
Suci langsung menggoyangkan kakinya untuk melepaskan tangan Ellen yang ada di kakinya, ia sebenarnya merasa tidak tega melihat Ellen menangis tersedu-sedu, tapi itu semua adalah ke salah Ellen yang sudah merencanakan kecelakan Reyhan. Teman Ellen yang bernama Zahra langsung berlutut di kaki Suci
" Gue minta maaf, karena teleh mendukung Ellen melakukan kesalahan, gue benar-benar menyesal."
" Gue nggak peduli! Cepat katakan di mana anggota 4S?! Gue malas lama-lama di sini!"
Ke dua teman Ellen langsung membangunkan Ellen, karena ke dua teman Ellen tidak tau di mana anggota 4S, yang tau hanyalah Ellen.
" Akan saya tunjukan di mana mereka."
Suci dan Gus Adnan mengikuti Ellen dan ke dua temannya, hingga ia berhenti di sebuah pintu. Ellen langsung membuka pintu itu dengan menggunakan kunci. Suci sangat terkejut saat melihat ke tiga sahabatnya di ikat dan mulutnya di lakban, tapi Ellen masih mengunci pintu tempat mereka di sekap, bukan'kah Ellen adalah wanita jahat? Bisa-bisanya saat sudah di ikat dan mulutnya di lakban, tapi pintunya masih di kunci. Suci berlari ke arah mereka, ia melihat ke tiga sahabatnya yang meneteskan air mata. Suci langsung melepaskan ikatan mereka di bantu oleh Amanda, teman Ellen yang satunya lagi. Setelah ikatannya di buka mereka langsung memeluk Suci dengan bersamaan
" Ketua, kita sangat merindukanmu."
Siska berbicara dengan suara yang serak.
" Gue juga rindu dengan kalian. Maafin gue, karena sudah telat menolong kalian."
" Ini bukan salah ketua, kami tidak menyalahkan ketua."
" Tapi kalian seperti ini karena gue."
" Ketua tidak salah apa-apa."
Siska dan ke dua sahabatnya memang sama sekali tidak menyalahkan Suci, terlebih lagi mereka tau Suci pasti sangat berat karena kehilangan Reyhan. Mereka langsung melepaskan pelukanya, kini mata mereka melihat ke arah lelaki yang memakai peci putih, baju koko dan celana jeans
" Di-dia?"
Sisil bertanya dengan terbata-bata, terlebih melihat ketampanan Gus Adnan yang menurut Sisil sangat sempurna
" Oh, dia Gus Adnan. Ayo kita keluar dari sini, kita ngobrol di luar saja."
" Baik ketua."
Mereka mejawab dengan serempak, sedangkan Gus Adnan dari tadi selalu di buat terkejut oleh Suci, dari Suci ikut tawuran dan sekarang di panggil ketua
__ADS_1
" Ell, ingat kata-kata gue! Lo harus segera minta maaf pada pak Mahendra! Dan lo juga harus minta maaf pada ke tiga sahabat Gue!"
Ellen menganggukan kepalanya, ia langsung minfa maaf pada ke tiga sahabat Suci
" Gue minta maaf, karena sudah menyekap lo di sini."
" Nggak apa-apa, lagian kalau pun kita nggak maafin lo juga nggak bakalan bisa memutar waktu yang sudah lewat."
Ellen yang mendengar jawaban dari Siska seperti di hatam batu besar, hatinya sakit, semua orang mejadi membencinya, bahkan Sella saja yang pernah mejadi sahabat kecilnya hanya diam membisu, seolah-olah Sella seperti belum mengenalnya. Setelah itu Suci dan ke tiga sahabatnya termasuk Gus Adnan langsung keluar dari rumah Ellen, mereka berhenti di pinggir mobil Gus Adnan
" Ketua, kita turut berduka atas meninggalnya Rey, tolong jangan berlarut dalam kesedihan, kita akan menghibur ketua untuk membuat ketua tersenyum."
" Gue nggak apa-apa, maaf, gue nggak bisa tinggal di jakarta, gue harus meneruskan mencari ilmu agama, ini adalah keinginan Rey, gue nggak mau lagi terjerumus ke jalan yang merugikan orang lain."
