
Davin menghela nafasnya dengan pelan, dia tersenyum masih menatap kearah Fatimah yang masih dengan posisinya duduk disamping sang Anak.
" Ya Tuhan apakah ini jalanmu untuk aku bisa memperistri Fatimah dan apakah ini jalannya aku harus bersikap adil untuk kedua istriku nantinya, di satu sisi aku masih belum yakin dengan cintaku untuk Fatimah di sisi lain Aku mengharapkan Fatimah menjadi ibu dari anakku sekarang ini, izinkan Aku menjalankan tugasku sebagai seorang suami nanti walaupun sebenarnya di hati ini masih ada rasa ragu, apakah aku mampu menjalankan ini semua ya Tuhan, Aku tidak ingin menyakiti hati Fatimah setelah aku menikah dengannya nanti." Gumamnya Davin kemudian merasa pundaknya disentuh oleh seseorang dia menoleh ke arah orang tersebut yang ternyata adalah Bu Santi.
" Ada apa Nak?" tanya Bu Santi
Davin kemudian mengambil handle pintu kamar anaknya itu dan menariknya untuk menutupnya, Dia kemudian membawa Mamahnya duduk kembali di sofa di depan kamar anaknya, Davin mengusap wajahnya dan dia menopangkan kedua tangannya di pahanya dan menangkupkan dua telapak tangannya itu jadi satu dia menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.
" Ada apa Nak, katakan pada Mamah, apakah kamu sebenarnya tidak merasa senang akan menikah dengan Fatimah?"
Kemudian Davin menoleh ke arah Mamahnya.
" Bukan itu Mah.."
" Terus apa yang kamu pikirkan? wajahmu tidak bisa bohong dari Mamah karena keresahan yang ada di wajahmu itu."
" Davin senang mendapatkan orang yang tepat seperti Fatimah untuk menjaga dan merawat Keyra, karena kasih sayang Fatimah serta ketulusan dia menjadi pengasuh Keyra sangat terlihat sekali dan sangat bertanggung jawab, bukan karena dia pengasuh tapi sebentar lagi dia akan menjadi istrinya Davin, Davin takut nantinya apakah bisa berbagi cinta dengan dia."
" Maksud kamu?"
" Karena bayang-bayang yang selama ini Davin rasakan takutnya akan menyakiti perasaan Fatimah, setelah dia nanti menjadi istri Davin, dan apakah Davin bisa menjadi sebagai seorang suami yang adil bagi Fatimah sedangkan hati Davin dimiliki oleh Sherly."
" Kamu tidak usah berbicara seperti itu Nak, Kamu sudah melangkah dengan tepat karena dengan cara ini kamu bisa membahagiakan Fatimah dan juga keluarganya, yang Mamah takutkan Fatimah akan merasa dimanfaatkan dengan pernikahan kamu ini, karena kamu bilang sama Mamah kalau pernikahan ini harus disembunyikan dulu dari orang luar."
__ADS_1
" Itu semua sudah Davin katakan dengan Fatimah."
" Apa ? kamu sudah mengatakan itu semua dengan Fatimah? Terus apa tanggapannya"
" Iya mah, udah Davin katakan dengan Fatimah, Fatimah menerima penjelasan yang Davin katakan, tapi sekarang ini Davin bingung bagaimana nantinya setelah dia menjadi istri dan apakah mampu Davin memperlakukannya seperti layaknya seorang istri."
" In sya Allah kamu akan layak untuk memperlakukan Fatimah dan kasih sayangmu akan tumbuh seiringnya waktu, kamu sudah tahu sebenarnya kalau Sherly itu sudah tidak ada karena alat medis itulah yang membuat dia selalu ada, tapi kamu selalu tidak percaya dengan perkataan Mamah, seharusnya kamu sadar Nak, kasihan Sherly dia ingin pulang, tapi kamu selalu menahannya, 3 tahun lamanya dia menanggung alat medis yang ada di tubuhnya, dia sebenarnya sakit, tapi dia tidak bisa berkata dengan kamu, kamu mengharapkan dia kembali, Mamah juga sangat mengharapkan dia kembali Nak, tapi karena ini sudah jalan yang kuasa, kamu harus menerimanya." Ucap Bu Santi sembari mengusap punggung sang Anak.
Davin mengganggukan kepalanya.
" Sekarang apakah kamu sudah yakin kalau alat media itu akan dilepas dari tubuh Sherly?"
