Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 32 Suci sadar


__ADS_3

Gus Ilham dan Gus Adnan membawa Suci ke rumah orang tuanya, ia tidak mungkin membawa Suci ke pesantren dengan keadan Suci yang masih belum sadarkan diri. Suci masih terbaring di ranjang, ia juga sudah di priksa oleh dokter. Gus Adnan sedang mengobrol dengan orang tua Suci, sedangkan Gus Ilham, ia menunggu Suci sadar


" Uci, capat sadar, kaka minta maaf tidak bisa menjaga Uci dengan baik."


Gus Ilham memegang tangan Suci sambil mengusap pipinya. Tidak lama Suci sadar, ia membuka matanya. Saat membuka mata Suci sangat terkejut saat melihat yang di samping tempat tidur adalah kakanya


" Kak."


Saat Suci sadar, Gus Ilham langsung tersenyum pada Suci, ia juga membantu Suci yang ingin duduk. Suci langsung memeluk Gus Ilham


" Kaka! Hiks.... Hiks..."


Tangisannya langsung pecah di pelukan Gus Ilham. Gus Ilham juga membalas pelukan dari Suci sambil membelai rambut Suci


" Jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja Uci."


Suci mengangguk, tangisannya mulai mereda, lalu ia melepaskan pelukannya. Suci menatap ke sekeliling kamar, ia melihat tidak ada siapapun selain Gus Ilham


" Kak, di mana Rey? Bukan'kah yang menolongku Rey?"


Suci masih sangat ingat kalau yang menolongnya kamirin malam itu Reyhan, tapi sekarang ia tidak menemukan Reyhan di samping ranjangnya


" Suci, lupakan dia! Kalau kaka tidak melihat cctv jalan, kaka nggak pernah tau apa yang terjadi dengan kamu! Kamu harusnya tau, kalau kamu itu hampir saja kehilangan harta paling berharga dalam hidupmu karena dia."


" Ini bukan salah Rey, kak, ini salah Uci yang kabur dari pesantren, Rey tidak ada kaitannya dalam masalah Uci."


" Uci, kamu harusnya mengerti bawa hubungan kamu itu tidak seharusnya terjadi."


Gus Ilham menghela nafas kasar, lelah, kecewa dan marah, itulah yang ia rasakan sekarang


" Kaka nggak akan pernah tau bagai mana rasa cinta! Karena pernikahan kaka atas dasar perjodohan, tapi Uci, Uci nggak akan pernah menerima pernikahan atas dasar perjodohan seperti kaka! Uci sudah dewasa kak, Uci mencintai Rey. Tolong kaka jangan pernah katakan lagi kalau hubunganku tidak seharusnya! Rey adalah orang yang menjaga Uci selama ini, tapi kaka dengan teganya melarang hubungan kita!"


Air mata Suci mengalir deras, amarahnya memuncak, ia bertanya-tanya apa yang salah dengan hubungannya, bahkan Reyhan sudah menolongnya saat kejadian semalam, tapi kakanya tidak ada simpati sedikit pun pada Reyhan. Teriakan suara Suci yang sangat marah membuat ke dua orang tua Suci dan Gus Adnan tetkejut, mereka langsung pergi ke arah kamar Suci, mereka melihat Suci penuh dengan air mata


" Uci, kamu kenapa nak?"


Khodijah langsung duduk di samping ranjang Suci. Suci tidak menjawab pertanyaan dari Khodijah, melainkan ia bertanya kembali dengan nafas yang memburu

__ADS_1


" Bunda juga mau bilang kalau hubunganku dengan Rey itu tidak sepantasnya?! Apa benar begitu?! Di mana letak kesalahan Reyhan Bund?!"


Sedangkan Gus Adnan hanya bisa menghela nafas lelah, melihat Suci yang kekeh dengan pendiriannya yaitu tetap bersama Reyhan


" Uci, sekarang kamu baru saja sadar, kamu sekarang istirahat, nanti sore kamu harus kembali ke pesantren."


" Iya nak, tolong jangan bahas masalah ini, kamu hanya harus fokus pada ajaran pesantren lebih dulu."


Gus Ali juga membenarkan perkataan istrinya, terlebih lagi ia merasa tidak enak pada Gus Adnan yang sudah sah menjadi suami Suci


" Kalian keluar dari kamar Uci! Uci butuh sendiri! Dari kalian tidak akan pernah mengerti dengan perasaan Uci!"


