
Masalah Indra sudah selsai, Indra di ponis penjara 20 tahun dan denda seratus juta rupiah. Sedangkan pak Samsul di penjara 25 tahun, hanya Siska yang di penjara 5 tahun. Gus Adnan dan istrinya bersyukur karena akhirnya permasalahan itu selsai, mereka sudah bisa bernafas lega. Sekarang kandungan Suci sudah mamasuki usia 9 bulan. Mereka berdua tinggal menantikan sang buah hati yang entah tinggal berapa hari lagi keluar, karena mereka juga tidak tau. Tiba-tiba perut Suci terasa mules.
" Aduh mas, perut Uci sakit."
Gus Adnan yang sedang sibuk dengan laptopnya, ia langsung mendekati istrinya yang duduk di sofa. Gus Adnan langsung berjongkok di depan istrinya.
"Kenapa Uci?"
" Perut Uci sakit mas."
Gus Adnan sangat tetkejut, mungkin istrinya akan melahirkan, dan ia juga berharap dugaannya benar.
" Uci, apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?"
" Aduh mas sakit banget perut Uci."
" Ayo kita ke rumah sakit Uci."
Gus Adnan langsung menggendong tubuh istrinya.
" Pak cepat buka pintu mobil."
" Iya Gus."
Supir yang bernama pak Arta itu langsung membukakan pintu mobilnya untuk Gus Adnan. Memang setelah kecelakan saat itu, Gus Adnan mengambil supir. Setelah masuk pak Arta langsung melajukan mobilnya.
" Cepatan dong pak, sakit nie."
" Iya ning."
Pak Arta melajukan kecepatannya hingga mereka sampai di rumah sakit. Sampai di rumah sakit Suci langsung diobserpasi oleh dokter jaga. Setelah Suci di pastikan akan melahirkan, Suci langsung di bawa ke ruangan bersalin. Keributan terjadi karena Gus Adnan tidak mau kalau istrinya di tangani oleh dokter laki-laki.
" Mas, jangan ribut dong! Anaknya sudah enggak kuat mau berojol!"
" Pokonya saya tidak mau tau, dokternya harus perempuan!"
" Pak, kami sudah di sumpah, yang penting nyawa anak dan istri bapak tertolong."
Suci merasa sangat kesal, kontraksinya sudah lebih sering, tapi suaminya masih saja meributkan hal yang tidak penting. Suci menarik tangan suaminya, setelah itu langsung menjewer telinga suaminya sangag kuat, masa bodo mau di bilang tidak sopan, yang penting ia membutuhkan pegangan untuk menetralkan rasa sakitnya.
" Akhhh Uci jangan pegang telinga mas, tangan mas saja Uci."
" Enggak mau! Dokter ayo cepatan sepertinya anaknya sudah mau brojol! Aduh."
Dokter Rian segera ke posisinya, ia tidak peduli dengan tatapan tajam dari Gus Adnan.
__ADS_1
" Dokter saya."
Gus Adnan belum menyelsaikan pembicaraannya, tapi istrinya sudah memotong ucapannya.
" Diam deh mas! Anak kita sudah mau brojol! Ko di cegah terus?!"
" Uci, cepat lepas telinga mas sayang, nanti telinga mas lepas."
" Akkhhh, aduh sakit! Mas jangan bawel dong! Masih bersyukur Uci enggak tarik tetong mas!"
Semua yang ada di ruangan itu menahan tawanya, mereka merasa takjub dengan sepasang suami istri itu, karena sifat ke duanya sangat bertolak belakang. Dua jam Suci berjuang mempertaruhkan nyawanya sendiri demi untuk malaikat kecil mereka lahirkan ke dunia. Perjuangan seorang ibu, perjuangan yang tidak akan bisa di balas dengan apa pun yang ada di dunia.
" Terima kasih Uci, kamu hebat, mas bangga sama kamu."
Gus Adnan meneteskan air mata bahagia, ia mengecup seluruh wajah istrinya, mereka menangis bersama menyambut anggota baru, keluarga kecilnya. Tangan Gus Adan bergetar saat menggendong anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki, ada rasa cinta dan bangga untuk putranya. Gus Adnan mengazani putranya dengan lirih, suaranya bergetar ketika takbir di ucapkan. Setelah itu Gus Adnan membacakan do'a pada putranya. Suci terharu saat melihat suaminya membacakan do'a untuk putranya.
