
Gus Adnan menghela nafas berkali-kali saat mendengar ucapan dari dokter Chika, sementara Gus Ilham hanya menepuk punggung Gus Adnan.
" Sabar mas, saya percaya kalau Suci adalah wanita yang kuat, kita yakin kalau Suci akan segera sembuh."
Gus Adnan hanya menganggukan pelan.
" Tolong berikan perawatan yang intensif dok."
" Saya pasti akan melakukan hal itu pak."
" Lalu kabar baiknya apa dok?"
Dokter Chika langsung tersenyum lebar, raut wajahnya jelas berbeda dari pada raut wajah menjelaskan tentang hal buruk.
" Kabar baiknya, janin yang ada di dalam kandungan istri bapak, bisa di selamatkan."
" Ja-janin dok?"
Gus Adnan berbicara dengan terbata-bata, ia berharap kalau apa yang ia dengar memang benar adanya.
" Iya pak, apa bapak tidak mengetahuinya kalau istri bapak sedang mengandung?"
Gus Adnan hanya menjawab dengan menggeleng pelan.
" Kandungan istri bapak masih sangat muda, nanti untuk mengetahui usia kandungannya di periksa oleh dokter Salmah."
" Dok, apa ini serius?"
Gus Adnan memang senang kalau itu benar, tapi ia masih sedikit tidak percaya dengan ucapan dokter Chika.
" Tidak pak, walau pun ibunya sangat drop, tapi janinnya memang sangat kuat."
Gus Adnan sangat bahagia, setelah banyak kesedihan beberapa hari ini, Allah menggantikannya dengan rasa kebahagian, Allah memang tidak pernah beringkar janji pada hambanya yang selalu sabar dan tawakal maka Allah akan menggantikannya dengan kebahagiaan.
" Terima kasih dok."
" Sama-sama pak, kalau begitu kami permisi dulu."
" Iya pak."
Gus Ilham dan Gus Adnan keluar dari ruangan dokter, senyum dari ke duanya tidak pudar.
" Saya enggak nyangka mas, kalau mas akan mendapatkan momongan lebih dulu."
Memang Gus Ilham menikah sudah hampir satu tahun, tapi ia masih saja belum di karuniai anak.
__ADS_1
" Iya Ham, saya juga enggak menyangka."
Mereka sampai di ruang tunggu lagi, Khadijah menatap putranya dan menantunya dengan perasaan bingung.
" Bagai mana dengan ke adaan Suci nak?"
Belum sempat Gus Adnan menjawab Samuel dan Wiliam datang.
" Gus."
Gus Adnan melihat ke arah mereka sambil tersenyum.
" Gimana keadaan Suci Gus?"
Samuel bertanya masih dengan raut wajah panik, belum sempat Gus Adnan menjawab, Sisil langsung lari menghambur dalam pelukan Samuel, masih dengan air mata yang mengalir.
" Sudah dong Sil nangisnya, jangan nangis terus."
Sisil bukan Gadis cengeng, tapi saat melihat sahabatnya saling membenci dan mencelaiki sahabat sendiri ia merasa sedih, dan lebih sedih lagi saat emosinya tidak terkontrol, hingga memukuli Siska tanpa ampun.
" Alhamdulilah Sam, luka di tubuh Suci memang parah, tapi ada kebahagiaan di balik ini semua, kalau Suci sedang mengandung."
Samuel tersenyum lebar, sedangkan semua orang terkejut, termasuk Sisil yang langsung melihat ke arah Gus Adnan
" Iya Sil, terima kasih untuk kalian semua karena sudah mau membantu saya dalam masalah saya hingga kalian tidak pernah berpikir nyawa kalian sendiri."
Samuel menepuk bahu Gus Adnan.
" Kita adalah sahabat Suci, tentu ini yang di namakan arti sahabat, selalu ada saat membutuhkan, jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan kita."
Gus Adnan mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Gus Ilham, ia menatap kagum dengan semua sahabat Suci yang ada di sana, walau pun mereka memang terlihat seperti brandalan, tapi mereka memang memiliki hati yang tulus. Khadijah menatap ke arah Sella dan Sisil.
" Terima kasih nak Sisil dan nak Sella, walau pun dulu saya pernah memperingatkan kalian untuk tidak berteman lagi dengan Suci, karena saya pikir kalian membawa pengaruh buruk untuk putri saya, tapi kalian masih ikut menolong putri saya, saya minta maaf atas ucapan saya di masa lalu."
