Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 9 Tawa Reyhan


__ADS_3

Reyhan mengerutkan keningnya dengan perasaan bingung, kenapa Suci mengatakan bukan hanya hatinya yang sakit, tapi juga rasa sakitnya menusuk hingga tulang, jelas-jelas ia tidak mengatakan sesuatu yang salah menurutnya


" Jadi selama ini aku tidak ada artinya di bandingkan dengan wanita itu?"


" Jelas kamu sangat berarti sayang."


" Tapi kamu tadi mengatakan wanita itu sangat berarti untukmu?"


Reyhan akhirnya menyadari alur pembicaraan dari Suci, kalau Suci salah paham dengan ucapanya, itu membuat tawa Reyhan pecah


" Hahaha..... Jadi kamu cemburu padanya?"


Suci yang melihat ekspresi Reyhan, ia sangat kesal


" Mana mungkin aku cemburu, aku tidak cemburu! Aku hanya kesal kalau kamu mengungkit mantanmu itu!"


Lagi-lagi ucapan Suci membuat Reyhan tertawa


" Hahaha... Bilang saja kalau cemburu sayang."


Reyhan menggoda Suci dengan mencolek pipi Suci


" Berhenti tertawa Rey! Aku sangat kesal padamu, kamu lelaki yang paling jahat, kamu masih saja mengenang masa lalu mantanmu dan kamu mengatakannya tanpa rasa malu denganku, ingat aku ini pacarmu Rey, aku bisa merasakan sakit hati dan hancur saat mendengar kenyataan kalau kamu rela mati untuknya."


" Sayang dia adalah mamaku, bukan pacarku."


Rasa kesal Suci mejadi rasa sedih, saat mendengar kalau yang meninggal adalah mama Reyhan dan Suci bisa melihat ekspresi Reyhan berubah saat mengatakan kata mama, wajahnya terlihat murung, ia yakin kalau pikiran Reyhan terlempar lagi ke masa lalu, ke masa-masa tersulit untuk Reyhan


" Maaf, seharusnya aku tidak banyak bertanya Rey."

__ADS_1


" Tidak apa-apa, kamu berhak tau masalah pribadiku. Mama meninggal saat aku masih duduk di bangku kelas satu SMP, di situlah aku mulai berubah, di situlah aku mejadi anak remaja yang nakal. Aku suka balapan liar dan tawuran, semua yang aku lakukan semata-mata untuk melupakan masalahku, bukan hanya mama yang meninggalkanku saja, tapi setelah mama meninggal papa di sibukan oleh dua perusahaan, papa tidak memiliki waktu seperti dulu lagi. Aku sangat terpuruk ke dua orang tuaku seperti pergi bersamaan."


Air mata Reyhan langsung mengalir tanpa di suruh, ia tidak bisa membendung air matanya, karena ingatanya terlempar ke masa lalu. Sedangkan Suci, ia merasa sangat bersalah karena telah bertanya lebih banyak lagi, seandainya ia tau kalau wanita yang meninggal itu adalah mama dari Reyhan bukan pacar Reyhan, mana mungkin ia membahas masalah itu


" Sekali lagi aku minta maaf Rey, aku tidak pernah tau di balik sikap dinginmu, tapi kamu juga memiliki masa yang rapuh."


Menurut Suci memang Reyhan lelaki yang dingin pada siapapun itu, hanya pada orang tertentulah Reyhan akan bersikap ramah dan murah senyum, bukan hanya itu tapi Reyhan juga lelaki yang selalu tertutup dengan masalah pribadinya pada orang lain


" Tidak apa-apa, setiap orang memiliki masalah pribadi masing-masing."


Suci langsung menghapus air mata Reyhan, lalu ia juga langsung mendekati kompor, ia langsung mematikan kompornya


" Rey, soupnya sudah matang."


" Iya, aku akan menuangkannya ke mangkuk."


