Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 35 Pirasat


__ADS_3

Sore ini Suci akan menemui Reyhan di kedai yang sudah mereka rencanakan kemarin. Suci sudah sangat merindukan pacarnya, terlebih lagi saat kejadian itu hingga sekarang ia sama sekali belum melihat Reyhan. Sore hari memang biasanya banyak santri yang keluar kompleks pesantren, tapi tentunya masih ada aturan yang di berikan dewan santri, mereka harus segera kembali maksimal 40 menit sebelum azan magrib. Butuh waktu 10 menit untuk Suci datang ke tempat yang mereka janjikan, di sana sudah ada Reyhan yang tersenyum lebar. Suci juga ikut tersenyum saat melihat lelaki yang di cintainya itu baik-baik saja


Reyhan langsung merentangkan tangannya, karena ini bukan di tempat pesantren, tapi Suci merasa malu karena sekarang memakai gamis dan hijab yang menutupi kepalanya, ia langsung mengambil tangan Reyhan untuk ia salami, ia juga menempelkannya di kening bukan di cium. Reyhan yang melihat perlakuan Suci, ia sangat terkejut, tapi tentu saja ia senang karena Suci sudah banyak berubah


" Calon istri salehah."


Suci hanya tersenyum, jelas-jelas ia ingin sekali menghambur ke pelukan Reyhan, tapi ia menahanya dan mencoba untuk membuktikan pada Reyhan kalau ia sekarang bisa berubah mejadi lebih baik lagi. Suci dan Reyhan langsung duduk dengan berlawanan, mereka juga sudah pesan minuman. Reyhan terus saja menatap Suci tidak henti-henti


" Rey, jangan menatapku seprti itu."


" Kamu semakin cantik sayang."


" Kalau aku tidak semakin cantik mana mungkin seorang Reyhan Mahendra terpesona padaku, yang ada nanti hanya aku yang terpesona padamu. Rey, tumben pakai baju kemeja putih?"


Ini pertama kalinya Suci melihat Reyhan memakai kemeja putih polos, biasanya Reyhan akan memakai kemeja batik-batik atau kemeja warna lain dan lengan pendek, tapi kali ini Reyhan mengenakan lengan panjang


" Oh, tadi aku sebelum ke sini meeting dulu sayang, kenapa? Kamu nggak suka kalau aku pakai kemeja seperti ini?"


" Suka, bahkan aura ketampananmu lebih terlihat."


" Bagai mana, di sini sayang sudah merasakan terbiasa belum?"


" Sudah Rey, aku menjadi sangat nyaman di sini."


" Syukurlah, aku senang mendengarnya, aku selalu mendukungmu, terlebih hal itu dalam hal kebaikan. Aku berharap sayang bisa lebih baik dari aku dalam hal apapun itu, maaf karena aku tidak bisa membimbing sayang ke jalan yang benar."


Suci langsung memegang tangan Reyhan yang di meja sambil tersenyum


" Rey, kamu adalah lelaki terbaik yang pernah aku kenal, kamu selalu lindungi aku. Selalu membelaku, selalu mengajariku dalam hal kebaikan, kamu itu orang terbaik yang selama ini hadir di hidupku. Aku berharap kita selalu bersama hingga maut memisahkan kita. Aku sayang dan cinta kamu Rey."


Reyhan menatap Suci dengan pandangan yang berbeda, ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, ada rasa sedih saat mendengar Suci mengatakan menyayanginya dan mencintainya, seharusnya ia mendengar itu sangat bahagia, tapi entah kenapa rasanya sakit


" Sayang, aku memang bisa memberimu kebahagiaan dunia, tapi aku tidak bisa memberikan kebahagiaan akhirat dan akan ada orang yang memberikan kebahagiaan sesungguhnya, tapi bukan aku."


" Maksudnya apa Rey?! Jangan bilang kalau kamu mau meninggalkan aku?!"


Suci berbicara sambil mengeluarkan air mata, tubuhnya gemetar, Reyhan adalah kelemahannya selama ini, semuanya ia lakukan untuk Reyhan, tapi Reyhan dengan teganya mengatakan hal yang seharusnya tidak Reyhan katakan


" Aku tidak tau sayang, tapi perasaan aku tidak enak, yang jelas perlu kamu tau, kalau cintaku ini tulus, selama aku ada, aku akan berusaha membuatmu bahagia, tapi jika memang terjadi sesuatu padaku, aku minta tolong lupakan aku."


