
Suci termenung dan ke dua tangannya ia gunakan untuk menopang dagu, ia masih mengira semuanya ilusi, dan ia merasa dirinya benar-benar gila
" Kamu istrinya Gus Adnan, Uci? Ah mana mungkin, semuanya seperti mimpi, tapi juga seperti nyata, jangan bilang kalau aku memang sudah gila. Jangan bilang kalau ini balasan dosa yang membuat Rey meninggal, walau pun aku tidak membunuhnya dan tidak ada kaitannya, tapi Ellen membuat Rey kecelakaan karena ingin balas dendam." batin Suci
Suci terus saja berpikir, kini tangan kirinya mencubit pipinya sendiri, memang ia tidak mimpi dan ini artinya nyata, atau kalau bukan ini hanya ilusi semata
" Apa aku benar istrinya Gus Adnan?"
Suci berkali-kali bertanya pada dirinya sendiri, ia benar-benar tidak percaya kalau ia adalah istri dari Gus Adnan.
" Tidak mungkin aku istrinya Gus Adnan, sepertinya aku harus pergi ke psikiater, atau kalau nggak di ruqiah saja kali iya?"
Tanpa Suci sadari kini Gus Adnan sedang berdiri di sisi pintu sambil bersidakep dada, ia tidak henti-henti tersenyum saat melihat istrinya yang berbicara sendiri, bagi ia istrinya memang sangat menggemaskan.
" Sepertinya aku memang sudah gila."
Suci mengacak-acak hijabnya sendiri, ia sangat frustrasi, karena ucapan Gus Adnan terus saja terngiang-ngiang di telinganya.
" Ekhmm."
Mata Suci langsung melihat ke semua sudut di kamarnya, ia merasa sedikit merinding, apa lagi ia tidak mendengar langkah kaki sesaorang dari tadi, hingga matanya menatap ke arah pintu, ia melihat Gus Adnan
" A........!"
Suci langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Gus Adnan hanya tersenyum melihat kelakuan Suci. Gus Adnan langsung mendekati ranjang, ia langsung duduk di samping ranjang
" Saya ini halal untukmu, jadi jangan sembunyi!
Suci menahan nafasnya sendiri, ia langsung mengintip di balik selimut, ia menatap Gus Adnan yang sedang menatapnya
" Gu-Gus benar suami Uci?"
Suci beranya dengan suara terbata-bata, entah sudah berapa kali ia bertanya tentang masalah suami
" Apa kamu terbebani jika saya suami kamu?"
Suci langsung membuka seluruh selimutnya, ia duduk sambil matanya terus menatap Gus Adnan
" Tidak Gus."
Suci menepuk mulutnya sendiri yang tidak bisa di rem, karena ia merasa sangat malu. Sementara Gus Adnan hanya terkekeh kecil mendengar jawaban jujur dari istrinya
" Jadi kamu senang mejadi istri saya?"
__ADS_1
" Jelalas senang banget, siapa yang tidak mau sama lelaki tampan."
Suci langsung menutup mulutnya sendiri, ia tidak menyangka di saat seperti ini, mulutnya itu berbicara tanpa di pikur lagi, membuat ia semakin malu. Suci langsung menutup wajahnya pakai selimut
" Jangan sembunyikan wajah kamu dari saya Uci!"
Gus Adnan menarik paksa membuka selimut Suci. Suci langsung menundukan kepalanya
" Uci, lihat saya!"
Suci masih tetap menunduk, hingga Gus Adan menopang dagu Suci, agar mereka saling menatap mata. Suci menahan nafasnya, karena ia sangat gugup saat wajah mereka sangat dekat, sekitar 5 cm.
" Semua ini memang nyata Uci, kita memang sudah menikah, dan saya adalah kekasih halal kamu."
" Sejak kapan?"
Gus Adnan langsung melepaskan dagu Suci
" Bernafaslah dulu, saya bukan hantu."
" Gus memang hantu, hantu tampan."
" Alhamdulilah kalau memang saya tampan menurutmu."
" Satu munggu sebelum kamu masuk ke dalam pesantren, saya sudah menikahi kamu."
Suci tercengang saat mendengar jawaban dari Gus Adnan, itu artinya saat ia masih menjalin hubungan bersama Reyhan
" Ko bisa?"
