Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 44 Curhatan Suci


__ADS_3

Setelah Suci minta maaf, ia juga langsung pergi dari apartemen Reyhan, karena ia tidak ingin lama-lama di apartemen, hatinya sangat sakit saat melihat bayang-bayang mereka yang selalu menghabiskan waktu berdua di sana. Suci juga bersyukur karena papa Reyhan tidak membencinya, bahkan papa Reyhan menganggapnya sebagai seorang anak dan sebagai pengganti Reyhan. Suci sama sekali tidak keberatan dengan peemintaan itu, ia sangat senang karena setidaknya ia bisa dekat dengan papanya Reyhan. Suci juga sudah membeli 30 bungkus Burger dan minuman, kini sekarang sedang menuju tempat yang ia inginkan. Sedangkan Gus Adnan lagi-lagi tidak banyak bertanya, ia hanya mengikuti keinginan Suci mau pergi kemana. Hingga mereka berhenti di jalanan yang banyak anak-anak jalanan. Suci langsung turun di ikuti dengan Gus Adnan. Suci mendekati mereka dengan menenteng Bueger dan minuman


" Hai semua!"


" Kak Suci!"


Mereka memanggil Suci serempak lalu langsung mendekati Suci.


" Kaka punya makanan dan minuman untuk kalian, iya walau pun hanya sebuah burger, soalnya kaka nggak punya duit lagi he."


Suci berbicara sambil cengengesan, ia memang tidak punya uang lagi, terlebih ia saat masuk pesantren hanya di kasih dua juta, bagi Suci uang segitu cukup buat apa? Semuanya serba mahal. Suci langsung membagikan pada mereka satu persatu. Hingga tersisa 5 biji lagi. Suci memberikannya pada Gus Adnan


" Gus makan di sini tidak apa-apakan?"


" Tidak masalah."


Gus Adnan tidak pernah pilih-pilih tempat untuk makan, walau pun sekarang ia sedang ada di kerap jalan, tapi ia melihat Suci yang terbilang biasa saja, ia juga langsung mengambil burger dan minuman yang di berikan oleh Suci.


" Kak, kita sedih atas meninggalnya kak Rey, kita sangat merindukan Kak Rey. Dia orang baik, tapi dia cepat sekali pergi untuk selamanya."


Salah satu anak jalanan yang bernama Romi itu berbicara sambil menghela nafas, ia memang sangat merindukan sosok seorang Reyhan, bukan hanya ia, tapi hampir semua anak jalanan juga sangat kehilangan Reyhan, bagi mereka Reyhan adalah sosok seorang malaikat, yang selalu membantu mereka, dari memberinya makanan dan minuman, lalu uang untuk kebutuhannya sehari-hari

__ADS_1


" Kaka juga sama, kaka sangat merindukan Rey."


Suci menghela nafas berat, burger yang akan di gigit itu ia urungkan


" Oh iya kak, apa dia pacar kaka?"


Romi bertanya sambil menujuk Gus Adnan


" Bukan."


" Saya lebih dari pacar untuk Suci."


" Maksudnya gimana sih kak Suci?"


" Oh, dia guru kaka di pesantren, jadi dia lebih dari pacar."


Gus Adnan sudah memberinya kode mudah pada Suci, tapi hingga sekarang Suci masih saja belum mengerti siapa dia di dalam hidup Suci.


" Uci, ayo di makan, kalian juga jangan terus bertanya, ayo di makan."


Romi hanya menganggukkan kepalanya, lalu langsung berkumpul dengan teman-teman yang lain. Sedangkan Gus Adnan duduk berdua bersama Suci

__ADS_1


" Uci senang melihat mereka makan dengan wajah yang ceria. Setiap kali Uci merasa sedih, tapi setiap melihat wajah mereka Uci bahagia, mereka tidak seberuntung Uci, apa pun yang Uci inginkan pasti bisa di beli. Sedangkan mereka buat makan saja susah."


Suci menetap mereka dengan raut wajah bahagia, sementara Gus Adnan tersenyum sambil menatap wajah Suci yang tersenyum bahagia


" Saya tidak menyangka kalau sifat nakal kamu juga memiliki sifat peduli pada sesama."