Suci menghela nafas berat, ia menyesal karena kelakuannya Reyhan harus mejadi korban, kalau saja ia mendengarkan ucapan Reyhan yang melarangnya untuk ikut tawuran, mungkin ia tidak akan membuat Reyhan seperti ini, tapi penyesalan hanyalah tinggal penyesalan, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ke tiga sahabat Suci hanya mengangguk sambil tersenyum, mereka berharap kalau Suci mendekatkan diri pada Allah, Suci nggak akan terus berlarut dalam kesedihan, terutama Siska, Siska juga sangat merasakan kesedihan yang mendalam walau pun tidak bisa di jelaskan, karena harus kehilangan orang yang di cintainya selama ini dan melihat sahabatnya larut dalan kesedihan, membuat beban kesedihannya itu bertambah.
" Gue mau minta kalau kita bubarin saja geng 4S."
" Kenapa?! Apa ketua sudah tidak ingin menjadi sahabat kita? Apa ketua malu sekarang punya sahabat seperti kita? Terlebih sekarang ketua sudah berubah 80%."
" Gue tetap jadi sahabat kalian, tapi gue ingin mejadi sahabat yang sesungguhnya, tanpa ada embel-embel ketua dan anggota. Gue sayang sama kalian, mana mungkin gue ingin berhenti jadi sahabat kalian."
Mereka langsung berpelukan bersama seaaat
" Gue cuma minta sama kalian, walau pun kalian tidak ingin berubah mejadi lebih baik, tapi setidaknya jangan membuat masalah, jangan menempatkan diri kalian dalam bahaya. Gue hanya ingin kalian tetap aman dan bahagia."
Gus Adnan yang mendengar nasehat dari Suci untuk ke tiga sahabatnya, ia sangat terharu, walau pun Suci nakal, tapi Suci memiliki sisi baik
" Kita pasti tidak akan seperti dulu lagi, semejak ketua masuk ke dalam pesantren, kita juga berhenti ikut tawuran dan balapan liar, kita nggak mau kalau nyawa kita dalam bahaya."
Suci tersenyum saat mendengar jawaban dari Sisil, ia senang kalau ke tiga sahabatnya itu mau berubah
" Ketua boleh kenalan sama dia nggak?"
Sisil memang penasaran dari tadi dengan Gus Adnan, ia tidak bisa menahan rasa sukanya saat melihat lelaki berpeci, bagi Sisil lelaki berpeci itu sangatlah langka dan harapanya memiliki suami ustaz walau pun ia nakalnya kelewat nakal
__ADS_1
" Aku udah bilang, aku ingin mejadi sahabatmu Sil, kita lebih enak menggunakan bahasa aku kamu, dari pada lo gue, itu terlihat sangat tidak sopan."
Mereka hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan dari Suci
" Uci, boleh kenalan ngga sama dia."
" Tinggal kenalan apa susahnya."
Sisil mengulurkan tangannya pada Gus Adnan, sedangkan Gue amAdnan menungkupkan ke dua tangannya, itu membuat Sisil juga mengikuti seperti tangan Gus Adnan dengan perasaan malu
" Kenalin aku Sisil."
" Saya Adnan."
Menurut Sisil suara Gus Adnan sangat menyejukan
" Aku juga mau masuk pesantren kalau ustaznya modelan seperti ini."
Sisil mengakuinya dengan senyum malu-malu
" Lo itu apaan sih Sil, sahabat lo lagi kehilangan orang yang di cintainya! Sedangkan lo berbunga-bunga! Kalau Suci tidak datang tepat waktu kita bisa mati! Tau nggak lo?!
Siska sangat geram melihat sahabatnya yang terlihat tidak simpati dengan apa yang menimpa Suci
" Santai Sis, lagian Sisil itu jarang berbunga-bunga. Oh iya, aku akan mengantar kalian pulang dulu, setelah itu aku harus pergi ke apartemen Rey, papa Rey sedang menungguku."
" Nggak perlu Uci, kamu pergi saja, kita semua bisa naik taksi, kita nunggu taksi yang lewat saja, kamu lebih baik segera temuin papa Rey, pasti dia sangat hancur, terlebih Rey adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki."
" Kalian serus?"
" Iya kita serius."
Siska hanya ingin Suci segera menemui papanya Rey, ia yakin kalau papanya Rey sedang menunggu orang untuk mencurhatkan unek+uneknya.
" Iya sudah kita pamit."
__ADS_1
" Iya Uci, hati-hati."