
" Hei!! apa yang kalian lakukan!! Jangan sentuh dia! dia adalah wanitaku!! ucapnya dengan lantang, melihat kedatangan Prasetyo menuju ke arah mereka, dua laki-laki yang mengganggu Clara itu pun langsung meninggalkan Clara dan kedua laki-laki itu berlalu dari hadapan Clara menuju ke arah luar.
Prasetyo kemudian mendekati Clara dia melihat Clara yang mabuk berat itu pun mengoceh tidak karuan.
" Mbak, kamu tidak apa-apa Mbak?" tegur Prasetyo.
Karena di dalam pikiran Clara hanya Davin, Davin, dan Davin, dia pun mulai berhalusinasi kalau di hadapannya itu adalah Davin, mendengar suara Prasetyo seakan-akan dia mendengar suara Davin, dia pun langsung berdiri dan merangkul Prasetyo dengan gerakan cepatnya Clara mencium Prasetyo bertubi-tubi, Prasetyo pun terkejut, dia mencegah dengan kuat namun Prasetyo tidak kuasa melepasnya, karena pelukan Clara padanya sangat kuat dia hanya pasrah di ciumi oleh Clara dengan cara bringas tersebut.
" Davin sayang .. jangan tinggalkan aku, Aku sangat mencintai kamu, kamu adalah milikku, tidak ada yang bisa memilikimu selain aku, sadarlah Davin, kalau aku hanyalah wanita yang ada di hatimu." ucapnya.
Prasetyo pun merasa dirinya dipeluk Clara dengan kuat, karena dia merasa malu ditatap oleh pengunjung Cafe, dia pun langsung berjalan sembari menggendong tubuh Clara dan membawanya keluar dari Cafe itu, dia langsung saja memasukkan Clara ke dalam mobilnya, Dia melajukan mobil tersebut tidak tahu arahnya kemana, beberapa saat kemudian dia berhenti di pinggir jalan, Dia kemudian menoleh ke arah Clara.
" Mbak.. sadar dong! Aku ini bukan laki-laki yang kamu sebutkan tadi, aku ini Prasetyo, bukan Davin."
Prasetya mengucapkan kata Davin tapi dia tidak sadar kalau Davin yang diucapkan Clara dan disebutkan oleh dirinya itu baru saja dia dengar saat dia berada di rumah sakit yang diberitahukan oleh suster itu.
" Davin sayang... kamu jangan bersandiwara lagi di hadapanku sekarang, kita di dalam mobil ini hanya berdua saja, bawalah aku bersamamu Davin, kemanapun kamu bawa aku akan ikut." ucapnya mengoceh tidak karuan.
" Mbak, sekarang rumahmu di mana? biar aku mengantarmu pulang."
" Aku malas pulang, aku ingin pergi ke ke mana saja, asalkan bersama denganmu, tapi aku tidak ingin pulang." ucapnya lagi sembari tangannya berkelanjutan mesra di leher Prasetyo, sesekali dia mencium pipi kiri Pras dengan penuh kemesraan saat dia hendak mencium kearah bibir, Prasetyo pun kemudian mencegahnya, Dia kemudian menyandarkan tubuh Clara kembali di jok mobilnya, lalu dia pun melajukan mobilnya mengelilingi kota tersebut, karena dia juga bingung mau membawa Clara ke mana, karena Prasetyo tidak mengetahui di mana rumah Clara.
Di kediaman keluarga Davin...
Setelah bersantap makan malam Paman Ari hendak berpamitan pulang ke rumah mereka, namun dicegah oleh Davin
__ADS_1
Davin meminta Paman Ari untuk menginap di rumahnya, dianggukan oleh Fatimah akhirnya Paman Ari menyetujui permintaan dari Fatimah dan Davin.
