
" Fatimah, kakak sarankan tetap kamu harus laporkan!" Ucap Pras menyuruh Fatimah untuk tetap melaporkan kejadian yang menimpa ibunya itu.
" Kak! Aku sudah katakan, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, karena aku tidak ingin bertambah terluka."
" Kamu tetap dengan pendirian kamu Fatimah?"
Fatimah mengangguk...
" Apakah kamu akan memaafkan orang yang tidak bertanggung jawab itu Fatimah?" Tanya Pras seraya menatap kearah Fatimah.
" Iya Kak, lagi pula buat apa juga Aku memperpanjang masalah ini kalau seandainya aku tahu siapa orang yang telah mencelakai Ibu ku, jika ibu membuka matanya dan mengetahui semuanya, ibu juga pasti tidak akan memperpanjang masalah ini." Ucap Fatimah seraya menatap sang ibu.
" Tapi Fat..." Pras menggantung kalimatnya karena ucapan Pras sudah dihentikan Fatimah.
" Sudahlah kak! Jangan membahas masalah ini lagi aku tidak ingin membahasnya." Ucap Fatimah lagi dan Pras pun terdiam.
" Ada apa dengan Fatimah sehingga dia tetap keukeh tak ingin memperpanjang masalah ini?" Gumam Pras sembari menatap sesaat kearah Fatimah yang terus menatap sang ibu yang terbaring diranjang rumah sakit itu.
__ADS_1
" Ya Tuhan...lembut sekali hatimu Fatimah, jika seandainya Laura mendengar ini, dia pasti tahu kalau Fatimah sangat baik sekali." Guman Davin seraya melihat kearah Fatimah.
Davin kemudian melihat kearah pintu ruangan itu, dia seakan mencari sesuatu.
" Kemana Laura kenapa dia tidak masuk? jangan-jangan dia menerima telpon dari Clara lagi, aku khawatir kalau dia berbicara dengan Clara, dan mengatakan dia berada dirumah sakit,lalu Clara kesini, aku tidak ingin Clara mengetahui ruangan dimana ibu Fatimah dirawat, dan aku juga tak ingin mereka menyakiti Fatimah, karena aku tahu sikap dan sifat Laura kalau dia merasa tersinggung dan tersakiti dia akan melakukan suatu hal yang tidak di inginkan, begitu juga dengan Clara yang mempunyai sikap pendendam itu." ucapnya sembari menarik nafasnya dengan pelan dan menoleh kearah mamahnya.
" Mah, gimana kalau kita pulang saja, terlihat Keyra juga sudah tertidur lagi digendongan Fatimah."
Dianggukkan ibu Santi dan diapun berdiri...dan Davin mendekati Fatimah untuk mengambil Keyra dari gendongan Fatimah.
" Mamah...!" ucapnya sembari merebahkan kepalanya dipundak Fatimah lagi, dan Fatimah pun memeluk kembali tubuh mungil anak kecil usia tiga tahun itu, dan di pun kembali menidurkannya dalam gendongannya.
Davin hanya terdiam dan memasukkan kedua tangannya kesaku celananya sembari menghela nafasnya dengan pelan dan Pras menatap heran pada mereka, karena Fatimah tidak menjelaskan pada Pras kalau ibu Santi adalah majikannya.
" Ibu, nanti saya akan ikut dengan kalian, membawa Keyra pulang, tapi tunggu sebentar ya, saya lagi menunggu paman saya." ucapnya sembari tersenyum, dianggukkan Ibu Santi sembari tersenyum dan Davin pun terkejut dengan ucapan Fatimah.
" Disamping kamu mengurus ibu mu yang lagi sakit, kamu juga mau mengurus anak ku yang nota benenya nggak bisa lepas darimu, maafkan kami ya.." gumam Davin sembari menatap Fatimah dengan lekat dari samping Fatimah.
__ADS_1
" Ada apa sih ini nih...kenapa laki-laki itu selalu saja menatap kearah Fatimah dengan tatapan mesra begitu." ucap batinnya Pras yang terus saja memperhatikan gerak gerik Fatimah dan Davin saling bergantian.
" Fatimah, memang mereka ini siapa sih? kenapa kamu sangat perhatian sekali dengan anak itu, seharusnya kamu itu perhatian dengan ibu kamu yang lagi terbaring koma ini bukan dengan anak mereka." ucap Pras yang membuat Davin terkjut begitu juga dengan ibu Santi, dia terkejut dan langsung kembali duduk dan tidak berkomentar dengan ucapan Pras.
