
Bukan hanya Sisil yang tertawa, kini Sella dan Siska pun ikut tertawa. Memang di antara mereka bertiga yang paling peka terhadap sifat Suci adalah Sisil.
" Jadi Ellen nggak meninggal?"
Suci bertanya dengan raut wajah ceriah, memang ia selalu saja berpikir buntu, ia pikir kalau pak Mahendra balas dendam pada Ellen, mengingat Reyhan adalah anak tunggal
" Siapa yang bilang kalau Ellen meninggal?! Hahaha....!"
Siska mejawab masih sambil tertawa
" Lalu Ellen kenapa?"
Suci menatap mereka bertiga dengan serius, ia harap kalau ke tiga sahabatnya segera mengatakan tentang Ellen. Mereka menghentikan tawanya. Kini mereka menatap Suci dengan wajah serius
" Ellen selalu meyalahkan diri sendiri, walau pun ia sudah masuk ke dalam penjara, tapi tetap menurut Ellen penebusannya tidak sebanding kalau Ellen tidak mati juga seperti Rey. Sedangkan pak Mahendra mengatakan kalau kamu ingin menebus kesalahanmu, hiduplah di penjara, ratapi semua kesalahanmu. Pak Mahendra cuma mengatakan itu, hingga Ellen sekarang mejadi gila, karena Ellen selalu menyalahkan dirinya yang membunuh Rey. Ellen sudah sekitar setengah bulan masuk ke dalam rumah sakit jiwa."
Suci menghela nafas kasar saat mendengar cerita Sisil tentang Ellen. Menurut Suci memang kesalahan Ellen tidak pernah bisa di maafkan. Mungkin soal masalah membullynya, Suci bisa memaafkan, tapi masalah Ellen membunuh Reyhan, itu adalah masalah yang besar tanpa toleransi. Reyhan adalah lelaki yang baik, tapi Reyhan harus meninggal dengan cara yang sadis
" Uci, kamu nggak apa-apa'kan?"
Siska sangat kuatir saat melihat Suci menghela nafas kasar kasar
" Aku nggak apa-apa, hanya saja aku juga merasakan hal yang sama seperti Ellen, aku merasa bersalah tentang kematian Rey. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri, kalau saja aku tau Ellen sudah kembali ke Indonesia, mungkin aku sudah mejelaskan tentang Jonatan, tapi aku juga tidak tau siapa yang mengatakan kalau aku membunuh Jonatan? Ellen memang jahat, tapi Ellen tidak pernah membunuh orang."
" Aku juga tidak tau, intinya kamu harus tetap bahagia Uci, seperti permintaan Rey, dan kalau aku saranin kamu itu cocok bersama Gus Adnan."
Sella memang sangat mendukung Suci untuk melupakan Reyhan, ia tidak ingin Suci larut dalam kesedihan
" Sebenarnya aku juga nggak tau, aku marasa sangat senang saat mendengar Gus Adnan mengatakan mau mejadi suamiku. Apa mungkin aku mencintai Gus Adnan?"
__ADS_1
" Ya elah Uci, aku baru saja naksir sama Gus Adnan, eh kamu ko tega ngambil Gus Adnan?"
Sisil bertanya sambil tersenyum pada Suci. Terlebih saat Sisil melihat Suci yang terkejut hingga membulatkan matanya, ia menjadi sangat senang
" Kamu yakin Sil, cinta sama Gus Adnan?"
Suci bertanya dengan raut sedikit kecewa, tapi ia juga tidak ingin persahabatan mereka hancur hanya karena lelaki
" Kenapa?! Kamu mau bersaing kecantikan denganku?"
Sella langsung menoyor kepala Sisil, ia tidak mengerti apa yang ada di otak Sisil, bisa-bisanya Sisil ingin bersaing dengan sahabatnya sendiri hanya untuk mendapatkan lelaki
" Aw! Sakit tau kepalaku!"
" Memangnya mau di kemanain Samuelmu itu?!"
" Aku masukin ke dalam kulkas, agar cinta Samuel padaku tetap awet."
" Lagian juga aku sedang bercanda Sel, eh kamu di anggap serius! Aku hanya ingin tau saja reaksi apa yang akan Suci tunjukan. Dasar menyebalkan!"
Sella tersenyum saat mendengar jawaban dari Sisil, ia pikir Sisil benar-benar mencintai Gus Adnan, memang ia akui kalau Gus Adnan sangat sempurna menurut sella, wanita mana pun pasti akan menyukai Gus Adnan, termasuk ia yang sekali lihat juga sangat mengagumi Gus Adnan
" Memang apa hubungannya dengan Samuel?"