Suci sudah berdiri, ia mendekati Reyhan ke samping meja. Reyhan juga ikut berdiri, ia juga ke samping meja

__ADS_1


" Aku nggak mengerti maksud kamu Rey, tolong jelasin."


Air mata Suci sudah mengalir deras, bahkan semakin deras, ia tidak mengerti apa maksud Reyhan


" Lebih baik sayang tidak mengerti, termasuk aku juga tidak tau."


Reyhan langsung menghapus air mata Suci yang mengalir, ia juga tidak tau apa yang ada di dalam pikirannya, yang jelas ada rasa berat saat menatap Suci


" Kalau begitu aku pamit iya sayang."


Suci masih diam, ia berpikir keras apa maksud ucapan Reyhan. Reyhan langsung mencoba menyadarkan lamunan Suci


" Sayang!"


" Rey, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"


Hanya itu yang ada di otak Suci setelah banyak berpikir


" Sudah aku bilang, aku mencintai sayang. Aku pulang sekarang iya, nggak enak bentar lagi magrib sayang, kamu sekarang adalah seorang santri."


Suci menghela nafas berkali-kali, sedetik kemudian ia langsung memeluk Reyhan, ia tidak peduli lagi dengan kata malu


Reyhan mengelus lembut punggung Suci, ia mencoba menahan air matanya, ia juga ingin menangis, tapi ia juga tidak tau kenapa bisa berbicara seperti itu. Reyhan langsung melepaskan pelukannya, ia tidak menggubris ucapan panjang lebar Suci


" Sayang, aku pulang iya."


Suci hanya mejawab dengan anggukan kepala, walau pun ia tidak rela, tapi jarak dari pesantren sampai ke jakarta sangatlah jauh, terlebih Reyhan membawa mobil, ia tidak ingin Reyhan terkena macet. Reyhan langsung melangkahkan kakinya, baru saja beberapa langkah Suci sudah teriak


" Rey! Aku mencintaimu!"


Reyhan berbalik sambil tersenyum, lalu ia langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya untuk pulang. Setelah Reyhan pergi Suci duduk di kedai lagi, ia masih betah lama-lama di sana dengan pikirannya yang masih memikirkan kata-kata Reyhan


" Nggak mungkin kalau Rey menghianatiku, hubungan kita sudah hampir 5 tahun."


Suci berbicara sendiri sambil kepalanya yang ia sadarkan di meja


" Suci."


Suci terkejut saat mendengar namanya di panggil oleh suara yang ia kenal, lelaki yang ia katakan kalau sudah siap mejadi istrinya saat berpidato kemarin


" Ya Allah, masalahku sudah banyak, kenapa Gus Adnan datang di saat seperti ini." batin Suci

__ADS_1


Suci mendongkakan kepalanya menatap ke arah Gus Adnan


" Sedang apa kamu di sini?"


" Gus juga sedang apa di sini?"


Suci bukannya menjawab, ia bahkan balik bertanya


" Saya tanya kamu! Kamu sedang apa di sini?!"


" Itu Gus, Uci sedang cari angin."


Suci tidak mungkin jujur, masalahnya sudah banyak, ia tidak ingin mendapatkan hukuman, terlebih tubuhnya yang sudah lemas dan gemetar dari tadi


" Pulang! Jam segini masih saja keluyuran! Coba sekali saja jangan melanggar peraturan!"


Suci mencoba tersenyum, ia langsung mengulurkan tangannya, lalu mengambil tangan Gus Adnan, ia langsung mencium tangan Gus Adnan


" Kata Gus juga kalau sama Gus harus salim dulu, jadi Gus jangan marah-marah sebelum Uci salim."


Perlakuan Suci membuat Gus Adnan tercengang


" Gus ke sini mau ngapain?"


" Mencari anak ayam."


" Apa sudah ketemu?"


" Sudah."


" Di mana?"


" Di depan saya."


Suci mencari kesana kemari, tidak menemukan anak ayam


" Jangan bilang kalau Gus ngatain Uci anak ayam?!"


" Bagus kalau otakmu masih berpungsi."


Suci mengalah saja walau pun di panggil anak ayam, karena mulutnya sudah tidak mampu untuk berdebat

__ADS_1


__ADS_2