Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 87 Karma dan kifarat


__ADS_3

Sesuai ke inginan Gus Adnan, setelah istrinya mengganti baju memakai gamis biru mereka pergi ke warung seblak. Suci yang melihat suaminya memesan dua porsi sekaligus, ia makin yakin kalau suaminya yang sedang mengidam, walau pun setau ia harusnya yang mengidam itu ibu hamil, tapi ini berbeda, ini suaminya yang sedang mengidam.


" Mas yakin mau di makan semuanya?"


" Iya Uci."


" Nanti perutnya mules mas."


" Jahat banget jadi istri mendo'akan yang buruk!"


" Terserah mas deh! Dari tadi Uci selalu di anggap salah sama mas!"


Gus Adnan hanya terkekeh, lalu memakan seblaknya dengan lahap tanpa mempedulikan istrinya yang sedang kesal.


" Uci."


" Iya mas."


" Mau mas suapin enggak?"


" Enggak usah mas, Uci makan sendiri saja."


Gus Adnan langsung mengambil mangkuk milik istrinya.


" Ih mas!"


Gus Adnan tidak peduli dengan ucapan kesal istrinya, ia langsung menyuapi istrinya. Sekarang terbalik, kalau dulu Suci yang ingin di suapi oleh Gus Adnan, tapi sekarang Suci yang tidak mau di suapi, namen suaminya tetap menyuapinya. Setelah selsai makan seblak mereka tidak langsung pulang, kini mereka sampai di penjual bebek. Suci sedikit heran dengan suaminya, kalau misalnya suaminya ingin makan daging bebek, kenapa harus membeli yang hidup?


" Mas mau beli bebek?"


" Iya."


" Mas kenapa enggak beli yang sudah matang saja?"


" Mana bisa bebek mati di pelihara Uci, mas itu mau melihara bebek."


Suci menggaruk tengkuknya tidak gatal, sikap aneh suaminya semakin menjadi-jadi.


" Mas jangan aneh-aneh deh!"


" Aneh bagai mana Uci? Memelihara bebek bukan sebuah kesalahan."

__ADS_1


Suci semakin di buat kesel sama suaminya, bebek itu tidak ada lucu-lucunya yang ada nanti seluruh rumahnya bau kotoran bebek. Gus Adnan langsung mengambil bebek yang beranjak remaja.


" Mas jangan banyak-banyak dong belinya."


" Ini itu baru enam Uci, mas maunya beli lima belas."


Suci ingin sekalih memukul suaminya itu yang semakin menyebalkan, tapi ia ingat kalau ia sangat cinta mati sama suamunya.


" Mas, mereka mau di simpan di mana?"


" Di halaman belakang Uci, lagian halaman belakang masih kosong."


" Enggak boleh! Itu mau Uci tanamin buah-buahan mas."


" Buah bisa beli Uci, ngapain harus nanam, lebih baik buat kandang bebek."


Sebenarnya memang Suci tidak berpikir untuk menanan buah-buahan, tapi ia tidak mau kalau halaman belakangnya jadi bau kotoran bebek. Sekarang mereka sudah ada di mobil, sudah menuju ke arah pulang.


" Mas, nanti kita ke rumah Umi iya."


" Mau ngapain Uci?"


" Boleh Uci, asalkan sama kamu."


" Kenapa mas semakin aneh?! Dapat karma baru tau rasa nanti!"


" Dalam islam tidak ada namanya karma Uci!"


" Apa iya mas?"


Suci mengurutkan keningnya bingung, benarkah dalam islam tidak ada karma? Lantas kenapa Gus Adnan mengatakan setiap hal pasti ada timbal baliknya? Bukan'kah itu sama saja dengan karma?


" Iya, pertama kamu harus memahami dulu apa itu yang di sebut dengan karma. Istilah karma sendiri berasal dari ajaran agama Hindu dan Budha, yang di pastikan tidak memiliki arti timbal balik saja. Dalam konsep Hindu-Budha, kehidupan saat ini adalah merupakan akibat dari akumalasi dan kumpulan perbuatan yang sudah di lakukan dari masa lalu, yang di sebut sanchita karmaphala. Begitu pula sebaliknya kehidupan kita saat ini menjadi penentu dari kelahiran kembali pada masa yang akan datang, atau yang biasa di sebut kryamana karmaphala."


" Maksudnya gimana mas Uci enggak mengerti?"


