
Malam pertama mereka sama sekali tidak sepesial, karena Gus Adnan sibuk mengecek emailnya dari mahasiswanya di laptopnya, sedangkan Suci sibuk dengan ponselnya. Suci sesekali tertawa saat chat bersama ke tiga sahabatnya. Suci juga sudah bilang pada ke tiga sahabatnya kalau ia dan Gus Adnan sudah menikah. Gus Adnan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat Suci lagi-lagi tertawa. Setelah lelah Suci langsung meletakan ponselnya di atas meja, ia melirik ke arah Gus Adnan yang masih sibuk mengetik di laptopnya
" Gus."
" Hhhmmm."
Gus Adnan mejawab tanpa melihat ke arah Suci, ia masih sibuk dengan laptopnya.
" Gus, Uci sudah ngantuk."
"Iya tidur Uci."
Suci sangat kesal, lagi-lagi Gus Adnan mengabaikannya, Gus Adnan masih sibuk dengan laptopnya
" Iya ampun Gus jadi suami ko nggak ada manis-manisnya, datar terus seperti tembok! Elus-elus ke kepala istrinya atau apa ke seperti di film-film, ini mah laptop terus yang di raba-raba."
Gus Adnan membulatkan matanya, apa maksud Suci bilang laptop di raba-raba? Setelah itu Gus Adnan langsung menyimpan laptopnya tanpa berbicara. Gus Adnan langsung membaringkan Suci dan tangannya di jadikan bantal untuk Suci. Suci tidak bisa berkata-kata, ia hanya kagum dengan Gus Adnan yang selalu memperlakukannya dengan lembut
" Sudah pejamkan mata kamu, jangan lupa baca do'a dulu!"
Suara Gus Adnan masih terdengar tegas menurut Suci, tapi ia tidak masalah. Suci langsung memejamkan matanya, ia juga merasakan kepalanya yang sedang di elus dengan lembut. Gus Adnan juga dengan pelan melantunkan ayat suci Al-Qur'an, suaranya begitu merdu hingga Suci sudah dalam alam mimpi. Setelah melihat Suci tertidur, Gus Adnan langsung membaca do'a, lalu langsung mengecup ke dua mata Suci
" Saya memang tidak pandai merangkai kata-kata Uci, tapi saya akan berusaha mejadi imam terbaik untuk keluarga kecil kita." batin Gus Adnan
Gus Adnan memutuskan untuk tidur, hingga ia juga sudah ke alam mimpi bersama Suci. Pagi harinya cahaya matahari sudah masuk ke dalam kamar, Gus Adnan duduk di samping ranjang menatap Suci yang masih tertidur pulas. Setelah beberapa menit Suci terbangun
" Ko di kamar aku ada pangeran?"
" Bangun! Jangan di biasakan tidur setelah subuh!"
Suci sangat terkejut, ia baru sadar kalau di sampingnya itu memang ada Gus Adnan
" Ko, Gus ada di kamar Uci?"
Gus Adnan tidak menanggapi ucapan Suci, ia hanya menatap Suci dengan tatapan tajam
__ADS_1
" Oh iya Uci lupa, Gus itu suami Uci."
Gus Adnan masih diam, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Ih jadi suami nggak ada romantis-romantisnya, pagi-pagi itu harusnya senyum sama istri, bukan memasang wajah datar dan bangunin istri seperti keamanan pesantren saja." batin Suci
Suci langsung membelakangi suaminya, ia langsung menarik selimut untuk melanjutkan tidurnya lagi
" Bangun Uci!"
Suci tidak peduli, ia juga tidak menjawab ucapan Gus Adnan. Gus Adnan tidak banyak bicara, menurutnya membuat tindakanlah yang mencerminkan lelaki sesungguhnya. Tanpa aba-aba Gus Adnan langsung menyikab selimutnya, lalu mengangkat tubub Suci. Suci awalnya terkejut dengan tindakan Gus Adnan, tapi akhirnya ia tersenyum dan tanpa malu tanganya itu memeluk leher Gus Adnan
" So sweet juga suamiku." batin Suci
Gus Adnan membawa Suci ke kamar mandi, bahkan tanpa perasaan ia menurunkan Suci di bathub yang sudah ia isi air tadi
" Ah....!"
