
Sekarang Gus Adnan mengajak istrinya ke kantor polisi, sesuai keinginan istrinya yang ingin bertemu Siska dan Indra.
" Mas, boleh Uci sendiri saja untuk menemui mereka?"
" Tidak boleh."
" Mas, Uci mohon."
" Mas tidak ingin kamu kenapa-napa, gimana kalau mereka macam-macam sama kamu?"
" Tenang saja mas, ada petugas."
" Kamu lagi enggak merancanakan yang aneh-aneh'kan?"
" Tidak mas."
" Iya sudah jangan lama-lama."
" Uci juga pernah menjadi tahanan mas, yang jenguk hanya 10 menit paling lama."
" Sampai sekarang juga kamu masih menjadi tahanan."
Suci melebarkan matanya, ia tidak mengerti maksud suaminya, bukan'kah ia sudah bebas? Gus Adnan langsung mendekati telinga istrinya
" Kamu tahanan di hati mas."
Suci langsung tersenyum, walau pun gombalan suaminya sedikit aneh menurutnya yang masih terbilang kaku, tapi ia tetap suka. Suci langsung menunggu di ruang tunggu, yang pertama Suci temui adalah Siska, karena ia ingin mejenguk satu-persatu, agar bisa berbicara dengan leluasaan. Suci duduk di ruang tunggu. Tidak lama Siska di datang bersama petugas. Setelah petugas pergi Siska langsung menatap tajam Suci.
" Ngapain lo kesini?! Lo ingin ngetawain gue?!"
" Aku datang cuma ingin menjenguk kamu Sis, sebenci apa pun kamu ke aku, aku tidak akan pernah benci sama kamu. Walau pun kamu sudah tidak menganggap sahabat lagi sama aku, aku akan tetap menganggap kamu sahabat aku. Aku memang benci kelakuan kamu, tapi aku tidak pernah benci pisik kamu."
Siska sangat tercengang saat mendengar jawaban dari Suci. Siska tau Suci mudah membenci sesaorang, tapi ia tidak mengerti kenapa Suci tidak membencinya, jelas-jelas ia sudah melukai Suci saat itu.
" Kenapa kamu tidak membenciku? Aku adalah orang yang akan membunuhmu?"
Siska sudah mengganti kata lo gue dengan aku kamu. Suci tersenyum saat mendengar pertanyaan dari Siska yang sudah mengganti lo gue menjadi aku kamu.
__ADS_1
" Untuk apa aku benci kamu? Sama sekali enggak ada untungnya buat aku. Aku berharap kamu berubah menjdi lebih baik lagi Sis. Aku mungkin akan benci kalau kamu sampai membunuh janin yang ada di kandunganku, tapi janinku baik-baik saja Sis, jadi tidak ada gunanya aku marah padmu."
Siska membulatkan matanya saat mendengar kata janin, ia tidak percaya secepat itu Suci mengandung anaknya Gus Adnan. Siska yang awalnya merasa tidak bersalah pada Suci, ia jadi merasa bersalah, ia langsung duduk di lantai di samping Suci yang sedang duduk.
"Aku minta maaf Uci, aku sangat salah, aku menyakitimu karena aku benci sama kamu. Kamu semudah itu melupakan Rey, kamu seharusnya tidak datang kesini, aku tidak pantas untuk kamu lihat."
Air mata Siska langsung mengalir deras, ia bersyukur karena janin Suci selamat, kalau janin Suci tidak selamat mungkin seumur hidup ia akan menyesal, dan bisa jadi berakhir seperti Ellen di rumah sakit jiwa.
Suci langsung berdiri, ia membangunkan Siska, lalu langsung menghapus air mata Siska.
" Menangis tidak ada gunanya, menyesal tidak ada gunanya, tapi perbaiki dirimu untuk menjadi lebih baik lagi, dan belajar dari masa lalu bahwa kamu bisa jauh lebih baik dari masa lalu."
Siska yang di perlakukan seperti itu, ia tidak menganal sosok Suci yang dulu, sekarang Suci yang ada di depannya jauh lebih baik.
" Aku akan berusa, aku akan memperbaiki diri, aku menyesal, maafkan aku."
