Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 86 Ngidam


__ADS_3

Setelah mengantar istrinya kemarin, hari ini Gus Adnan muntah-muntah.


Huwek... Huwek...


Gus Adnan terus memuntahkan isi perutnya. Suci dengan sabar memijat tengkuk suaminya.


" Mas, kenapa? Kita ke dokter yuk?"


Gus Adnan menyadarkan tubuhnya di westafel, ia memijat keningnya yang merasa pusing.


" Uci, jangan pakai parfum itu, mas mual mencium aroma parfum itu."


Suci mengerutkan keningnya tidak percaya, kalau suaminya mual karena aroma parfumnya.


" Parfum ini itu dapat beli mas loh."


" Buang saja!"


" Hah?!"


Suci sangat terkejut dan tidak percaya dengan ucapan dari suaminya.


" Mas jangan aneh-aneh."


Huwek... Huwek...


Gus Adnan muntah kembali, kepalanya semakin merasa pusing.


" Pergi Uci! Buang parfum yang kamu pakai dan sekalian buang gamis yang kamu pakai!"


" Astagfirullah mas, kamu ada-ada saja."


" Cepat Uci!"


Mau tidak mau Suci keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang sangat kesal, karena pagi-pagi suaminya sudah membuat keributan. Suci langsung mengganti gamisnya, ia tidak ingin lagi terkena omelan dari suaminya. Gus Adnan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat kusut, dan tubuhnya sangat lemas, ia juga tidak mengerti kenapa mejadi sensitif. Tiba-tiba mata Gus Adnan berbinar, saat melihat istrinya yang sudah mengganti baju, ia segera memeluk istrinya dari belakang, dan menghirup aroma tubuh istrinya yang menenangkan.


" Aroma tubuhmu jauh lebih wangi, dari pada memakai parfum."


" Alasan! Bilang saja biar irit!"


" Tidak sayang, mas lebih suka kamu seperti ini."


Gus Ali menyadarkan dagunya di bahu istrinya. Suci mengerutkan keningnya bingung, apa suaminya itu masih waras? Melihat perlakuan suaminya yang begitu sangat romantis, biasanya suaminya itu cuek tanpa ekspresi.


" Apa mas masih waras?"


Gus Adnan tidak mejawab pertanyaan dari istrinya, ia langsung melepaskan pelukannya, lalu langsung duduk di atas ranjang dengan wajah cemberutnya. Suci yang melihat itu jadi bingung.


"Apa Mas Adnan merajuk'kah?" batin Suci


" Uci!"

__ADS_1


" Iya mas."


" Panggil sayang dong Uci! Kamu itu sama suami tidak ada romantis-romantisnya!"


Suci membulatkan matanya, ia bingung dengan ucapan dari suaminya, bukan'kah biasanya suaminya yang tidak ada romantis-romantisnya bukan ia?


" Iya mas Adnan sayang ada apa?"


Suci masih sabar menghadapi sikap aneh dari suaminya, bersyukur ia cinta mati pada suaminya, kalau tidak suaminya itu sudah di jadikan daging cingcang olehnya.


" Sini duduk di samping mas."


Suci mengangguk, lalu ia duduk di samping suaminya.


" Uci, pijatin kepala mas dong."


" Mau pijat plus-plus sekalian enggak mas sayang?"


" Nanti malam saja Uci, sekarang masih pagi."


Suci hanya tercengang saat mendengar jawaban dari suaminya, ia merasa heran, suaminya itu tidak menceramahinya saat ia berbicara seperti itu, biasanya sudah di ceramahi habis-habisan, tapi sekarang suaminya menyambut baik tawarannya.


" Kita jalan-jalan yuk Uci? Mas ingin makan seblak."


Suci kembali di buat bingung dengan suaminya, suaminya itu paling tidak suka yang namanya seblak.


" Mas sayang ngidam iya?"


" Cepat ganti baju kamu pakai gamis warna biru, biar sama seperti baju mas sekarang."


" Hah?!"


Suci terkejut dengan tingkah aneh suaminya, ia baru saja mengganti baju, dan sekarang suaminya menyuruh ia untuk mengganti baju lagi.


" Tapi mas sayang, Uci baru ganti baju."


" Tidak mau tau, pokonya harus ganti baju."


Gus Adnan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, ia membelakangi istrinya.


