
Nasya melangkah menuju ruangan bryan dengan angkuh nya, merasa kalau dirinya disukai oleh bryan, karena setiap iya membuat ulah pada karyawan lain ga ada teguran dari bryan, pikirnya bryan menyukainya tapi ga mau karyawan tau tentang hubungannya.
Sampainya iya didepan ruangan bryan dihentikan oleh sekretaris bryan, "nona tunggu, "ucap loli menahan nasya untuk masuk kedalam ruangan bos nya.
"Apa sih, "tanya nasya malas.
"Apa nona sudah buat janji sama tuan, "tanya nya balik.
"kenapa sih, bryan yang nyuruh saya kesini, "ucapnya sinis.
"kalau begitu biar saya tanya kan dulu dengan tuan, "sahut loli.
"terserah, "pasrah nasya.
Tok tok
Clek, "permisi tuan, nona nasya sudah ada diluar, apa tuan mau bertemu, "tanya loli.
Bryan melihat kearah loli, "Hem ya sudah suruh iya masuk, "ucap bryan.
"baik tuan, "
Loli pun keluar ruangan dan menyuruh nasya masuk, "hu dibilang ga percaya, ntar kalau aku jadi istrinya, orang pertama yang aku penat adalah kamu, "gerutu nasya dan masuk kedalam ruangan bryan.
Clek, "Bryan kamu memanggil aku, "tanya nasya dengan mata bersinar melihat bryan yang gagah duduk dikursi kebesaran nya.
__ADS_1
"Bryan menatap kearah nasya, "hei kamu, apa kamu ga ada sopannya ya, ini kantor bukan rumah kamu, memanggil bos kamu sendiri ga ada etika nya, emang seperti itu kamu diajari. "bentak bryan ga suka melihat nasya yang datang hanya memanggil namanya doank, emang siapa dia, pikir bryan.
"kenapa?, kita yang teman, masa teman ga boleh manggil nama, "ucap nasya tanpa merasa bersalah.
Bryan sangat malas berurusan dengan nasya yang ga ada etika nya sama sekali dan ga ada sopannya pada orang lain.
"sejak kapan kita berteman, kalau pun kita berteman, kamu hargai saya, ini kantor bukan hutan yang bisa seenakmu saja kalau ngomong, "kata bryan dengan menatap nasya dengan tajam membuat nasya agak ketakutan melihat tatapan bryan.
"iya, maaf saya salah, "lirih nasya sambil menunduk takut dengan tatapan bryan.
"tau nya kamu kalau kamu salah, sekali lagi kalau ngomong harus tau tempat, "ucap bryan tanpa menatap nasya.
"iya tuan, "gumam nasya.
Nasya mengangkat kepala melihat ke Ryan dan menggelengkan kepalanya bahwa iya tidak tau.
"Ya sudah kamu duduk dulu, "pinta bryan pada nasya.
Nasya pun mengambil duduk didepan meja kerja bryan dan tersenyum manis memandang bryan dengan minat. "wajahnya begitu saja membuat ku ingin memeluknya, "pikir mesum nasya memandangi bryan.
"sudah puas menatapku, "ucap bryan.
Mengagetkan nasya yang sedang melamunkan kekaguman nya pada pria yang didepan ya. "eh iya, "gugup nasya karena ketauan kalau iya menatap bryan.
"Ya sudah, itu urusanmu, aku ga mau tau, gini ya, aku memanggil kamu karena terlalu banyak keluhan tentang dari karyawan saya, saya mau tanya padamu?, kamu magang disini apa tujuannya?, "tanya bryan.
__ADS_1
"Hem, ya belajarlah, "kata nasya tanpa ragu.
Bryan pun menganggukan kepalanya, "kalau kamu disini belajar, kenapa kamu tidak membantu para staf mengerjakan pekerjaannya, "tanya bryan kembali.
"itukan tugas mereka, masa saya harus membantunya, mereka kan digaji, "jawab nasya tanpa berdosa sedikit pun.
"iya, emang itu pekerjaan mereka, jadi kamu disini npai kalau enggak membantu mereka, "tanya bryan.
"Ya belajarlah, "jawab nasya malas.
"belajarkan, kalau kamu ga membantu mereka, bagaimana kamu bisa belajar kalau ga melihat cara mereka mengerjakannya, kamu kuliah hanya diberikan teori doank, dan disinilah kamu, mempraktekan teori kamu menjadi praktek kerja nyata, agar bila kamu sudah tamat kuliah kamu bisa bekerja dengan kamu praktek diperusahaan saya dan membantu para karyawan saya, "ucap bryan memberi arahan pada nasya.
Nasya hanya diam saja mendengar ucapan bryan.
"kenapa kamu diam, apa kamu sudah paham dari yang saya jelaskan, "tanya bryan.
"iya tuan saya paham, "oceh nasya.
"dan satu lagi, saya minta kekamu, kalau emang masih mau magang disini, tolong kamu saling membantu, jangan ada bantahan karena kamu cuma magang disini, kamu mendapat nilai dari para karyawan yang memberi kamu tugas, bukan dari dosen kamu, ini peringatan buatmu, sekali lagi saya dengar keluhan, sya tidak segan segan mengeluarkan kamu dengan cara tidak hormat, "ucap bryan dengan ancaman.
Nasya merasa takut mendengar ucapan dari bryan, "wih ngeri juga nih cowok kalau lagi marah, tapi aku suka, "ucapnya dalam hati.
"iya tuan, "kata nasya.
"Ya sudah kalau begitu kamu boleh keluar, "usir bryan karena iya sangat malas berlama lama dengan nasya, beda kalau sama dengan nahya.
__ADS_1