Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 48 Salah paham


__ADS_3

Setelah pertemuan 1 minggu lalu dengan ke tiga sahabatnya yang menasehatinya untuk mengejar cinta pada Gus Adnan, membuat ia semakin tersenyum, tadi yang tidak berkomentrar dan tidak bicara apa pun hanya Siska, tapi Suci tidak mempedulikan raut wajah Siska, ia hanya berpikir karena Siska mungkin masih dalam mood kurang baik, terutama setelah meninggalnya Reyhan. Suci duduk di atas rajang sambil bersandar, kini ke tiga sahabat kamarnya itu bingung pada Suci


" Kamu kenapa Uci, dari tadi senyum-senyum sendiri terus?"


" Aku sangat bahagia, aku sangat mencintai Gus Adnan."


Maya yang mendengar jawaban dari Suci, ia langsung mengecek suhu badan Suci, ia menempelkan tangannya pada kening Suci, tapi ia tidak merasakan kalau tubuh Suci panas, itu artinya ucapan Suci benar, kalau Suci sudah jatuh cinta dengan Gus Adnan, ia memang sudah tau tentang Reyhan yang meninggal karena kecelakaan, hanya saja Suci tidak mejelaskannya dengan detil tentang kenapa Reyhan kecelakaan


" Siangan kamu itu terlalu berat, sudah jadi rahasia umum kalau Ustazah Marwah juga menyukai Gus Adnan."


Suci sudah tau kalau Ustazah Marwah memang pasti menyukai Gus Adnan, siapa yang tidak terpesona dengan Gus Adnan, mungkin hanyalah wanita bodoh yang tidak tergoda, termasuk ia yang baru mejadari jika Gus Adnan memang sangat sempurna, tapi walau pun begitu Suci tidak pernah sekali pun menghilangkan nama Reyhan di ingatannya, ia akan selalu mengenang Reyhan untuk selamanya


" Kita juga taulah kalau Ustazah Marwah itu sangat seolehah, sangat cantik, pinter pake banget, pakonnya lengkap. Memang cocok dengan Gus Adnan, itu kenapa para santriawati tidak terlalu berharap pada Gus Adnan, kalau jatuhkan memang sakit, tapi kalau hati yang jatuh itu lebih menyakitkan."


Suci memijat plipisnya, bingung ia dengan ucapan Maya, lebih bingung lagi dengan ucapan Gus Adnan, Gus Adnan bilang mencintai wanita halalnya dan Gus Adnan bilang lagi mau jadi suaminya, bukan'kah itu sangat membingungkan? Apakah Gus Adnan akan mejadikan ia mejadi istri yang ke dua? Sekarang di tambah satu pakta lagi tentang Ustazah Marwah yang juga mencintai Gus Adnan. Suci tau kalau Ustazah Marwah memang cocok bersanding dengan Gus Adnan, sedangkan ia? Statusnya saja sebagai ning, tapi kelakuannya tidak memancarkan statusnya, selalu membuat onar adalah kebiasaanya. Suci masih saja diam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, tapi itu adalah pakta menurut Maya, ia tidak ingin sahabatnya sakit hati karena mencintai orang yang salah. Sedangkan Rianti dan Najwa sangat bingung, mereka harus bilang apa, Suci sekarang sudah jauh lebih baik, mereka berpikir mungkin Suci berubah untuk Gus Adnan, tapi yang Maya katakan memang benar adanya


" Uci, kamu nggak apa-apa?"


Najwa bertanya dengan sangat hati-hati, ia yakin ucapan Maya membuat Suci tersinggung.


" Aku tidak kenapa-napa."


Setelah mengatakan itu Suci langsung keluar dari kamar dengan dada yang sesak, ia baru saja jatuh cinta lagi untuk yang ke dua kalinya, tapi belum juga cinta itu di perjuangkan, sudah banyak kebingungan di hatinya, dari status Gus Adnan yang belum jelas, dan sekarang di tambah lagi dengan masalah Ustazah Marwah yang sangat cocok bersanding dengan Gus Adnan. Suci duduk terdiam di tempat yang menurutnya cukup aman, ia menangis sambil memegang dadanya yang sesak


" Kenapa?! Kenapa aku harus mencintai dia?! Kalau pada akhirnya aku tidak bisa bersamanya?! Kenapa selalu begini. Apa kesalahanku yang terlalu banyak hingga tidak bisa mendapatkan satu lelaki idamanku."


