Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 12 Suci vs kaka


__ADS_3

Suci sampai di depan rumah kakeknya dengan wajah yang memasang ekspresi kesal, karena ia mendapat ceramah dadakan dari seorang lelaki yang bernama Adnan


" Dasar pria gila! Kalau saja aku tidak ingat janjiku pada Reyhan, aku sudah tojok tuh mulut!"


Suci walau pun sangat nakal, tapi ia tidak ingin melanggar janji pada lelaki yang ia cintai. Setelah mengucapkan salam, Suci masuk rumah itu dengan ceriah dan kedatangannya memang sudah di tunggu kiai Habibi dan keluarganya


" Kakek, Uci kangen banget!"


Suci berlari kecil menghampiri sang kake sambil memeluk kakenya dengan sangat erat. Kiai Habibi dan yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Suci. Setelah itu Suci melepaskan pelukannya, tidak lupa ia juga memeluk kakanya


" Uci juga kangen sama kaka!"


" Kaka juga kangen sama Uci."


Muhamad Ilham yang biasa di panggil Gus Ilham merupakan dari kaka Suci juga memang sangat merindukan adiknya. Sedangkan istri dari Ilham adalah bernama Siti Karmila, ia biasa hanya di panggil teteh Siti di lingkungan pesantren. Di sana juga bukan hanya ada tiga orang, ada om Suci dan tante Suci. Setelah melepaskan pelukannya, Ilham sadar kalau adiknya memakai pakaian yang tidak sopan


" Uci, kenapa auratmu tidak di tutup?"


" Gerah kak, lagian ini itu gaul tau kak, bahkan pakaian Uci juga tidak memalukan."


Tidak ada pembicaraan, suasana mejadi hening dan Ilham hanya bisa mengelus dada, ia terlalu sibuk untuk mengurus santri di pesantren, tapi ia bahkan tidak bisa mengurus adiknya sendiri yang sudah salah jalan


" Suci, kamu itu semakin cantik."


Kiai Habib memecahkan keheningan mereka berdua


" Tentu dong kakek, kecantikan Uci ini sudah tidak di ragukan lagi."


Senyum ceriah terpancar di wajah Suci


" Untuk apa cantik kalau tidak bisa menutup aurat Uci? Kecantikan yang sesungguhnya adalah seorang Gadis yang bisa menutup auratnya."


Suci yang mendengar kata-kata dari kakanya, ia sangat tercengang, ia tidak mejawab ucapan dari kakanya. Inilah yang Suci tidak suka dari pesantren, bahkan ia baru datang sudah di ceramahi oleh orang yang tidak ia kenal dan sekarang kakanya juga menceramaihinya


" Suci, kamu itu adalah cucu dari seorang kiai, bagai mana bisa kamu berpenampilan seperti ini?"


" Kaka, dan kake tolong sembunyikan identitas Uci, Uci tidak ingin di hormati karena orang tau kalau kakek Uci seorang kiai dan kakanya seorang Gus."


Kiai Habibi hanya menganggukan kepalanya. Sedangkan Ilham hanya bisa menghela nafas berat


" Uci, kamu di sini itu sebagai santri, jadi tolong ikuti aturan pesantren, kaka tidak akan segan-segan utuk menghukumu kalau kamu tidak patuh!"


Suci hanya mengangguk-angguk, sebenarnya sama sekali tidak mendengar nasehat dari kakaknya, ia tidak peduli mau di hukum seperti apa, yang jelas ia hanya ingin hidupnya tidak ada yang mengatur-atur.


" Kaka, apa Uci boleh bawa ponsel?"

__ADS_1


" Tidak boleh Uci, semua santri di sini tidak ada yang membawa ponsel."


Suci mengerucutkan bibirnya dengan memasang wajah memelas, lalu ia langsung merengek pada kakeknya sambil memenggoyang-goyangkan tangan kiri kakeknya, karena ia tau kalau kakanya sangat tegas


" Kakek..."


" Kakek, jika Uci di perbolehkan membawa ponsel dan ketahuan oleh santri lain, maka mereka berpikir kalau pilih kasih pada santrinya."


Ilham sangat mengerti dengan rengekan dari adiknya, ia tau kalau adiknya memohon agar di perbolehkan membawa ponsel


" Jangan dengerin ucapan kakak, kek, lagian ponsel bukan barang haram yang harus di larang-larang. Uci mohon kek, boleh iya Uci bawa ponsel? Uci juga masih baru menjadi santri di sini."


