
Gus Adnan masih mengeratkan pelukannya saat Suci berkali-kali mendorongnya untuk melepaskan pelukannya. Suci juga berali-kali menghela nafas sambil menangis, ia juga berkali-kali mendorong Gus Adnan, ia tidak ingin Gus Adan mendapat dosa karenanya, ia tau kalau ia dan Gus Adnan bukan makhromnya, ia tau kalau Gus Adnan sangat ta'at pada agama, bahkan Gus Adnan selalu mejaga pandanganya, tapi ia tidak mengerti kenapa Gus Adnan selalu tidak mejaga jarak dengannya
" Gus, Uci mohon tolong lepaskan."
" Uci, mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi perlu kamu tau jika kamu sangat pantas bersama saya, saya tidak sesempurna itu, setiap orang pasti di ciptakan untuk berpasang-pasangan dan saling melengkapi kekurangan kita masing-masing. Sebenarnya ada satu hal yang belum kamu ketahui, sebenarnya saya adalah."
" Cukup Gus! Uci nggak mau dengar penjelasan lagi! Tolong lepaskan Uci Gus! Hiks...Hiks..."
Gus Adnan menghela nafas saat mendengar ucapan Suci yang memotong pembicaraannya, ia baru saja akan mengatakan saya adalah suamimu, tapi Suci langsung memotong ucapannya sambil menangis
" Suci tapi saya su-."
" Astaghfirullah....! Kalian sedang apa?!"
Mendengar pertanyaan dari sesaorang membuat Gus Adnan menghantikan ucapannya lagi dan saat itu juga Suci dengan Suci mendorong Gus Adnan dengan sangat kencang, karena ia panik buat Gus Adnan hilang ke seibangan, hampir saja Gus Adnan terjatuh. Gus Adnan mengelus dadanya, entah kekuatan dari mana Suci mendorongnya hingga sangat keras, jelas-jelas tadi Suci tidak memiliki tenaga
" Gus Adnan! Demi Allah saya tidak menyangka kalau seorang Gus melakukan hal itu!"
" Tolong jangan salah paham dulu, saya bisa jelaskan."
" Tidak perlu mencari pembelaan Gus! Saya lihat sendiri kalau Gus berhalwat dengan yang bukan makhromnya! Walau pun dirimu seorang Gus! Saya akan tetap melaporkan dirimu ke pak kiai!"
Gus Adnan mencoba menjelaskan, tapi tetap saja ustaz Darma tidak mendengarkan penjelasannya sedikit pun. Ustaz Darma langsung melaporkan kelakuan Gus Adnan bersama Suci yang tidak bisa ia percaya. Suci menunduk sambil berkali-kali menghela nafas berat, ia lagi-lagi selalu membuat orang susah atas kelakuannya.
" Gus, Uci minta maaf."
Suci minta maaf sambil masih menundukan kepalanya
" Tidak apa-apa Uci, jangan panik, semuanya baik-baik saja."
Gus Adnan langsung menggenggam erat tangan Suci, mungkin inilah saat yang tepat untuk mengatakan kalau ia suaminya, walau pun ini memang waktu yang tidak tepat, harus terperpergok berpelukan bersama Suci. Suci di buat bingung dengan sikap Gus Adnan, jelas-jelas namanya akan tercoreng, tapi Gus Adnan dengan wajah tenang dan menggenggam erat tangannya. Kini mereka sudah sampai di rumah kiai Habibi, bersama Ustaz Darma yang sudah hadir di sana. Di luar sana banyak santri yang berkerumun ingin tau, namen rumah kiai Habibi sengaja di tutup rapat. Banyak dari mereka yang berpikir negatif, mereka berpikir jika Suci lah yang membuat masalah untuk Gus Adnan, karena di pesantren itu hanya Suci yang membuat masalah, terlebih mereka melihat Gus Adnan menggandeng tangan Suci.
" Coba jelaskan Darma, sebenarnya ini ada apa?"
Kiai Habibi bertanya dengan suara yang sangat pelan, tapi tegas.
__ADS_1
" Mohon maaf sebelumnya pak kiai, saya tadi sedang berkeliling dan tidak sengaja melihat Gus Adnan dan Suci sedang berpelukan. Demi Allah saya tidak berbohong, mereka sudah melanggar aturan pesantren, apa lagi ini Gus Adnan, seharunya memberikan contoh yang baik untuk para santri."
" Apa benar begitu Adnan?"
" Iya benar pak kiai."
