Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 82 Suci sadar.


__ADS_3

Sudah tiga hari Suci di rumah sakit, dan Suci juga sudah sadar satu hari yang lalu, tapi Gus Adnan masih belum mengatakan tentang kehamilan istrinya. Sekarang Gus Adnan sedang mengupas apel untuk istrinya.


" Mas, apa sahabat Uci selamat semua?"


Suci masih ingat betul kejadian saat ia di siksa, ia melihat sahabatnya, hanya Kenzi dan Edi yang tidak ia lihat.


" Mereka semua baik-baik saja, oh iya, mas juga belum mengucapkan terima kasih langsung pada Kenzi. Kenzi ikut membantu kita dalam masalah ini, bahkan yang membobol akun pak Samsul dan melacak pak Samsul saat kehilangan jejaknya adalah Kenzi."


Suci menghela nafas, bukan hanya ingin sekedar mengucapkan terima kasih saja, tapi ia juga harus minta maaf karena telah seujon pada Kenzi.


" Itu harus mas."


" Uci, kamu tidak apa-apa dengan kejadian yang menimpamu? Kamu tidak ingin menangis? Kalau kamu merasakan sakit dan ingin menangis, menangislah Uci, jangan pernah pura-pura tegar di depan mas."


Gus Adnan bilang seperti itu bukan karena tanpa sebab, tapi ia yakin kalau istrinya tidak baik-baik saja, bukan hanya badannya yang sakit, tapi hatinya juga pasti sakit, karena yang menganiyayanya adalah sahabat terdekatnya sendiri.


" Iya mas, kalau sakit badan mungkin Uci akan menganggap baik-baik saja, tapi kalau hati, Uci memang tidak bisa menganggap baik-baik saja, hati Uci sakit mas dan sangat sakit, tapi Uci tidak ingin terpuruk dalam masalah itu, semuanya sudah kejadian. Uci juga tidak pernah membenci Siska, Uci hanya benci dengan kelakuan Siska, jelas-jelas Uci sangat percaya sepenuhnya pada Siska, tapi kenapa Siksa melakukan itu mas? Uci sakit hati bukan hanya kelakuan Siska saja, Uci sakit hati pada diri Uci sendiri, seandainya Uci tau kalau Siska mencintai Rey, mana mungkin Uci pacaran sama Rey, tapi sebelum Uci kenal Siska, Uci memang terlebih dahulu pacaran sama Rey, jadi sebenarnya yang salah itu Uci atau Siska mas?"


" Kamu tidak salah Uci, setiap orang memang berhak memiliki siapa lelaki pujaannya. Mas hanya minta kamu jangan pernah membenci Siska, Maya dan Indra."


" Uci memang tidak membenci Siska mas, seburuk apa pun Siska, dia tetap sahabat Uci, tapi untuk Maya dan Indra, Uci sangat membenci mereka."


" Makan dulu gih apelnya, biar kamu cepat sehat sama si kecil."


" Si kecil? Ma-maksud mas Uci?"


Suci tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya.


" Iya Uci, kamu hamil, dan usia kandungan kamu baru saja dua minggu, terima kasih sudah memberikan mas sesuatu yang berharga."


Suci langsung memeluk suaminya erat, ia menyalurkan semua kebahagiaannya, dengan air mata yang menetes, air mata kebahagiaan, termasuk Gus Adnan. Gus Adnan juga sudah mulai berkaca-kaca, jelas ia sangat bahagia.


" Uci juga senang mas, kejadian kemarin Uci anggap sebagai ujian, dan hari ini Allah menggantikannya dengan kebahagiaan, Uci senang mas. Mulai sekarang kita fokus pada rumah tangga kita mas, kita lebih baik berjuang untuk segera mendapatkan enam anak. Apa lagi sekarang satu saja belum berojol."


Gus Adnan menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan istrinya. Mereka melepaskan pelukannya.


" Mas, emangnya mas benar ingin punya anak enam?"


" Sedikasihnya Allah saja Uci, kalau di kasihnya lebih juga mas enggak akan nolak."

__ADS_1


" Jangan berbicara seperti itu dong mas, entar jadi do'a!"


" Banyak anak banyak berkah."


" Berkah sih berkah mas, nanti aset Uci jadi jebol!"


Gus Adnan mengerutkan keningnya bingung, tapi setelah tau maksud pembicaraan istrinya, ia tertawa keras, akhirnya sifat ceplas-ceplos istrinya muncul lagi.