Reyhan mencoba bersikap biasa saja, walau pun hatinya sangat sakit setelah mengingat ke dua orang tuanya. Suci yang melihat Reyhan menuangkan soup itu, akhirnya ia mengerti kenapa Reyhan tinggal di apartemen sendirian dan bisa masak, karena Reyhan pasti sangat tidak suka dengan papanya, itu sangat yakin menurut ia dan masalah memasak, tentu ia tau kalau Reyhan tidak suka dengan orang asing, itu kenapa Reyhan tidak mengambil pekerja lain selain Bi Minah, karena ia tau dari Bi Minah, kalau dulu Bi Minah sempat bekerja di rumah orang tua Reyhan, bahkan Bi minah sesekali sering menjaga Reyhan saat Reyhan masih usia 6 tahun, tapi setelah Bi Minah menikah, Bi Minah berhenti dari pekerjaannya dan fokus untuk mengurus keluarga. Setelah 10 tahun menika, suami Bi Minah meninggal dan meninggalkan hutang banyak, hingga mengharuskan Bi Minah bekerja kembali untuk membayar hutang suaminya. Setelah menuangkan soup Reyhan langsung membawanya ke meja makan di ikuti oleh Suci yang membawa dua piring cekung, sedangkan sedok dan garpu, sudah ada di meja makan.


Reyhan hanya tersenyum saat mendengar ucapan dari Suci sambil menarik kursi untuk Suci, setelah itu ia juga duduk di samping Suci


" Kalau sayang suka harus makan yang banyak, nanti setelah ini kita pergi ke moll untuk membeli beberapa baju panjang atau gamis untukmu."


" Jangan gamis Rey, menurutku gamis adalah pakaian yang sangat ribet."


" Baiklah sayang, oh iya aku lupa mengambil nasi."


" Tidak perlu pakai nasi Rey, soup ini sangat banyak, sayang kalau tidak kemakan."


Reyhan hanya menjawab dengan anggukan kepala. Suci dan Reyhan langsung memakan soup itu, tidak ada pembicaraan di meja makan. Reyhan sesekali melihat ke arah Suci yang memakan soup itu sangat lahap, ia langsung tersenyum. Sedangkan Suci tidak menyadari kalau Reyhan menatapnya, ia hanya fokus dengan soup yang benar-benar sangat menggugah selera, terlebih lagi ia sangat lapar karena tenaganya terkuras habis oleh perdebatan yang sangat panjang. Suci dan Reyhan selsai makan

__ADS_1


" Terima kasih Rey, soupnya sangat nikmat."


" Sama-sama sayang."


Reyhan yang akan mengangkat piring itu, tapi langsung di ambil oleh Suci


" Tadi kamu sudah memasak untuku, sekarang biar aku yang mencuci piring."


Reyhan hanya mejawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum. Suci langsung pergi ke dapur, ia mencuci piring. Setelah selsai mencuci piring, Suci langsung melihat ke meja makan, di sana sudah tidak ada Reyhan, lalu ia langsung ke ruang tv, tapi di sana juga tidak ada Reyhan, lalu ia langsung duduk di sofa. Tidak lama Reyhan datang dengan menggunakan celana jeans dan kaos, karena tadi ia masih menggunakan baju rumah


" Ayo sayang kita pergi."


" Iya Rey."


Reyhan langsung mengambil kunci mobil, ia tidak mungkin pergi berbelanja menggunakan motor, karena sangat merepotkan untuk membawa barang belanjaannya. Setelah sampai di parkiran Suci melihat Reyhan yang mendekati mobil


" Kita tidak pakai motor Rey?"


" Kita pakai mobil sayang, bagai mana dengan barang belajaanmu kalau pakai motor?"


" Iya Rey."


Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil. Reyhan memakaikan sabuk pengan untuk Suci, lalu ia memakai sabuk pengamannya sendiri, setelah itu langsung melajukan mobilnya. Suci diam-diam tersenyum, ia pikir Reyhan tidak bisa membawa mobil karena ia belum pernah melihat Reyhan membawa mobil, biasanya kalau akan membawa mobil, Reyhan menelpon supir papanya, jadi ia belum pernah melihat Reyhan membawa mobil sendiri. Reyhan menyadari senyuman Suci saat ia melihat ke arah Suci, Suci menatapnya sambil tersenyum


" Kenapa? Sayang heran aku bisa membawa mobil?"


" Hhmmm, aku pikir kamu tidak bisa membawa mobil Rey."


" Tentu saja bisa, hanya saja aku tidak suka bawa mobil, aku hanya akan membawa mobil saat menghadiri rapat atau miteeng di perusahaan mama, kalau papa tidak bisa hadir."

__ADS_1


Suci hanya tersenyum, ia pikir hubungan papa dan anak itu tidak baik, karena Reyhan memilih tinggal di apartemen, tapi ternyata tidak, Reyhan masih peduli dengan papanya yang sibuk oleh perusahaan.


__ADS_2