
Diruangan itu hanya ada ibu Nany,Fatimah dan gadis kecil mungil Keyra,sedangkan Aisyah pamit keluar sebentar, ibu Nany tersenyum pada Keyra yang sangat menggemaskan itu.
" Fatimah..." Panggilnya.
" Iya Bu...ada apa? Ibu mau apa?"
" Nggak ada Nak, ibu mau bicara denganmu Nak."
" Bicara apa Bu?"
Terlihat Bu Nany menghela nafasnya dan melepaskannya dengan pelan.
" Apakah kamu bahagia dengan pernikahan kamu sekarang ini?"
Tanyanya sembari menatap Fatimah dengan tatapan nanarnya.
Fatimah tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.
" Iya Bu, Fatimah bahagia, keluarga mertua Fatimah sangat baik sekali Bu, Fatimah bersyukur karena sudah bertemu dengan mereka, tapi..." Fatimah menggantung kalimatnya.
" Tapi apa Nak?"
" Tapi...Fatimah jadi istri keduanya Mas Davin Bu..."
Ibu Nany hanya menghela nafasnya dengan pelan, dia tidak merasa terkejut dengan ucapan Fatimah.
" Tapi ibu jangan khawatir, Fatimah terima kok semuanya, Fatimah bahagia banget Bu, benar kok Bu, Fatimah sangat bahagia." Ucapnya menyakinkan sang ibu, yang sebenarnya dirasakan Fatimah adalah benar kalau dia merasa bahagia bersama keluarga Davin meskipun dia menjadi istri kedua Davin, itu tidak disesalkannya,bukan karena keluarga Davin kaya, tapi karena kasih sayangnya pada Keyra yang menjadikannya bahagia bersama keluarga Davin.
" Fatimah, ibu merestui kamu menikah dengan Nak Davin, karena itu kebahagiaanmu dan kamu yang menjalaninya, tapi ibu khawatir apakah istri pertamanya itu mau menerima kamu Nak bersungguh-sungguh? Kalau dipikir mana mau cinta dan kasih sayang suaminya dibagi dengan wanita lain, ibu takutnya nanti kamu akan merasa tersiksa Nak."
__ADS_1
Lagi-lagi Fatimah tersenyum.
" Ibu, in sya Allah tidak Bu, Nyonya muda Sherly ada kok Bu, dia sekarang dalam keadaan koma sudah tiga tahun lamanya setelah melahirkan Keyra, kalau keajaiban itu ada buat Nyonya muda Sherly seperti ibu sekarang ini, Fatimah akan mengalah Bu demi kebaikan mereka berdua dan Keyra, sekarang ini Keyra sangat membutuhkan kasih sayang dari Fatimah Bu, karena semenjak Keyra lahir dia ini belum pernah sama sekali memiliki kasih sayang seorang ibu, yang didapatnya hanya kasih sayang dari Nenek, Papah, dan Tantenya, itulah membuat Fatimah sangat menyayangi Keyra Bu, Fatimah ikhlas menerima keadaan ini Bu." Terangnya pada sang ibu.
Ibu Nany hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Alhamdulillah, mulia sekali Nak hatimu, ibu bangga padamu Nak." Ucapnya sembari mengusap tangan sang anak, sedangkan Keyra menatap kearah Fatimah lalu dia tersenyum, Fatimah langsung mencium kening anak sambungnya itu.
Kemudian Aisyah datang dari luar, dia berpamitan pada kakak dan ibunya untuk kekantin rumah sakit membelikan air meneral buat Keyra yang sejak tadi ingin minum, Aisyah mendekati keluarganya itu dan membukakan botol air mineral tersebut buat Keyra, dengan penuh kasih sayang Aisyah memberikan minum pada Keyra.
Setelah selesai diapun langsung duduk dan berbicara pada Fatimah.
" Kak, Aisyah nggak nyangka kalau kak Laura yang melakukan ini semua." Ucapnya.
Fatimah mengusap pundak sang adik dengan lembut.
Aisyah mengangguk.
" Aisyah nggak marah kak, buat apa marah sama kak Laura, karena keluarga mereka baik semua pada keluarga kita, dan Alhamdulillah juga ibu sudah sadar dari komanya, yang Aisyah sesalkan kenapa kak Laura tidak bilang dari awal kalau dia yang sudah melakukannya."
Fatimah menghela nafasnya dengan pelan diapun langsung tersenyum.
" Sayang, semua itu karena keadaanlah yang membuat kak Laura tidak berkata jujur,itu semua karena ketakutan melandanya." Terangnya sembari tersenyum pada sang Adik.
" Aisyah, ibu minta padamu nak, jangan ada dendam ya pada keluarga kakakmu yang baru ya Nak, putihkan hati lebarkan pintu maaf bagi orang yang bersalah padamu ataupun keluarga kita, dan jangan sekali-kali membalas kejahatan orang tersebut dengan kejahatan yang sama, karena tidak ada gunanya Nak." Ucapnya sembari mengusap tangan anak bungsunya itu.