" Semoga kamu menjadi putra yang selalu menjunjung tinggi kebenaran, menjadi kebanggaan orang tua, dan selau menegakan agama Allah. Nak, semoga kamu selalu ada dalam ridho Allah."
...***************...
Sekarang Suci sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Gus Adnan tidak pernah beranjank dari sisi istrinya, terkecuali ia akan melaksanakan sholat dan hal penting lainnya. Ke dua orang tua Gus Adnan dan orang tua Suci sudah datang, untuk menyambut cucu pertama mereka
" Nak, sudah menyiapkan nama belum?"
Abi Gus Adnan langsung bertanya pada mereka berdua.
" Alhamdulilah kalau sudah memiliki nama."
Khodijah langsung menggendong Zayyan, wajah Zayyan bahkan sangat mirip dangan Gus Adnan, bahkan Umi Mariyam juga berkata kalau Zayyan mirip seperti Gus Adnan saat kecil.
" Harapan bunda cuma satu, semoga Zayyan tidak mewarisi sifat uminya."
" Ih Bunda kejam banget sumpah!"
Suci tidak habis pikir dengan ucapan bundanya yang begitu santai.
" Memang bunda salah? Orang sifat kamu itu membuat bunda dan Ayah pusing."
" Biarin sifat Uci bikin Bunda dan Ayah pusing, yang penting mas Adnan merasa alhamdulilah bisa menjadi suami Uci, iya kan mas?"
" Iya sayang."
Gus Adnan menepuk kepala istrinya layaknya anak kecil.
" Tuh bunda dengarin, Uci itu aslinya membawa berkah!"
__ADS_1
Sedangkan yang lain hanya menggeleng pelan melihat kelakuan Suci.
" Ayah."
" Iya Uci?"
" Zayyan sudah lahir nie yah."
Gus Ali menyeritkan keningnya bingung, karena tanpa di kasih tau juga ia sudah melihat cucunya, ia yakin kalau putrinya itu sedang merencanakan sesuatu, karena ia sudah hapal betul sifat putrinya.
" Ayah sudah tau, memangnya kenapa Uci?"
" Memangnya Ayah enggak ada niat untuk mengalihkan aset? Cucumu ini juga butuh warisan juga."
Gus Ali sangat terkejut dengan ucapan putrinya, sedangkan yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Astagfirullah Uci, jangan mulai!"
" Ih mas, orang lagi memperjuangkan masa depan Zayyan."
" Mas akan berusaha untuk masa depan anak-anak kita nanti Uci, setiap anak membawa rezekinya masing-masing, kamu jangan malu-maluin mas di depan Ayah."
" Cie-cie anak-anak."
Suci mencolek hidung suaminya yang menurut ia sangat menggemaskan.
" Jangan langsung buat lagi mas, Uci saja baru melahirkan!"
Gus Adnan melebarkan matanya, ia tidak percaya kalau istrinya berpikir mesum di depan ke dua orang tua mereka, apakah istrinya itu tidak memiliki rasa malu sedikit pun? Kadang-kadang Gus Adnan heran dengan sifat istrinya yang selalu saja berbicara mesum.
" Jangan ngomong aneh-aneh Uci, malu-maluin mas saja!"
" Ih mas, Uci cuma ngasih tau, bukan malu-maluin, lagian ke dua orang tua mas dan orang tua Uci sudah tau, buktinya ada Uci dan mas? Bahkan kita sudah memberikan cucu pada mereka."
Ingin sekali Gus Adnan menyentil kening istrinya yang selalu berbicara tanpa tau malu.
" Hahaha... Bunda juga heran sifat Suci itu seperti siapa Adnan, karena Bunda sama Ayah dulu enggak pernah seperti itu, bahkan Ilham saja sifatnya tidak seperti itu, hanya Suci yang selalu berpikir aneh."
Khodijah tertawa sambil berbicara, memang ucapannya sesuai pakta, kalau sifat Suci memang berbeda sendiri.
" Jangan mulai mojokin Uci bunda! Sifat Uci pasti turun dari Bunda dan Ayah, kalau bukan dari Bunda dan Ayah dari siapa dong?"
Suci yang mendengar ucapan dari Bundanya, ia merasa kalau bundanya selalu saja memojokan sifatnya.
"Sifat kamu itu aneh Uci, Ayah dan Bunda dulu tidak seperti itu, Ilham juga kaka kamu tidak seperti itu, hanya kamu yang seperti itu."
__ADS_1
Suci hanya mencibir, ia sangat kesal pada Bundanya.