
Suci dan Gus Adnan masih asik mengobrol, walau pun Gus Adnan masih sama saja, si lelaki kaku, tidak ada romantis-romantisnya sama sekali, Gus Adnan selalu memanggil diri sendiri dengan panggilan saya, tidak lupa ke duanya juga tersenyum hingga Gus Adnan kini menatap Suci dengan mata yang serius
" Kamu seris menerima saya menjadi suamimu? Dan menerima pernikahan ini? Jujur saya tidak ingin ada paksaan, saya ingin ada kerelaan dari diri kamu sendiri."
" Uci menerima Gus, tadi Uci sudah bilang kalau Uci cinta sama Gus."
" Alhamdulilah kalau begitu, ayo kita keluar, pasti mereka sedang kuatir padamu."
" Iya Gus."
Suci bahkan melewati Gus Adnan tanpa permisi yang masih duduk di samping ranjang, sementara Gus Adnan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Suci seperti itu, tapi bagai mana pun juga Gus Adnan menganggap Suci masih remaja, terlebih pebedaan usia 9 tahun. Suci dan Gus Adnan duduk di ruang keluarga bersama keluarga, ke duanya masih diam, tidak ada yang memulai pembicaraan
" Kenapa kalian diam saja dari tadi? Uci, apa kamu masih marah sama kita?"
Gus Ilham bertanya dengan perasaan yang kuatir.
" Tidak kak."
" Jadi gini nak, kake mau menjelaskan, kamu memang sudah menikah sah secara agama dengan Adnan, semua atas persetujuan ayahmu sebagai wali, kami sengaja merahasiakan ini karena pasti kamu akan menolak, tapi Uci harus tau kalau kake dan ayahmu melakukan ini demi kebahagiaanmu sendiri. Kami berharap Adnan bisa membimbingmu mejadi muslimah yang sesungguhnya."
Memang pernikahan itu baru di resmikan secara agama, karena jika di resmikan secara negara Suci harus ada di saat itu, untuk buku nikah dan berkas-berkas lainnya membutuhkan tanda tangan dua belah pihak.
" Apa kamu menerima pernikahan ini Uci?"
" Iya pasti kake, Uci kan memang cinta banget sama Gus Adnan."
Seperti biasa Suci berbicara selalu ceplas-ceplos. Semua yang ada di ruang keluarga tertawa mendengar jawaban Suci yang sangat jujur. Suci yang mendengar tawa keluarganya langsung memukul mulutnya sendiri, ia tidak menyangka kalau mulutnya dari tadi selalu ceplas-ceplos, terlebih lagi sekarang di depan keluarganya
" Ehmm... Pahit di awal manis di akhir iya mas?"
Gus Ilham menggoda Gus Adnan. Semua juga tau bagai mana kerepotannya Gus Adnan saat pertama bertemu Suci yang hampir setiap hari terkena khasus, belum lagi tampilan Suci yang sangat terbuka, bahkan yang paling menyakitkan adalah saat Suci berpelukan dengan lelaki lain di depan mata Gus Adnan sendiri
__ADS_1
" Allah punya rencana terbaik bagi hambanya."
Hanya itu yang keluar dari mulut Gus Adnan
" Uci, apa sudah siap menjalani kewajiban sebagai seorang istri?"
Kini Gus Wahyu menggoda pekoponakannya
" Kewajiban apaan om? Kalau suruh masak dan beres-beres rumah tenang nanti cari pembokat, kalau kewajiban ngurusin Gus Adnan sih dengan senang hati Uci urusin."
Gus Wahyu dan istrinya termasuk Gus Ilham dan istrinya juga tidak bisa menyembunyikan tawanya, karena mendengar jawaban Suci yang tidak tau malu
" Bukan itu Uci, maksud Om itu yang utama adalah ibadahnya."
Gus Ilham mencoba menjelaskan ke pada Suci sambil masih menahan tawa, entah keturunan dari siapa, ke dua orang tuanya termasuk ia sendiri tidak pernah berbicara ceplas-ceplos seperti Suci.
" Iya elah kak, cuma ibadah doangmah gampang. Nanti malam kita ibadah bareng iya Gus."
Gus Adnan sangat terkejut, untuk pertama kalinya wajah datarnya itu terlihat bodoh di depan keluarga Suci.
" Lagian ibadah itu'kan sholat, ngapain Gus terkejut begitu hah?"
