Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu

Cinta Pertamaku, Kedua Bagimu
BAB 64


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil yang dikendalikan Mang Cecep memasuki area parkir tapi sebelum Mang Cecep memarkirkan mobil tersebut Bu Santi pun langsung bicara dengan Mang Cecep karena melihat Mang Cecep memarkirkan mobil tersebut.


" Mang Cecep bisa pulang lagi aja, nanti kami akan pulang bersama dengan Davin." ucap Bu Santi sembari tersenyum, Mang Cece pun menggangguk, kemudian meninggalkan Rumah Sakit kembali dan menuju ke arah rumah Tuannya.


Laura dan Bu Santi pun melangkah menuju ke arah ruangan di mana sang menantu berada.


Davin yang berada di ruangan itu pun merasa senang sekali karena sang istri yang sudah lama ditunggunya untuk mendapatkan kesadarannya itu, Akhirnya bisa dilihatnya kembali dengan matanya Sherly terlihat menatap ke arah Davin dengan lekat, tapi dia tidak ada sepatah kata pun berbicara dengan Davin.


" Sayang, kenapa kamu tidak berbicara sama sekali denganku, bicaralah seperti yang pernah kamu lakukan bila bertemu denganku di dalam mimpi, bicaralah Sayang, Apa yang ingin kamu inginkan sekarang, aku akan menurutinya, tapi tolonglah bersuaralah padaku." Pintanya pada sang istri, namun lagi-lagi Sherly hanya tersenyum, dan hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini.


Tapi terlihat mata Sherly mencari sesuatu.


" Apa yang kamu cari sayang? katakan padaku, aku akan memberikannya kalau itu memang kamu perlukan."


Tapi lagi-lagi Sherly hanya mengumbar senyumnya saja dia pun tidak menggelengkan kepalanya untuk menolak tawaran suaminya itu, hanya senyum yang diberikannya kepada suaminya itu.


Pintu ruangan Sherly pun terbuka Bu Santi dan Laura melangkah masuk ke dalam ruangan itu,dia pun langsung menghambur dan mencium Sherly, Bu Santi tidak bisa menahan lagi deraian air matanya saat ini, Begitu juga dengan Laura dia tidak mampu menahan buliran bening itu juga keluar dari kedua bola matanya.


" Ya Tuhan, akhirnya kamu bisa membuka matamu Nak, Ibu rindu denganmu, akhirnya kita bisa bertatapan kembali." Ucap Bu Santi.


Sherly hanya tersenyum.


" Kakak, aku juga rindu ingin bersama lagi seperti dulu." ucap Laura sembari menggenggam tangan Sherly, lagi-lagi Sherly hanya memberikan senyumannya kepada Laura dengan memberikan isyarat matanya dengan memejamkan sesaat, kemudian terbuka kembali, seakan-akan Sherly mengatakan kalau dia juga rindu dengan keluarganya itu, beberapa saat kemudian mereka terlena dengan menikmati kesadaran Sherly, walaupun Sherly belum bisa berbicara.

__ADS_1


Kemudian pintu ruangan terbuka kembali terlihat seorang dokter yang selalu menangani Sherly masuk ke dalam, dia pun kemudian berbicara sesaat secara berbisik dengan Davin dan terlihat Davin hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Davin meminta izin pada Bu Santi, dia pun kemudian melangkah meninggalkan mereka menuju ke ruangan dokter, karena ada yang ingin dibicarakan oleh dokter tersebut pada Davin.


Sesampainya di ruangan itu, Davin dipersilakan duduk, Begitu juga dengan dokter itu duduk bersama, Dia kemudian menatap ke arah Davin.


" Ada apa Dok?"


" Begini pak Davin, kami juga merasa heran dan kami juga menemukan keanehan dan kejanggalan disadarnya Bu Sherly sekarang.


" Maksud dokter?"


" Beberapa hari yang lalu pernah saya katakan kepada Bapak, kalau tubuhnya Bu Sherly sudah menolak untuk masuk obat-obatan agar mempertahankan kondisi tubuhnya, kejanggalan yang kami temukan itu adalah Bu Sherly hanya bisa membuka matanya tapi dia tidak mampu untuk berbicara, itu yang Kami merasa aneh dan satu lagi Pak Davin, orang sudah mengalami koma selama 3 tahun lamanya itu besar kemungkinannya dia tidak mengenali anggota keluarganya saat pertama dia mendapatkan kesadarannya, karena ditambah lagi tumor otak yang pernah melanda Bu Sherly yang hanya bisa dilakukannya saat ini cuma tersenyum dan memberikan isyarat dalam kedipan matanya."


