Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 77 Awal mula keluar dari penjara.


__ADS_3

Gus Adnan sangat kecewa dan marah saat melihat istrinya di siksa, ia tidak pernah menyangka kalau istrinya sampai di siksa.


" Sialan! Kenapa kamu siksa istri saya?!"


Gus Adnan hilang kendali. Sedangkan pak Samsul hanya tertawa puas.


Flashback on


Siska datang ke kantor polisi dengan ke dua orang lelaki, ia juga menujukan surat dari pak Samsul kalau pak Samsul mencabut tuntutannya. Tentu saja itu membuat polisi percaya, karena melihat tanda tangan itu asli. Polisi langsung membebaskan Suci.


" Suci, kamu bebas sekarang."


Salah satu petugas sipir langsung membuka gembok sel itu.


" Serius pak?"


Suci bertanya dengan wajah yang berbinar, ia yakin kalau suaminya sudah datang dan mejemputnya. Suci berlari ke luar, tapi ia sangat terkejut saat mendapati Siska dan ke dua orang lelaki.


" Siska."


Siska langsung tersenyum, lalu langsung memeluk Suci.


" Maaf, aku baru sempat jenguk kamu, soalnya aku sedang sibuk untuk mendesak pak Samsul agar membebaskanmu."


Mereka langsung melepaskan pelukannya


" Apa aku bebas karena kamu memohon pada pak Samsul untuk membebaskanku?"


" Tentu saja, aku meminta kalau kamu suruh di bebaskan."


" Apa semudah itu? Atau jangan-jangan ada sesuatu dengan suamiku?"


Wajah Suci mulai pucat, ia sangat kuatir pada suaminya saat mendengar Siska meminta pada pak Samsul untuk membebaskannya.


" Kamu jangan kuatir, Gus Adnan sedang menyusun rencana untuk membebaskanmu, lebih baik kita pulang sekarang."


Suci sedikit was-was, dan bingung, ada hubungan apa Siska dengan pak Samsul, hingga pak Samsul begitu mudah untuk mencabut tuntutannya.


" Ayo pulang Uci, kita tidak punya banyak waktu, aku harus ke rumah tante Delia untuk mengambil bukti korupsi tentang pak Samsul, karena itu syarat yang di berikan pak Samsul, kalau aku memberikan bukti itu padanya, maka kamu boleh bebas."


" Tapi ko pak Samsul bisa percaya sama kamu Sis? Kenapa pak Samsul memberikan surat pencabutan, walau pun kamu belum memberikan bukti pada pak Samsul?"


" Sudahlah Uci, kita tidak banyak waktu, ayo pergi."


Suci hanya mengangguk pasrah. Siska langsung masuk ke dalam mobil bersama Suci di bangku belakang, sedangkan ke dua orang lelaki itu langsung duduk di bangku paling depan.

__ADS_1


" Tumben Sel kamu membawa orang?"


" Oh yang menyetir itu supirku, dan yang sebelah adalah pengecaraku."


Entah kenapa Suci lagi-lagi curiga, tapi walau begitu ia lagi-lagi percaya dengan ucapan Siska. Mobil terus melaju hingga melewati jalan ke rumah Suci.


" Sis, rumahku di permpatan tadi belok kiri."


" Aku sengaja, tadi sudah aku bilang kalau aku harus mengambil bukti-bukti di rumah tante, bukannya kamu ingin bertemu Gus Adnan?"


Suci mengangguk dengan ragu-ragu.


" Gus Adnan ada di rumah pak Samsul, jadi sekalian kita berdua ke sana."


Mereka sampai di sebuah rumah, rumah yang Suci juga tidak mengenal rumah siapa.


" Ayo turun Uci."


Suci hanya menurut saja, ia mengikuti Siska masuk ke rumah itu, rumah itu begitu sepi. Suci duduk di ruang tamu, sedangkan Siska langsung ke dapur menuangkan susu coklat dari kulkas.


" Uci, minum dulu susunya, aku tau di penjara pasti makannya tidak enak, aku ke atas dulu ngambil bukti itu."


" Iya Sis."


Siska langsung menaiki tangga untuk ke kamar, sedangkan Suci hanya duduk termenung, dan perasaannya mulai tidak enak, Suci menuangkan air putih yang ada di meja, ia langsung meminumnya hingga habis. Beberapa detik kemudian Suci merasa sangat ngantuk, hingga ia langsung tertidur. Siska turun dari lantai atas dengan senyum merekah di bibirnya, karena memang air putih mau pun susu sudah ia kasih obat tidur dari sebelum menjemput suci.