Suasana gembira di rumah itu sangat terlihat sekali dengan candaan yang mereka ciptakan satu sama lain menambah kebahagiaan yang mereka rasakan sampai tidak terasa jam menunjukkan pukul 09.00 malam, Mereka pun kemudian mengajak untuk beristirahat karena sudah terlalu banyak tenaga yang terkuras di siang hari, setelah menunjukkan kamar untuk sang paman, Fatimah kemudian membawa Keyra yang sudah sangat mengantuk itu ke dalam kamarnya sendiri, dia kemudian merebahkan gadis mungil tersebut di tempat tidur sambil menyenandungkan lagu-lagu yang disukai oleh Keyra, beberapa saat kemudian Keyra pun hanyut dalam tidurnya, tiba-tiba Fatimah merasa bingung, Apakah dia harus tidur dengan Keyra atau dia beranjak pergi ke kamar sang suami.
Fatimah kemudian melangkah meninggalkan kamarnya itu dia kemudian turun ke lantai bawah di mana sang Mama berada, karena ibunya itu memilih kamar tidur bersama Aisyah di lantai bawah, dengan alasan dia tidak ingin naik turun yang membuat dirinya capek harus menapaki anak tangga yang menghubungkan lantai atas dan lantai bawah.
Dia membuka pelan pintu kamar tersebut di mana sang Ibu dan Aisyah masih bangun, namun terlihat sedang tiduran di atas tempat tidur tersebut, Fatimah tersenyum dia melangkah mendekati kedua orang yang sangat disayanginya itu.
" Kenapa kamu belum tidur Nak" tanya Bu Neni padanya.
" Fatimah belum mengantuk Bu."
" Fatimah, ibu minta satu denganmu, berbaktilah dan taat selalu dengan suamimu, dan jangan membantah apa yang diucapkan suamimu, layani dia sebagaiman mestinya kamu sebagai seorang istri,dari makan, minum, pakaian dan sebagainya, agar rumah tanggamu bahagia, carilah ridhonya yang maha kuasa dirumah tangga kalian." Ucap Bu Nani tersenyum, Fatimah hanya menganggukkan kepala.
Mereka saling bertukar cerita yang sering mereka lakukan saat bersama, mereka juga menceritakan kenangan mereka saat dikampung dulu.
Mereka bertiga melanjutkan bercerita satu sama lainnya, kemudian Fatimah melihat jam dinding yang berada didalam kamar yang ditempati ibunya itu, sudah menunjukkan waktu sebelas malam, dan diapun langsung berpamitan dengan sang ibu, dia melangkah keluar ruangan dan langsung menuju kearah lantai atas sampai didepan kamar suaminya dia merasa ragu memasuki kamar tersebut, tapi dia teringat akan ucapan sang suami tadi pagi membuat dirinya akhirnya memegang gagang pintu kamar suaminya tersebut, dia perlahan membuka pintu tersebut dan terlihat sang suami yang berdiri didepan jendela kamarnya itu pun langsung menoleh kearah Fatimah, karena rasa tidak biasa bersama satu kamar bahkan tidur satu ranjang membuat Fatimah merasa kikuk, dia hanya menatap kearah sang suami.
Davin tersenyum pada Fatimah, Davin tahu kalau istrinya itu dalam keadaan gugup, tapi terlihat Fatimah berusaha tenang.
Davin kemudian duduk dibibir ranjangnya dan Fatimah melangkah menuju bibir ranjang yang lain, dia diam tak ada suara sama sekali.
" Kalau kamu masih gugup dan takut aku tidur disamping kamu, aku akan tidur disofa." Ucapnya tersenyum mengambil bantal dan kemudian turun dari ranjangnya dan saat dia hendak melangkah,dia pun langsung dipanggil Fatimah.
" Mas!"
__ADS_1
Davin menoleh kearah Fatimah.
" Nggak usah tidur disofa, tapi tidurlah disini bersama."
" Beneran, kamu menyuruh aku tidur disamping kamu?"
Fatimah mengangguk...
" Kamu yakin?"
Lagi-lagi Fatimah menganggukkan kepalanya, kemudian Davin tersenyum dan langsung merebahkan kepalanya diatas bantal tersebut begitu juga Fatimah langsung merebahkan tubuhnya disamping sang suami, mereka terdiam sesaat.
