Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 59 Rumah baru


__ADS_3

Hampir empat jam mereka melakukan pertempuran hebat, kini Suci tertidur di pelukan Gus Adnan, ada rasa haru setelah ia mejadi milik Gus Adnan sepenuhnya. Sebelum subuh Gus Adnan membangunkan Suci yang masih tertidur nyenyak, ia sendiri sudah mandi besar untuk mensucikan dirinya. Gus Adnan menepuk pelan pipi Suci. Suci yang merasa terganggu ia pun langsung terbangun


" Mas sudah bangun?"


" Sebentar lagi subuh, kamu mandi dulu, nanti kita sholat subuh berjama'ah."


" Caranya gimana mas?"


Suci bertanya sambil tersenyum karena ia mengingat kejadian semalam yang sunggu memalukan, niatnya ia akan menggoda Gus Adnan, tapi ia bahkan di buat terkejut oleh perlakuan Gus Adnan, ia juga tidak menyangka kalau sekarang sudah menjadi istri Gus Adnan sepenuhnya.


" Kamu belum tau caranya?"


Suci hanya menggeleng-gelengkan kepalanya


" Iya sudah biar saya bantu mandinya."


" Kita mandi berdua?"


" Bukan, tapi saya bantu mandiin kamu."


Setelah Gus Adnan membantu Suci mandi, mereka langsung sholat berjam'ah, setelah selsai Suci memilih untuk tiduran lagi, sedangkan Gus Adnan memilih tadarus lebih dulu. Setelah selsai Gus Adnan duduk di samping Suci yang sedang menatapnya


" Terima kasih untuk semuanya Uci."


Gus Adnan langsung mengecup kening Suci sekilas. Suci juga mengerti maksud ucapan Gus Adnan


" Burungnya mas sakit nggak? Punya Uci ko sakit iya mas? Apa lagi pas pertama, itu sakit banget mas, tapi setelah aga lama enak mas, bahkan bikin ketagihan."


Gus Adnan menghela nafas berat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sangat malu saat membahas tentang semalam, mungkin kalau ia tidak memiliki wajah datar, wajahnya sudah memerah, entah kenapa Gus Adnan juga heran dengan sifat Suci yang sama sekali tidak memiliki rasa malu, seharusnya seorang perempuan yang malu, tapi sekarang berbeda karena yang malu ia. Suci mengingat saat telponan bersama Kenzi, saat menuduh Gus Adnan yang tidak-tidak, ia pun memutuskan untuk minta maaf


" Mas, Uci minta maaf iya."


" Minta maaf untuk apa Uci?"


" Uci minta maaf karena berpikir burungnya mas nggak hidup."


Suci berbicara sambil menyengir tanpa dosa, karena menurut ia mungkin semua wanita juga akan berpikir hal yang sama, apa lagi sudah selsai repsepsi pernikahan 1 minggu yang lalu, tapi suaminya itu masih saja belum mengajak untuk hal yang lebih intim. Gus Adnan melebarkan matanya, ia sangat terkejut dengan pemikikiran Suci


" Sembarangan! Saya itu normal Uci!"


" Habisnya mas nggak pernah ajak Uci untuk making love."

__ADS_1


" Kamu yang nggak peka Uci! Hampir setiap malam saya tersiksa harus susah payah meniduri dia."


Suci langsung melebarkan matanya, ia tidak percaya dengan kejujuran Gus Adnan, baru juga semalam ia making love, kini ia harus di kejutkan dengan ucapan Gus Adnan


" Nidurin siapa mas?! Mas suka tidur sama wanita lain?! Astagfirullah, ko mas tega sama Uci!"


Wajah Suci mulai memerah menahan amarah yang siap meledak-ledak. Gus Adnan bingung kenapa Suci berpikir sejauh itu


" Bukan wanita lain Uci, dia itu iya itu."


" Itu iya itu apa mas? Mas tidurnya sama laki-laki? Astagfirullah mas, Uci nggak habis pikir dengan pikiran mas, Uci ini seksi dan cantik, tapi mas tergoda sama laki-laki."


Gus Adnan sedikit prustasi dengan ucapan Suci yang tidak peka-peka juga dengan ucapanya. Gus Adnan langsung menyentil kening Suci cukup keras


Pltek..


" Auh... Sakit tau mas, kejam banget sih, belum apa-apa sudah KDR sama Uci."


