Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 58 Malam pertama


__ADS_3

Suci mondar- mandir tidak jelas di kamar, sudah 1 minggu suaminya itu belum juga mengajak untuk malam pertama


" Kenapa Mas Adnan nggak sentu aku iya? Kalau pengantin harusnya making love, tapi kenapa mas Adnan nggak ngajak-ngajak sih? Apa aku yang nggak peka? Ih jelas-jelas aku juga pengen."


Suci meletakan telunjuknya di bibirnya, ia terus saja berpikir keras


" Atau jangan-jangan burungnya mas Adnan nggak hidup? Oh Tuhan, jangan dong, kalau burung mas Adnan lepek nanti aku jadi perawan tua."


Suci duduk di atas ranjang masih sambil berpikir


" Atau aku coba saja iya? Tapi begai mana nyobanya aku saja nggak berpengalaman."


Suci terus saja berpikir, tapi ia tetep saja tidak mendapatkan hasil karena otaknya itu tidak menemukan jawaban, ia mengambil ponselnya dan bertanya di grup chat 4S. Setelah sekitar 25 menit, grup chat itu masih belum ada yang membaca, membuat mau tidak mau ia bertanya pada Indra. Suci langsung menelpon Indra, karena Indra adalah orang yang paling dekat dengan Suci, tapi sama sekali tidak mendapat jawaban


" Indra kemana sih? Ko aku seperti di buang oleh mereka? Kirim pesan ke Grup chat 4S nggak ada jawaban, dan sekarang telpon ke Indra juga nggak di angkat, nggak mungkin aku telpon Samuel, malu banget aku sama Samuel."


Suci masih terus berpikir, ia bingung harus menelpon siapa lagi, harapannya hanya tertuju satu orang sekarang, yaitu Kenzi. Kenzi tidak pernah meninggalkan ponselnya kalau tidak tidur, ia sudah sangat tau dengan Kenzi. Suci langsung menelpon Kenzi. Kenzi langsung mengangkat telponnya


" Halo! Ada apa Uci?! Gue lagi tidur nie!"


" Ih Ken, salam dulu dong!"


" Halah! Lo yang telpon gue juga kaga salam!"


"Oh iya sory gue lupa Ken. Assalammualaikum Ken."


" Wa'alaikumsalam, ada apaan? Tumben lo telpon gue?"


" Gue mau minta saran dong Ken."


" Saran apa? Tenang saja gue bakalan kasih saran ko."


" Cara ngajakan cowok making love gimana? Lo itu cowok pasti nggak jauh beda sama cowok lainnya."


" Ih Dasar bodoh! Ngapain lo tanya begituan?! Lo mau cari om-om?!"


" Iya nggak juga bego! Gue mau rayu suami gue, tapi nggak berpengalaman."


" Emang suami lo belum nyentuh lo?"


" Nyentuh dong memang sudah, tapi menyentuh yang lebih intim belum. Apa gue kurang cantik gitu? Jelas-jelas gue cantik banget."


" Hahaha.... Pede banget lo! Tunggu dulu, apa jangan-jangan burung laki lo nggak berpungsi?"


" Mas Adnan itu lelaki normal!"


" Hahaha..! Gue becanda, tapi lo sudah pernah ngajakin belum sebelumnya?"


" Enggak."

__ADS_1


" Ko gue mikirnya lo yang nggak peka iya? Lagian lo itu jadi orang selalu telmi, sekalinya dapat akal dan pikiran semuanya buntu! Lagian masa iya Gus Adnan lo nggak punya hasrat, gue saja yang masih muda pengen mulu tiap malam."


" Lo lakuin gituan sama siapa Ken?! Nikah saja belum?!"


" Ih, gue bilang pengen bukan ngelakuin, heran gue kenapa dulu teman gue suka sama cewek bodoh seperti lo!"


" Jangan ngegas dong Ken! Cepat kasih tau caranya gima? Gue nggak mau kalau masih perawan terus!"


" Ih dasar Gadis bodoh! Ternyata lo mesum juga! Sini sama gue saja mau nggak?"


" Ih nggak sudi gue! Cepat kasih tau dong!"


Kenzi langsung memberikab Suci saran, entah itu saran yang benar atau nggak, yang jelas Suci akan mencobanya setelah ini


" Kalau Gus Adnan belum on juga, lo bawa dia ke spesialis kejiwaan."


" Kenapa harus di bawa ke spesialis kejiwaan? Bukannya harus di bawa ke spesialis penyakit dalam?"


" Lo itu bukan cowok Uci, kalau burung cowok lemes terus itu berarti ada yang salah dengan kejiwaan pemiliknya. Jadi lo harus bawa ke SP.KJ."