Memang saat Suci sudah masuk ke dalam pesantren, Khadijah pernah memperingatkan mereka untuk tidak berteman lagi dengan Suci, karena bagi Khadijah, mereka membawa pengaruh buruk.
Sella menggeleng pelan.
" Tante tidak perlu minta maaf dan terima kasih, kita adalah sahabat, tentu akan selalu saling mebantu."
" Kita boleh liat keadaan Suci tan?"
Sisil langsung bertanya pada Khadijah.
" Tentu boleh nak."
__ADS_1
Sisil dan Sella di ikuti dengan Samuel masuk ke dalam tempat Suci di rawat, sedangkan Gus Adnan terpaksa mengalah, karena Gus Adnan tau kalau mereka mungkin tidak banyak waktu.
Sisil langsung duduk, ia memegang tangan Suci.
" Uci, maafin aku, maafin aku karena tidak bisa menjaga persahabatan kita, bahkan saat Samuel mengatakan kalau Siska ikut terlibat dalam teror ini, aku sama sekali tidak percaya, walau pun aku saat itu mengikuti permainan yang di minta Samuel, tapi jujur aku tidak percaya, hingga aku melihat dengan mataku sendiri, bahwa Siska pelakunya."
Sisil menghela nafas berat, sebelum ia melajutkan kembali ucapannya. Sedangkan Samuel hanya mengelus lembut punggung Sisil.
" Aku tidak tau kenapa Siska mejadi Gadis kejam, apa lagi yang di siksa sahabat sendiri, aku enggak mengerti kenapa Siska berpikiran dangkal, jelas-jelas persahabatan kita sudah terjalin bertahun-tahun, tapi karena seorang lelaki, Siska tega menyiksa kamu, apa lagi lelaki itu sudah menunggal, benar-benar sangat gila. Suci, cepat sembuh iya, aku enggak bisa jagain kamu sampai sembuh, soalnya aku sibuk kuliah. Oh iya aku punya kabar gembira loh buat kamu, kamu hamil Uci, kamu sebentar lagi akan mejadi Bunda. Selemat iya Uci."
Sisil seperti sedang berbicara layaknya bukan pada pasien ko'ma, ia terus saja berceloteh. Suci yang setengah sadar, ia bisa mendengar ucapan Sisil, tapi suaranya tidak begitu jelas oleh Suci.
Sella juga mengelus lembut kepala Suci yang tertutup hijab.
" Kamu harus kuat Uci, demi anak kamu, kamu harus segera sembuh, kita semua sayang kamu Uci."
Kini tinggal giliran Samuel yang berbicara pada Suci.
" Uci, aku percaya kamu wanita yang kuat, aku percaya kamu wanita yang pantang menyerah, maka dari itu kamu harus semangat demi untuk buah hati kamu, kasihan Gus Adnan, Gus Adnan sangat menghuatirkanmu. Suci, aku juga tidak bisa menunggu kamu hingga sadar, aku sedang ada khasus yang belum aku selsaikan di pengadilan. Terima kasih, sudah memberikan aku kepercayaan untuk mejadi sahabat terdekatmu. Kita semua sayang kamu Uci, jadi kamu tidak boleh lama-lama tidur, ada banyak orang yang sedang menghuatirkanmu."
Samuel berbicara panjang lebar pada Suci, ia senang karena Suci mengangapnya sahabat terdekat.
" Sil, ayo kita semua pulang, kasihan Wiliam."
Sisil hanya mengangguk, lalu langsung berdiri, ia menggenggam tangan Sella
" Suci, kita semua pamit dulu iya."
Setelah mengatakan itu mereka langsung keluar dari ruang rawat Suci.
" Gus, dan semuanya, kita mau pamit, soalnya besok kita ada kuliah."
" Iya, terima kasih Sam dan semuanya, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih."
Hanya Gus Adnan yang mejawab ucapan Samuel. Sedangkan yang lain hanya menganggukan kepalanya.
" Sama-sama Gus."
" Hati-hati semuanya."
" Iya Gus."
Mereka mejawab serempak, lalu langsung pergi dari rumah sakit itu. Sedangkan Gus Adnan langsung masuk ke ruang rawat Suci, ia duduk sambil memegang tangan Suci.
" Kamu harus tetap kuat, demi buah hati kita, kamu cepat sembuh, mas sedih liat kamu seperti ini, mas sayang kamu."
__ADS_1