Gus Adnan menjawab dengan jujur, ia sama sekali tidak takut, berbeda dengan Suci yang sudah ketakutan
" Lagi-lagi Uci bikin kake kecewa." batin Suci
Saat Gus Ilham keluar dari kamar karena mendengar suara seperti banyak orang. Baru juga di depan pintu, Suci langsung berlari, lalu memeluk Gus Ilham
" Maafin Uci, kak. Uci lagi-lagi membuat kesalahan, Uci minta maaf, tolong kaka jangan marah pada Gus Adnan. Ini salah Uci, maaf, hiks... Hiks.. Uci masih tidak berubah, bahkan sekarang Uci menyeret orang yang sangat ta'at agama."
Gus Ilham tersenyum sambil membalas pelukan Suci, termasuk Kiai habibi juga ikut tersenyum.
" Semuanya akan baik-baik saja Uci, kamu harus dengar penjelasan mereka dulu."
Suci hanya mejawab dengan anggukan kepala, lalu ia langsung melepaskan pelukannya. Gus Ilham langsung menghapus air mata Suci
Suci lagi-lagi hanya menganggukan kepalanya. Gus Ilham menggandeng tangan Suci untuk mendekati mereka lagi. Ustaz Darma di buat bingung saat Suci memeluk Gus Ilham, bahkan Gus Ilham juga menggenggam tangan Suci, hanya saja obrolan mereka tidak jelas, karena kamar Gus Ilham di lantai dua, dan Suci tadi lari menaiki tangga hingga di depan pintu kamar Gus Ilham
" Begini Darma, sebenarnya ada hal yang belum kamu ketahui, tapi biarkan Gus Adnan yang mejelaskan."
Bukan hanya Ustaz Darma yang semakin di buat bingung, tapi Suci juga di buat bingung oleh ucapan kiai Habibi, ia menatap kiai Habibi dengan mata yang sedang bertanya. Sedangkan kiai Habibi hanya menatap Suci sambil mengangguk dan tersenyum
" Mungkin ini sudah saatnya mereka tau siapa Suci sebenarnya." batin kiai Habibi
" Begini ustaz Darma, tidak semua hal yang kita lihat itu sama seperti yang kita pikirkan, saya tidak berkhalwat atau bahkan berzina dengan yang bukan makhrom saya."
Gus Adnan langsung menatap Suci sambil tersenyum. Sedangkan Suci menatapnya dengan bertanya-tanya
" Suci memang istri saya."
Ustaz Darma membulatkan matanya, ia sangat terkejut saat mendengar penjelasan dari Gus Adnan. Sedangkan Suci menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak percaya kalau Gus Adnan itu suaminya, ia tidak merasa menikah dengan Gus Adnan, tapi Gus Adnan mengaku ia adalah istri Gus Adnan
__ADS_1
" Gu-Gus Adnan bilang apa tadi?"
" Kamu memang istri saya Suci, dan saya memang benar suami kamu."
Suci mundurkan kakinya beberapa langkah, dan tubuhnya terhuyung, tapi tiba-tiba Gus Ilham menahan tubuh Suci
" I-Istri?"
Suci langsung berdiri, ia menatap Gus Ilham
" Kaka, Uci nggak mimpikan?"
" Mas Adnan memang suami kamu."
" Nggak mungkin! Uci yakin ini cuma mimpi!"
Ustaz Darma heran kenapa Suci memanggil Gus Ilham dengan panggilan kaka. Kiai Habibi langsung menepuk pundak ustaz Darma yang ke bingungan
" Suci ini sebenarnya cucu saya, anak dari putra pertama saya. Suci adalah adik kandung Ilham."
" Ja-jadi Suci adalah anak kedua dari Gus Ali, pak kiai?"
" Iya, Suci memang anak keduanya."
Terbongkar sudah rahasia Suci yang menyembunyikan identitasnya. Suci masih tidak percaya kalau Gus Adnan adalah suaminya, kini ia bertanya pada Gus Wahyu
" Om, memangnya yang di katakan Gus Adnan itu benar?"
" Memang benar, Gus Adnan adalah suamimu."
Setelah mendengar jawaban dari Gus Wahyu, Suci langsung berlari ke kamarnya yang biasa di tempatinya saat di rumah kakenya. Suci menutup telinganya saat Gus Adnan memanggilnya di luar pintu kamarnya
" Ah Suci! Kenapa kamu jadi gila!" batin Suci
Suci tidak menganggap omongan mereka benar, tapi memnganggap dirinya sendiri sudah gila
__ADS_1