" Sudah aku maafkan Sis, sebelum kamu minta maaf sama aku, dan masalah Rey, sedikit pun aku tidak pernah melupakan Rey. Rey adalah sosok lelaki yang akan selalu aku kenang, karena Rey adalah orang yang paling berharga dalam hidupku. Kamu tau kalau Rey ingin aku bahagia dan ingin aku tidak terus menangisinya, karena sekuat apa pun aku menangisinya, Rey tidak akan kembali lagi dalam hidupku, aku hanya selalu berdo'a agar Rey di tempatkan di sisi terbaiknya. Aku memang sangat mencintai dan menyayangi Gus Adnan, suamiku, tapi aku tidak akan pernah melupakan sosok lelaki yang selama ini menjagaku."
Siska tersenyum pahit, jadi selama ini ia salah tentang Suci? Suci tidak pernah melupakan Reyhan, tapi Suci tetap mengenang sosok Reyhan, menurut ia memang ada benarnya, sekuat apa pun menangisi Reyhan, Reyhan tidak akan pernah kembali lagi, seharusnya ia juga seperti Suci, mendo'akan Reyhan agar di tempatkan di sisi terbaiknya, bukan sibuk merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Suci, dan berujung menjadi penyesalan.
" Jangan terus minta maaf, semua sudah terjadi, sekarang kamu waktunya masuk."
Suci langsung memeluk Siska, walau pun Siska sudah melakukan kejahatan, tapi menurut ia Siska tetap sahabatnya.
" Kamu jaga diri kamu."
" Iya Uci."
Setelah itu Siska langsung di bawa oleh petugas, dan sekarang Suci sedang menunggu Indra, ia ingin tau bagai mana nasib Indra. Suci tersenyum saat melihat Indra yang di giring oleh petugas. Sedangkan Indra menatap tajam Suci. Setelah petugas pergi, Suci langsung membuka pembicaraan.
" Baju lo bagus banget Indra, beli di mana?"
Indra menggeram marah, karena ia sekarang sedang memakai baju tahanan.
" Mau apa lo kesini?!"
Indra sudah tidak berbicara aku kamu seperti pertemuan terakhir bersama Suci saat Suci berada di tahanan. Suci tertawa saat mendengar pertanyaan dari Indra yang sangat marah.
__ADS_1
"Jangan marah-marah Indra, gue jadi takut."
Suci memandang Indra dengan menangkup ke dua pipinya seperti wanita polos.
" Sebenarnya gue kasihan sama lo Indra, gue sudah menganggap lo sahabat terdekat gue, tapi lo jahat sama gue, jadi lo berakhir di sini. Seharusnya sebelum lo menyusun rencana, lo harus mengingat kembali, kalau Suci Almuhamaira enggak akan pernah kalah."
" Dan lo juga harus ingat Suci! Gue belum kalah! Gue akan buat hidup lo tersiksa!"
Indra menatap Suci semakin tajam, tidak ada rasa cinta di sana, ia sekarang sangat benci pada Suci.
" Silahkan, siapa juga yang takut sama lo."
Suci menatap mata Indra dengan tatapan mata meremehkan, tapi ucapannya tetap tenang.
" Oh iya, lo tau enggak, pratner lo yang namanya Maya itu jadi penghuni rumah sakit jiwa, gue harap lo jadi penghunin neraka!"
Mereka saling menatap tajam dalam diam, sorot amarah dan sorot kebencian dari ke duanya. Waktu yang di berikan petugas untuk Indra sudah habis, Indra hendak di giring lagi oleh petugas ke dalam sel. Suci segera mengambil catter kecil dari tasnya, ia langsung meletakannya di tangan Indra dengan hati-hati, karena ia takut petugas mengetahuinnya. Suci langsung berbisik di telinga Indara
" Siapa tau lo mau bunuh diri, jadi gue cuma mempermudah jalan lo masuk neraka."
Indra langsung berteriak sambil di giring oleh petugas.
" Suci sialan!"
Suci hanya tertawa saat melihat Indra yang tersiksa.
" Lo yang sudah memaksa gue buat jahat Indra."
Setelah itu Suci menghampiri suaminya, ia langsung memeluk suaminya sekilas.
" Kenapa kamu terlihat senang? Kamu tidak berbuat macam-macam'kan?"
" Tidak mas, Uci cuma membuka jalan untuk Indra."
" Membuka jalan?"
Suci hanya tersenyum, lalu mengecup singkat pipi suaminya.
__ADS_1