Suci langsung mengalihkan pandangannya pada Gus Adnan


" Uci dulu tidak pernah mengerti tentang kebahagian yang hanya melihat orang bisa bahagia. Biasanya Uci akan bahagia saat Uci bisa membeli sesuatu atau semacam menghabur-hamburkan uang untuk shopping dan lainnya, karena kalau tidak Uci merasa sangat tertekan."


Suci menghela nafas berat, sedangkan Gus Adnan masih setia menunggu ucapan selanjutnya dari Suci


" Dulu Uci sering di bully di sekolah, salah satunya adalah Ellen dan the gengnya, membuat Uci semakin tertekan, Uci ingin sekali pindah sekolah, tapi bunda melarang Uci, dan Uci juga nggak berani mengadu pada Bunda, hingga Rey datang menolong Uci, dari semejak kenal Rey Uci nggak pernah menghambur-hambur uang lagi. Rey juga membelajari Uci semuanya dari Uci untuk mejaga diri sendiri dan memberikan sesuatu ke pada yang membutuhkan. Uci pikir Rey itu orang yang sangat jahat, karena Rey adalah nomer satu di pembalapan liar, tatap matanya terlihat jelas kalau Rey itu orang yang sangat sombong, terlebih sering terlibat tawuran, tapi lambat laun saat mulai mengenalnya dan jadi pacarnya, Uci mulai mengenal sisi baik Rey, dia bukan baik sama Uci saja orang yang di cintainya. Namen Rey juga sering memberi makanan dan uang pada anak jalanan, dan menyumbang kebutuhan sekolah di panti termasuk sembako dan lainnya. Dari situ Suci kagum sama Rey. Walau pun terlihat sangat nakal tapi Rey masih ingat berbagi. Walau pun Rey terlihat nakal melibihi batas, tapi Rey masih mau mandiri, cari kerja sendiri, sedangkan kekayaan orang tuanya tidak akan habis tujuh turunan, papanya dan mamanya pembisnis nomer dua di kalangan bisnis, siapapun juga akan tau kalau sudah menyebut nama Mahendra Comunity Grup dan Saskia Grup. Namen Rey menutup identitasnya rapat-rapat, ia bekerja hanya mengandalkan otaknya sendiri tanpa mengandalkan kekuasaan orang tuanya, Uci bangga pada Rey dan benar-benar sangat bangga, walau pun banyak orang yang melihat Rey hanya satu sisi, tapi bagi Uci Rey adalah malaikat yang berbentuk manusia."


Dada Suci sesak, saat ingatannya kembali ke bayang-bayang masa lalu. Gus Adnan yang kemarin sangat cemburu, tapi kali ini ia tidak, ia juga tidak sakit hati saat Suci masih membahas tentang Reyhan, ia tau pasti Suci berat karena kehilangan orang yang di cintainya, terlebih lelaki itu adalah mengajarinya dalam hal kebaikan


" Bunda melihat Rey hanya satu sisi, kalau Rey jahat mungkin Rey akan menuruti permintaan konyol Uci saat itu, saat itu Uci sangat kecewa pada bunda hingga pikiran Uci buntu, Uci mengajak Rey untuk memilih satu pilihan, mengajak Uci kawin lari atau menghamili Uci, tapi Rey tidak mengambil salah satunya. Rey bilang sama Uci, kalau lelaki yang sangat mencintai wanitanya dia tidak akan merendahkan harga diri wanitanya, kalau kawin lari, itu sama saja merusak hubungan anak dan orang tua, Rey tidak mau menyeret Uci ke dalam situasi sulit. Uci akui kalau Rey adalah lelaki yang sempurna, walau pun kita sering peluk-pelukan, tapi Rey tidak pernah mencium Uci, saat Uci meminta pun dia tidak melakukannya, Uci kagum dengan lelaki seperti Rey, yang selalu mejaga wantanya dengan baik."


Suci meneteskan air matanya lagi, tapi setelah curhat setidaknya hatinya sedikit tenang, ia tidak peduli kalau Gus Adnan menganggapnya wanita murahan, tapi itu adalah pakta, kalau Reyhan adalah lelaki yang sangat sempurna di matanya


" Inilah yang membuat Suci larut dalam kesedihan, Reyhan benar-benar sangat menghargai Suci. Rey, sekali lagi saya ucapin terima kasih karena selama ini kamu telah mejaga jodoh saya dengan baik." batin Gus Adnan

__ADS_1


__ADS_2