Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 88 Di tabrak


__ADS_3

Sudah satu minggu dari kejadian Gus Adnan membeli bebek-bebek. Sekrang Suci sedang menyiapkan makanan untuk sarapan. Suci masih mampu mengerjakan aktivitas seperti hari-hari biasanya, walau pun ia sedang hamil muda. Belum ada kamus menyidam di kamus Suci, semuanya masih normal, justru suaminya yang mengalaminya, hal itu membuat ia kesal, ada saja tingkah aneh suaminya yang membuat ia kerepotan, apa lagi setelah suaminya memiliki peliharaan. Setelah pulang mengajar suaminya akan langsung melihat bebek-bebeknya, dan Suci selalu saja menjadi yang terakhir.


" Masa aku kalah sama bebek, benar-banar enggak lucu." batin Suci


Suci selsai menyiapkan sarapan, ia langsung teriak pada suaminya tanpa mau keluar, karena suaminya memang sedang di luar.


" Mas! Ayo sarapan! Istri juga harus di urus, bukan bebek terus!"


" Sebentar!"


" Sumpah Uci akan jadiin bebek itu bebek goreng kalau mas main sama mereka terus!"


Gus Adnan langsung berlari masuk ke dalam rumah, untuk mendekati istrinya, jangan sampai anak-anak angkatnya berahir di tangan istrinya.


" Bebek terus yang di urusin, sekalian saja menikah sama bebek!"


Gus Adnan terkekeh, ia bukan mengabaikan istrinya, hanya saja anak-anak angkatnya sudah kelaparan, ia akan berdosa kalau membiarkan mereka kelaparan.


" Jangan marah-marah terus Uci."


Suci tidak menggubris ucapan dari suaminya, ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng buatanya, wajah Suci terlihat sangat datar, karena ia sangat marah sama suaminya.


" Tuh, makan!"


Suci tidak perduli kalau ucapannya akan menyakiti suaminya, yang pasti ia sudah sangat jengkel, ia juga butuh perhatian, apa lagi saat ini ia sedang hamil muda. Suci meninggalkan suaminya begitu saja, ia tidak rela kalau di kalahkan oleh seekor bebek, lebih tepatnya bukan seekor, tapi 15 ekor bebek. Suci membuka pintu kamarnya dengan kasar, matanya mulai berkaca-kaca, dengan tubuh yang bergetar. Suci menunggup wajahnya di bantal, entah mengapa ia sangat sakit hati melihat suamunya bermain dengan bebek-bebek itu.


" Hiks... Hiks... Masa aku cemburu sama bebek? Hiks... Hiks... Enggak lucu!"


Gus Adnan yang mengikuti istrinya, ia mendengar semua yang di ucapkan istrinya, karena sekarang ia sedang berdiri di depan pintu. Gus Adnan juga sebenarnya tidak mengerti, kenapa ia sangat menginginkan untuk memelihara bebek. Namen Gus Adnan juga merasa bersalah karena telah mengacuhkan istrinya tanpa sadar. Gus Adnan duduk di tepi ranjang.


" Maafkan mas sayang, mas sudah melukai hati kamu."


" Pergi! Hiks... Hiks... Sana tidurnya sama bebek saja! Jangan ngajak Uci sekidap-sakidap lagi. Hiks... Hiks..."


Gus Adnan membangunkan istrinya, ia langsung memeluk istrinya sambil mengusap punggung istrinya.


" Maaf."


Suci memukul tubuh suaminya, hormon ibu hamil memang emosinya tidak terkontrol


" Mas jahat, mas lebih pilih bebek dari pada Uci Hiks... Hiks..."


" Tidak Uci, mas mana mungkin meninggalkan kamu cuma karena anak bebek."


" Tapi kenyataannya mas sama bebek terus!"


"Mas cuma kasih makan mereka Uci."


" Tapi Uci juga mau di perhatiin sama mas."

__ADS_1


Tanpa dosa Suci mengelap ingusnya dengan baju suaminya, sedangkan suaminya hanya terkekeh melihat kelakuan Suci.


" Sudah-sudah, iya mas yang salah, mas tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang kamu mau apa? Mas akan turutin semua keinginanmu."


" Beneran mas?"


" Iya Uci."


" Uci ingin beli es cream di dekat kampus Uci dulu."


Gus Adnan membulatkan matanya, ia sangat terkejut dengan permintaan dari istrinya, masa iya beli es cream harus ke jakarta?


" Kenapa mas enggak mau turutin kemauan Uci iya?"