" Kamu tau sendiri kalau di kalangan keluarga pesantren bukanlah hal yang tabu menjodohkan keturunan mereka, dan itulah yang terjadi pada kita. Bahkan saya berada di pesantren ini tidak lebih untuk mengawasi istri nakal saya. Jika dulu kamu tidak membuat kesalahan juga kamu akan di masukan kepesantren, semuanya sudah di rencanakan, hanya saja Allah merencanakan hal lain untuk pertemuan kita."
" Berarti Gus terpaksa menikahi Uci?"
" Saya tidak mungkin menerima perjodohan begitu saja, saya selalu libatkan Allah dalam hal apapun yang akan saya kerjakan, itulah yang yang saya lakukan, saya memilihmu mejadi istri saya, barulah saya menerimamu saat ayah menyerahkanmu dalam akad."
Memang saat menerima perjodohan itu, ia tidak menerima Suci, tapi ia memilih Suci untuk mejadikannya pendamping hidupnya. Kata menerima seakan seperti Suci di berikan begitu saja, karena bagi Gus Adnan, Suci berhak di perjuangkan. Suci tersenyum, walau pun kata-kata Gus Adnan tidak ada romantisnya sama sekali, tapi setiap kata Gus Adnan menurutnya begitu indah
" Apa karena hal ini juga, kenapa Gus selalu memberikan kode-kode yang membingungkan?"
" Iya, bahkan saya lebih bingung, apa kamu memang tidak mengerti atau pura-pura bodoh!"
Suci yang mendengar kata bodoh, ia mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Gus Adnan, saat ia mengatakan siapa yang mau ke diskotik bodoh?!. Bahkan bukan hanya itu Suci berkali-kali mengatai Gus Adnan bodoh. Suci langsung menutup wajahnya lagi pakai selimut, ia sangat malu, entah Gus Adnan menyindir ucapannya saat itu, atau memang Gus Adnan hanya mengatainya saja tanpa menyindirnya
__ADS_1
" Uci, wajahmu kenapa di tutup lagi?"
" Uci malu Gus."
" Apa yang membuatmu malu?"
" Saat pertemuan pertama kita, Uci bilang kalau Gus bodoh."
Gus Adnan hanya terkekeh kecil, ia memang tidak bermaksud untuk menyindir Suci yang selalu mengatainya bodoh
" Kamu adalah orang pertama yang mengatakan saya bodoh."
Suci bahkan di buat semakin malu kalau Gus Adnan belum pernah di bilang bodoh selain dirinya
" Sudahlah, ayo buka selimutnya."
Gus Adnan langsung membuka selimut Suci
" Gus, tapi Uci takut nama Gus ikut jelek, karena memiliki istri yang nakal. Uci bukan hanya nakal biasa, tapi Uci juga ketua geng motor, kerjaan Uci juga suka tawuran."
Suci untuk mencoba jujur tentang kepribadiannya, ia tidak ingin kalau Gus Adnan tau dari orang lain, dan ia juga memang merasa tidak pantas untuk Gus Adnan
" Saya menerima kamu termasuk masa lalu kamu, saya tidak peduli dengan hal apa pun, yang terpenting keinginan saya hanya satu, kamu mau berubah mejadi lebih baik lagi."
" Gus, Uci tidak bisa merangkai kata-kata, tapi jujur kalau Uci memang cinta sama Gus."
" Saya tau."
Suci mengerutkan keningnya, Gus Adnan sama sekali tidak ada romantis-romantisnya, bahkan sekarang bukannya di balas dengan kata-kata romantis, eh cuma di jawab saya tau.
" Ya elah Gus kenapa nggak di balas?"
" Ana uhibbuki fillah."
Suci tersenyum saat mendengar jawaban dari Gus Adnan
" Ana uhibbuki fillah, ku mencintaimu karena Allah, jika dia yang terbaik untuku, dekatkan lah kami ya Allah."
Suci menyayi yang sering di nyanyikan oleh Maya setiap harinya, jelas-jelas suaranya itu nggak ada bagus-bagusnya, tapi yang jelas ia sangat bahagia karena akhirnya ia mengetahui isi hati Gus Adnan. Gus Adnan tertawa kecil saat mendengar Suci menyanyi
" Rey, apa kamu sekarang bahagia di sana? Aku sudah menemukan lelaki yang membuatku bahagia, seprti yang kamu inginkan." batin Suci
Suci sekarang memang merasa sangat bahagia, tapi ia sama sekali tidak pernah melupakan Reyhan
__ADS_1