
Suci merasa bingung karena Gus Adnan pergi begitu saja setelah mengatakan Gus Adnan mau mejadi suaminya. Suci tersenyum senang, walau pun itu entah candaan Gus Adnan agar ia tidak menangis lagi atau itu memang dari hati Gus Adnan yang sebenarnya, ia juga tidak tau, yang jelas ia bahagia
" Apa mungkin aku mencintai Gus Adnan? Benarkah semudah itu aku melupakan Rey?" batin Suci
Suci niatnya akan kembali ke asrama putri, tapi saat melihat ke arah gerbang ada tiga sahabatnya yang berdiri di sana
" Ah...! Kalian...! Aku kangen...!"
Suci berlari kecil sambil berteriak ke arah mereka, sedangkan para santri yang sedang berlalu-lalang sangat heran melihat Suci yang sangat bahagia dan teriak, karena sudah beberapa bulan para santri melihat Suci murung dan tidak pernah berbuat ulah. Suci langsung memeleuk ke tiga sahabatnya berbarengan. Rasa rindu mereka juga seperti Suci, mereka sangat merindukan Suci dan kuatir pada Suci. Setelah sekitar satu menit, mereka melepaskan pelukannya
" Kamu nggak apa-apa'kan?"
Siska memutar seluruh tubuh Suci, ia memastikan kalau Suci memang baik-baik saja
" Apaan sih Sis, aku baik-baik saja. Oh iya kalian datang kesini ada apa? Jangan bilang ini ide gila Sisil yang ingin bertemu dengan Gus Adnan?"
Suci bertanya seperti itu karena saat itu hanya Sisil yang mengajak berkenalan dengan Gus Adan
" Ih aku kuatir tau sama kamu Uci, jahat banget kamu langsung berpikir negatif, tapi kalau bertemu dengan Gus Adnan itu namanya rejeki nomplok."
" Dasar! Nggak pernah berubah! Ada cowok tampan dikit langsung suka."
" Nggak gitu juga kali Uci, aku suka sama Gus Adnan itu dengan sekali lirik, hahaha!"
Siska dan Sella hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mereka berdua tidak mengerti dengan ucapan Sisil, seriuskan Sisil mencintai Gus Adnan? Atau hanya candaan semata, karena Sisil baru saja berpacaran dengan Samuel. Samuel adalah lelaki yang membuat Sisil jatuh cinta dalam pandangan pertama, pertemuan mereka saat itu di sekolah dasar, hingga Sisil harus pergi ke luar negri, karena orang tuanya akan berbisnis di sana dan kembali lagi ke Indonesian setelah ia masuk kelas dua SMK, mereka mejadi tidak saling kenal, Sisil yang masuk geng 4S dan Samuel masuk ke geng R2S. Yaitu yang terdiri dari nama Raka Rangga dan Samuel. Terlebih saat itu Raka selalu mencari masalah pada Suci, membuat mereka berdua enggan untuk bertegur sapa dan memastikan kalau mereka sudah kenal atau belum, tapi setelah Samuel bergabung dengan geng Reki, akhirnya mereka saling tegur sapa dan memastikan kalau mereka sudah kenal atau belum, di situ kedekatan mereka mulai terlihat, hingga Samuel menyatakan cintanya satu minggu yang lalu dan Sisil juga menerima cinta Samuel.
" Oh iya, aku capek nie berdiri terus, apa nggak mau ajak kita kemana saja, atau ajak bertemu dengan Gus Adnan."
Senyuman Sisil merekah, ia memang saat pertemuan pertama dengan Gus Adnan merasa sangat senang dan menginginkan memiliki suami yang ta'at agama, tapi berbeda dengan sekarang, ia sadar kalau melihat Gus Adnan hanyalah mengaguminya, karena sekarang ia sudah memiliki lelaki idamannya setelah berpisah bertahun-tahun, akhirnya ia di pertemukan kembali dengan lelaki yang ia cintai selama ini
__ADS_1
" Nggak bisa, secara pakaian kalian ini bikin semua santri bakalan marah sama aku, kita pergi ke kedai saja iya?"
" Oke deh Uci, walau pun nggak jadi bertemu dengan Gus Adnan, yang penykng aku sudah melihat ke adaanmu."
