
Suci memutuskan untuk kabur dari pesantren, ia tidak bisa terus di pesantren, gaya hidupnya sangat berbeda dengan gaya hidup di pesantren, walau pun hatinya sangat berat untuk meninggalkan pesantren, tapi aturan pesantren membuatnya sangat muak. Suci menunggu keadaan sudah aman, pukul 23.00WIB, Suci mengendap-ngendap ke tempat yang sudah di janjikan bersama Danil, ia hanya membawa tas kecilnya saja.
" Sudah aman." batin Suci
Suci terus saja berjalan hingga sampai di tempat Danil menunggu
" Suci, gue pikir lo nggak bakalan ikut."
" Nggak usah banyak ngomong, ayu buruan."
" Oke, lo ngikutin gue dari belakang, awas jangan sampai ketahuan."
" Oke."
Danil berjalan mendahului Suci lewat pintu belakang pesantren sambil tersenyum smirk, akhirnya ia bisa membawa Suci keluar dari pesantren ini. Suasana di belakang pesantren sangat gelap dan hanya jalan setapak yang tidak begitu jelas kemana arahnya
" Lo mau ngajak gue kabur, apa mau menyiksa gue?"
" Sabar, ini jalan terbaik untuk keluar pesantren."
Memang itu adalah jalan terbaik karena di belakang tidak ada yang patroli dan tidak ada orang lewat, tapi bagai mana pun juga Suci binging dengan jalan setapak yang begitu banyak cabang. Sekitar setengah jam mereka sampai di jalan raya, setelah di jalan raya Suci bingung naik apa untuk sampai ke jakarta, karena ia belum pernah ke rumah kakenya sendirian, ia selalu bersama ke dua orang tuanya pergi ke sana
" Dari sini naik apa ke jakarta?"
" Naik bus, entar di depan juga ada halte."
" Oh iya, mang lo mau kemana?"
" Sama ke jakarta."
Suci langsung menatap Danil dengan seksama, itu membuat Danil mejadi salah tingkah
" Ada apa dengan gue, jangan gila Danil, lo bawa Suci buat kaka lo, bukan buat lo." batin Danil
" Pantas."
__ADS_1
" Pantas apa?"
" Preman!"
" Shhtt... Dasar Gadis bar-bar!"
Suci yang mendengar umpatan dari Danil hanya tertawa, karena ini bukan pertama kalinya ia di panggil bar-bar, lagi pula ia juga mengakuinya kalau ia Gadis bar-bar. Setelah terus berjalan, tiba-taba tas kecil Suci di jambret. Suci yang tadi tidak menyadari ada jambret, membuat ia tidak bisa melakukan apapun, jambret itu mengambil tas Suci tanpa menghentikan motornya. Suci mengejar jambret itu di ikuti dengan Danil
" Hai..! Jangan pergi!"
Suci terus berlari, tapi motor itu semakin kencang, bahkan nafasnya sangat terengah-engah. Danil langsung memegang tangan Suci
" Jangan di kejar, kita tidak akan bisa mengejar mereka."
Suci langsung membalikan tubuhnya dan melepaskan pegangan tangan Danil
" Tapi tas gue, bagai mana dengan uang gue?! Gue pulang pakai apa kalau tidak punya uang?!"
" Nggak usah panik, masih ada gue."
" Sorry, lo jadi ikutan ngejar jambret."
" Santai saja, kita sudah menjadi teman."
" Oh iya, lo punya ponsel nggak? Gue pengen telpon pacar gue suruh jemput."
" Ponsel gue sudah di hancurin oleh dewan."
" Terus gimana dong?"
" Tenang saja, gue bakalan ngantar lo sampai ke rumah lo, tapi sekarang sudah sangat malam, lebih baik lo menginap dulu di apartemen gua."
" Oke deh."
Mau tidak mau Suci hanya bisa menyetujui ucapan Danil. Danil langsung mengajak Suci naik bus, ia akan mengajak Suci ke apartemennya, lalu akan menyusun rencana bersama kakanya. Senyuman Danil tidak henti sepanjang jalan di bus, andai saja ia lebih dulu mengenal Suci selain kakanya, mungkin ia akan membuat Suci untuk menjadi miliknya. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka sampai di jalan dekat apartemen. Suci dan Danil langsung turun dari bus
__ADS_1
" Suci, itu apartemen gue."