Suci langsung membaringkan tubuhnya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, Khodijah mengelus lembut punggung putrinya sebelum keluar. Mereka langsung keluar, terkecuali Gus Adnan. Gus Adnan duduk di samping ranjang, ia mengelus punggung Suci


" Suci, percayalah kalau apa pun yang keluargamu lakukan, itu adalah yang terbaik untukmu."


" Semuanya jahat, semuanya tidak ada yang mengerti dengan perasaan Uci. Uci mencintai Rey, lebih dari Uci mencintai diri Uci."


" Cinta tanpa di dasari bukan karena Allah, lambat laun akan menghilang."


Suci langsung membalikan tubuhnya, ia menatap mata Gus Adnan masih dengan posisi berbaring


" Iya, saya mencintai wanita itu karena Allah, walau pun wanita itu sudah berkali-kali membuat kesalahan, tapi saya akan sabar dan menunggu wanita itu mengerti bahwa saya pantas untuknya."


" Lalu siapa wanita itu? Bukan'nya harusnya beruntung mendapatkan lelaki seprti Gus? Apa lagi seluruh santriwati mengagumi Gus, dan Uci juga yakin kalau para ustazah juga memiliki rasa yang sama srperti santriwati."


" Kamu tidak perlu tau siapa wanita itu, suatu saat kamu akan tau sendiri, saya hanya berharap kalau wanita itu segera melupakan kekasih haramnya dan menerima kekasih halalnya."


Jawaban Gus Adan membuat Suci bingung, dengan mengatakan kekasih haram dan kekasih halal, setahu Suci hanya makanan dan minuman yang haram dan halal, selebihnya ia tidak tau


" Maksud Gus apa? Jujur Uci tidak mengerti?"


" Sudah saya katakan, suatu saat kamu akan tau."


Akhirnya Suci memutuskan untuk diam, walau pun ia masih penasaran dengan ucapan Gus Adnan, hingga melupakan masalah Reyhan untuk beberapa saat dan tangisannya juga sudah kering


" Suci, saya harap setelah kejadian ini kamu jangan kabur lagi."

__ADS_1


" Pasti Gus. Gus, bolehkah kalau Gus keluar? Uci butuh istirahat."


Gus Adnan menjawab dengan anggukan kepala, ia mengelus pucuk kepala Suci, lalu ia langsung pergi dari kamar Suci. Setelah Gus Adnan pergi, Suci mengingat Reyhan lagi, entah bagai mana keadan Reyhan. Suci langsung duduk, ia langsung mengambil telpon rumah yang ada di meja samping ranjang, lalu langsung mengetik nomer Reyhan. Setelah telpon itu tersambung Suci langsung bicara lebih dulu


" Rey, ini aku."


" Sayang, kamu sudah sadar? Bagai mana keadaanmu?"


Suci bisa mendengar suara Reyhan yang tampak bahagia


" Aku sudah lebih baik Rey, terima kasih atas pertolonganmu."


" Jangan pernah mengatakan terima kasih sayang, tapi aku mohon jangan kabur lagi dan jangan pernah terlalu percaya dengan orang yang baru di kenal, bahkan orang yang sudah kenal lama saja bisa menusuk dari belakang."


" Maaf Rey, aku tau aku salah."


" Tidak apa-apa, nanti biar aku yang pergi ke pesantren, jangan kamu yang kabur, jangan buat aku kuatir sayang."


Suci langsung menangis, ia tau kalau Reyhan selalu menghuatirkannya dan ia tau kalau tindakanya selalu salah, tapi lagi-lagi ia selalu mengulangi kesalahan yang sama


" Sayang jangan menangis, aku tidak memarahimu, aku hanya kuatir padamu dan takut terjadi apa-apa."


" Sekali lagi aku minta maaf Rey, apa kamu baik-baik saja?"


" Aku baik-baik saja sayang."


" Baik-baik saja apanya?! sudut bibir saja bengkak! Suci! Kaka lo mukul wajah Reyhan!"


Suci bisa mendengar suara teriakan dari orang yang ia kenal


" Rey, apa benar yang di katakan Indra?"


" Iya sayang, tapi aku tidak apa-apa."


" Aku akan ke apartemenmu."


" Jangan, sudah aku katakan biar aku yang akan menemuimu."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu tiba-tiba telponnya terputus, itu membuat Suci menghela nafas berat, ia yakin kalau Reyhan marah atas ucapanya


__ADS_2