" Kang santri, Uci mau ke kedai dulu, nggak lama hanya sekitar 40 menit, kurang lebih."
Kang santri penjaga gerbang itu menatap ke arah Suci sekilas, bisa ia lihat kalau Suci tersenyum bahagia, sudah beberapa bulan kang santri tidak mendengar Suci membuat rusuh, akhirnya ia memperbolehkan Suci pergi
" Iya, awas iya jangan lebih dari 40 menit."
" Siap kang."
Suci mengatakan siap kang sambil tangannya seperti hormat pada kang santri, biasanya ia berdebat dulu dengan kang santri, tapi kali ini tidak, karena Suci mau ngobrol dengan sahabat wanitanya. Suci langsung masuk ke mobil bersama tiga sahabatnya, yang menyetir adalah Siska, memang Siskalah yang membawa mobil, karena jarak yang sangat jauh jadi ia memutuskan untuk membawa mobil, takut ke hujanan di jalan kalau membawa motor
" Tumben Sis, kamu bawa mobil? Aku pikir kamu nggak bisa bawa mobil."
" Aku bukan nggak bisa, aku hanya malas kalau macet, jadi aku sering-seringnya bawa motor."
" Kenapa nggak jujur sih kalau saat itu kamu belajar bawa motor hingga sampai bisa bawa motor karena sedang mengejar Cinta Re."
Sella langsung menyikut Sisil, karena Sella duduk di sebelah Sisil sedangkan Suci duduk di depan bersama Siska. Sella menatap mata Sisil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia tidak ingin Suci tau kalau Siska mencintai Reyhan. Sisil menutup mulutnya sendiri, hampir saja ia keceplosan. Sedangkan Siska sudah meremas kemudi, karena mulut Sisil hampir saja membocorkan tentang ia mencintai Reyhan. Suci melihat ke arah belakang
" Kenapa tidak di lanjutkan? Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?"
" Tidak Uci, mana mungkin kita menyimpan rahasia."
Sisil berbicara sambil tersenyum kecut, ia memang tidak sengaja, kalau akan mengatakan nama Reyhan. Suci hanya mengangguk, lalu pandangannya melihat ke arah depan lagi. Sebenarnya Suci tau kalau Sisil akan mengatakan nama Reyhan, tapi ia tidak ingin memperpanjang masalahnya, terlebih ia juga salah, karena tidak pernah mengetahui kalau Siska mencintai Reyhan, dan lebih salah lagi saat meninggalnya Reyhan ada kaitanya dengan Jonatan. Mereka sampai di kedai, mereka juga sudah pesan minuman dan cemilan di sana
" Oh iya, kalian kesini ada apa? Tumben banget."
__ADS_1
Suci menatap ke arah tiga sahabatnya dengan wajah yang serius
" Kita hanya takut, kalau kamu akan seperti Ellen, jadi kita hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja di sini, bahagia dan tanpa beban."
Mata Suci membulat sempurna, saat mendengar jawaban dari Sella
" Apa yang terjadi pada Ellen? Apa pak Mahendra?"
Suci menghentikan ucapanya, wajahnya pucat, ia berpikir kalau Ellen meninggal, ia berpikir kalau pak Mahendra dendam pada Ellen dan mengatakan kalau nyawa harus di bayar dengan nyawa
" Uci, kamu kenapa?!"
Siska sedikit panik saat melihat wajah Suci yang berubah jadi pucat
" Ma-maksudmu Ellen?"
Suci bertanya terbata-bata, lagi-lagi ia menggantungkan ucapannya. Sisil tertawa menggema, hingga seluruh pengujung kedai menatap ke arah meja mereka. Sedangkan Siska dan Sella masih bingung dengan maksud ucapan dari Suci
" Kamu kenapa ketawa?! Bukannya panik lihat wajah Suci pucat?!"
Sella membentak Sisil yang tiba-tiba tertawa
" Lagian aku suka lihat Suci yang panik, jarang-jarang lihat mantan ketua geng kita panik."
" Iya tau, terus maksudnya?"
Sella bertanya dengan menaikan satu alisnya
" Aku yakin kalau Suci berpikir Ellen meninggal, otak Suci selalu berpikir buntu."
__ADS_1
Tawa Sisil kembali menggema, ia tidak peduli dengan pengujung kedai yang menatap ke arahnya