" Dan terpaksa pak Davin saya belum bisa melepas semua alat medis yang ada di tubuh Bu Sherly, Karena saya menjaga kemungkinan yang ada, kalau saat dilepas akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."


" Terima kasih dok atas penjelasannya, saya juga sangat bersyukur karena istri saya sudah bisa membuka matanya, mudah-mudahan sedikit demi sedikit dia mendapatkan penuh kesadarannya." ucap Davin sembari tersenyum.


" Mudah-mudahan pak, Dan hanya itu pak yang saya katakan pada bapak."


" Iya dok terima kasih." ucapnya kemudian dia pun berpamitan dengan dokter tersebut dia melangkah meninggalkan ruangan dokter itu, saat dia menutup kembali ruangan itu, dia kemudian terbesit dengan wajah Fatimah yang begitu saja hadir di pelupuk matanya.


" Fatimah!" ucapnya spontan keluar dari bibirnya.


" Ya Tuhan, kenapa aku melupakan Fatimah? seharusnya dia mengetahui dengan kesadaran Sherly saat ini." kemudian dia pun langsung melangkah menuju ke ruangan istrinya, Davin melangkah mendekati sang Mamah.

__ADS_1


" Mamah, tolong jaga Sherly sebentar."


" Memang kamu mau ke mana Vin?"


" Davin mau menjemput Fatimah dan Keyra."


" Ya Tuhan, kenapa kita melupakan Fatimah dan Keyra? baiklah Nak, kamu jemputlah dia biar dia bisa bertemu dengan Sherly secara langsung, begitu juga dengan Keyra dia harus melihat ibunya sekarang sudah bisa membuka matanya."


Davin pun mengangguk, Dia kemudian mendekati sang istri, dia berpamitan dengan istrinya itu.


" Sayang, aku keluar sebentar menjemput anak kita bersama Fatimah."


Sherly lagi-lagi tersenyum begitu indah di wajahnya senyuman itu, tidak ada rasa kecewa ataupun rasa sakit hati tergambar di wajahnya, dia hanya memberikan kode isyarat dengan memejamkan matanya seakan-akan dia memperbolehkan Davin menjemput Fatimah dan Keyra, kemudian Davin pun berpamitan dengan Mamahnya itu lalu dia melangkah menuju ke arah mobilnya yang terparkir manis di tempat parkir, beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan Rumah Sakit menuju ke arah rumah sakit di mana ibunya Fatimah dirawat, di dalam mobil Davin merasa gelisah, sekarang dia dilanda kebingungan yang sangat besar, antara Fatimah dan Sherly, saat ini Sherly sudah membuka kedua matanya yang selalu diinginkan oleh Davin dan sekarang Fatimah pun sudah menjadi sah sebagai istrinya, Dia tidak bisa memilih antara keduanya, karena keduanya sangat berarti di hidupnya, Davin kemudian mengusap wajahnya dengan kasar dan meremas rambutnya dengan pelan, Dia pun menghelan nafasnya dengan berat seberat perasaannya sekarang ini yang dirasakannya, dia terus melajukan mobilnya itu sampai di depan rumah sakit di mana ibunya Fatimah dirawat, dia memarkirkan mobilnya seperti biasa, Karena dia sering berkunjung ke rumah sakit itu, security rumah sakit itu sudah terlihat mengenalnya, dia menganggukan kepalanya kepada Davin, Davin pun dengan senyuman ramahnya membalas anggukkan dari security Rumah Sakit tersebut dia melangkah menuju ke arah ruangan Ibu Fatimah, saat dia membuka pintu bersamaan dengan Fatimah yang sedang menggendong Keyra hendak keluar dari ruangan itu menuju ke arah kantin, karena Keyra merasa lapar.


" Mas Davin?"


" Fatimah?" ucapnya kemudian gagang pintu itu diambil alihnya ketangannya dan menutup kembali ruangan itu, Dia kemudian mengajak Fatimah duduk di depan ruangan itu, sembari mengambil Keyra dari gendongan Fatimah.


" Ada apa mas?"


" Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Fatimah menatap ke arah Davin dengan penuh tanda tanya besar Kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2