" Oke terima kasih Ken."


" Sama-sama Uci."


Mereka memutuskan sambungan telponnya. Suci yang di berikan saran oleh Kenzi, ia langsung memakai lingere di kamar mandi. Lalu mendekati Gus Adnan yang sedang duduk di sofa sambil memeriksa beberapa tumpuk kertas, yang menurut Suci itu adalah tumpukan kertas penyiksaan, karena dulu kalau tanpa Reyhan otaknya itu nggak pernah mengerti. Suci berdiri di belakang suaminya


" Mas.."


Gus Adnan mejawab tanpa menoleh, matanya masih sibuk dengan kertas-kertas itu


" Duh gerah banget iya mas?"


" Tinggal nyalakan saja ACnya Uci."


Suci sudah benar-benar kesal dengan suaminya, maksud ia itu agar suaminya balik badan, tapi bisa-bisanya suaminya itu masih saja cuek.


" Mas liat Uci dulu kenapa?!"


Gus Adnan membalikan tubuhnya, dan seketika ia membalikan tubuhnya lagi


" Inalilahi!!"


Gus Adnan mengelus dadanya sendiri, ia sangat terkejut dengan pakaian yang istrinya pakai


" Siapa yang meninggal mas?"


Suci bertanya dengan wajah polosnya


" Ah ti-tidak. Ti-tidak ada."

__ADS_1


Ini pertama kalinya Gus Adnan berbicara tetbata-bata.


" Oh, Uci pikir ada orang yang meninggal."


Suci memegang bahu Gus Adnan dan mengelusnya perlahan, seketika membuat Gus Adnan sangat terkejut, ia langsung beristigfar di dalam hatinya


" Mas.."


Suci memanggil suaminya dengan suara yang menggoda. Gus Adnan tidak mejawab panggilan dari Suci, tapi keringat dingin sudah ada di plipisnya. Suci mengalungkan tangannya di leher Gus Adnan dan dagunya ia letakan di bahu Gus Adnan, lalu langsung mengecup pipi Gus Adnan dengan lembut


" I Love you sayang."


Gus Adnan masih diam, bahkan tubuhnya sangat kaku. Tiba-tiba Gus Adnan membalikan tubuhnya dengan tangan Suci yang masih melingkar di lehernya.


" Kemarilah."


Suci bisa melihat wajah Gus Adnan yang memerah, ia yakin Gus Adnan sedang menahan amarah, tapi ia hanya mengikuti ucapan Gus Adnan, ia berjalan ke sisi sofa untuk mendekati Gus Adan. Setelah Suci di depannya, Gus Adnan langsung mengangkat dagu Suci, kini tatapan mereka saling beradu. Suci sudah sedikit takut suaminya marah


" Ma-mas."


Suci memanggil suaminya dengan suara terbata-bata, suara menggoda itu hilang seketika saat melihat wajah suaminya memerah. Gus Adnan langsung menempelkan bibirnya di bibir Suci, bukan kecupan lagi melaknkan ciuman yang ia berikan. Suci sangat syok saat Gus Adnan bermain dengan bibirnya, hingga Gus Adnan menghentikan ciumannya, sedangkan Suci masih diam, karena terlalu terkejut dengan perlakuan Gus Adnan. Gus Adnan mengusap lembut bibir Suci


" Kamu niat menggoda saya?"


Gus Adnan langsung membelakangkan rambut Suci ke telinganya, ia langsung merangkul pinggang Suci, sehingga sekarang tubuh mereka sangat menenpel


" Saya minta hak saya boleh?"


Suci hanya menganggukan kepalanya, ia tidak bisa berkata-kata. Gus Adnan langsung menggendong Suci ke arah ranjang, ia langsung mendudukan Suci di atas ranjang.


" Kamu siap menyerahkan mahkotamu untuk saya?"


Suci lagi, lagi hanya menganggukan kepalanya


" Ikuti saya."


" Bismillaah, Allahumma jannibnaassyyaithaana."


" Bismillaah, Allahumma jannibnaassyyaithaana."


" Wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


" Wa jinnibi syaithoona maarazaqtanaa."


" Amin."


" Amin."


Gus Adnan langsung mengusap pipi Suci dan mencium kening Suci cukup lama, lalu ke dua mata, ke dua pipi, hidung dan terakhir bibirnya.

__ADS_1


" Boleh saya buka?"


Suci hanya menganggukan kepalanya. Gus Adnan langsung melepaskan pakaian Suci, ia memberikan tanda kepemilikan di leher dan seluruh tubuh Suci


__ADS_2