Aisyah mengangguk dan tersenyum pada sang ibu, mereka lalu berbicara kembali dengan topik berbeda.
Dikantor Davin, tepatnya diruangannya...
__ADS_1
Davin duduk dikursi kerjanya yang beberapa hari sudah ditinggalkannya, Davin menghela nafasnya dengan pelan dan menyandarkan kepalanya disandaran kursi tersebut.
" Akhirnya aku menikahi Fatimah, tapi apa aku sanggup memberikan nafkah batin padanya? Ya tuhan kuatkan aku agar aku bisa melakukan dua-duanya nafkah lahir dan batin buat istri ku Fatimah yang baru saja aku nikahi, kuatkan aku dan yakinkan hati ini agar aku bisa membahagiakan dia tanpa ada yang tersakiti antara Sherly dan Fatimah." Ucapnya sembari mengusap wajahnya dengan pelan dan memejamkan matanya sesaat, Haris yang melewati ruangan Bosnya itupun langsung membuka pintu ruangan Davin karena dia merasa curiga kalau ruangan itu ada orang didalamnya, benar saja kalau Davin berada diruangannya tersebut.
" Ya Tuhan...Davin....." Ucap Haris sembari mendekati Davin yang berada dimeja kerjanya.
Davin menoleh kearah Haris.
" Ada apa Ris, aku baik-baik aja kok, kenapa kamu terkejut gitu sih!" Ucap Davin sembari tersenyum simpul.
" Kamu itu lho, baru aja menikah beberapa jam yang lalu sudah masuk kantor, kan aku sudah bilang nikmati aja dulu hari pernikahan kamu, eh! Malah ngantor, ada-ada aja kamu ini Vin." Ucap Haris merasa heran ditambah lagi wajah Davin yang terlihat sangat bimbang itu.
Davin menghela nafasnya dengan berat dan melepaskannya dengan perlahan.
" Aku tidak apa-apa Ris, aku hanya ingin kekantor aja, dan lagi Fatimah mau nginap dirumah sakit menemani ibu mertuaku." Ucapnya seraya menghidupkan laptopnya.
" Vin, katakan padaku ada apa?"
" Tidak ada apa-apa."
" Vin kita ini teman, lupakan sesaat kalau aku ini bawahan kamu, lihat aku Davin, cerita padaku ada apa?"
Davin mengusap wajahnya dengan pelan dan menatap wajah Haris.
" Haris, aku merasa bingung aja kalau nantinya Sherly mendapatkan kesadarannya dan dia pasti akan kecewa karena aku sudah menghianatinya dengan menikahi Fatimah, jika seandainya aku dan Fatimah hanya pacaran bisa diputuskan begitu saja, ini aku menikahinya,aku tidak bisa rasanya menyakitinya seperti ini."
" Davin, kamu tidak menyakiti Fatimah, kalau keajaiban itu datang pada Sherly, dia pasti akan merestui kalian menikah, dan dia juga mampu untuk berbagi cinta karena aku yakin sikap Sherly sangat baik dan dia tidak jahat pada siapapun, kamu ingat tidak saat dia disakiti seorang wanita yang bernama Vina kala itu, saat dia tahu kalau kamu sudah menikahinya dan dia dipermalukan Vina titisan bule itu didepan banyak orang di pusat perbelanjaan, dia dengan sabar dan santainya menerima hinaan yang dilontarkan Vina padanya, sampai akhirnya Vina kesel sendiri karena tidak dihiraukan Sherly sampai akhirnya orang-orang menganggap Vina stres dan berlalu begitu saja dihadapan Sherly, saat itu kita mengambil meeting disebuah resto yang ada didalam Mall tersebut, tapi kita tidak tahu kejadian pastinya, kita hanya mendengar desas desus pengunjung saja, sedikit pun dia tidak merasa tersakiti, Sherly sangat baik banget dan luas kata maafnya, bahkan saat kamu marah dan ingin memenjarakan Vina karena sikapnya mempermalukan istrimu ditempat umun, tapi apa kata Sherly saat itu, "sayang, jangan balas kejahatan orang lain dengan kejahatan juga, karena tidak ada gunanya, lebih baik balaslah orang itu dengan segala doa agar dia bisa sadar dari sikap jahatnya dan belajarlah memaafkan orang lain yang sudah menyakiti kita", aku masih ingat kata-katanya itu Vin, sikap Sherly sama seperti Fatimah, kamu tidak salah menikahi Fatimah, yakin dihatimu, kalau Fatimah orang yang tepat untuk dijadikan pendamping hidup untukmu." Terang Haris panjang lebar.
Davin kembali menyandarkan tubuhnya disandaran kursinya sembari menghela nafasnya dengan pelan, dan mengingat beberapa tahun silam saat dia baru saja menikah dengan Sherly.
__ADS_1