
Wilam hanya menggeng-gelengkan kepalanya saat melihat geng 4S yang saling membenci, walau pun Wiliam tidak pernah terseret dalam tawuran dan lain-lainnya, tapi ia mengetahui tentang geng 4S, karena Wiliam pernah mengagumi Sella, tapi setelah tau Sella adalah anak nakal, ia hanya sebatas mengagumi tanpa mau mendekatinya. Sella langsung melepaskan jambakannya, ia berdiri dan menghala nafas berkali-kali. Gus Adnan yang sedang memeluk tubuh istrinya, tiba-tiba saja tubuh istrinya mejadi lemas, ia langsung melonggarkan pelukannya, menatap mata istrinya yang sudah terpejam.
" Astagfirullah Uci, bangun Uci."
Gus Adnan langsung menggendong tubuh Suci yang sudah lemas. Mendengar suara Gus Adnan mereka sangat terkejut. Termasuk Sisil yang sepontan melepaskan pelukannya.
" Wilam, kasih kunci mobil kamu sama Sella, biar Sella dan Sisil yang mengantar mereka ke rumah sakit, kita harus menghubungi polisi dulu."
" Baik."
Wilam langsung memberikan kunci mobilnya pada Sella. Sella langsung mengambil kunci mobil itu dan berjalan mengikuti Gus Adnan yang sudah keluar lebih dulu.
" Sam, aku pergi, setelah selsai kamu juga ke rumah sakit."
" Iya pasti Sil."
Sisil langsung berlari kecil mengikuti mereka. Sedangkan Samuel langsung menghubungi polisi, setelah selsai ia hanya duduk menatap ke tiga orang tersangka itu dengan rasa benci.
" Kenapa lo ikut campur Sam?"
" Siska, seharusnya lo tidak perlu bertanya, karena gue yakin kalau lo tau jawabannya. Lo juga yakin tau kalau Rey ingin hidup Suci baik-baik saja, tapi lo kenapa harus menyakiti Suci? Kenapa lo setega itu Sis? Kalian berempat adalah sahabat, kenapa karena cinta yang tidak akan bisa lo dapatkan, tapi lo berbuat seperti itu? Inget Sis Rey sudah meninggal."
Siska menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak menganggap Suci sebagai sahabat lagi, semejak Suci melupakan Reyhan dengan sangat mudah, ia benci dengan Suci.
" Dari mana lo tau kalau gue membawa Suci ke sini?"
" Lo mungkin pintar menggunakan Indra dan Maya untuk mengikuti permainan lo yang sudah ingin menyiksa Suci, tapi gue bukan pria bodoh, lo enggak lihat cincin yang di pakai Suci tadi? Itu adalah cincin pelacak, gue sengaja memberikannya pada Suci, karena gue yakin cepat atau lambat lo juga akan mengeluarkan sifat aslinya."
Siska menghela nafas berat, saat Samuel sudah mengetahui sifat aslinya, jelas-jelas ia tidak terlalu dekat dengan Samuel, apa lagi Samuel hanya baru beberapa bulan gabung di geng Reki.
" Lalu lo juga tau kalau gue yang menjebak lo saat di cafe bersama Suci?"
" Jelas gue tau, untuk itu gue meminta Sisil untuk berpura-pura marah-marah, gue sama Sisil tidak pernah putus sama sekali, kita hanya sedang menyusun rencana untuk menjebak lo."
" Jadi selama ini Sisil bohongin gue?"
__ADS_1
" Tanpa di tanya pun lo pasti tau jawabannya."
" Kalian berdua memang brengsek! Kalian berdua jadi selama ini hanya menunggu gue bertindak? Agar gue masuk penjara?"
" Persisnya seperti itu."
Setelah itu Samuel mendekati Wiliam yang asik sedang menonton Sisika dan Samuel yang beradu mulut.
" Kamu kenapa Wil?"
" Aku masih enggak menyangka kalau persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun akan mejadi saling membenci karena cinta."
" Itulah cinta Wil, bisa membuat orang gila. Wil, terima kasih karena sudah membantuku menyelsaikan masalah ini. Jelas-jelas kamu seorang dokter, apa jadinya kalau orang tau, dokter melakukan perkelahin dengan sengit?"