Lagi-lagi Ilham mengelus dada samblil beristigfar. Sementara Istri Ilham hanya tersenyum melihat perdebatan adik dan kaka yang sama-sama keras kepala. Setelah dari tadi kiai Habibi diam, ia pun akhirnya menengahi perdebatan adik dan kaka


" Baiklah, kake memperbolehkan kamu bawa ponsel, tapi kalau ponsel itu di sita oleh keamanan, kake tidak akan bertanggung jawab."


" Yey!"


Suci sangat girang saat mendengar dari jawaban kakeknya. Sementara mereka hanya terkekeh melihat kelakuan Suci yang mengangkat tangan kanannya sambil bilang Yey, tapi tidak dengan Ilham, ia sangat kesal dengan tingkah kanak-kanakan adiknya


" Kamu jangan senang dulu! Bisa saja nanti ponsel kamu di ambil keamanan."


" Tenang saja kak, Uci ahli dalam menyembunyikan sesuatu."


" Kalau seperti ini baru cantik."


Suci hanya diam, ia tidak berbicara lagi. Setelah itu Suci langsung di antar oleh salah satu santri wanita yang bernama Lia untuk ke kamar selama ia di pesantren, ia berdiri di depan pintu itu


" Ini kamarnya, somoga betah iya."


" Iya."


Nia langsung memanggil Maya


" Maya!"


" Iya mbak."


Maya langsung menghampiri Lia


" Ini santri baru, tolong kamu bantu dia, namanya Suci."


" Oh iya mbak. Mari mbak Suci masuk."


Suci masuk ke dalam, matanya terus menatap ruangan itu, luas ruangan itu hanya sepertiga dari kamarnya dan ia melihat ada dua ranjang yang di letakan bersebelahan, masing-masimg ranjang memiliki dua tingkat, di situ juga ada 4 lemari, ada juga meja rias yang mungkin sengaja di beli oleh santri, karena di pesantren hanya menyediakan kasur dan lemari saja.

__ADS_1


" Ada AC nggak? panas banget."


Suci mengeluh sambil membuka hijab dan baju kemejanya, tanpa malu ia hanya memakai tengtop saja di sana. Sedangkan santri lain hanya mejawab dengan menggeleng-gelengkan kepala sambil beristigfar, melihat tingkah laku Suci dan rambut yang di warnai dengan warna coklat kemerahan


" Heh gue itu bukan setan! Ngapain kalian liat gue sampai istigfar segala?!"


Mereka hanya menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak ada salah satu dari mereka yang mau mejawab ucapan Suci, itu membuat Suci semakin kesal


" Heh kalau gue ngomong tuh di jawab! Kalian nggak bisu'kan?!


" Maaf mbak, aku tidak berpikir seperti itu."


Pada akhirnya Maya membuka pembicaraan


" Jangan panggil gue mbak, usia gue ini masih 19 tahun, oh iya, lo dan lo namanya siapa?"


" Aku Maya, asal Cianjur."


" Aku Rianti, asal depok."


" Aku Najwa, asal Semarang."


Pada akhirnya mereka satu persatu memperkenalkan diri pada Suci


" Gue Suci Almuhamira, panggil saja Suci atau Uci, terserah kalian, asal gue dari jakarta."


Suci memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah


" Mereka sepertinya orang yang asik, tapi sayang mereka kampungan." batin Suci


Akhirnya mereka pun mengobrol tentang seputar peraturan di pesantren


" Oh iya, kalau dewan santri itu apa?"


" Dewan santri itu bisa di bilang pengurus pusat di pesantren, bisa di bilang kaki tangan pak Kiai."


" Seperti tadi mbak Lia?"


" Bukan Uci, kalau mbak Lia itu raisah santri putri."


" Jujur saja gue bingung."


" Jadi begini Uci, di sini ada pesantren putri dan pesantren putra, jadi masing-masing memiliki pengurus, kalau di sekolah itu namanya struktur organisasi, ketuanya di panggil rios dan riosah, biasanya santri tingkat akhir yang menjabat."


Lagi-lagi Maya yang mejawab pertanyaan dari Suci

__ADS_1


__ADS_2