Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 73


__ADS_3

Davin meninggalkan kantornya bersama dengan Haris untuk menemui Rahman, tapi sebelumnya Davin mengantarkan sang Adik berangkat kebandara dan terbang keluar Negeri sesuai keinginan Laura untuk melanjutkan kembali kuliahnya, kemudian Davin melajukan mobilnya kembali menuju arah yang kedua yang ingin ditujunya bertemu dengan Rahman dimana mereka berdua sudah menghubunginya.


Didalam mobil mereka berdua tidak saling berbicara karena mereka ingin segera selesai dengan masalah Rahman tersebut.


Mobil mereka memasuki sebuah cafe dimana Rahman berada disana, Davin terpaksa memasuki cafe tersebut dimana cafe itu terkenal dengan banyak wanita penghibur laki-laki, Davin mengalah untuk ketempat itu yang bertolak belakang dengan dirinya, tapi karena dia harus bertemu dengan Rahman dia pun langsung mengiyakan pertemuan itu.


Davin melihat Rahman yang sedang duduk disebuah sofa panjang dengan didampingi kiri dan kanan wanita itupun langsung tersenyum sembari bersuara.


" Hai-hai...pak Davin yang tampan pengusaha terkaya, silahkan duduk .." ucapnya membuat Davin terasa enek dengan tingkah dan sikap Rahman tersebut.


" Apa yang kamu ingin bicarakan padaku Davin?" Tanya Rahman sebari tersenyum seolah olah mengejek pada Davin.


" Bisakah kita bicaranya tidak ada wanita-wanita itu?"


" Oh...baiklah...dengan senang hati..." Ucapnya disambut dengan wajah Harris yang mencibir kearah Rahman.


" Tersenyumlah terus! Lihat nanti permainanku!!" Gumam Harris dalam hati sembari menyunggingkan senyumannya disudut bibirnya.


" Sayang-sayang ku, silahkan kalian cari mangsa yang lain, karena aku lagi ada tamu Oke..." Ucapnya sembari lembut bertutur kata dengan kedua wanita yang ada disamping kiri dan kanannya itu.


Dengan memberikan ciuman kepipi Rahman silih berganti kedua wanita tersebut melangkah meninggalkan Rahman.


Davin merasa jijik dengan sikap Rahman pada para wanita tersebut seolah-olah dia tidak merasa malu dengan sikapnya itu.


" Bagaimana? apa yang ingin kamu bicarakan denganku? kita sudah berhadapan seperti ini dan para wanitaku sudah tidak ada di sini." ucapnya seraya menatap ke arah Davin dengan tatapan misteriusnya itu.

__ADS_1


" Ada yang ingin aku tanyakan denganmu!" Ucap Davin.


" Pertanyaan apa yang ingin kamu tanyakan denganku, masalah pembagian harta warisan? atau pembagian keuntungan dari perusahaan yang telah kamu tangani itu?" Ucapnya tersenyum santai.


" Kalau masalah warisan tidak ada lagi sama sekali denganku, semua harta milik papa sudah kamu miliki, yang aku pertanyakan denganmu pembagian keuntungan dari perusahaan yang telah aku tangani ini sudah aku berikan sebanyak tiga kali dan itu pun nilainya juga lebih dari yang di inginkan papah untukmu, lagi pula aku membuat usaha sendiri tanpa ada uang papah sedikit pun dan aku hanya menuruti apa kehendak papah aja saat itu, yaitu pembagian keuntungan untukmu! Jika bukan karena papah aku tidak akan pernah memberimu sepeserpun! Dan sekarang kenapa kamu masih menginginkannya lagi hah?!"


" Hahaha!!! Davin Steven Wijaya, pemilik perusahaan terbesar di tanah air dan mancanegara, cuma Memberikan sebagian dari keuntungan perusahaan kamu yang ada di tanah air ini, kamu tetap mempertahankannya tidak ingin memberikannya padaku? untuk apa Davin! Kamu simpan! karena istri kamu juga sudah meninggal dunia, Anak kamu masih kecil dan tidak mungkin anakmu sekecil itu bisa kamu warisin semua harta yang ada denganmu, apalagi ibumu.... hmmm ....jauh dari kata mampu bisa menangani semuanya, Yah bisa dibilang kalau ibumu udah bau tanah!!" Ucapnya dengan ketus.


" Kurang ajar sekali kamu bicara seperti itu!! aku ke sini bicara baik-baik, bukan untuk menghina ibuku!! kalau kamu menghina ibuku kamu harus bercermin dengan ibumu sendiri!! bagaimana ibumu bisa memisahkan ibuku dan almarhum papa!! ucap Davin setengah emosi ingin rasanya Dia menampar wajah Rahman agar dia bisa memberikan pelajaran yang setimpal untuknya, tapi Davin masih bisa menahan dirinya karena tidak mungkin dia melakukan itu pada Rahman bisa-bisa jadinya nanti dia yang bersalah.


