Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 37 Mimpi buruk


__ADS_3

Sudah setengah bulan pertemuan Suci dengan Reyhan, setengah bulan pula, ia sering merenungkan ucapan Reyhan setiap malamnya, hatinya selalu gelisah, rasanya ia ingin sekali kabur dari pesantren untuk menemui Reyhan, tapi mengingat Reyhan yang melarangnya untuk kabur, membuat ia tidak bisa apa-apa. Suci membaringkan tubuhnya di ranjang, rasanya mengantuk, ia sudah beberapa hari tidak nyenyak tidur. Suci tertidur pulas hingga ia memimpikan Reyhan yang terbaring di jalan dengan darah yang keluar dari perutnya karena telah tertusuk pisau dan ada seorang wanita yang sedang berdiri sambil memegang pisau berlumur darah. Suci langsung menghampiri Reyhan, ia memangku kepala Reyhan dengan air mata yang mengalir deras


" Suci! Lo jahat berani bunuh Jonatan! Maka sebagai gantinya gue membunuh Rey, agar lo bisa rasain bagai mana yang gue rasain. Hahaha..... Hahaha....."


Suci menatap ke arah Ellen dengat air mata yang mengalir


" Gue nggak bunuh Jonatan!"


Suci melihat lagi ke bawah, ia melihat Reyhan yang sudah meneteskan air mata


" Sa-sayang ak-u tid-ak bisa un-tuk menjaga-mu, ka-mu har-us bisa mejaga diri-mu se-diri."


Setelah mengatakan itu Reyhan langsung menutup mata


" Tidak Rey! Kamu harus bangun hiks... Hiks... Kamu janji akan menikahi aku. Hiks... Hiks... Bangun Rey! Bangun!"


Bukan hanya di mimpi tapi di nyatanya juga Suci sedang menangis sambil tertidur, itu membuat Maya membangunkan Suci


" Uci! Bangun, kamu kenapa?"


" Tidak Rey!"


Suci bangun sambil teriak, air matanya sudah penuh, ia melihat sekelilingnya, ternyata ia mimpi, tapi ia langsung berdiri untuk menemu Gus Adnan


" Uci, kamu mau kemana?! Dan ada apa?!"


Maya melihat Suci dengan panik


" Aku harus menemui Gus Adnan, aku harus mastiin kalau Rey baik-baik saja!"


Suci langsung berlari ke arah kantor pesantren, ia tidak peduli di pandang aneh oleh para santri karena tidak memakai sendal. Suci langsung menggedor pintu dengan keras, harusnya ia mengetuk, tapi karena tidak sabar, ia layaknya seperti rentenir sedang menagih hutang


Bruk.... Bruk.... Bruk....


" Gus, Gus Adan!"


Suara Suci dan gedoran pintu yang sangat keras itu mengundang perhatian para santi di sana


Cklek

__ADS_1


Pintu itu terbuka, tapi bukan Gus Adnan yang keluar, melainkan ustaz Darma yang keluar


" Gus Adnan mana?"


Suci bertanya dengan tergesa-gesah


" Mau apa tanya Gus Adnan?"


Ustaz Darma bukan mejawab pertanyaan dari Suci, melainkan ia bertanya balik


" Kenapa jadi bertanya balik sih?! Kalau di tanya iya jawab!"


Ustaz Darma geram, mendengar bentakan dari Suci


" Kamu itu memang tidak pernah ada sopan santunnya!"


" Gus Adnan mana?!"


Suci tidak peduli dengan kata sopan, yang jelas ia harus menemukan Gus Adnan sekarang juga


" Barusan Gus Adnan di panggil oleh pak kiai, saya."


" Gus! Gus Adnan!"


Mereka yang sedang berada di ruang tamu sangat terkejut dengan Suci yang sangat tidak sopan. Gus Ilham berniat ingin menegur Suci, tapi karena melihat wajah Suci yang tidak biasa, akhirnya ia urungkan niatnya


" Ada apa Uci?"


Gus Wahyu bertanya dengan perasaan yang kuatir. Suci hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia langsung menghampiri Gus Adnan


" Gus, Uci mau pinjam ponsel Uci sekali saja, Uci mohon."


Suci menungkup kedua tanganya pada Gus Adnan. Gus Adnan, Gus Wahyu dan Gus Ilham menyeritkan keningnya bingung


" Untuk apa?"


" Untuk telpon Rey, Gus, ini penting."