" Samuel itu pacarnya Sisil, persisnya saat masih cinta monyet Hahaha!"
Sella menjawab sambil tertawa, sedangkan Sisil ia sedikit malu
" Jangan bilang itu lelaki yang kamu cari Sil?"
__ADS_1
Sisil hanya mengangguk bahagia saat di tanya oleh Suci
" Syukur deh, jadi aku nggak ada saingan buat deketin Gus Adnan."
" Saingan kamu banyak Uci, aku yakin hampir santriawati juga cinta sama Gus Adnan, termasuk para Ustazah, tapi kamu yakin cinta sama Gus Adnan? Bukan karena lampiasan?"
Sisil bertanya dengan wajah serius, ia takut kalau Suci hanya menganggap Gus Adnan sebagai pelampiasan semata
" Aku yakin kalau aku mencintai Gus Adnan, tapi kamu tau sendiri, kita seperti langit dan bumi. Aku yang hanya Gadis nakal, sedangkan Gus Adnan adalah lelaki ta'at agama, sepertinya tidak mungkin, tapi Gus Adnan seperti sudah memberiku harapan dengan mengatakan mau menjadi suamiku."
Kata-kata Gus Adnan tadi memang tidak bisa Suci artikan, tapi ia hanya menerka-nerka kalau Gus Adnan memberinya harapan
" Uci, jodoh itu nggak ada yang tau, selama lelaki itu masih belum memiliki hubungan dengan wanita lain, apa susahnya berjuang? Seperti kamu yang memperjuangkan Reyhan mati-matian."
" Iya, dulu aku sangat mencintai Reyhan, dan rasa cintaku ini tumbuh pada pandangan pertama, jadi aku hanya memberinya perhatian kecil hingga kita semakin dekat. Aku nggak pernah peduli orang bilang apa, bagiku Rey adalah malaikan penolong di setiap orang yang sedang membutuhkan bantuan, tapi aku dan Gus Adnan berbeda, walau pun aku seharusnya memiliki status seorang ning, tapi aku terkenal dengan pembuat onar di pesantren ini. Apa pantas aku bersanding dengannya?"
" Menurutku pantas-pantas saja, selama ke dua belah pihak sama-sama saling mencintai. Kalau kamu memang cinta, saranku kamu perjuangkan dia. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
Sella menasehati Suci sambil tersenyum, ia berharap kalau Suci benar-benar mencintai Gus Adan. Berbeda dengan Siska, yang awalnya kuatir dengan Suci dan merasa sedih karena Suci kehilangan Reyhan, tapi kini sedikit tidak suka. Siska memang menginginkan Suci bahagia dan tidak ingin Suci berlarut dalam kesedihan, tapi bukan berarti kalau Suci semudah itu melupakan Reyhan. Reyhan baru saja meninggal tiga bulan yang lalu, tapi kini hati Suci sudah berlabu pada lelaki lain. Menurut Siska, Suci sangat sadis, Suci begitu mudah melupakan Reyhan, jelas-jelas kematian Reyhan juga ada kaitannya dengan Suci, karena Jonatan ikut tawuran, hingga mengakibatkan serangan jantungnya kambuh. Walau pun Jonatan di paksa, tapi bagi Siska itu sama saja kalau Reyhan meninggal karena ada kaitannya dengan Suci, karena Ellen membunuh Reyhan untuk balas dendam pada Suci, walau pun pada akhirnya itu hanyalah kesalah pahaman
" Kamu tega Suci, kamu semudah itu untuk melupan Rey. Jelas-jelas Rey memperlalukanmu dengan baik, cintanya sampai di bawa mati, dan Rey juga ada kaitannya dengan kamu. Aku memang ingin kamu bahagia dengan pilihanmu, tapi bukan berarti kamu mudah melupakan Rey." batin Siska
" Aku pasti akan berjuang, tapi."
Suci menghela nafas, saat mengingat Gus Adnan memiliki ikatan dengan wanita lain, bahkan Gus Adnan dengan gamblang kalau mengatkan ia mencintai wanita yang sudah halal, itu artinya ia tidak akan pernah mendapatkan harapan
" Tapi apa?"
" Sel, kata Gus Adnan, dia mencintai wanita yang sudah halal, tapi aku tidak tau siapa wanita itu."
__ADS_1
" Lebih baik cari tau saja."
" Baik Sel."