Gus Adnan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia benar-benar bingung dengan pemikiran Suci yang selalu saja tidak pernah benar.


" Mangkannya pikirannya itu jangan ngawur Uci!"


Suci mengerutkan keningnya, ia bingung apa kesalahannya? Bukan'kah ia hanya berbicara sesuai pakta?


Setelah mengatakan itu Gus Adnan langsung keluar kamar, ia tidak peduli walau pun Suci terus memanggilnya. Setelah Gus Adnan pergi Suci menghentak-hentakan kakinya ke lantai


" Masa iya aku mau di ruqiah? Salah aku di mana? Bukannya ucapanku itu sesuai pakta, dasar suami aneh!"


Setelah mengatakan itu Suci hanya menuruti ucapan Gus Adnan, ia langsung mengganti bajunya mejadi gamis, lalu langsung memakai hijab, setelah selsai ia duduk di atas ranjang lagi. Tidak lama Gus Adnan masuk ke dalam kamar


" Kamu sudah siap?"


" Mas, tega banget sih Uci mau di ruqiah, apa mas nggak malu sama para santri?"


Gus Adnan mengelus dadanya sambil beristigfar, ia benar-benar nggak habis pikir kalau Suci menganggap ucapan candaanya itu menjadi serius


" Ayo kita pergi."


" Hah?"


" Kamu mau saya ruqiah atau ikut saya pergi?!"

__ADS_1


" Eh iya mas, Uci ikut mas pergi."


Suci langsung bergelayut manja di lengan suaminya. Gus Adnan mengajak keluar jalan kaki, setelah ia minta ijin pada Umi Mariyam dan Abinya. Suci ingin sekali bertanya mau kemana? Apa lagi tidak memakai kendaraan, tapi mengingat Gus Adnan yang mengatakan akan meruqiah ia, itu membuat ia enggan untuk bertanya. Mereka berjalan ke arah perumahan, jaraknya memang tidak jauh dari pesantren, kalau memakai motor hanya sekitar 10 menit saja. Mereka berdiri di depan sebuah rumah


" Ini rumah siapa mas? Atau jangan-jangan ini wanita selingkuhan mas yang di bilang tadi?"


Gus Adnan yang mendengar pertanyaan dari Suci, ia langsung beristigfar, lalu menyentil kening Suci.


Pletek...


" Kalau ini rumah selingkuhan saya, untuk apa saya ajak kamu kesini? Yang ada nanti selingkuhan saya habis kamu cingcang."


Suci hanya cengengesan, bukan di cingcang lagi, mungkin akan ia buat prkedel.


" Terus ini rumah siapa dong mas?"


" Ini rumah kita."


Mata Suci berbinar, ia pikir akan selamanya mereka akan tinggal di rumah umi dan abi, mengingat Gus Adnan hanya anak satu-satunya dan penerus pesantren Alhusna


" Serius ini mas?"


" Iya maaf saya hanya mampu beli rumah sederhana, memang sangat jauh jika di bandingkan dengan rumah orang tuamu."


Gus Adnan memang sudah membeli rumah ini setelah ia mengucapkan akad atas nama Suci, ia tidak ingin terus tinggal di pesantren, ia tau kalau Suci menyukai kebebasan, setidaknya tinggal di rumah sendiri akan jauh dari gosip miring, terutama saat melihat Suci yang mencengkram tangan salah satu santri, ia tidak ingin Suci tertekan


" Akhirnya kita punya rumah sendiri mas, setidaknya Uci nggak malu kalau nanti bangun kesiangan."


" Ayo masuk."


Suci mengikuti Gus Adnan masuk ke dalam rumah itu. Memang rumah itu bukan rumah yang mewah, rumah itu hanya memiliki satu lantai, tapi memang sangat nyaman.


" Kamu suka nggak?"


" Uci suka banget mas."


Gus Adnan mengelus kepala Suci yang tertutup hijab, ia bisa melihat mata Suci yang berbinar


" Jika nanti saya ada rezexi lebih, nanti saya akan membeli rumah yang lebih besar."


Sebenarnya Gus Adnan merasa tidak enak karena Suci selalu hidup dengan kemewahan

__ADS_1


" Tidak perlu mas, rumah ini juga sudah sangat besar untuk kita."


Suci sama sekali tidak keberatan dengan rumah itu, ia tau pasti suaminya sangat susah untuk membeli rumah itu saja, mengingat suaminya hanyalah sebagai dosen


__ADS_2