Suci bertanya dengan raut wajah yang bingung pada Gus Adnan, tapi Gus Adnan hanya diam membisu. Sedangkan yang lain tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan polos Suci
" Mas sepertinya harus memiliki kesabaran exstra untuk menghadapi tingkah konyol Suci, hahaha..."
Gus Ilham berbicara masih sambil tertawa, sedangkan Gus Adnan masih diam membisu, hanya mejawab dengan anggukan kepala. Suci yang melihat reaksi itu ia bingung, kenapa semua orang mentertawakannya, sedangkan menurut ia tidak ada ucapan yang lucu
" Apa yang membuat mereka tertawa? Ucapanku tidak ada yang lucu, benar-benar aneh." batin Suci
Setelah perdebatan panjang mereka tadi sore, ini untuk pertama kalinya Suci tidur satu kamar bersama Gus Adnan. Sebenarnya Gus Adnan sudah panas dingin, tapi wajah datarnya menyembunyikan itu semua. Setelah azan isya Suci segera berwudhu, lalu langsung memakai mukenahnya, dengan cepat ia mencegah Gus Adnan yang akan pergi ke mesjid
__ADS_1
" Gus jangan ke mesjid dong!"
Suci berdiri menghalangi pintu.
" Kita katanya mau ibadah bareng?"
" Nanti."
" Ko nanti sih Gus? Katanya salat itu tidak boleh di tunda-tunda?"
Gus Adnan meyeritkan keningnya, jadi ucapan tadi sore itu memang benar kalau Suci tidak paham, hingga mengundang tawa di ruang keluarga. Gus Adnan menghela nafas, ia bertanya-tanya segitu polosnya'kah Suci? Hingga tidak tau apa yang mereka maksud tadi sore.
" Amparin sejadahnya!"
Pada akhirnya Gus Adnan mengalah saja, ia tidak ingin perdebatanya itu semakin panjang dan tidak kelar-kelar. Gus Adnan untuk pertama kalinya mengimami Suci salat, ada kedamaian yang Suci rasakan, ini adalah pertama kalinya Suci salat dengan kusyu, setiap lantunan ayat suci Al-Qur'an yang Gus Adnan bacakan mampu menusuk relung hati terdalamnya. Apakah ini yang di namakan kebahagiaan yang sesungguhnya? Sunggu pacaran setelah halal memang sangatlah indah. Setelah salam Gus Adnan menadahkan ke dua tangannya untuk berdo'a pada sang maha pencipta, di belakangnya Suci mengamini di setiap do'a yang Gus Adnan ucapkan, walau pun Suci tidak tau artinya karena semuanya menggunakan bahasa arab. Setelah selsai Gus Adnan langsung membalikan tubuhnya, lalu langsung mengulurkan tanganya yang langsung di sambut oleh Suci. Suci mencium tangan Gus Adan tanpa canggung, karena hal itu memang sudah biasa Suci lakukan. Gus Adnan menyentuh pucuk kepala Suci, membuat Suci heran, tapi saat Gus Adnan mengangkat tangan satunya lagi, ia pun akhirnya paham, untuk pertama kalinya Gus Adnan membacakan do'a untuk Suci. Setelah membacakan do'a Gus Adnan langsung meniup ubun-ubun Suci, setelah itu langsung mencium pucuk kepala Suci cukup lama. Suci terkejut melihat kelakuan manis Gus Adnan
" Uci."
" Iya sayang, eh."
Gus Adnan terkekeh saat mendengar ucapan Suci yang ia sadari kalau Suci memang keceplosan
" Uci, kita mulai semuanya dari awal, ijinkan saya untuk lebih jauh mengenal dirimu."
" Boleh Uci peluk Gus?"
Walau pun tidak nyambung dengan jawaban yang di inginkan oleh Gus Adnan, tapi Gus Adnan dengan cepat mengangguk. Suci langsung memeluk Gus Adnan.
" Terima kasih Gus, sudah memilih Uci mejadi pendamping hidummu, jelas-jelas Uci jauh dari kata sempurna."
" Tidak perlu berterima kasih Uci."
__ADS_1
Gus Adnan juga membalas pelukan Suci. Suci merasa nyaman dan tentram, ia merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Gus Adnan, karena ia jauh dari kata sempurna, bahkan menurut ia tidak ada yang sepesial dari dirinya sendiri, sedangkan Gus Adnan begitu sempurna yang Gus Adnan miliki, tidak ada kekurangan sedikit pun di mata Suci