" Hahaha... Santai saja Sam, aku juga senang bisa membantu kalian, anggap saja aku lagi belajar untuk menjaga diri, karena cepat atau lambat, aku juga pasti akan memiliki musuh, entah dalam masalah percintaan, masalah pekerjaan yang sebagai dokter, atau berebut kekuasaan sebagai ceo dengan kaka tiriku, kita tidak akan tau masalah seperti apa yang akan kita dapatkan."
Inilah yang di sukai Samuel pada sahabat barunya Wiliam. Wiliam selalu saja bersikap satai, jelas-jelas tadi nyawanya juga terancam kalau sampai di ketauhui pak Samsul, tapi Wiliam masih bersikap santai. Tidak lama polisi itu datang. Samuel dan Wiliam langsung membawa ke tiga tersangka itu ke arah polisi.
" Ini pak, mereka tadi menganiyaya sahabat saya."
Ke tiga polisi itu langsung memborgol mereka, lalu langsung memasukannya ke dalam mobil.
" Terima kasih pak."
" Sama-sama Mas Sam."
Polisi itu sudah mengenal baik dengan Samuel
" Sis, gue harap dengan lo di penjara, lo bisa belajar lebih baik lagi."
Siska tidak mejawab ucapan dari Samuel. Polisi itu langsung memasukan mereka dalam mobil, lalu langsung melajukan mobil itu.
" Aku mau ke rumah sakit, kamu mau ikut?"
" Tentu saja."
__ADS_1
Mereka langsung menghentikan taksi untuk pergi ke rumah sakit.
...****************...
Gus Adnan mondar-mandir menunggu kepastian istrinya, entah apa yang di lakukan tim medis di dalam sana. Suci di tangani di ruangan khusus IGD, hal itu di lakukan karena kondisi Suci cukup menghuatirkan, apa lagi luka yang harus di obati hal yang tak lazim terlihat, lagi pula mana mungkin Suci di obati yang di batasi tirai, sudah pasti Gus Adnan akan protes.
" Jadilah pasien yang baik Gus."
Sella sedikit kesal saat melihat Gus Adnan yang mondar-mandir, ia juga pusing dan kuatir dengan keadaan Suci, belum lagi dengan Sisil yang masih menangis, karena merasakan rasa kecewa dan marah. Gus Adnan memang pasien juga, lengannya sudah di tangani oleh dokter, bahkan ia sedang berjalan sambil memegang tiang imfusan. Gus Adnan sama sekali tidak menggubris ucapan dari Sella, itu membuat Sella hanya bisa menghela nafas berat, bukan apa-apa, ia takut kondisi Gus Adnan menurun, karena stres yang berlebihan. Tidak lama ke dua orang tua Suci dan orang tua Gus Adnan datang, termasuk dengan Gus Ilham bersama istrinya. Saat melihat ke dua orang tua Suci, Gus Adnan langsung bersimpuh di kaki mereka
" Bunda, Ayah, maafkan Adnan karena tidak bisa mejadi suami yang baik, maafkan Adnan karena tidak bisa menjaga Suci."
Gus Ali langsung membangunkan Gus Adnan.
" Jangan bilang begitu nak, semuannya sudah takdir, ayah tidak marah padamu, anggap ini semua sebagai ujian, dan tetap berdo'a, agar Suci baik-baik saja."
Gus Adnan hanya menganggukan kepalanya. Gus Ali menepuk-nepuk bahu menantunya, ia berharap menantunya sabar menghadapi cobaan ini.
Cklek..
Pintu itu terbuka, Gus Adnan segera menghampiri dokter yang sudah menangani istrinya.
" Bagai mana keadaan istri saya dok?"
" Kita bicarakan di ruangan saya."
Gus Adnan mengikuti dokter itu yang bernama Chika, dengan perasaan semakin cemas, dan di dampingi dengan Gus Ilham, karena tidak mungkin mereka berduaan dengan yang bukan makhrom.
" Gini pak, ada dua kabar yang harus saya sampaikan, ada kabar buruk dan kabar baik. Bapak mau mendengar kabar yang mana dulu?"
" Kabar buruk."
" Terdapat banyak luka lebam di tubuh pasien, suhunya sangat tinggi dan tekanan darah pasien sangat rendah."
" Apa ada pendarahan dalam dok?"
__ADS_1
" Alhamdulilah tidak ada pak, hanya saja kondisi pasien sangat drop, dan kalau sampai suhunya tidak turun-turun, kemungkunan besar pasien akan mengalami kerusakan otak."