Tangisan Suci semakin terisak, ia mati-matian mecari tau tentang status Gus Adnan yang sudah menikah atau belum, tapi hingga sekarang ia tidak mrnemukan jawaban. Bahkan sekarang Suci lelah dengan semua hal, ia lelah dengan masalah percintaannya yang belum saja berakhir baik, terlebih lagi sekarang, hubungannya belum juga di mulai sudah harus di paksa untuk berhenti memperjuangkan, karena ia sadar ia tidak pantas bersanding dengan Gus Adnan. Di Sisi lain Gus Adnan heran dengan sifat Suci, ia bingung dengan sifat Suci yang terkesan menjauhinya, bahkan Suci tidak banyak bicara, dan kalau ia tanya Suci hanya jawab seperlunya saja, ia berpikir mungkinkah Suci marah karena ucapannya saat itu. Gus Adnan sekarang sedang mencari keberadaan Suci, karena sejak tadi ia tidak melihatnya, bahkan saat kelasnya pun Suci tidak hadir. Gus Adnan berkeliling di sekitar kawasan pesantren, saat melihat ke arah belakang pesantren Gus Adnan melihat sesaorang yang sedang duduk sambil menangis, saat langkahnya semakin dekat ia yakin kalau itu adalah Suci


" Kenapa Suci menangis?" batin Gus Adnan

__ADS_1


" Suci."


Suci tidak menjawab, ia bahkan menutup telinganya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya


" Tolong jangan mikir Gus Adan lagi Uci, semakin kamu memikirkannya, maka hatimu akan semakin sakit!"


Suci mencoba memperingatkan hatiny sendiri, agar tidak mengingat Gus Adnan


" Suci!"


Suci masih belum sadar, ia masih menganggap semuanya ilusi, ia menganggap sepertinya sudah gila.


" Suci!"


Gus Adnan memanggil Suci lagi sambil menepuk-nepuk bahu Suci. Suci masih diam, kini pandangannya mendongkak, ia menatap Gus Adnan dengan pandangan kosong


" Istigfar Uci, kamu kenapa?"


" Apa Suci habis kerasukan?" batin Gus Adnan


" Suci-Suci?"


" Gu-Gus Adnan."


" Alhamdulilah." batin Gus Adnan


Gus Adnan merasa lega karena Suci baik-baik saja, walau pun ia tidak tau kenapa Suci menangis


" Gus Adnan."

__ADS_1


Suci memanggil Gus Adnan untuk yang ke dua kalinya


" Iya ini saya, kamu sedang apa di sini?"


" Gus Adnan."


Suci memanggil Gus Adnan sudah tiga kali, ia hanya mestikan kalau ia itu tidak gila. Setelah itu Suci kembali menangis.


" Suci."


Gus Adnan hendak megang wajah Suci, tapi gerakannya kalah cepat, Suci langsung memudurkan tubuhnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


" Jangan sentu Uci Gus, jangan buat Uci terus berharap kalau pada akhirnya tidak bisa bersama."


Gus Adnan mengurtkan keningnya bingung, di saat seperti ini otak Gus Adnan tidak berpungsi, karena ia melihat Suci menangis, hatinya juga merasakan sakit dan dadanya merasa sesak


" Uci mohon, Gus Adnan jangan terlalu perhatian, Uci nggak mau kalau Uci semakin berharap dengan Gus."


Gus Adnan langsung menarik Suci dalam pelukannya, ini ke dua kalinya Gus Adnan memeluk Suci


" Uci, kamu kenapa menangis?"


Ucapan Suci membuat Gus Adnan masih tidak paham, ia hanya fokus dalam masalah kenapa Suci menangis? Hanya itu yang ada di pikiran Gus Adnan


" Gus lepas! Uci nggak mau kalau Uci semakin mencintai Gus! Uci sadar kalau Uci tidak pantas untuk bersanding dengan Gus!"


Suci mencoba mendorong dada Gus Adnan, tapi Gus Adnan semakin mengeratkan pelukannya.


" Kenapa kamu berpikir demikan Uci?"

__ADS_1


" Karena Uci tau akan membuat Gus malu jika bersanding dengan Uci, Uci hanyalah gadis nakal. Terlebih Uci juga tau kalau Gus hanya mencintai wanita halal Gus."


Akhirnya Gus Adnan mengerti dengan alur pembicaraan dari Suci, istrinya ini salah paham dengan ucapannya yang sudah mencintai wanita halalnya, mungkin ini sudah saatnya ia mejelaskan siapa ia di dalam hidup Suci


__ADS_2