Cinta Segitiga Sang Ceo

Cinta Segitiga Sang Ceo
Eps 83


__ADS_3

Bryan memasuki ruangan yang telah dipesan oleh tuan hendra pratama kliennya, saat masuk ruangan, putri dari tuan hendra tak berkedip menatap kebryan, membuat bryan menjadi risih.


"Terimakasih tuan bryan telah berkenan menerima undangan makan siang dari saya, "ucap tuan hendra dan putrinya berdiri ingin menyambut bryan dan berjabat tangan dengan bryan, bryan hanya menerima jabat tangan dari tuan hendra, tanpa menerima jabat tangan dari putri tuan hendra, karena malu putrinya tuan hendra pun menurunkan tangannya, karena ga enak, nahya pun memberanikan diri untuk menyapa dan bersalaman dengan putri tuan hendra, tapi ditolak dan ditatap sinis oleh putri tuan hendra, "ga level saya salaman dengan anda, "sambil menatap nahya dari atas sampai kebawa dan mencemooh cara berpakaian nahya, karena pakaian nahya menurutnya pakaian murahan.


Nahya pun menurunkan tangannya karena ditolak oleh putri tuan hendra, bryan yang melihat pun menjadi ga suka dengan sikap putri kliennya, bryan pun menarik kursi untuk nahya, "duduk ay, "sambil tersenyum menyuruh nahya duduk disebelahnya, tapi putri tuan bryan ga terima, "tuan, itu tempat duduk untukmu?, kenapa tuan memberikan pada bawahan tuan, "ucap almira putri tuan hendra ga terima, bawahan duduk didekatnya.


Bryan yang mendengar pun merasa ga senang, iya sudah mengepalkan tangannya, saat ingin membalas ucapan almira, tangan bryan dielus nahya untuk menghilangkan emosi bryan, bryan pun menatap kearah nahya dan nahya pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, bryan pun menarik nafasnya untuk menyurutkan emosinya, "maaf ya nona, wanita yang datang dengan saya adalah calon istri saya, bukan bawahan saya, "ucap bryan menekankan setiap perkataan nya.

__ADS_1


Tuan hendra dan putrinya pun terkejut dengan pengakuan bryan, "apa?, tapi setau saya tuan bryan belum punya kekasih atau tunangan, "ucap tuan hendra karena terkejut.


Bryan pun menghembus kan nafasnya, melihat keterkejutan kliennya, "saya tidak suka mengumbar calon istri saya, calon istri saya hanya untuk saya bukan untuk konsumsi publik, "ucap bryan sambil menatap nahya lembut.


Tuan hendra dan putrinya seketika kecewa, rencananya ingin menjodohkan bryan dengan putrinya, malah iya dikejutkan dengan pernyataan bryan bahwa iya sudah mempunyai calon istri. Apalagi putrinya almira sangat menyukai bryan, makanya iya minta pada orangtuanya untuk mengenalkan bryan padanya, bukannya dekat dengan bryan, malah dikejutkan dengan bryan membawa calon istrinya menemaninya.


"kalau begitu, kita makan siang dulu, untuk mempererat hubungan kerja sama kita, "ucap tuan hendra yang terlihat sangat kecewa, dan mengajak makan siang segera agar bisa cepat keluar untuk meluapkan kemarahannya, karena iya ga berani menampakkan kemarahan didepan bryan, iya ga mau karena masalah ini kerja samanya putus.

__ADS_1


Sedangkan surya menunggu dimeja lain sambil memesan makan siang juga untuknya, tanpa sengaja iya melihat wanita yang ditabraknya kemaren, wanita itu duduk disebelah mejanya, tapi surya mengerutkan dahinya, karena iya melihat wanita yang ditabraknya makan dengan pria tua, "ternyata j****g, kirain gadis baik baik, apa gak ada pria yang lebih muda, suka nya malah sugar daddy, "ucap bryan dalam hati dan masih memperhatikan gerak gerik wanita yang sudah mengambil hatinya surya tanpa iya sadari.


Bryan makan sambil melihat kearah wanita itu terus, membuat iya menjadi ga selera makan. Saat surya ingin beranjak dari mejanya, ternyata bryan dan nahya sudah keluar dari ruangan hendra dan berjalan kemeja surya, "Sur, sudah selesai makannya, "tanya bryan.


"sudah tuan, "jawab surya, lalu bryan melihat kemeja, melihat masih banyak makanan yang belum disentuh oleh surya.


"tapi ini makanannya, kenapa tidak dihabiskan, kalau belum selesai, selesaikan dulu, "ucap bryan menyuruh nahya untuk duduk,menemani surya makan.

__ADS_1


Saat nahya mau duduk, tiba tiba ada yang yang teriak memanggil namanya, "ayaaaa, "suara seorang wanita memanggil nahya.


Kira kira siapa yang memanggil nahya ya???


__ADS_2