suster Lidya, beberapa saat kemudian ponselnya pun tersambung, Davin berbicara dengan Suster Lidya dan dia pun merasa lega karena keadaan Sherly tidak mengkhawatirkan, setelah dia berbicara dengan Suster Lidya dia pun kemudian menaruh kembali ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya tersebut, lalu dia merebahkan kembali tubuhnya dan melanjutkan kembali tidurnya.


__ADS_2