" Entahlah Mah, Davin masih bingung, tapi selama ini Sherly selalu datang di dalam mimpi Davin, antara sadar dan tidak, dia mengatakan memang ingin pulang bersama dengan Davin, tapi Davin selalu menolaknya dan dia juga pernah datang di dalam mimpi Davin ingin mengenalkan seseorang pada Davin, Mama tahu siapa orangnya itu?"
" Fatimah.."
" Fatimah? maksudnya apakah kamu mengenal kalau orang itu Fatimah? orang yang akan dikenalkan Sherly dalam mimpimu itu?"
" Tidak Mah, karena wajahnya tertutup dengan cahaya terang."
" Kenapa kamu bilang Fatimah?"
" Wanita itu memakai pakaian yang sekarang dipakai sama Fatimah, yang Mamah berikan sama Fatimah."
__ADS_1
" Ya Tuhan...berarti ini adalah jodoh kamu, Sherly di dalam diamnya mengetahui kalau Fatimah itu adalah orang yang baik orang yang memang benar-benar menyayangi Keyra penuh kasih sayang dan tidak mengharapkan pamrih, perkiraan Mama selama ini benar adanya Davin, Fatimah cocok untukmu, lanjutkanlah Nak untuk menikahinya selepas Keyra bangun kita akan menemui keluarganya Fatimah, kita akan menjelaskan semuanya kepada keluarganya."
" Tapi Mah, kalau seandainya Mereka menolak keponakan dia menikah dengan seorang laki-laki yang masih memiliki istri, apalagi istrinya itu sedang sakit Davin tidak ingin dikatakan hanya karena hasrat Davin mau menikahi Fatimah, apalagi menikahinya secara tersembunyi seperti ini, hanya keluarga saja yang tahu."
Bu Santi tersenyum.
" In sya Allah dengan izin yang maha kuasa karena keinginan kamu itu adalah hanya karena Allah kamu pasti akan diterima di tengah-tengah keluarganya Fatimah."
Davin kemudian menghelan nafasnya dengan pelan, dia menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa dan menatap langit rumahnya tersebut, mereka berdua terlihat terdiam,Bu Santi menatap sang Anak, dia merasakan kegalauan dan kesedihan serta kebingungan sang anak, tapi dia merasa yakin dengan kehadiran Fatimah sebagai istrinya Davin nantinya kebahagiaan itu pasti akan datang dan mereka akan merenda semuanya itu, kemudian pintu kamar Keyra pun terbuka, Keyra yang sudah berada di dalam gendongan Fatimah pun tersenyum karena melihat sang papah dan Neneknya berada didepannya
Fatimah terkejut, karena tuan muda dan nyonya besarnya ada di depan kamar anak asuhnya itu.
" Ibu, Tuan ada apa? kok masih di sini?" tanya Fatimah sembari tersenyum.
" Kami lagi menunggu kamu, Keyra sudah bangun, lebih baik kita cepat ke rumah sakit, ibu ingin meminta dengan keluarga kamu secepatnya kamu menikah dengan Davin."
Fatimah tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Kemudian Bu Santi dan Davin pun berdiri dari duduknya, Davin lalu mengambil alih menggendong Keyra dari gendongan Fatimah, gerakan reflek pun terjadi lagi Davin langsung menggenggam tangan Fatimah dan membawanya berjalan menuju ke arah lantai bawah, Debaran dijantung Fatimah berdetak kembali seiring tangan Tuan mudanya itu menggenggam tangannya, sedangkan Bu Santi yang berada berjalan di depan pun hanya tersenyum bahagia, walaupun dia tidak melihat sang anak menggenggam tangan calon menantunya itu, mereka menuruni satu persatu anak tangga dari lantai atas menuju ke lantai bawah, saat mereka menuju ke halaman depan Laura pun menegur mereka.
" Kalian mau ke mana ?"
" Mamah dengan kakakmu mau ke rumah sakit menemui keluarga Fatimah."
" Boleh Laura ikut?"
__ADS_1
" Boleh .." ucap Bu Santi dan Laura pun melihat tangan kakaknya itu menggenggam tangan Fatimah dia tersenyum, kemudian dia pun langsung meraih tangan Fatimah dan merangkulnya, mereka pun langsung berjalan menuju ke arah luar di mana mobil sudah dipersiapkan oleh Mang Cecep, tapi karena mobil tersebut bukan kendali dari Mang Cecep mobil tersebut adalah mobil pribadinya Tuan mudanya Mang Cecep hanya membukakan pintu untuk mereka masuk ke dalam mobil itu, beberapa saat kemudian mobil pun meninggalkan rumah tersebut menuju ke arah rumah sakit untuk melanjutkan keinginan Bu Santi melamar Fatimah di depan ibunya Fatimah yang masih dalam keadaan koma.