" Ya Tuhan kakak, apa maksud kakak ngomong seperti itu, mereka ini adalah majikan aku, anak ini adalah anak asuh aku, aku bekerja dengan mereka sebagai pengasuh anak kecil ini yang sudah aku anggap anak aku sendiri, tolong jaga omongan kakak! " ucapnya sembari menatap kearah Pras dengan sedikit marah.
Mendngar mereka berbicara seperti itu, Aisyah yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setiapun langsung berdiri dari duduknya, walaupun dia masih berstatus sebagai siswa SMA, Dia merasa tidak suka dengan sikap dan gaya bicara Pras, karena dia memang tidak suka dengan Pras mendekati kakaknya.
" Kak Pras mohon maaf ya, karena sedari tadi mulut kakak itu nggak disekolahin ya, karena dari tadi Aisyah mendengar kakak itu terlalu tinggi bicaranya melebihi langit biru, lebih baik kakak pergi gih dari ruangan ini, karena Aisyah enek mendengar dan melihat kakak bicara disini, kakak nggak sopan banget sama ibu dan bapak ini, kalau kakak pras nggak suka dengan kak Fatimah kerja dirumah ibu ini, apa hak kak Pras melarang Kak Fatimah, ya wajar dong, kalau kak Fatimah sayang dengan Anak kecil ini, karena kakak Fatimah sedari dulu memang suka dengan anak kecil, dan kak Fatimah juga nggak lebay kok dalam mengurus anak kecil ini, karena kak Fatimah memang ingin bekerja dan menyukai pekerjaannya masalah buat kakak?" ucap Aisyah panjang lebar tanpa berhenti seraya menatap marah dengan Pras, Pras mendengus dengan kesal seraya memalingkan wajahnya dengan kasar kearah lain dia merasa sangat marah karena seorang anak yang dianggapnya bau kencur menceramahinya.
" Aisyah!..nggak boleh ngomomg seperti itu,karena kakak dan ibu nggak memberikan pelajaran agar kamu berani dengan orang yang lebih tua." ucap Fatimah sembari mengusap bahu adiknyan itu.
" Aisyah sudah enek kak, dengan omongan kak Pras yang selalu meremehkan orang seakan dia aja yang paling kaya, masih banyak kak diluar sana yang lebih, lebih, dan lebih kaya dari dia, anak pengusaha teh aja belagu banget sih! yang kaya itu kan bapaknya bukan dia, lagi pula dia juga masih kerja dengan bapaknya yang super duper sombong itu."ucap Aisyah sembari mensedekapkan tangannya didada dengan wajah marahnya itu.
" Aisya, kakak tidak menanggapi kata-kata kamu karena kamu itu anak masih labil dan tidak tahu menahu asal muasalnya kehidupan kakak, jadi jangan terlalu berlebihan mengatakan tentang kakak seperti itu, asal kamu tahu kakak yang membiayai rumah sakit ini untuk ibumu, seharusnya kamu itu marah dengan kakak kamu yang tidak mau melaporkan masalah yang meninimpa ibu kamu sekarang ini, dan ..." Pras menggantung kalimatnya karena disanggah Aisyah.
" Aisyah juga tidak setuju dengan usulan kakak agar melaporkan orang yang sudah mencelakai ibu, buat apa diperpanjang karena itu tidak menjadikan semuanya lebih baik malah akan mejadikan dendam yang akan membuat luka hati berkepanjangan.Lagi pula Aisyah tidak percaya dengan omongan kakak, kalau kakaklah yang menamggung semua perobatan rumah sakit ibu dan memindahkan ibu keruangan yang lebih nyaman ini, karena kalau Aisyah pikir kenapa baru sekarang kakak mempunyai pikiran seperti itu untuk membiayai ibu? kan kedua orang tua kakak tidak akan pernah mau memberikan uang pada keluarga kami, jangankan memberi mengutangi aja nggak mau, masa iya kakak yang mau membiayai rumah sakit ibu begitu saja, padahalkan keuangan kakak harus lapor dulu tuh sama ayah Kakak, yang tak pernah punya perasaan dengan keluarga kami." ucap Aisyah yang mampu mengejutkan semua orang yang ada diruangan itu, terutama Fatimah dan Pras yang sangat terkejut mendengar ucapan Aisyah tentang orang tuanya serta ketidak percayaannya kalau dirinya yang membiayai semuanya dirumah sakit itu.
__ADS_1