" Sejujurnya bukan Fatimah saja yang gugup saat tidur satu kamar ini, aku juga merasa gugup karena sudah sekian tahun lamanya aku tidur sendirian dan sekarang aku tidur ditemani seorang wanita yaitu istriku walaupun bukan yang pertama tapi yang kedua" Gumamnya dalam hati, dan dia pun menoleh kearah Fatimah kemudian Davin memiringkan tubuhnya dan mendekati Fatimah, Fatimah terkejut tapi dia berusaha menutup rasa terkejutnya itu dengan memejamkan matanya, dan Davin pun langsung mematikan lampu dikamar tersebut dan menggantinya dengan lampu tidur, dia mendekati Fatimah bukan untuk apa-apa tapi melainkan untuk mematikan lampu ruang tidurnya yang berada didekat meja kecil disamping Fatimah.
Saat tubuh Davin berada didekat Fatimah, degupan jantung Fatimah semakin kuat, dan dia pun hanya bisa menutup matanya saja, Davin tersenyum dan dia kemudian memiringkan kembali tubuhnya dengan satu tangan menopang kepalanya sembari menatap kearah Fatimah yang sedang menutup matanya seolah-olah sedang tidur, Davin dengan puas memandangi wajah sang istri yang terlihat sangat cantik itu dengan rambut terurai diatas bantal yang direbahi Fatimah, karena posisi Fatimah tidur terlentang dengan tangan berada diatas perutnya.
Davin menyentuh wajah sang istri,Fatimah membuka matanya dan menoleh kearah samping.
Melihat Fatimah membuka matanya Davin kemudian merubah posisinya mendekati sang istri dan mencium kening Fatimah, kemudian turun kepipi kiri dan kanan Fatimah, Davin terdiam sesaat dia menatap mata bening Fatimah dan reflek Fatimah mengangguk, Davin tersenyum dia kemudian melahap bibir ranum Fatimah yang belum pernah tersentuh siapapun, Fatimah hanya merasakan sentuhan demi sentuhan suaminya tersebut, sampai akhirnya Davin bisa membuka segel yang selama ini dijaga Fatimah dari jangkauan orang yang jahat, sesaat Fatimah menjerit pelan karena dia merasakan sesuatu yang baru pertamakali dia rasakan, dia merasa bahagia karena dia sudah menyerahkan seutuhnya untuk suami tercinta, inilah kali kedua Davin merasakan kebahagian yang sudah lama tidak dirasakannya beberapa tahun terakhir, kesepian, kesunyian dan kesendirian membuat dirinya tidak pernah merasakan yang namanya kebahagian yang diciptakannya makluk penghuni bumi,di kamar yang redup cahaya itupun menjadi saksi dua insan yang sudah sah menjadi satu itu, mengukir bahagia yang tiada taranya, sampai akhirnya mereka seperti habis berlari jauh mendaki puncak gunung dan sampai akhirnya merekapun sampai pada puncaknya walaupun awalnya menempuh batu terjal yang sangat sulit dilewati tapi karena keuletan dan ketangguhan Davin pun akhirnya sukses berada dipuncak.
" Terimakasi sayang..." Ucapnya seraya mencium kening sang istri dan dianggukkan Fatimah dengan senyumannya, diapun memejamkan matanya seraya memiringkan posisi tidurnya dan Davin memeluk hangat sang istri dalam pelukannya seraya menarik selimut dan mereka pun kemudian berlabuh dalam alam mimpinya
Disebuah mobil yang berhenti di pinggir jalan si pengemudi merasa bingung dengan arah yang dituju tidak tahu kemana, dia adalah Frasetyo yang kebingungan hendak membawa kemana Clara.
" Kemana aku bawa wanita ini? Aku tidak tahu kemana." Ucapnya sembari menatap wajah cantik Clara yang ada disampingnya dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
" Cantik juga sebenarnya wanita ini." Ucapnya sembari menatap lekat kearah Clara dan kemudian matanya tertuju kearah tas kecil yang ada dikursi belakang mobilnya dan diapun langsung mengambilnya dan memeriksa tas tersebut untuk mencari identitasnya, setelah ditemukannya alamat rumah sang wanita Pras pun melajukan mobilnya itu menuju kearah rumah Clara.