" Kenapa?? emang benar kan ibumu juga sudah tua, kalau aku santai aja kalau seandainya ibuku dibilang seperti itu! ya emang benar ibuku memang udah tua, sama seperti ibumu!!" ucapnya sembari menunjuk ke arah Davin, Haris yang melihat kelakuan Rahman itu pun akhirnya berdiri dan langsung menepiskan tangan Rahman dengan kuat membuat Rahman sedikit mengaduh.


" Hei!! apa-apa denganmu hah!! aku tidak bicara denganmu, lagi pula kamu adalah jongos buat Davin, buat apa kamu ngebelanya hah!! Dasar jongos! Bagus juga! Pengabdian kamu pada Majikanmu,masih bisanya kamu membelanya hahaha." Ucapnya sembari menepukkan kedua tangannya mengejek Harris.


" Kalau iya kenapa?! masalah buat kamu kalau aku sebagai jongos Davin hah?! karena aku sebagai jongosnya Davin makanya aku membela Tuanku, kalau kamu ingin dibela cari tuh jongos di luar sana, agar kamu bisa dibela setiap saat!!" ucap Haris sembari menatap Rahman dengan tatapan emosinya, Davin kemudian berdiri dan memberi kesabaran kepada Haris mempersilahkan Haris duduk kembali.


" Cih!!! Najis aku berkelahi dengan kamu!" ucap Haris membuat emosi dari Rahman tapi dia tetap menahan emosinya.


" Kalau aku mau sudah dari dulu aku menghajar Kamu habis-habisan, mungkin saat ini Kamu tidak bisa duduk di kursi itu, tapi aku tahu, ngapain aku menghajar kamu karena kamu itu orangnya tidak tahu malu, serakah, jahat dan selalu menghendaki hak orang lain, padahal itu semua bukan milikmu.!!" Ucap Haris sembari tersenyum sinis juga ke arah Rahman, darah Rahman seakan-akan bergejolak ingin memberi pelajaran pada Haris, dia pun langsung berdiri dan menerjang Haris.


Davin terkejut.


Haris yang saat itu duduk di sebelah Davin berdiam diri saja, tidak melawan ataupun tidak menghindar dengan terjangan Rahman, tangan Rahman berada di leher Harris dan Rahman memberikan pukulan pada Harris Davin langsung menarik Rahman untuk melerainya, kemudian kedua orang security dari cafe itu pun langsung mendekati mereka dan melerai perkelahian itu.


" Kamu memang keterlaluan!! kamu yang jahat! dasar jongos!" ucapnya Karena dia sudah dipegang oleh security cafe tersebut.

__ADS_1


" Aku tidak terima dengan pemukulan yang telah kamu lakukan padaku, aku akan laporkan kamu kepada pihak yang berwajib!!" Ucap Harris tersenyum sinis pada Rahman. mendengar ucapan Haris Rahman pun terkejut, Dia kemudian menepiskan kedua tangan security itu dan langsung duduk di kursinya dia menatap ke arah Haris.


Davin merasa bingung dengan ucapan Haris yang terlihat mengusap bibirnya karena sedikit mengeluarkan darah gara-gara ditonjok Rahman.


Davin kemudian mendekati Haris.


" Kamu tidak kenapa-napa Ris?" tanya Davin kemudian Haris mendekati Davin dan berbisik pelan ke telinga Davin.


" Aku tidak apa-apa, ini adalah sebagian dari rencanaku agar kita mudah untuk menggertaknya karena sikap dan perilakunya sudah sangat kelewatan."


Rahman menghela nafasnya dengan pelan.


" Kenapa aku tadi tidak menahan emosiku? Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau seperti ini, sekarang aku merasa bingung apa yang harus aku katakan kepada orang yang ada di depanku ini, kalau aku sampai dilaporkannya rencanaku akan hilang semuanya!" Gumamnya dalam hati.


" Kenapa kamu melakukannya pada Harris!" Ucap Davin.


Rahman menoleh ke arah Davin, tapi tatapannya tidak dengan tatapan sinisnya melainkan dengan tatapan ibanya dia merubah ekspresi wajahnya agar ada belas kasihan dari Davin.


" Davin aku tidak sengaja, kamu bisa bilang pada temanmu itu Maafkan aku." ucapnya tapi dia tidak menatap ke arah Haris,


Haris kemudian mendekatinya.


" Aku tidak akan memaafkan kamu!! ini adalah bukti nyatanya lihatlah..." ucap Haris sembari memperlihatkan ponselnya dengan sebuah video dan foto saat kejadian tadi.


" Ternyata kamu menjebakku!!" ucap Rahman sembari menatap ke arah Haris, Haris tersenyum kemenangan karena itu sebagai bukti untuk dia bisa menekan Rahman agar tidak mengganggu keluarga Davin lagi.

__ADS_1


" Aku memang sengaja membuat kamu emosi dan aku sudah mempersiapkan semuanya saat kamu menghajarku kamu tidak penyadari kalau aku memegang ponselku dengan kamera sedang menyala." ucap Haris, lagi-lagi dia tersenyum, Davin pun ikut tersenyum sembari menatap Rahman sedangkan Rahman hanya mengusap wajahnya dengan kasar dan memegang tengkuknya sembari menundukkan kepalanya dia hanya menunggu nasib yang akan diberikan oleh Haris padanya.


__ADS_2