" Lo tinggal di apartemen ini dengan siapa?"
" Sendiri, tenang gue nggak akan macam-macam sama lo."
Suci hanya menjawab dengan anggukan kepala. Mereka langsung berjalan masuk ke dalam aparteman itu
" Duduk."
Suci hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia duduk sambil membuka hijabnya. Saat melihat Suci tidak mengenakan hijab, Danil melihat Suci tanpa berkedip hinngga Suci menyadari tatapan Danil
" Lo kenapa melihat gue seperti itu?"
" Nggak apa-apa, gue cuma mau bilang yang milikin lo pasti sangat beruntung. Oh iya, lo mau tidur di mana saja terserah lo, di sini ada dua kamar, tapi kalau di sana kamar gue."
" Gue tidur di sofa saja deh. Gue mau numpang ke kamar mandi buat cuci muka."
" Oh iya itu kamar mandinya."
Danil berbicara sambil menujuk ke arah kamar mandi.Menurut Danil mungkin ini adalah sebuah keberuntungan, karena tas Suci di jambret, jadi Suci mau tidak mau hanya mengikuti ia, lalu ia pun langsung masuk kamar, untuk mandi, karena tubuhnya sangat lengket setelah mengikuti Suci yang mengejar jambret. Suci di kamar mandi membasuh mukanya dengan rasa kesal, karena mengingat tasnya di jambret
" Seharusnya aku itu ikutan balap lari, jadi aku nggak akan dapat sial seperti ini! Apa lagi semejak masuk pesantren, banyak sekali masalah, dan sekarang setelah bebas dari pesantren, masalah itu juga tetep saja ada." batin Suci
Setelah itu Suci langsung ke ruang tamu lagi, ia memutuskan untuk tidur, ia tidak mencari Danil lagi yang sudah tidak ada di ruangan tamu. Setelah selsai mandi, Danil langsung mengirim pesan pada kakanya, ia mengatakan kalau Gadis yang kakanya cintai sedang ada di apartemen dan ia juga mengatakan untuk menyusun rencana. Setelah mengirimi kakanya pesan dan di balas oleh kakanya akan ke aparteman itu besok pagi bersama teman-temanya, Danil langsung meletakan ponsel itu, lalu ia pergi ke ruang tamu sambil membawa selimut, setelah sampai di sana, Danil melihat Suci yang sudah tertidur pulas dengan wajahnya penuh kringat. Danil langsung menyalakan AC, lalu langsung menyelimuti Suci, setelah selsai ia menatap wajah Suci dengan lekat
" Kenapa gue punya rasa menyesal telah ngabarin kaka, Suci terlihat seperti Gadis baik-baik, tapi bagai mana pun juga dia adalah wanita jahat yang telah mengabaikan perasaan kaka, jelas-jelas mereka sudah kenal sangat lama, tapi Suci memilih Reyhan, lelaki pembuat onar di sekolah." batin Danil
Danil memang dulu pernah satu angkatan dengan Reyhan saat SMP, ia tau kalau Reyhan adalah lelaki rusuh, kerjaannya hanya mencari masalah. Setelah itu Danil memutuskan untuk pergi dari aparteman, ia mau membeli obat untuk Suci besok. Danil langsung keluar dari apartemen itu untuk membeli obat. Suci masih tertidur pulas, tapi tiba-tiba ia memimpikan sesuatu
" Suci, gua suka sama lo dari dulu! Gue, pergi karena orang tua gue bercerai! Gue janji pada diri gue, kalau gue akan datang untuk menemui lo, tapi lo jahat! Lo memilih Reyhan, lelaki yang sering keluar masuk kantor polisi! Lo jahat Suci! Lo seharusnya hanya milik gue!"
Suci mendengar jelas suara dalam mimpi itu, tapi dia tidak bisa melihat siapa lelaki itu, karena tempat itu sangat gelap, tapi di dalam mimpi ia ketakutan setangah mati, hingga ia meneteskan air mata
" Gue nggak jahat!"
__ADS_1
Suci terbangun dari tidurnya, ia langsung memagangi dadanya yang nafasnya naik turun