" Ya merajuk lagi." batin Suci


Suci menepuk keningnya sendiri dengan kasar


" Bisa-bisa gila aku kalau mas Adnan seperti ini terus." batin Suci


Suci langsung berdiri, ia langsung berjalan ke depan Gus Adnan, ia memegang ke dua tangan suaminya sambil berjongkok, ia bisa melihat wajah cemberut suaminya.


" Mas sayang, sudahan iya ngambeknya, Uci ganti baju nie, mau pakai warna apa tadi mas sayang bilang?"


" Warna biru!"

__ADS_1


Suci tersenyum lebar, melihat wajah merajuk suaminya yang sangat lucu, wajah cemberut suaminya seperti anak-anak yang berusia 5 tahun. Suci langsung berdiri, ia langsung mencum pipi suaminya yang terlihat menggemaskan.


" Sudah senyum dong mas sayang, Uci sudah cium mas sayang loh, sekarang Uci mau ganti baju."


" Mas maunya satu lagi, kalau hanya satu tidak adil."


Gus Adnan menujuk pipi kanannya yang belum mendapat ciuman dari istrinya. Suci kembali mencium pipi suaminya yang kanan, setelah itu ia menatap suaminya yang masih cemberut.


" Ko masih cemberut saja mas sayang?"


" Yang ini belum mendapat ciuman."


Gus Adnan menujuk ke arah keningnya. Suci yang melihat itu sangat kesal, ia ingin sekali memukul suaminya yang sudah seperti anak-anak.


" Ini sebenarnya aku yang sudah gila? Atau suamiku yang sudah benar-benar gila? Ko aku seperti sedang berhadapan dengan anak yang berusia 5 tahun." batin Suci


Suci terus saja berbicara di dalam hatinya, saat melihat kelakuan suaminya yang begitu sangat aneh.


" Cepat dong cium keningnya Uci, mas sudah ingin beli seblak."


Suci sadar dari lamunannya, ia langsung mencium kening suaminya.


" Sudah, sekarang Uci mau ganti baju dulu mas sayang."


" Tapi yang ini juga belum."


Gus Adnan menujuk bibirnya yang belum mendapatkan ciuman. Suci ingin sekali mejerit saat melihat kelakuan aneh suaminya.


" Ya Allah Mas, kamu lagi menguji kesabaranku atau sedang mengerjaiku." batin Suci


Suci menghela nafasnya kasar, ia sudah sangat kesal pada suaminya, suaminya itu menguras habis kesabarannya. Suci langsung mencum bibir suaminya, bukan sebatas ciuman biasa, ia juga menggigit pelan bibir suaminya sambil tersenyum. Sebenarnya Suci sudah ingin menggigit kasar bibir suaminya, karena ia merasa sedang di permainkan, tapi mengingat suaminyan tadi merajuk, ia tidak mau lagi berurusan dengan suaminya, ia takut kelakuan aneh suaminya semakin menjadi-jadi.


" Mas maunya cium, bukan gigitan Uci!"


" Mas jangan terus menguji kesabaran Uci! Nanti Uci gigit habis bibir mas!"


" Ko kamu jahat sama mas?"


Gus Adnan semakin cemberut. Suci langsung mengacak-acak rambutnya sendiri, kelakuan suaminya membuatnya sudah seperti orang gila.


" Uci, kalau mas merajuk itu di bujuk, bukan sibuk ngacak-ngacak rambut sendiri."


" Astagfirullah mas! Kalau mas terus begini Uci bisa benar-benar gila!"


Suci berbicara dengan nada berteriak, tingkah aneh suaminya memang bisa saja membuatnya gila.


" Mas enggak lakuin apa-apa."


" Iya terserah mas deh, Uci pusing sendiri melihat tingkah mas."


Suci langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka, agar otak dan pikiranya bekerja dengan setabil, kalau tidak ia akan semakin gila menghadapi suaminya yang sudah seperti anak 5 tahun. Suci membasuh wajahnya, ia menatap wajahnya di cermin, matanya terlihat memerah karena menahan marah karena kelakuan suaminya. Setelah keluar dari kamar mandi suaminya masih di posisi yang sama. Suci memutuskan untuk mencari gamis biru, lalu ia langsung memakai gamis biru itu.

__ADS_1


" Mas mas, kelakuan kamu aneh-aneh saja, minta di panggil sayang, minta di cium, terus merajuk dan minta pakai gamis warna biru."


__ADS_2