Mata Suci sudah mulai berkaca-kaca.


" Iya kamu siap-siap kita berangkat sekarang Uci."


Suci mengangguk sambil tersenyum, lalu ia langsung bersiap-siap. Setelah bersiap-siap Suci langsung berlari kecil ke arah bebek-bebek di ikuti oleh suaminya dari belakang.


" Sekarang kamu kalah! Hehehe."


Tentu saja ucapan Suci membuat suaminya terkekeh.


" Jangan aneh-aneh Uci, ngomong sama bebek."


" Seharusnya kamu itu bahagia Uci, karena mas bukan seperi lelaki pada umumnya yang bermain-main wanita, tapi masih saja mas di salahin."


" Ih Mas! Ngomongnya begitu, ayo kita pergi."


Gus Adnan mengangguk saja, mereka langsung masuk ke dalam mobil, lalu langsung melajukan mobil itu.


" Mas, kenapa enggak memelihara kelinci atau burung saja? Bebek itu bau tau mas."


" Tapi mas maunya bebek Uci."


" Ih mas ngeselin banget!"


Gus Adnan hanya tersenyum, lalu tangan kirinya menggenggam tangan Suci.


" Mas fokus dong menyetir."


" Ini juga fokus Uci."


Gus Adnan memang memiliki perasaan tidak enak, untuk itu ia menggenggam tangan istrinya, hingga matanya tertuju pada kaca sepion, ternyata ia sedang di ikuti.


" Uci, pegangan yang kenceng, di belakang ada yang mengikuti kita."


Suci langsung melirik ke kaca sepion.

__ADS_1


" Mas, siapa yang mengikuti kita?"


" Tidak tau Uci."


Gus Adnan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi, ia berharap ada orang di jalanan, tapi jalanan itu sangatlah sepi. Suci yang melihat lebih jelas ke plat mobilnya, akhirnya ia tau siapa pelakunya.


" Mas, dia Indra, ko Indra bisa keluar dari penjara? Mas kalau mas dengan kecepatan seperti ini, sebentar lagi juga kita akan keselip, karena Indra adalah pembalap. Mas, sini tuker posisi biar Uci yang bawa mobilnya."


" Tidak bisa Uci, kamu sedang hamil."


" Tapi mas."


Suci tidak melanjutkan lagi ucapannya, ia mulai panik, apa lagi mengingat ia sedang mengandung, ia takut kenapa-napa. Mobil Gus Adnan akhirnya ke selip juga oleh Indra. Indra langsung memutar arah ke mobil Gus Adnan. Gus Adnan langsung mengerem mendadak, tapi mobil Indra masih saja melaju, hingga Gus Adnan langsung memeluk istrinya untuk menutupi tubuh istrinya agar tidak terluka.


Brak...


Indra tersenyum menyeringai saat ia berhasil menabrak mobil Gus Adnan.


" Laa ilaa ha illallah."


Indra langsung turun dari mobil, sedangkan tubuh Gus Adnan sudah terluka, ia melepaskan pelukannya, menatap wajah istrinya yang pucat.


" Kamu tidak apa-apa?"


Belum sempat Suci menjawab ucapan dari suaminya. Indra langsung mendekati mobil Gus Adnan.


" Turun kalian!"


" Mas di sini saja, Uci harus turun."


" Jangan Uci."


Suci langsung memukul punggung suaminya dengan keras.


" Maaf mas."


Setelah melihat suaminya tidak sadar, Suci langsung turun dari mobil, matanya menatap marah pada Indra.


" Kenapa lo pukul suami lo bodoh! Lo ingin mati di tangan gue dengan mudah tanpa meminta bantuan dari suami lo?!"


" Lo pikir bisa melawan gue?"


Suci langsung melipat gamisnya ke atas, karena ia memang memakai celana panjang. Indra yang melihat itu, ia langsung memukul Suci, tapi Suci dengan sigap menangkisnya, hingga terjadi perkelahian hebat. Setelah sekitar tiga menit Suci bisa melumpuhkan Indra, bahkan saat Indra mencoba berdiri, Suci langsung menendang perut Indra dengan keras.


" Kalau gue enggak ingat dosa dan enggak takut di hukum, gue sudah bunuh lo Indra!"


Indra hanya tersenyum menyeringai, walau pun wajahnya sudah bonyok dan bibirnya mengeluarkan darah, sedangkan Suci sendiri, ia baik-baik saja, hanya tangan kirinya saja yang terkilir.


" Dasar iblis!"

__ADS_1


__ADS_2