" Jangan ketawa mas, nanti telornya Uci jadiin telor rebus mau?!"


" Iya nanti mas beliin telornya dulu di Alfamaret."


Ancaman Suci sama sekali tidak di tanggapi oleh Gus Adnan.


" Bukan telor yang ada di Alfamaret mas! Nyebelin banget!"


" Terus telor yang ada di mana?"


Gus Adan bertanya sambil tersenyum, ia tau arah pembicaraan istrinya.


" Itu mas, telornya terong."


" Iya punyalah mas! Ko mas jadi lemat sih otaknya?!"


" Enggak ada terong punya telor Uci, kamu jangan ngada-ngada deh! Jangan ngajarin calon bayi kita yang enggak jelas!"


" Ih mas! Uci enggak ngada-ngada! Buka saja celana mas, di sana ada terong sama dua telor!"


" Kamu jangan aneh-aneh Uci, kalau telornya di rebus, kamu bakalan nangis-nangis karena enggak di kasih jatah tiap malam! Kamu itu terlalu mesum!"


" Ih ko mas jadi nyebelin?!"


Gus Adnan hanya tertawa saat melihat wajah istrinya yang sudah memerah karena ucapannya. Memang kata orang itu jodoh adalah cerminan, termasuk Gus Adnan yang sudah sedikit ketularan gesreknya oleh istrinya. Setelah sekitar 20 menit mereka saling diam, bukan mereka, tapi Suci yang diam, seperti sudah habis kata-kata.


" Uci."


" Iya mas."


" Terima kasih sudah mewarnai hidup mas, terima kasih sudah mengajarkan mas tentang cinta yang terus berulang, dan terima kasih sudah mau jadi ibu untuk calon anak-anak kita."

__ADS_1


" Mas yang sudah mengajarkan Uci mencintai karena Allah, terima kasih sudah mau menerima Uci yang masih banyak kekurangannya."


Gus Adnan mengusap lembut pipi istrinya sambil tersenyum.


" Mas bangga dengan kamu, tetaplah jadi dirimu sendiri."


Suci tersenyum lebar dengan mata yang sudah berkaca-kaca, setiap kata yang di ucapakan oleh suaminya memikiki makna yang berarti baginya, ia langsung mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


" Kami juga bangga dengan abi, abi adalah yang terbaik untuk kami."


Perasaan Gus Adnan menghangat, ia sangat terharu dengan ucapan dari istrinya, ia ingin sekali mendengar si kecil yang memanggilnya dengan panggilan abi. Suci dan Gus Adnan saling menatap dengan wajah mereka yang menempel, perlahan bibir mereka, menyalurkan rasa rindu masing-masing, entah siapa yang duluan memulai, yang jelas mereka sangat menikmatinya, hingga di akhiri dengan kecupan kening di kening Suci. Suci langsung bersandar di dada bidang milik suaminya, andai ia tidak di rumah sakit, ia sudah meminta yang lebih pada suaminya.


" Mas."


Suci memainkan jari-jari suaminya.


" Hhmm."


" Enggak tahan mas."


Gus Adnan menatap wajah istrinya dengan seksama


" Enggak tahan kenapa Uci? Pengen pipis?"


" Bukan pengen pipis mas."


" Terus pengen apa?"


" Pengen di pipisin sama mas."


Wajah Gus Adnan langsung memerah, sepertinya pikiran mesum istrinya itu sudah kumat lagi. Suci yang tidak mendengar jawaban dari suaminya, ia menatap wajah suaminya sambil tersenyum, karena melihat wajah suaminya yang memerah.


" Mas ko diam? Apa yang mas pikirkan? Wajah mas juga memerah, pasti pikiran mas sudah treveling ke hal mesum iya?"


" Sudahlah Uci, jangan mikir yang aneh-aneh, biar cepat sembuh, biar mas bisa olah raga malam lagi."


"Akhirnya mas mengakui juga kalau mas sama mesumnya seperti Uci."


Suci tertawa kecil saat mendengar ucapan dari suaminya, ia senang karena suaminya mengakui juga kalau suaminya juga sama mesumnya. Sementara Gus Adnan memasang wajah datar tanpa ekspresi saat melihat tawa istrinya, tapi tidak bisa di pungkiri kalau hatinya sangat bahagia, setelah istrinya dua hari tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2