Suci berteriak, ia tidak percaya dengan Gus Adnan yang seenaknya, ia pikir Gus Adnan akan melakukan hal yang romantis, tapi ini sama saja seperti keaman pesantren yang seenaknya.
" Gus!!"
" Kalau aku nggak cinta sudah aku pukul! Apa lagi airnya dingin banget, harusnya pake air hangat, bukan air dingin seperti ini! Dasar suami kejam!"
Setelah selsai mandi kini Suci sudah duduk di meja makan dengan Gus Adnan dan beserta keluarganya. Suci di meja makan tidak ada pembicaraan, ia masih kesal pada Gus Adnan yang memperlakukan ia seenaknya. Gus Wahyu yang melihat Suci hanya diam, ia langsung menyuruh Suci untuk mengambilkan makanan.
" Uci, ambilkan buat Adnan."
" Ambil saja sendiri, toh dia juga punya tangan."
Ini pertama kalinya Suci memanggil Gus Adnan dengan panggilan dia. Semua orang di meja makan sangat terkejut mendengar jawaban dari Suci
" Uci! Kaka tidak pernah ngajari kamu untuk berbicara tidak sopan!"
Gus Ilham tidak habis pikir dengan jawaban Suci yang terkesan tidak sopan. Sementara Gus Adnan tetap acuh, tapi matanya tidak lepas melihat gerak-gerik Suci. Suci menghembuskan nafas kasar, lalu ia langsung mengambil piring Gus Adnan dan mengisinya, setelah selsai ia menatap Gus Adnan, ia menunggu respon apa yang akan Gus Adnan berikan, tapi Gus Adnan tetap mengacuhkannya
__ADS_1
" Gus, istrinya merajuk kenapa nggak di bujuk?"
Orang-orang yang di meja makan bukannya marah, tapi hanya terkekeh melihat kelakuan Suci, bagai mana tidak, orang sedang merajuk sampai bilang segala
" Emangnya kamu sedang merajuk?"
Suci hanya menganga tidak percaya dengan jawaban Gus Adnan, bahkan wajah itu masih saja datar
" Astagfirullah! makan hati aku punya suami seperti ini!"
Gus Adnan hanya terkekeh kecil melihat kelakuan Suci, memang butuh kesabaran exstra untuk hidup bersama Suci.
" Mau saya suapin?"
Gus Adnan bertanya sambil menggantung sendok yang sudah terisi nasi dan lauk ke depan mulut Suci. Suci yang mendengar pertanyaan dari Gus Adnan hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum, yang awalnya tadi merajuk kini langsung luluh.
" Duh romantis banget iya pasangan baru."
Gus Wahyu menyindir Gus Adnan dan Suci yang memang menurutnya sangat romantis. Mereka hanya terkekeh mendengar ucapan Gus Wahyu. Orang yang sedang di mabuk cinta memang seperti itu merasa dunia milik berdua, ia bahkan melupakan kiai Habibi yang sangat di hormati oleh semua santri di sana
" Maaf kek."
Gus Adnan minta maaf sambil menunduk malu, ia melupakan orang-orang di sebelahnya.
" Hahaha.. Sudah tidak apa Adnan, dulu om juga memang begitu saat baru menikah."
Gus Wahyu beebicara masih sambil terkekeh, wajahnya tidak bisa di bohongi, ia sangat bahagia karena Suci menikah dengan lelaki yang tepat.
" Tidak apa-apa Adnan, sudah ayo lanjutkan lagi makannya."
Kiai Habibi berbicara sambil tersenyum, lagian juga ia sama sekali tidak keberatan, ia bahkan merasa sangat bahagia melihat cucu kesayangannya mencintai Gus Adnan, apa lagi ia juga tau kalau Gus Adnan adalah lelaki yang sangat baik. Setelah selsai makan, kini Suci duduk di sofa bersama Gus Adnan yang sudah memangku laptopnya
" Gus, ko main laptop lagi?"
" Saya masih bayak kerjaan Uci, kamu lebih baik menghapal saja, terserah apa yang mau kamu hapal, agar kamu tidak mengganggu saya yang sedang sibuk."
__ADS_1
Suci hanya menghela nafas berat, baru juga saat makan itu sudah ada romantis-romantisnya, tapi kini Gus Adnan kembali cuek lagi
" Huh dasar muka tembok, sepertinya aku harus ekstra sabar menghadapi sifat Gus Adnan, kalau nggak cinta sudah aku tendang." batin Suci