" Kamu tau reinkarnasi?"


Suci hanya mejawab dengan anggukan kepala.


" Nah konsep karma dalam Hindu-Budha berkaitan dengan peristiwa reinkarnsi. Istilah mudahnya, apa pun yang di lakukan di masa sekarang, akan menja penetu di reinkarnasinya yang masa akan mendatang. Dalam islam sendiri tidak meyakini adanya reinkarnasi, mangkannya tidak ada istilah karma dalam islam. Dalam islam memang ada yang hampir sama dengan karma, di mana kita melakukan kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali pada kita, begitu pula sebaliknya, hanya saja namanya bukan karma, melainkan kifarat."

__ADS_1


" Kifarat?"


Gus Adnan mengangguk sambil tersenyum.


" Kifarat adalah balasan di dunia, akibat dosa yang di lakukan oleh seorang hamba, yang bisa saja dalam bentuk ujian. Konsep kifarat sendiri bukan untuk membalas perbuatan jahat seorang hamba, melainkan untuk menghapus dosa yang lalu, sehingga dosa itu tidak membebani kita di akhirat kelak. Namen kamu harus tau Uci, Allah itu maha pemurah dan maha penyayang, sesungguhnya di setiap balasan pasti ada hikmahnya. Uci, mungkin saja ujian yang telah kita lalui adalah kifarat dari perbuatan kita sebelumnya, tapi kita harus yakin kalau itu adalah bentuk kasih sayang Allah. Namen kembali pada kita sendiri, apa kita akan sabar atau kita akan menyerah."


Suci kini mengerti, walau pun antara karma dan kifarat yang memiliki hampir sama, tapi dalam konsep ke duanya memiliki perbedaan yang signifikan.


" Uci, ingat satu hadist yang mengtakan bahwa: Tidaklah seorang muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegundahan, kesedihan, kesakitan mau pun keduka citaan. Bahkan tertusuk duri sekali pun, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan apa yang menimpanya itu. Apa sudah mengerti sayang?"


" Iya mas Uci sudah mengerti, terima kasih mas, terus mengajari Uci dalam tentang islam."


" Sama-sama Uci, kamu adalah istri mas, jadi sudah kewajiban mas mengajari semua hal padamu."


" Termasuk making love iya mas?"


Gus Adnan menggeleng-geleng kepalanya, di sasaat sedang serius, istrinya masih saja berpikir tentang berbau mesum.


" Ih mas, enggak bilang iya, entar malam enggak Uci kasih jatah!"


" Dosa Uci kalau seorang istri enggak kasih hak suaminya, harusnya seorang istri itu harus menawarkan lebih dulu."


Suci mengerutkan keningnya bingung, ia pikir suaminya akan marah karena ucapannya, tapi ternyata suaminya juga mengatakan hal mesum juga.


" Uci, besok mungkin mas harus mencari asisten rumah tangga, biar kamu tidak terlalu capek."


" Tidak perlu mas, Uci masih bisa buat mengerjakan pekerjaan rumah, lagian juga tiap hari di bantuin sama mas."


" Iya tapi lebih enak saja kalau mas pergi untuk mengajar, kamu ada temannya."


" Enggak usah mas, lagian sendiri saja sudah biasa, nanti juga kalau ada apa-apa Uci telpon mas."


" Baiklah sayang."


Suci tersenyum saat mendengar ucapan suaminya yang lagi-lagi.memanggil sayang, suaminya sudah sedikit hangat, tidak seperti dulu yang hanya bersikap dingin, walau pun perhatian, tapi dulu tidak romantis. Suci yang tidak ingin mengambil asisten rumah tangga bukan karena ia tidak ingin asisten rumah tangga, tapi ia hanya ingin menghemat pengeluaran, walau pun memang suaminya pasti mampu, tapi selama ia masih bisa untuk mengerjakannya kenapa harus mengambil asisten rumah tangga? Mereka sampai di rumah. Suci dan Gus Adnan langsung turun dari mobil.


" Mas, setelah ini cepat mandi, tangan mas bau bebek. Kalau bau bebek nanti enggak boleh peluk Uci."


" Iya Sayang."


Setelah mendengar jawaban dari suaminya, Suci lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Gus Adnan sibuk mengurus bebek-bebeknya yang baru ia beli tadi

__ADS_1


__ADS_2