" Baik non."


Salah satu dari mereka langsung mengangkat tubuh Suci ke gudang, dan mendudukannya di kursi, lalu langsung di ikat, setelah selsai ke dua orang itu berdiri di samping pintu ruangan itu. Siska lagi-lagi tersenyum puas, Suci memang pintar dalam seni beladiri, tapi Suci bodoh dalam otak menurut Siska. Siska langsung mengambil ember kecil yang berisi air, lalu langsung menyiramnya ke kepala Suci.


Byur...


Sontak membuat Suci terkejut dan ia bangun dengan ke adaan tubuh terikat, matanya menatap ruangan sekitar yang sedikit samar-samar, karena lampu itu sengaja di buat sedikit samar-samar.


" Si-Siska."


Tenggorokannya seperti tercekik saat melihat sahabatnya sendiri yang ada di depan matanya.


" Iya nie gue! Kenapa cewek murahan sudah bangun?"


Lagi-lagi Suci di buat terkejut, sekarang lebih terkejut saat Siska mengganti panggilannya dengan panggilan Gue dan memanggil ia dengan panggilan cewek murahan.


" Apa yang ingin kamu lakukan Sis? Kenapa kamu lakukan ini?"


Siska langsung menampar pipi Suci bolak-balik

__ADS_1


Plak... Plak...


" Itu yang gue inginkan!"


Suci merasa panas di ke dua pipinya, tamparan Siska tidak main-main, ia merasa kalau Siska sedang di penuhi dengan amarah.


" Pak tolong lepaskan ikat pinggangmu."


" Baik non."


Salah satu bapak tadi langsung melepaskan ikat pinggangnya, lalu langsung memberikannya pada Siska. Siska mengambil ikat pinggang itu sambil tersenyum menyeringai.


" Sis, kenapa kamu tega sama aku?"


Siska tidak mejawab pertanyaan dari Suci, ia langsung mencambuk Suci dengan ikat pinggang berkali-kali.


" Lo harus merasakan tersiksa cewek murahan! Seperti gue yang terus tersiksa selama berbulan-bulan!"


Suci merasakan sakit di sekujur tubuhnya, cambukan demi cambukan mendarat di tubuhnya, ia tidak mengerti rasa sakit apa yang di maksud oleh Siska. Setelah puas Siska juga menyiram Suci kembali


Byur...


Suci sama sekali tidak berteriak, bahkan air matanya saja tidak keluar sama sekali, ia masih terus menatap gerak-gerik Siska.


" Lo itu enggak pantas di cintai oleh Rey, lo itu hanya cewek sampah yang enggak sengaja di pungut Rey! Lo cewek murahan! Lo enggak menghargai Rey yang baru meninggal beberapa bulan, tapi lo sudah menikah! Apa lo enggak ada rasa bersalah sedikit pun?! Rey juga meninggal karena lo Suci!"


Nafas Suci memburu, saat tau Siska melakukan seperti ini karena masalah Reyhan.


" Tolong jangan membuat kejahatan atas nama Rey."


Suci berbicara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Siska langsung mengambil pisau lipat di saku celananya.


" Gue akan membantu lo untuk menyusul Rey ke sana, atau lo masih mau hidup? Kalau lo masih mau hidup, lo cukup memohon dan mencium kaki gue, lalu tinggalkan juga Gus Adnan!"


Suci tersenyum menyeringai, saat mendengar ancaman dari Siska.


" Kamu boleh membunuhku, karena aku tidak akan pernah memohon dengan seorang hamba, kamu tidak pantas untuk aku bersujud, hanya Allah yang pantas aku sujud."


Plak... Plak...


Sebuah tamparan mendarat mulus lagi ke wajah Suci, matanya mengilat tajam, kebenciannya bertambah pada Suci, dari awal saat tau Suci menyukai Gus Adnan, ia tidak pernah setuju.


Flashback off


Gus Adnan langsung mendekati pak Samsul untuk mendongkan pistolnya, tapi Sholihin langsung memberikan isyarat menggelengkan kepalanya. Sholihin tidak ingin Gus Adnan gegabah dalam bertindak.

__ADS_1


Dor.


Sholihin memberikan tembakan peringatan, wajahnya merah padam, ia tidak suka lembaganya di rusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.


__ADS_2