Gus Ilham menatap Suci dengan syok, ia percaya kalau Reyhan akan menepati janjinya untuk memuntuskan Suci, tapi kali ini ia menatap wajah Suci yang sangat kuatir

__ADS_1


" Tidak bisa!"


Suci langsung menjatuhkan tubuhnya di depan Gus Adnan, ia langsung memohon sambil dengan air mata yang mengalir.


" Gus, Uci mohon tolong pinjemin ponsel Uci untuk kali ini saja, Uci janji tidak akan meminjamnya lagi."


Gus Adnan mengepalkan ke dua tangannya, tidak taukan bahwa kelakuan Suci membuatnya sangat cemburu, tapi ia juga tidak tega melihat Suci yang memohon sambil meneteskan air mata


" Uci, sepenting itukah Reyhan di hatimu?" batin Gus Adnan


" Uci, apa yang kamu lakukan? Kamu rela mejatuhkan harga dirimu hanya untuk lelaki lain?"


Gus Wahyu beranya dengan menahan amarah, ia yakin kalau ucapan Suci melukai hati Gus Adnan


" Om, Uci mohon, untuk saat ini jangan bahas apapun."


Gus Adnan pergi meninggalkan Suci yang semakin terisak, Suci tidak mendengar nasehat apa pun dari Gus Wahyu, pikiran dan hatinya hanya tertuju pada Reyhan, entah apa yang terjadi dengan Reyhan hingga Suci menjadi seperti ini.


" Uci, sebenarnya apa yang terjadi?"


Gus Ilham bertanya dengan raut wajah kuatir, ada rasa tidak tega melihat Suci seperti ini, tapi apa yang harus ia lakukan, ia hanyalah seorang kaka, sedangkan Gus Adnan lebih berhak terhadap Suci


" Uci mimpi buruk kak. Uci cuma mau mastiin keadaan Rey. Uci nggak mau kehilangan Rey."


Gus Ilham hanya diam, walau pun ia ingin sekali marah pada Suci yang belum bisa melupakan Reyhan, tapi di sisi lain ia tidak bisa menghakimi, ia tau kalau Reyhan orang baik dan akan selalu menepati janjinya


" Uci, dari kemarin om sudah terus sabar, tapi apa yang kamu lakukan sekarang?!"


" Om boleh marah-marah sama Uci, tapi nanti, setelah Uci memastikan keadaan Rey."


" Reyhan... Reyhan dan Reyhan. Om sudah bilang tinggalkan Reyhan Uci!"


Gus Ilham langsung duduk di depan Suci, ia langsung memeluk Suci yang semakin terisak, ia tidak tau harus berbuat apa, ia sangat kasihan pada Suci yang selalu di salahkan, ia juga merasa bersalah, andai saja ia tau Suci sudah mencintai Reyhan, ia akan mencari cara untuk tidak menikahkan Suci dengan lelaki lain, cukup ia yang merasakan pernikahan atas dasar perjodohan, walau pun berujung cinta setelah menikah, tapi menurut ia akan lebih indah kalau pernikahan itu di dasari rasa cinta, apa lagi lelaki seperti Reyhan yang baik, namen menutup kebaikan itu dengan pakaiannya, hingga tidak bisa menilai kalau Reyhan adala lelaki yang baik. Gus Ilham tau kalau agama melarang untuk berpacaran, tapi baginya tidak masalah kalau Suci berpacaran dengan Reyhan, karena Reyhan tau batasan, ia tau kalau Reyhan sangat mejaga Suci. Gus Adnan masih diam di balik pintu yang akan keluar, ia menghela nafasnya berkali-kali, mencoba menguatkan hatinya yang di bakar rasa cemburu


" Uci, kenapa kamu selalu saja kekeh untuk bersama Reyhan." batin Gus Adnan


Gus Adnan langsung melangkahkan kakinya masuk lagi, ia langsung msndekati Suci yang sedang di peluk oleh Gus Ilham


" Ambilah Uci, tapi untuk kali ini saja."

__ADS_1


Suci yang mendengar suara Gus Adnan, ia langsung melepaskan pelukan dari Gus Ilham, ia mendongkakan kepalannya yang penuh dengan air mata, ia tidak menyangka kalau Gus Adnan memberikan ponselnya, begitu pun dengan Gus Ilham dan Gus Wahyu, ia sangat terkejut, melihat Gus Adnan memberikan ponsel Suci begitu saja


__ADS_2